
"Tidur di sini?" tanya Jelena sambil menelan salivanya.
"Iya. Besok jam 9 pagi aku harus terbang lagi. Kangennya belum hilang." Ujar Adras sambil memasang tampang wajah penuh permohonan. Kedua tangannya ia katup kan di depan dadanya. "Please ...."
"Ih...., Adras...., kamu kayak anak kecil aja. Kalau kamu tidur di sini, memangnya bisa jamin kalau kamu nggak akan memeluk aku?" tanya Jelena.
"Memang kalau itu aku nggak bisa jamin. Sekarang aja, aku sudah nggak tahan ingin peluk kamu."
"Adras.....!" Jelena langsung membuka pintu apartemennya. "Pergilah. Ini sudah larut. Nanti istirahatnya nggak cukup."
"Beneran nih aku diusir?" Adras masih berharap.
Jelena jadi tak tega. Namun ia takut dengan hasrat mereka berdua.
"Pulanglah!"
Adras pun melangkah dengan lesu. Namun saat melewati Jelena, ia tiba-tiba memeluk istrinya itu dengan erat.
"Aku sangat merindukan kamu." bisik nya lembut. Lalu ia melonggarkan pelukannya, dan mengecup bibir Jelena dengan sangat lembut. "Nanti aku balik lagi ya? I love you." Adras kemudian melangkah pergi. Jelena merasakan hatinya tak rela.
"Adras ....!" panggilnya.
Adras menoleh. "Ya."
"Jangan lupa berdoa sebelum pesawat take off ya?"
"Pasti. Bye...." Adras melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam lift. Walaupun ia sedih karena Jelena tak mengijinkan dia tinggal, namun setidaknya perempuan itu tak menolak kedatangannya. Itu yang membuat Adras bersemangat walaupun ia yakin kalau malam ini, ia pasti tak akan tidur nyenyak.
*********
Selesai makan dan minum obat, Sofia merasa kalau tubuhnya menjadi segar. Ia pun segera kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan berdandan sedikit agar terlihat segar. Arley kebetulan masuk ke kamarnya.
"Kamu sudah mau pergi?" tanya Arley.
"Iya. Ini sudah sore. Aku tak mau orang rumah khawatir."
"Memangnya kamu sudah merasa sehat untuk membawa mobil sendiri? Aku bisa mengantar kamu ke sana."
Sofia tersenyum. "Aku sudah merasa sehat. Terima kasih untuk semuanya."
Arley mengambil obat Sofia yang ada di atas meja. "Nih! Jangan lupa diminum. Terutama juga vitaminnya. Wajahmu masih sedikit pucat."
Sofia mengambil obat itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. "Aku pergi ya?"
"Eh...., barang itu....!" Arley menunjuk kantong plastik yang tadi ingin dibuang oleh Sofia.
__ADS_1
"Buang saja, aku tak ingin menyimpannya." Kata Sofia dengan suara sedikit bergetar menahan tangis lalu ia segera meninggalkan kamar hotel itu.
Mata Arley tertuju pada kantong plastik berwarna merah itu. Biasanya Arley tak suka kepo dengan urusan orang. Namun kali ini, ia pun menjadi kepo dan membukanya. Ternyata isinya adalah barang-barang yang berhubungan dengan perempuan. Boneka beruang yang bertuliskan i love you, ada 2 kemeja dan sebuah gaun berwarna putih. Ada jam tangan, ada tiket nonton bioskop, ada sebuah kaos yang bertuliskan i love Angga, dan sebuah bingkai foto. Adras menatap foto Sofia dengan seorang pria tampan berseragam pilot. Sofia nampak bersandar di dada pria itu sedangkan si pria memeluk Sofia dengan posesif.
"Apakah pria ini yang menyakitimu? Sepertinya dari tatapannya, ia bahagia saat bersamamu." Arley mengusap foto Sofia dengan lembut. "Sial, mengapa aku harus kepo dengan gadis ini?" Arley segera memasukan kembali semua barang itu ke dalam kantong plastik. Ia kemudian menelepon asistennya dan meminta agar asistennya itu datang ke kamar.
"Ada apa, tuan?" tanya Richard.
"Simpan barang-barang ini di dalam ruanganku."
"Baik, tuan."
"Apakah gadis itu sudah pergi?"
"Ya. Dan sesuai perintah tuan, aku meminta salah satu anak buah kita untuk mengikutinya."
"Baguslah. Entah mengapa aku begitu penasaran dengan gadis itu. Wajahnya mengingatkan aku pada seseorang."
Richard tersenyum. "Dia anak Selena Permana."
"Apa?" Arley terkejut.
"Ya. Aku sudah menyelidikinya tuan." Richard memberikan tablet yang selalu di bawahnya. "Dia anak tertua Selena Permana."
