
Jelena terus memeluk Adras tanpa memperdulikan betapa tersiksanya Adras dengan kedekatan mereka saat ini.
"Na.....!" panggil Adras lembut.
"Ya...." jawab Jelena tanpa membuka matanya.
"Kok kamu jadi setakut ini sih?"
"Aliran listriknya ikutan padam jadi suasananya jadi menakutkan."
Adras terkekeh. "Kamu sudah mengantuk?"
"Sedikit."
"Kamu tahu nggak sekarang kaki kamu ada di mana?" tanya Adras sambil menelan salivanya. Sungguh, ia mulai tak bisa menguasai dirinya.
"Kenapa memangnya dengan kakiku?" Jelena yang masih saja terus memeluk Adras tak sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Sayang, aku jadi menginginkanmu saat ini." ujar Adras lalu mencium pipi Jelena.
"Adras, kamu kok suka mengambil kesempatan dalam kesempitan sih?" tanya Jelena sambil mencubit pinggang Adras. Tepat di saat itu bunyi benda terdengar jatuh dan Jelena secara refleks langsung naik ke atas tubuh Adras dan memeluk lelaki itu.
"Nana ....!"
"Apa itu?" tanya Jelena sambil membenamkan kepalanya di ceruk leher Adras. Hembusan nafas Jelena yang menyentuh kulit leher Adras membuat pria itu semakin panas dingin dibuatnya.
"Nggak ada apa-apa, Na. Paling juga karena suara angin yang meniup sesuatu di bawa sana."
Jelena yang berbaring di atas tubuh Adras sesekali bergerak sambil menggelengkan kepalanya.
"Adras, pulang aja, yuk!"
"Ini sudah tengah malam."
Adras mencoba menenangkan Jelena. Ia membelai punggung istrinya itu dan kemudian mencium pipi Jelena.
"Jangan takut. Ada aku di sini." ujar Adras lembut lalu secara perlahan membalikan posisi mereka sehingga kini, Jelena yang menjadi di bawah.
"Adras....!" Jelena terkejut saat menyadari posisi mereka yang kini sudah terbalik.
Adras langsung mencium bibir Jelena dengan lembut dan menggoda. Jelena membulatkan matanya karena ia memang tak siap menerima ciuman itu. Adras sama sekali tak mau melepaskan Jelena. Ia tahu dimana titik kelemahan istrinya itu yang membuat Jelena akan takluk pada sentuhannya.
"Adras.....!" Jelena akhirnya menyebutkan nama Adras dengan suara yang parau.
"Sayang.....!" Adras kini semakin berani melepaskan semua yang melekat ditubuh Jelena.
"Lampunya menyala." Jelena Akan bangun saat melihat lampu kamar menyala.
"Nana....!" Adras yang sudah siap memasuki Jelena akhirnya sampai terjatuh karena kuatnya dorongan Jelena di dada Adras.
"Eh.....!" Jelena terbelalak melihat Adras yang jatuh dari ranjang. Posisi keduanya yang memang berada di ujung ranjang membuat Adras memang langsung terjatuh.
"Nana.....!" Adras perlahan bangun sambil mengusap kepalanya. Untung saja lantai kamar dialasi dengan karpet sehingga efek jatuh itu tak terlalu sakit.
__ADS_1
"Aku.....!" Jelena menyadari kalau dirinya masih polos. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya Adras dengan cepat menahan selimut itu.
"Adras ...!" Jelena melotot. Ia tak berani menatap bagian bawa tubuh Adras karena ia tahu ada sesuatu yang masih 'on' di sana.
"Nana, kamu mau buat aku sakit kepala?" tanya Adras dengan suara memelas.
"Tapi lampunya kan sudah menyala."
"Apa hubungannya lampu yang sudah menyala dan kegiatan kita tadi?" Adras terlihat gelisah.
"Aku....!" Jelena bingung tak tahu harus bicara apa.
Adras baik kembali naik ke atas ranjang. "Bolehkah?" tanya Adras sambil membelai wajah Jelena.
"Aku .., kita kan belum...."
"Kita berdua sama-sama sudah siap, sayang...." ujar Adras lalu segera memposisikan dirinya dengan baik. Ia tak akan melepaskan Jelena malam ini.
**********
Pagi harinya, Jelena bangun dengan badan yang terasa sakit semua. Adras sungguh tak melepaskannya begitu saja. Mereka bahkan melaluinya dengan 3 ronde yang sangat panjang. Dan inilah hasilnya. Jelena bangun saat waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Jelena berjanji pada dirinya sendiri tak akan lagi jatuh pada pesona Adras yang sering membuatnya kehilangan kesadaran. TIDAK!
Setelah mandi, Jelena turun ke bawa. Adras masih tertidur.
"Selamat pagi paman."
"Eh...neng Nana."
"Paman lagi ngapain?"
"Biar aku saja yang panaskan, paman."
"Baiklah. Paman akan bersihkan halaman dulu. Semalam hujan dan agak berangin. Makanya aliran listrik sering mati. Tapi untung gensetnya sudah paman isi dengan bensin jadi semalam aman kan?"
Jelena mengerutkan dahinya. Bukankah semalam Adras bilang kalau gensetnya kehabisan bensin?
"Neng....., ada apa?"
