ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Kejutan Untuk Adras


__ADS_3

Ayu menelan salivanya saat melihat pria yang berdiri di dekat pintu masuk perusahaan. "Itu suamimu?"


"Iya." jawab Jelena malu-malu. Ia tak mau Adras mendengar.


"Ya Allah. Itu cowok yang aku lihat di cafe 2 minggu yang lalu."


"Adras Permana."


"Kok kamu nggak bilang sih kalau si pilot terkenal itu adalah suami mu? Pantas saja kau tak mau melirik semua pria tampan yang ada di sini."


Jelena tersenyum. "Aku pergi dulu ya...."


"Selamat bersenang-senang."


Jelena mendekati Adras yang sedang duduk di bangku beton.


"Sudah lama menunggu?" tanya Jelena.


"Baru juga 20 menit." jawab Adras sambil melirik jam tangannya. 2 minggu mereka berpisah dan saat Adras mendapatkan jadwal ke sini, cowok itu sangat senang.


"Bagaimana penerbangannya?" tanya Jelena saat keduanya sudah mulai melangkah.


"Lancar. Biasalah kalau ada turbulensi sedikit."


"Oh, gitu ya? Kamu sudah makan?" tanya Jelena.


Adras meraih tangan istrinya itu. "Aku sangat kangen padamu."


"Aku tanya lain, kok jawabnya lain." Jelena tak menarik tangannya yang dipegang oleh Adras.


"Pokoknya aku kangen. Soal makan nanti belakangan." ujar Adras lalu mengecup tangan Jelena yang ada dalam genggamannya.


Wajah Jelena memerah. "Kita pergi makan yuk!" ajak Jelena.


"Kemana?"


"Aku ingin makan semua masakan Korea yang ada di sini. Sejak siang aku belum makan."


"Baiklah. Aku memang lapar sih. Tapi apakah tak sebaiknya masak saja?"


"Aku tak pintar masak masakan Korea."


"Baiklah." Adras mengalah. Yang pasti dia ingin menghabiskan waktunya bersama Jelena hari ini. Besok siang dia harus berangkat lagi dan masih ada beberapa minggu baru dia akan balik lagi ke sini.


Keduanya pun mampir di sebuah restoran kecil namun banyak pengunjungnya. Selesai makan, Jelena mengajak Adras berfoto di beberapa tempat. Adras jadi senang karena Jelena sudah terlihat mesra padanya. Beberapa mereka berpose dengan tangan Jelena yang memeluk pinggang Adras. Mereka juga makan beberapa cemilan khas Seoul.

__ADS_1


"Kamu makan banyak hari ini. Nggak takut perutnya meledak?" tanya Adras. Keduanya dalam perjalanan pulang dan Jelena dengan manjanya memeluk lengan Adras.


"Apartemennya masih jauh? Apakah tidak sebaiknya kita naik taxi saja? Aku takut kalau kamu capek." Kata Adras sambil melingkarkan tangannya di bahu Jelena.


"Nggak. Aku masih kuat, kok. Aku ingin jalan-jalan malam ini karena kebanyakan tempat ini belum aku kunjungi walaupun sudah hampir 2 bulan di sini."


"Kita kan masih punya banyak waktu saat aku datang lagi."


"Aku ingin malam ini." kata Jelena manja lalu mendekati sebuah pedagang pinggir jalan yang menjual kacang rebus. Mereka menikmati kacang itu bersama.


***********


Pukul setengah satu makan, keduanya tiba di apartemen Jelena.


"Pesawatnya berangkat jam berapa besok?" tanya Jelena.


"Di jadwal penerbangan jam 1 lewat 15 menit. Kami akan transit di Singapura baru ke Jakarta."


"Kamu pasti capek ya?"


Adras tersenyum. "Capek sih. Tapi kalau ketemu kamu, capeknya langsung hilang."


"Mulai lagi deh lebay nya." Jelena mencolek pinggang Adras. Suaminya itu terkekeh. Keduanya pun akhirnya tiba di apartemen Jelena.


Adras mengantarkan Jelena masuk. "Na, kamu sedang beres-beres?" tanya Adras. Ia melihat beberapa barang Jelena sudah tak ada dan ada dua koper yang diletakan di dekat tempat tidur.


Adras mengerutkan dahinya. "Kamu mau pindah? Kemana? Nanti aku tak bisa menemui kamu lagi dong saat datang ke sini?"


"Aku akan pindah ke tempat tinggal yang lebih besar. Supaya kalau kamu datang bisa lebih nyaman."


Adras mengangguk. Ia memeluk Jelena lalu mencium puncak kepala istrinya. "Sebenarnya aku ingin kamu tinggal di Jakarta saja supaya aku selalu bisa dekat denganmu."


Jelena hanya tersenyum. Ia melepaskan pelukan Adras. "Ini sudah larut. Sebaiknya kamu pulang."


Adras mengangguk. "Nanti aku telepon saat akan take off ya? Aku ingin kamu mendoakan aku."


Jelena mengangguk lalu mengantarkan Adras sampai di depan pintu.


"Selamat malam....!" Adras mengecup dahi Jelena kemudian bibirnya. Setelah itu Adras pun melangkah. Ia akan berusaha sabar menjalani semuanya. Ia yakin, suatu saat nanti, dia akan mendapatkan hati Jelena kembali.


