
3 bulan sudah Sofia tak pernah berjumpa dengan Arley. Ia kehilangan semua perhatian dan kasih sayang cowok itu. Hati kecilnya mengatakan bahwa ia rindu.
Apakah Arley sudah kembali ke Amerika?
Pertanyaan itu yang selalu hati kecil Sofia tanyakan.
Sekarang malam minggu, katanya malam para pasangan memadu kasih.
Sofia sudah puas bermain dengan ketiga sepupunya yang semakin hari semakin menggemaskan saja. Apalagi Mikhaela yang semakin cantik.
Pamannya baru saja tiba tadi pagi. Dan pasti sekarang sudah mengurung diri bersama istrinya di kamar bersama ketiga buah hati mereka.
Weekend ini Santi tak datang karena ada acara keluarga di rumah mertuanya, sedangkan uncle Jeff yang bucin sedang menemani istrinya dinas malam. Makanya Sofia merasa sepi. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan saja di dekat kompleks perumahan sambil membeli beberapa jajanan.
Setelah mengirim pesan pada Adras untuk meminta ijin, Sofia pun keluar dengan mobilnya. Ia berhenti di sebuah taman. Duduk di sana sambil makan kacang rebus, namun ia merasa hambar karena semua nampak berdua dan ia sendiri. Ia pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Namun baru saja ia akan masuk ke mobilnya, ia melihat seseorang yang mendekatinya. Seseorang yang sudah membuat ia galau selama 3 bulan ini. Lelaki bule tampan dengan tinggi badan 185cm. Sangat jauh perbedaannya dengan Sofia yang memiliki tinggi 167cm.
"Aku rindu .....!" kata Arley begitu ia berdiri di depan Sofia. Ia memeluk gadis itu dengan sangat erat sambil mencium puncak kepala Sofia dengan sangat lembut.
Air mata Sofia jatuh. Ia tahu kalau ia tak bisa menahan perasaannya lagi. Hatinya telah terbuka untuk bule Amerika ini.
"Jangan menjauh dari aku lagi, Arley." kata Sofia.
"Aku tak pernah menjauh darimu, sayang. Aku selalu berada di dekatmu. Aku mengikuti mu seperti orang gila karena aku tak bisa menyentuhmu." Arley melepaskan pelukannya. Ia membelai wajah Sofia lalu menghapus air mata gadis itu. "Maukah kau melupakan masa lalu dan meniti masa depan bersama ku?" tanya Arley.
Sofia mengangguk. "Asalkan kamu mau menungguku sampai aku bisa menggapai mimpiku."
"Selama apapun itu, asalkan aku memiliki kepastian untuk bersamamu, maka aku pasti akan menunggumu."
Kali ini Sofia yang lebih dulu memeluk Arley. Keputusan nya sudah bulat, ia akan memberikan hatinya untuk Arley.
*********
Hari ini, Sofia sengaja datang lebih pagi ke makam orang tuanya.
Hari ini adalah peringatan kematian mereka. Sofia ingin ketemu dengan Arkley. Kata Arley, semalam kakaknya sudah tiba dari Amerika.
Dari jauh, Sofia sudah melihat seorang lelaki yang tinggi badannya seperti Arkley. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana kain hitam. Di atas makam sudah ada bunga mawar putih. Bunga kesayangan Selina.
"Arkley....!"
Arkley menoleh. Ia terkejut melihat Sofia. Dan Sofia juga terkejut melihat wajah Arkley yang memang mirip dengan Arley.
"Sofia?" ujar Arkley setelah menyadari bahwa gadis di depannya ini bukanlah Selena.
Sofia tersenyum. Ia mendekat lalu berdiri di samping Arkley.
"Apakah kamu percaya kalau Tuhan itu ada?" tanya Sofia.
"Tentu saja. Saya bukan ateis."
"Tuhan itu adalah penentu kehidupan dan kematian kita. Jadi seseorang akan mati kalau memang waktu kematiannya sudah tiba."
"Aku tahu."
"Karena itu, lepaskanlah rasa bersalah dalam hatimu atas kematian mamaku. Jika mamaku pun bisa berbicara, maka ia akan mengatakan bahwa ia sudah memaafkan mu karena mamaku selalu mengajarkan kepadaku agar selalu memaafkan kesalahan orang lain."
Arkley menatap Sofia. Entah mengapa ia merasakan kalau Selena berbicara kepadanya melalui anaknya.
__ADS_1
"Boleh aku memelukmu?" tanya Arkley.
"Tentu saja."
Arkley memeluk Sofia sambil memejamkan matanya. Beban yang selama bertahun-tahun ada di pundaknya seperti telah terlepas.
"Terima kasih." kata Arkley setelah melepaskan pelukannya.
"Arkley, 11 tahun sudah berlalu semenjak kematian mamaku, kenapa kamu tak mau membuka hati dan menikah?"
Arkley tersenyum. "Mamamu memiliki tempat khusus di hatiku."
"Tapi nanti kamu akan kesepian jika terus seperti ini."
