
Sepanjang perjalanan pulang, Jelena berusaha untuk tak menangis. Ia naik bis untuk kembali ke cafe. Aku nggak boleh menangis. Aku tak mencintainya. Aku tak mungkin mencintai Adras. Dia lelaki brengsek. Ya Tuhan, jauhkan perasaan ini dariku.
Jelena turun di depan cafe. Cafe masih buka. Ia ikut pintu belakang agar orang tak melihatnya. Namun, saat Jelena akan menaiki tangga menuju ke lantai dua, ia justru berpapasan dengan Jun yang sedang menuruni tangga.
"Jelena, ada apa? Kamu menangis? Dosenmu tak terima dengan tulisanmu?" tanya Jun penasaran.
"Eh, aku .....bukan kak, aku ..." Jelena justru tak mampu membendung air matanya.
Jun langsung menggandeng gadis itu menaiki tangga. Mereka sampai di rooftuff. Angin segar langsung menyapa wajah Jelena. Membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
"Menangislah. Kalau perlu kau berteriak agar merasa lega."
Jelena pun menumpahkan tangisnya. Ia merasa dibodohi. Ia merasa percuma sudah menyerahkan dirinya untuk sesuatu yang sia-sia.
Jun membiarkan Jelena menangis. Ia hanya berdiri di samping gadis itu dan membiarkan Jelena menumpahkan segala tangisnya. Jun tahu pasti ada sesuatu yang menyakitkan yang dialami oleh gadis itu.
Perlahan tangis Jelena berhenti. Ia mengambil.tissue dalam tas selempang yang dibawahnya dan membersihkan sisa air matanya.
"Kau sudah merasa baik?" tanya Jun.
Jelena mengangguk. "Maaf sudah merepotkan kakak."
"Kamu tidak merepotkan aku. Aku tak melakukan apa-apa. Kamu hanya menenangkan dirimu sendiri."
"Aku bodoh! Sungguh bodoh! Seharusnya aku tak perlu menyusahkan diriku seperti ini."
"Kadang Tuhan mengijinkan kita jatuh untuk membuat kita semakin dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan selanjutnya."
"Benarkah?"
"Ya. Kita kan bukan manusia sempurna jadi bisa saja kita melakukan kesalahan. Asalkan kita tak akan jatuh lagi pada kesalahan yang sama."
"Aku akan kuat. Aku harus kuat." ujar Jelena sambil memegang perutnya.
Jun mengangguk. "Kamu akan menjadi ibu yang hebat Jelena."
Jelena terkejut mendengar perkataan Jun. "Kak Jun tahu kalau aku hamil?"
"Aku tahu kalau kamu adalah istri Adras Permana. Karena sebenarnya aku hadir di pernikahan kalian. Memang awalnya aku tak mengenali kamu namun saat melihat kedua ponakan Adras yang selalu mengunjungimu di sini, aku akhirnya yakin." Jun menatap Jelena. "Aku pernah melihatmu muntah beberapa kali. Aku juga sering melihatmu memegang perutmu. Makanya aku yakin kalau kamu memang sedang hamil. Aku memberikan kamar di sini supaya kamu nggak capek. Di sini juga ada wifi jadi kamu nggak perlu membeli kuota untuk menyelesaikan tugasmu."
Jelena menjadi terharu. "Terima kak Jun. Aku nggak tahu harus bilang apa."
"Selesaikan saja persoalan mu dengan Adras agar tak membuatmu stres." Jun menepuk bahu Jelena lalu segera meninggalkan gadis itu sendiri. Jelena menarik nafas panjang. Ada sedikit rasa lega dalam dirinya karena Jun sudah tahu keberadaan dirinya.
__ADS_1
**********
Cafe masih buka malam ini. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Namun Jelena merasa ingin makan sesuatu yang asam. Ia pun keluar dari pintu belakang lalu berjalan menuju ke supermarket yang letaknya hanya di sebelah cafe.
Ia mencari di rak buah segar dan ia menemukan ada rujak di sana. Jelena merasa senang. Ia langsung membayar rujak tersebut dengan sebotol air mineral lalu duduk di depan supermarket itu untuk menikmati rujak tersebut. Untuk sesaat Jelena ingin menenangkan dirinya dan melupakan peristiwa yang dilihatnya tadi sore di apartemen dosennya.
Gadis itu menghabiskan sekotak rujak dengan rasa puas yang membuatnya tak lagi merasakan mual.
Saat Jelena akan kembali ke cafe, ia terkejut melihat mobil Adras ada di pinggir jalan dan pria itu langsung keluar dari mobilnya melihat Jelena yang mendekat.
Langkah Jelena terhenti. Mendapatkan tatapan seperti itu, ia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Entah karena apa, kebencian Jelena yang tadi sore begitu menggebu-gebu ia rasakan, kini seperti berkurang.
"Ayo pulang ke rumah." ajak Adras lalu meraih tangan Jelena.
"Aku tak mau!" Jelena menarik tangannya dari genggaman Adras.
"Aku tak mau kamu dalam keadaan hamil dan berada di luar seperti ini."
Jelena menatap Adras sambil tersenyum mengejek. "Sejak kapan kamu khawatir tentang diriku? Apakah karena kamu takut aku mengatakan apa yang kulihat tadi sore di apartemen itu pada Santi dan Sofia? Tenang saja Adras. Aku bukan perempuan cerewet yang akan menyusahkan hidupmu."