***********


"Selamat siang, kapten." Sapa Mutia, kepala kru kabin penerbangan saat ini. Seorang ibu muda berusia 32 tahun.


"Selamat siang. Berapa jumlah penumpang kita saat ini?"

__ADS_1


"Semuanya ada 330 orang, kap. 165 orang akan turun di Singapura dan ada 142 yang akan naik dari Singapura." kata Mutia sambil membaca catatannya.


"Baiklah. Ayo panggil semua kru kabin. Kita akan meeting dan doa bersama." ujar Adras.


Ini memang adalah kebiasaan yang Adras dapatkan dari para seniornya dulu. Bahwa sebelum memulai pekerjaan, mereka harus selalu berdoa.


Ada 8 orang kru kabin yang bertugas saat ini. Selesai berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing, Adras langsung masuk ke ruang kokpit. Mereka melakukan persiapan awal.


"Kep, ini kopi anda." ujar Wulan, salah satu pramugari.


"Terima kasih." Adras memang butuh kopi saat ini karena ia tahu perjalanan hari ini cukup melelahkan. Nanti di Singapura baru Adras akan bertukar posisi dengan kapten Ben.


Teringat dengan Jelena, Adras pun keluar dari ruang kokpit. Beberapa penumpang sudah mulai memasuki pesawat. Adras menghubungi ponsel Jelena namun tak aktif. Dia agak sedikit kesal. Namun, saat ia berbalik untuk masuk ke ruangan kokpit lagi, Adras terkejut melihat Jelena yang baru memasuki pesawat sambil menatap Adras sambil mengedipkan sebelah matanya. Adras akan bicara namun Jelena meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya sebagai tanda bahwa Adras diam. Ia lalu mengangkat hp nya. Adras pun mengerti. Ia masuk ke ruang kokpit dengan hati yang melonjak dengan rasa bahagia. Jelena ikut pulang bersamanya? Sungguh kejutan yang sangat menyenangkan. Pantas saja Jelena nampak aneh tadi malam. Rupanya ia ingin menghabiskan malam terakhirnya di Korea dengan mengunjungi berbagai tempat di Seoul yang belum pernah mereka kunjungi.


"Ada apa, Kep? Kelihatannya senang sekali?" tanya first officer nya yang bernama Gerald.


"Aku bahagia."


"Alasannya?"


"Sesuatu yang tak bisa aku jelaskan karena terlalu bahagia." Kata Adras lalu langsung membuka ponselnya saat mendengar kalau ada pesan masuk di ponselnya.


kejutan kan sayang? Aku sengaja tak mengatakannya padamu. Aku sudah memutuskan untuk pindah lagi ke Jakarta. Ke rumahmu, di mana ada Santi dan Sofia di sana. Bawa pesawatnya dengan baik ya? Sampai jumpa di kamar kita. Tak sabar memeluk kamu.


Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Adras saat ini. Ia ingin sekali menemui Jelena dan memeluknya saat ini juga. Namun ia berusaha sabar dan menahan dirinya. Jika sudah tiba di Jakarta, Adras justru tak akan membawa Jelena ke rumah. Ia ingin menahan gadis itu di kamar hotel agar tak diganggu oleh Santi dan Sofia.


Aturan maskapai juga melarang pilot membawa keluarga intinya saat ia sedang membawa pesawat. Makanya Adras diam untuk menyembunyikan identitas Jelena.


Awas kau ya...., tak akan kubiarkan kau turun dari ranjang ku saat kita sudah tiba di Jakarta.


Adras membalas pesan Jelena. Dan tak lama kemudian balasan Jelena pun masuk.


Lakukan apapun yang kau inginkan padaku, kapten. Aku pasrah. Saat ini, bawa saja pesawatnya dengan selamat sampai ke tujuan.


Dan pesawat pun akhirnya take off dengan sempurna. Meninggalkan kita Seoul yang sedang cerah di siang ini.


Auto pilot pun aktif. Ketiga pilot itu berbincang tentang cuaca yang menurut catatan sedikit hujan saat memasuki wilayah Singapura.


Baru setengah jam perjalanan, Adras mendapatkan informasi darurat langsung dari kepolisian Korea yang bekerja sama dengan petugas ETC Seoul.


"Kapten, di dalam pesawat anda telah menyusup 5 orang anggota Mafia asal Korea Utara. Mereka sepertinya akan membajak pesawat anda karena pemimpin mereka saat ini sedang di tawan oleh pihak pemerintah Singapura karena kasus pembunuhan salah satu pejabat di sana. Kami mohon anda tetap tenang, karena di pesawat itu juga ada 2 orang anggota kami yang sebenarnya sedang dalam perjalanan tugas ke Singapura untuk misi yang lain. Kami memohon, kerja sama dari anda dan seluruh kru untuk bisa menghubungi salah petugas kepolisian itu. Mereka adalah penumpang kelas VVIP."


Adras terkejut mendengar informasi itu. Pikirannya langsung tertuju pada Jelena yang ada di kelas ekonomi. *Jantung Adras seakan berhenti berdetak.


*********

__ADS_1


Bagaimana Episode selanjutnya? Di sini, kemampuan Adras selaku pilot dipertaruhkan*


__ADS_2