Arkley mengusap puncak kepala Sofia. "Aku tak akan kesepian karena anak-anak Arley dan kamu akan menemaniku."
Sofia tertawa. "Itu masih lama. Aku juga masih kuliah."
"Aku yakin hari itu pasti akan ada."
"Mau aku carikan jodoh?"
"Seperti kamu dan Santi mencarikan jodoh untuk pamanmu?"
"Arley yang cerita?"
"Ya."
"Pamanku sudah bahagia. Kamu pasti juga akan bahagia. Teman-temanku banyak yang cantik dan baik hati."
"Kamu mau yang usianya 30an?"
Arkley tertawa. Mereka baru saja bertemu dengan Sofia sudah peduli padanya. "Aku lebih suka menyendiri."
"Pokoknya akan ku Carikan."
"Aku suka karakternya mirip mamamu."
Sofia diam sejenak. Ia menatap makam mamanya. "Mama begitu istimewa bagimu?"
"Sangat istimewa."
Keduanya pun duduk di bangku beton yang memang ada di tepi makam. Mereka bercerita tentang apa saja dan Arkley merasa sangat terhibur.
***********
Elina akhirnya melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Elianore. Seperti nama mamanya Jeff. 2 bulan kemudian Santi pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ibu mertuanya yang paling senang, paling heboh dan mengurus semuanya. Bayi tampan itu diberi nama Ye Joon.
Hari ini mereka berkumpul di rumah baru opa Jeff dan Elina. Ada perayaan ulang tahun opa Jeff sekaligus syukuran mereka sudah menempati rumah baru ini.
Bayi kembar Jelena sudah berusia 1 tahun lebih. Ketiganya bahkan sudah bisa berjalan. Jelena terpaksa menyewa jasa baby sister karena ia memang sudah tak bisa lagi menangani mereka sendiri sementara ia sendiri masih bekerja di kantor.
Sofia pun datang bersama Arley dan juga Arkley. Setelah dibujuk, Arkley akhirnya mau juga datang.
Adras menunjukan sikap yang bersahabat dengan Arkley. Mereka bahkan kini berbicara tentang bisnis.
Seorang gadis cantik muncul di sana. Itu adalah anak opa Jeff dari istri pertamanya. Seorang gadis berusia 27 tahun. Ia kini juga bekerja di perusahaan Adras. Gadis pintar dan sangat baik hati.
__ADS_1
"Happy birthday, dad." kata Sarah sambil memeluk papanya. Jeff tak pernah melalaikan tanggungjawab kepada anaknya ini sehingga hubungan mereka memang sangat baik.
"Terima kasih sayang. Kenapa namamu tak datang?"
"Mommy sedang sibuk dengan bisnis kuenya." Sarah menyapa mommy Elina. Hubungan mereka pun baik.
Sarah memeluk adiknya. "Dia sangat cantik."
"Siapa dulu dong papanya."
"Ih Daddy, wajahnya mirip mommy Elina."
"Masa sih?" Jeff menatap putrinya itu. "Matanya biru kayak daddy."
"Mata aja, dad. Selebihnya mirip mommy Elina." Sarah menggoda papanya.
Elina pun tertawa melihat wajah Jeff yang nampak cemberut.
Arley, Arkley dan Adras sedang membicarakan bisnis penebangan.
"Bagaimana jika kita mendirikan sebuah maskapai? Kakakku sudah lama bekerja sama dengan salah satu perusahaan pembuat pesawat di Amerika. Uncle Adras sudah lama menjadi pilot dan aku bisa menangani masalah administrasinya." ujar Arley saat pembicaraan mereka sudah berkutat di masalah penerbangan.
"Usul yang baik." ujar Adras yang merasa tertarik.
"Hallo semua...." Sapa Sarah mendekati para pria itu.
"Sarah. Apa kabar?" Adras memeluk sepupunya itu.
"Kak Adras, mana kak Nana?" tanya Sarah.
"Tuh, dia selalu diculik oleh Santi dan Sofia."
Sarah pun menuju ke arah mereka.
Arkley menatap Sarah. Mata Sarah mengingatkan Arkley pada Selena.
Sofia senang melihat bibinya yang cantik ini.
"Sof, Sarah kalau di lihat kayak kakak ade dengan kamu ya?" ujar Jelena.
"Memang beberapa bilang begitu." Kata Sofia. Tiba-tiba ia melihat ke arah Arkley yang sepertinya sedang melihat ke arah Sarah. Sofia tersenyum lalu berbisik sesuatu ke telinga adiknya.
"Wah, sekarang ganti judul dong. Kalau dulu istri untuk uncle Adras, sekarang suami untuk aunty Sarah."
Kedua kakak beradik itu tertawa.
"Ada apa?" tanya Jelena.
"Nggak, aunty. " Santi dan Sofia kompak menjawab. Keduanya kini punya misi khusus untuk kakak Arkley dan bibi Sarah.
**********
Berhasilkah misi itu....?
Jangan lupa novel emak yang baru yang guys
__ADS_1