"Aku tak takut kau mengatakan itu pada orang rumah. Biarlah kalau mereka tahu tak mengapa. Mungkin memang sudah saatnya mereka tahu."
Jelena mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti dengan Adras. "Jadi maksud kamu dengan mengajak aku pulang untuk apa?"
"Kamu sedang hamil, Na. Dan aku tak bisa membiarkan kamu sendiri."
"Nana, Please..."
Deg!
Hati Jelena seperti dicubit mendengar Adras memanggilnya seperti itu. "Jangan halangi langkahku."
"Aku juga punya hak atas anak ini."
Jelena memukul tangan Adras yang menyentuh perutnya. "Pergi....!"
"Tidak....!" Adras tetap berdiri di hadapan Jelena.
"Mengapa kamu ingin aku kembali ke rumahmu? Aku tak mau hidup seperti dalam neraka. Dengan sikap mu yang dingin dan terkadang kasar padaku."
"Mari kita memulai dari awal lagi."
"Jangan mempermainkan aku, Adras. Aku tahu cintamu hanya untuk dia."
__ADS_1
Adras meraih tangan Jelena. "Tolong, bantu aku melupakan dia. Bantu aku untuk terlepas dari hubungan yang salah ini. Bantu aku untuk bisa hidup secara normal. Aku tahu hanya kamu yang bisa."
"Bagaimana bila ternyata kamu tak bisa lepas darinya? Cinta sejati itu tak akan mudah dipatahkan, Adras. Aku tak mau sakit hati karena akhirnya akan jatuh cinta padamu. Seandainya dari awal kamu jujur, aku pasti tak akan pernah menyodorkan diriku kepadamu. Kamu tahu, aku menyesal telah membiarkan kamu menyentuh aku." Jelena mendorong tubuh Adras yang menghadang jalannya. Ia bahkan sedikit berlari meninggalkan pria itu. Adras hanya bisa menatapnya dari jauh. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Adras tak tahu apa itu. Namun pria itu pun segera masuk ke dalam mobilnya. Penerbangannya jam 1 dini hari ini. Dan ia tak boleh terlambat.
*********
Sofia berlari ke kamar Santi. Tangannya bergetar saat membuka pintu kamar adiknya. "Santi....!"
Santi yang baru saja pulang les dan akan mengganti pakaiannya, segera berbalik dan menatap kakaknya. "Ada apa, kak?"
"Pesawat uncle mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu bagaimana detailnya namun pihak maskapai menelepon opa Jeff dan memberitahukannya. Sekarang ayo kita ke bandara."
"Uncle...." Santi langsung menangis. Ia mengangguk. Namun ia ingat sesuatu. "Aunty Nana. Kita harus memberitahukannya."
"Baik." Sofia pun menelepon Jelena.
3 jam kemudian.......
Para keluarga penumpang dan keluarga kru pesawat sudah memenuhi bandara. Mereka mendapatkan kabar kalau pesawat tujuan Singapura-Jakarta itu mendarat di atas persawahan warga yang jaraknya sekitar 3 jam dari Jakarta. Hujan deras masih mengguyur kota Jakarta sampai saat ini.
Jelena hanya duduk dengan tatapan kosong saat diberitahukan kalau belum ada kabar apakah ada penumpang yang selamat atau tidak.
Di bandara itu, Jelena juga melihat ada Mike dan Adam. Terinformasi kalau istri Mike, Anita, menjadi kru di pesawat itu.
Sofia menangis dalam pelukan Agung. Cowok itu baru saja mendarat 10 menit yang lalu. Ia mengatakan kalau memang cuaca hujan membuat pesawat mereka juga hampir tergelincir saat mendarat tadi.
Tak tahu apa yang Jelena rasakan. Yang pasti ia sudah 3 kali ke toilet untuk muntah. Ia juga merasa sangat ketakutan. Terbayang kembali pertemuannya dengan Adras 2 hari yang lalu. Bagimana Adras memohon agar Jelena kembali ke rumah.
Pengumuman kembali terdengar. Kalau para penumpang yang selamat sebentar lagi akan tiba dengan menumpangi helikopter tim SAR yang menjemput mereka.
Para keluarga terlihat mulai tak sabar ingin segera tahu apakah keluarga mereka ada diantara penumpang yang selamat.
Satu persatu penumpang yang selamat datang. Yang terluka langsung di jemput oleh ambulance untuk di bawa ke rumah sakit bandara yang letaknya di dekat pintu keluar bandara.
Adras belum terlihat. Sofia dan Santi semakin khawatir. Apalagi saat beberapa pramugari mulai terlihat datang. Tak ada Adras di sana.
Anita terlihat memasuki ruang tunggu. Mike langsung berlari dan memeluk istrinya. Jelena menatap pasangan itu dengan tatapan membencinya. Namun saat ia akhirnya melihat Adras, yang berjalan agak tertatih memasuki ruang tunggu, entah apa yang mendorongnya, Jelena langsung berlari dan memeluk Adras.
Mike, Adam dan Anita melihat hal itu. Bagaimana eratnya Jelena memeluk Adras dan bagaimana tangan Adras langsung menyambut pelukan itu.
*Jelena, aku akan menyingkirkan mu!
Kata seseorang dalam hatinya.
__ADS_1
*******
Selamat Tahun Baru 2023 semuanya*...