Masa lalu yang membuat Selena Permana pergi untuk selamanya.
***********
Betapa bahagianya Jeff malam ini. Ia merasa seperti berada di usia 20an. Makam malam yang romantis, saling menyuapi dan berakhir dengan nonton film romantis.
Beberapa orang menatap iri pada Jeff. Usianya memang sudah matang, tampan dan tubuhnya atletis. Ia menggandeng seorang gadis cantik.
"Elina, apakah kamu tak malu berjalan bersamaku? Aku ini sudah tua." ujar Jeff saat mereka keluar dari bioskop dan masuk kembali ke dalam mobil.
"Siapa bilang kamu sudah tua? Kamu masih terlihat tampan dan awet muda. Buktinya, banyak wanita yang menatapmu dengan penuh kekaguman. Aku saja sampai cemburu. Ingin rasanya aku mencungkil mata mereka."
Jeff tertawa mendengarnya. "Jadi kamu cemburu?" tanya nya sambil memegang dagu Elina.
"Iyalah. kamu kan tampan dan menarik simpati banyak wanita." kata Elina sambil menatap Jeff dengan manja. Jeff memang sudah melarangnya untuk memanggil Jeff dengan sebutan uncle.
"Kamu tahu, aku sudah mengenal banyak perempuan dalam hidupku ini. Namun baru bersamamu aku merasa apa itu manisnya berpacaran."
"Memangnya dulu nggak pernah pacaran?"
"Buat apa pacaran, dikencan pertama saja aku sudah membawa mereka ke ranjang."
__ADS_1
Elina menatap Jeff dengan tatapan nakal. "Oh ya?"
Jeff mencium bibir Elina dengan gemas. "Ayo pulang! Aku tahu kalau kamu pasti capek."
Sesampai di apartemen Elina, keduanya langsung berciuman dengan begitu mesranya. Jeff benar-benar terpesona dengan semua yang ada pada Elina. Bukan hanya tentang kecantikannya namun kelembutannya, kebaikan hatinya, dan tugasnya sebagai dokter yang menolong orang tanpa pamrih. Beberapa hari ini memang Jeff menyuruh orang untuk menyelidiki tentang kehidupan Elina. Dan Jeff akhirnya tahu tentang pengobatan gratis yang istrinya selalu berikan setiap hari Sabtu dan minggu dengan turun ke di daerah-daerah kumuh. Pada hal Elina adalah anak orang kaya yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan pergaulannya dengan orang-orang kalangan atas tapi ternyata ia memiliki kasih yang begitu besar kepada orang-orang yang terpinggirkan.
Elina terbuai dengan semua sentuhan Jeff pada tubuhnya namun saat Jeff akan masuk semakin dalam, yakni menyatukan dirinya dengan Elina, perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Jeff, aku kan belum bilang yakin dengan seluruh cintamu. Jadi aku belum siap melakukan itu. Kamu nggak marah kan?"
Walaupun Jeff akhirnya harus sakit kepala, lelaki bule itu tersenyum lalu mengecup dahi kekasihnya itu. "Aku akan sabar menunggu."
"Pakaikan aku mahkota di kepalaku dulu, Jeff. Barulah kau merebut mahkotaku." kata Elina sambil tersenyum manis.
"Kamu masih perawan?" tanya Jeff tak percaya.
"Tentu saja. Aku memang bergaul dengan banyak orang termasuk para pria. Namun aku masih menjaga diriku. Karena yang aku tahu, khusus yang itu hanya bisa diberikan pada lelaki yang nantinya akan membawa aku ke pelaminan."
Jeff memeluk Elina dengan perasaan bangga. "Sayang, aku kok merasa diriku tak pantas untukmu, sih?"
"Yang tak pantas itu jika kau tak mencintai hatiku dan hanya menginginkan raga ku." Elina melepaskan pelukannya. "Jangan pulang malam ini ya? Temani aku."
"Nggak takut pria tua ini akan memperkosa mu?"
"Nggak. Karena aku percaya kau tak akan mengambil sesuatu yang belum menjadi hakmu."
Jeff semakin merasa terpesona dengan gadis cantik ini. "Aku yakin, kamu adalah cinta pertama dalam hidupku dan pelabuhan terakhir dalam perjalan cintaku."
"Aku kuuji kata-katamu, bule tua."
"Apapun itu sayang...." Jeff kembali memeluk Elina. Hatinya sungguh bahagia.
*********
Happy Valentine all.....
2 episode lagi adalah puncak segalanya ya.....
Petualang cinta akan berakhir
Penantian cinta akan berakhir
Tapi Perasaan Jelena dan Adras perlu diuji lagi lewat kemampuan Adras sebagai pilot.
**********
__ADS_1