ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Apa Ini ya?


__ADS_3

"Santi, kamu tahu dari mana obat semacam itu?" tanya Adras kaget.


"Ih...uncle, aku ini mahasiswa kedokteran. Masa sih obat semacam itu aku nggak tahu."


Adras menggeleng. "Nggak. Uncle nggak mau pakai cara seperti itu. Itu namanya uncle menipu Nana."


"Usahakan kalau aunty nggak akan tahu. Nanti aunty Nana akan berpikir kalau itu reaksi alami dari tubuhnya yang memang sudah merasakan bagaimana hubungan intim itu." kata Sofia.


Adras melotot ke arah nya. "Sofia, apakah kamu sudah melakukannya dengan Agung?" tanya Adras.


"Nggak uncle. Agung anaknya manis dan sopan. Dia nggak genit. Hanya sebatas cium pipi sama pegang tangan saja." ujar Sofia sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya.


"Jangan berlebihan ya? Ingat, Agung itu belum tentu adalah jodohmu. Uncle hanya ingin agar kalian tak mengikuti jejak uncle." kata Adras. Ia takut perbuatannya bersama Anita menjadi karma yang harus diterima oleh kedua ponakannya ini.


"Tenang saja, uncle." jawab Sofia dan Santi kompak.


"Jadi bagaimana, uncle? Aku bisa menghubungi temanku. Dia pernah bilang ada obat sejenis itu yang kalau dicampur di minuman, nggak akan terasa." Kata Santi antusias.


"Bagaimana ya....." Adras nampak bingung.


"Aunty Nana harus hamil lagi supaya ia tak akan meninggalkan uncle. Aku tuh pernah lihat aunty Nana ketemu dengan si Jun, mantan bos nya dulu. Aku curiga, jangan-jangan lelaki itu suka dengan aunty." ujar Sofia membuat hati Santi jadi tertusuk.


"Nana dengan Jun?" Adras pun mulai terbakar cemburu.


"Waktu itu pas uncle baru saja terbang dengan rute yang baru. Aku dan Agung kebetulan mau makan siang di restoran itu."


"Mereka nampak mesra ya?" tanya Santi dengan hati yang cemas.


"Nggak sih. Nampak seperti makan siang biasa saja. Wajarlah kalau mereka ketemu karena Jun kan yang menolong aunty saat kecelakaan." Sofia menatap wajah pamannya yang nampak kesal.


"Aku tahu kalau Jun menyukai Nana." kata Adras sambil mengepalkan tangannya.


"Kalau begitu, ikuti saja usulan aku tadi. Supaya uncle dan Nana cepat punya baby." Kata Santi diikuti anggukan kepala Sofia.


"Yang suka aunty itu banyak. Ada Jun, ada dokter Surya. Bahkan di kantor, aunty sekarang jadi idola." Sofia jadi memanas-manasi.


"Akan uncle pikirkan dulu. Soalnya, uncle nggak mau menggunakan cara seperti itu. Uncle ingin, Nana takluk sama uncle karena ia memang mencintai uncle."


"Tenang saja, uncle. Kalaupun cara ini dipakai, nggak salah kok. Aunty kan istri sah uncle." ujar Santi sambil menepuk pundak Adras.


Adras hanya tersenyum. Ia senang karena kedua ponakannya ini sangat baik dan perhatian padanya.


*********


Pagi hari, Adras bangun dan mempersiapkan keperluannya untuk berangkat. Jadwal penerbangannya jam 10 pagi dan dan itu berarti Adras sudah harus berada di bandara jam 8 pagi.


Jelena sudah lebih dulu mandi. Ia tak menyiapkan sarapan karena si Marlisa sudah berada di dapur dan ia malas untuk aduh mulut dengan fotomodel itu.


Adras yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper, memperhatikan Jelena yang sedang berdandan. Dulu, Jelena polos tanpa make up dan dia sudah terlihat cantik. Kini, istrinya itu sudah pandai berdandan. Walaupun make up yang digunakannya berwarna natural, namun Adras sedikit khawatir kalau akan semakin banyak pria yang jatuh cinta pada Jelena. Rasanya tak rela.


"Ada apa lihat-lihat?" tanya Jelena sambil menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Memangnya nggak boleh lihat? Kamu kan istriku."


"Boleh dilihat. Tapi jangan dipegang."


Adras terkekeh mendengar perkataan Jelena. Ia baru saja melangkah hendak menemui istrinya itu yang masih duduk di depan meja rias.


"Kenapa nggak boleh dipegang? Kan halal."


Jelena yang sudah selesai berdandan, berbalik dan menatap Adras. "Di maskapai kan banyak wanita-wanita cantik dengan body yang seksi dan menggoda."


"Tak ada yang bisa menandingi kamu, sayang."


Gantian Jelena yang terkekeh. "Jangan merayu. Nggak akan mempan." kata Jelena lalu segera melangkah namun Adras juga menghadang langkahnya.


"Na, kita berangkat bersama ya? Aku antar kamu pergi ke kantor. Kan arahnya sama."


"Nanti kamu terlambat."


"Nggak." Adras mengambil kopernya lalu segera menyusul langkah Jelena meninggalkan kamar.