Jelena tersenyum. "Nggak ada apa-apa. Paman silahkan saja bekerja."
Awalnya Jelena menyiapkan meja untuk sarapan. Namun ia ingat dengan kejadian semalam. Ia pun segera menuju ke kamar yang sempat ia tempati. Ketika ia membuka jendelanya, memang agak susah karena terhalang oleh ranting bunga bougenville. Kali ini Jelena tahu kalau semalam memang karena angin, ranting bunga itu mengetuk jendela kamarnya.
Ia pun segera keluar rumah dan menemui paman Raka.
"Paman, boleh nggak aku bertanya sesuatu?"
"Ada apa, Neng?"
"Villa yang disebelah, kenapa kosong ya? Semalam juga lampunya nggak menyala."
"Villa itu memang sudah beberapa bulan nggak ditempati lagi. Katanya sudah dibeli oleh orang lain. Mungkin semalam penjaganya lupa menyalahkan lampunya."
"Oh...., nggak ada kisah seremnya nggak?"
__ADS_1
Raka tersenyum. "Nggak, neng. Villa itu dulunya memang milik orang Korea. Kalau di kompleks sini, yang ada cerita horor nya adalah villa yang ada di jalan sebelah. Ada kisah pembunuhan seorang istri. Katanya sih dibunuh oleh suaminya karena cemburu pada sopirnya. Nggak tahu juga sih apakah benar atau nggak soalnya villa itu sekarang sudah dibongkar."
"Oh....gitu ya...Lanjutkan saja, paman. Aku mau ke dalam dulu." Jelena segera menuju ke lantai dua. Saat ia memasuki kamar, Adras baru saja keluar dari kamar mandi dan tanpa menggunakan apapun. Nampak Adras baru saja mandi.
"Ah....dasar mesum!" Jelena langsung membalikan badannya.
"Kenapa? Semalam kita kan baru saja....."
"Diam....!" Jelena berbalik. "Pakai pakaianmu dan kita akan bicara."
Jelena kembali membalikan badannya.
"Sudah sayang....!"
Jelena berbalik. Adras sudah selesai berpakaian.
"Ada apa?" tanya Adras.
Jelena langsung menyerang Adras dengan membabi-buta. "Kamu sengaja kan mengarang cerita tentang villa sebelah? Kamu juga bohong tentang genset yang kehabisan bensin pada hal kata paman Raka bensinnya baru saja ia isi."
"Ih...Nana, sakit ah..." Adras berusaha menghindari pukulan Jelena.
"Kamu tuh keterlaluan....!" Jelena rasanya ingin menangis karena ia merasa dibodohi oleh Adras.
"Sayang, aku nggak membodohi kamu. Saat lampu padam, aku sebenarnya ingin menyalahkan genset. Namun mendengar kamu yang berteriak-teriak dalam kamar dan menentang hantu, muncul ide di kepalaku untuk menakuti kamu. Makanya gensetnya nggak aku nyalakan. Nah, kamu yang ketakutan justru memeluk aku dengan kaki yang berada tepat di atas anuku. Kita sudah berbulan-bulan nggak saling bersentuhan, kamu pikir itu nggak menyiksa aku? Apalagi saat kamu naik ke atas tubuhku ."
"Diam....! Ayo kita sarapan dan pulang. Kamu kan akan terbang sore ini." Jelena segera keluar kamar dengan wajah yang sedikit memerah. Ia juga tahu kalau Adras sampai begitu karena sikapnya sendiri. Kamu bodoh Jelena! Umpat gadis itu sambil memukul kepalanya.
**********
Adras turun dari mobil. Ia diantar oleh paman Sule. Ia berpapasan dengan beberapa kru penerbangan lainnya. Kali ini Adras akan terbang dengan perasaan yang gembira. Walaupun Jelena masih cemberut padanya, namun saat Adras minta didoakan sebelum pergi, Jelena masih mendoakan nya.
Sambil membaca catatan penerbangan, Adras melihat nama-nama para kru yang bertugas. Hati Adras langsung tak enak saat melihat nama Anita sebagai senior pramugarinya. Haruskah ia memberitahukan Jelena?
Saat memasuki pesawat, semua kru sudah ada.
"Selamat sore kap!" sapa mereka termasuk juga Anita. Perempuan itu selalu terlihat paling menarik diantara semua kru kabin perempuan yang ada.
"Selamat sore." Adras berusaha bersikap biasa. Ia segera masuk ke kokpit. Menyapa kapten Rolando yang akan menjadi co-pilot.
Adras tak langsung duduk di kursinya. Ia menelepon Jelena. Sayangnya Jelena tak mengangkat panggilannya itu.
Di tempat lain, Jelena bertemu dengan seseorang.
"Mereka berangkat bersama hari ini, Jelena. Mereka akan bersama selama beberapa hari. Aku harap kamu kuat untuk menerima kenyataan ini."
Jelena menarik napas panjang. Inilah yang selalu ia takutkan saat Adras harus berada di dekat Anita.
**********
Nah, apakah Jelena akan ikut berjuang untuk cintanya? Atau Jelena akhirnya menyerah?
Jangan lupa dukung emak ya guys.
__ADS_1
Maaf kalau ceritanya kurang greget saat ini. Emak masih bersedih karena kehilangan sahabat baik emak.