Selesai sarapan, Adras mengantarkan Jelena pergi. Mobilnya nanti akan dijemput paman Sule di bandara.


"Terima kasih sudah mengantarkan." Kata Jelena sambil membuka sabuk pengamannya. Namun tangannya dipegang oleh Adras.


"Tolong, doakan aku!" pinta Adras.


Jelena tak sanggup menolaknya. Ia pun mendoakan Adras.


"Tolong rindukan aku."


Jelena tak menjawab apapun. Ia langsung turun dan masuk ke dalam kantor. Adras menarik nafas panjang. "Aku pasti bisa memenangkan hatimu, Nana." katanya sebelum menjalankan mobilnya kembali.


*********


Dua hari sudah Adras pergi. Jelena semakin tenggelam dengan pekerjaannya. Ia kadang pulang di atas jam 9 malam untuk membunuh rasa sepi di hatinya.


Jelena pun mulai menemukan ada sesuatu yang tak beres dengan laporan keuangan perusahaan. Namun ia belum berbicara dengan siapapun. Ia masih menyelidikinya sendiri karena tak ingin menimbulkan kecurigaan dari pihak-pihak, yang terkait.


Ponsel Jelena berbunyi saat ia masih ada di ruangannya. Panggilan Videocall dari Adras. Jelena pun mengangkatnya.


"Sayang, masih di kantor?" tanya Adras.


"Iya."


"Di sana kan sudah jam 8 malam. Kenapa belum pulang?"


"Beberapa karyawan juga masih lembur. Memangnya ada apa?" tanya Jelena.


"Aku nggak mau kalau kamu sampai sakit, sayang. Oh ya, aku masih di bandara Sidney. Kami tak jadi berangkat siang tadi. Ada badai dan bandara di tutup sampai besok pagi."


"Tetap hati-hati."

__ADS_1


"Terima kasih. Aku bosan di sini. Jadi kangen kamu terus. Kalau aku pulang, mau nggak jemput aku?"


"Lihat nanti, deh."


"Kata paman Sule, kamu sudah lancar bawa mobilnya."


"Belum dapat SIM."


Adras tersenyum. "Nggak sabar menunggu 2 hari lagi."


"Adras, ayo ke hotel. Mobil jemputannya sudah datang." Anita tiba-tiba muncul di belakang Adras. Setelah itu ia langsung pergi.


"Oh...ok.....!" Adras hanya mengangguk namun pandangan matanya masih ke arah layar ponselnya. "Sayang, aku ke hotel dulu ya? Aku mohon, jangan salah sangka dengan Anita. Aku dari tadi tak dekat-dekat dengannya."


"Nggak masalah juga kalau dekat, kalian kan kru penerbangan. Sudah ya, aku mau pulang. Bye." Jelena langsung mengahiri percakapan diantara mereka. Apakah aku akan selalu seperti ini? Merasa cemas tiap kali Adras pergi bekerja? Merasa khawatir jika Anita dan Adras akan ada di kamar yang sama? Oh God! Aku nggak mau tersiksa seperti ini.


Jelena mengusap wajahnya kasar. Ia pun meraih tasnya, memasukan semua barang-barangnya dan segera meninggalkan ruangan kerjanya.


**********


Adras menarik kopernya saat keluar dari bandara. Ia sudah menghubungi Jelena namun ponsel istrinya itu tak aktif. Dia juga menelpon paman Sule namun sopirnya itu sedang mengantar Santi ke rumah sakit yang ada di luar kota. Adras memutuskan untuk naik taxi saja.


"Adras, kamu pulang dengan siapa?" tanya Kapten Haris.


"Aku mau naik taxi saja, kap."


"Kenapa nggak naik mobil maskapai?"


Adras menggeleng. Naik mobil itu, ia harus bersama dengan Anita. Adras tak ingin membuat Jelena semakin kesal saja.


Para kru penerbangan yang lain berjalan di belakang Adras dan Haris. Namun saat di pintu keluar, Adras terkejut melihat siapa yang berdiri di sana dan sedang menunggunya dengan gaun cantik berwarna merah maroon.


"Sayang, selamat datang!" Jelena langsung mendekat dan memeluk Adras lalu mencium pipinya.


"Duh senangnya kapten Adras....!" goda beberapa pramugari. Namun tidak dengan Anita. Hatinya sakit melihat Jelena yang datang menjemput Adras.


"Terima kasih sudah menjemput ku." kata Adras senang. Jelena langsung melingkarkan tangannya di lengan Adras.


"Ayo kita pergi!" Ajak Jelena seperti tak sabar.


"Kamu saja yang membawa mobilnya." kata Jelena sambil menyerahkan kunci mobil.


Adras pun memasukan kopernya ke dalam bagasi lalu segera duduk di belakang stir. Namun baru saja ia akan memasang sabuk pengamannya, Jelena langsung mendekat dan mencium bibir Adras dengan begitu sensual. seakan ia begitu merindukan Adras.


"Kita cari hotel aja, ya? Jauh kalau mau pulang ke rumah." bisik Jelena setelah melepaskan ciumannya. Adras terkejut. Apa ini?


*********


Nah, lho....


ada apa dengan Nana?

__ADS_1


__ADS_2