ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Makan Bersama


__ADS_3

Jelena langsung melingkarkan tangannya di lengan Adras. Ia tersenyum sangat manis lalu berkata," Eh, tante Anita."


Anita nampak kesal dipanggil tante. Namun dia dengan anggun langsung memamerkan senyum manisnya yang banyak meruntuhkan hati kaum Adam. Perempuan itu datang bersama seorang perempuan muda yang kayaknya masih ABG.


"Mau makan siang di sini?" tanya Anita.


"Iya. Tante juga ya? Ayo gabung aja!" ujar Jelena membuat Adras nampak terkejut. "Sayang....!" bisik Adras nampak tak suka.


"Nggak apa-apa. Mas dan Tante Anita kan satu tempat kerja. Ayo duduk!" ujar Jelena sambil mempersilakan Anita dan gadis itu duduk di depan mereka. "Oh ya, gadis cantik ini siapa?" tanya Jelena.


Gadis itu menatap Anita.


"Oh..., dia Lian. Anak kakakku. Mereka baru saja datang dari Amerika sehingga Lian tak bisa bahasa Indonesia." ujar Anita.


"Oh...gitu ya." Jelena mengangguk. "Nice to meet you, Lian. How are you?"


Lian membalas ukuran tangan Jelena. " I'm fine. I'm glad I got to meet you too."


"You are very beautiful girl."


Lian tersipu. "You are also very beautiful. You guys are a perfect match."


"Mas, kamu dengar itu, katanya kita pasangan yang sangat cocok. Thank you." Jelena menyandarkan kepalanya di lengan Adras lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Lian.


Adras tersenyum. Bukan hanya apa yang dikatakan Lian melainkan karena bahasa Inggris Jelena yang sudah sangat fasih. Ia tak tahu bagaimana Jelena bisa mempelajari bahasa Inggris secara cepat.


Anita terlihat tak suka. Ia menatap ponakannya itu sambil menggelengkan kepalanya lalu menatap Adras dan Jelena yang ada di depan mereka. Restoran ini memang duduk secara melantai. Anita dengan sengaja menunjukan paha putihnya yang hanya menggunakan rok jeans mini.


"Adras tahu tempat ini dari aku. Kami dulu sering makan di sini karena suasananya adem dan tempat makannya juga sangat menjaga privasi orang yang makan." kata Anita membuat Adras melotot ke arahnya.


Panas? Tentu saja hati Jelena merasa panas saat mendengar itu. Apakah Adras mengajaknya ke sini karena ini tempat favoritnya bersama Anita?


Jelena tahu, Anita dengan sengaja mengatakan itu. Lian kan tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan.


"Benarkah mas?" Jelena menatap Adras dengan senyuman walaupun hatinya panas.


"Ya. Tempat ini aku tahu dari Anita." Agak berat Adras mengucapkan kalimat itu.


"Nggak masalah, kok mas. Tempat ini memang pernah menjadi tempat favorit mas dan tante Anita. Sekarang, tempat ini akan menjadi tempat favorit kita berdua karena aku juga suka dengan suasana yang adem dan agak sepi seperti ini. Mas juga bilang kan kalau makanannya enak." Jelena mengusap lengan Adras.


Tak lama kemudian makan pesanan mereka datang. Adras memang memesan beberapa jenis makanan. Jelena hanya meminta tambahan piring dan minuman untuk Anita dan Lian.


"Wah, mas, lontongnya besar ya? Tapi masih lebih besar....." Jelena mengangkat alisnya dan menunjuk ke arah celana Adras membuat suaminya itu terkejut karena ia tak menyangka kalau Jelena akan berkata mesum disaat begini.


"Maaf ya tante Anita. Bukanya sok pamer kemesraan. Namun mas Adras suka banget usil ke aku jika melihat sesuatu yang mirip bentuk tubuhku. Jadi aku balas aja dia sekarang. Kamu nggak marah kan mas?" Jelena menatap Adras dengan tatapan mesra dan menggoda. Kalau mereka saat ini berada di kamar, Adras pasti tak akan menahan dirinya untuk segera menerkam istrinya.

__ADS_1


"Nggak kok sayang." Kata Adras lalu mencium pipi Jelena.


"Tante Anita, ayo makan!" Jelena juga mempersilahkan Lian untuk makan.


Saat melihat minuman yang dipesan Adras, Anita pun tersenyum. "Adras ternyata masih suka dengan minuman itu. Itu memang minuman favorit kami berdua. Makanannya juga."


"Mas, minuman mu kayaknya enak. Aku coba ya?" Jelena mengambil gelas tinggi yang berisi minuman Adras. "Wah enaknya."


"Kamu mau, sayang? Ambil saja." ujar Adras.


"Terus mas minum apa?"


"Aku minum punya kamu saja."


"Punyaku, mas? Jangan di sinilah. Malu ada Lian masih ABG." Jelena pura-pura memegang dadanya. Adras yang lagi makan langsung tersedak sedangkan Anita terlihat semakin dongkol namun ia berusaha tenang.


"You guys are a cute and fun couple." puji Lian sambil mengangkat jempolnya.


"Ya. Kami memang pasangan yang lucu dan menyenangkan, Lian. My husband is a person who always pampers me (suamiku adalah orang yang selalu memanjakan aku.)" Jelena menatap Anita mesra.


Lian tersenyum bahagia.


"Tante Anita, kelihatannya sudah kenyang ya?" tanya Jelena. "Aku bahkan sudah nambah sampai dua kali. Aku harus selalu makan banyak, soalnya sebentar malam tenagaku pasti dikuras oleh mas Adras. Iya kan sayang?"


"Oh ya, aku lihat foto yang tante unggah itu. Teamnya kelihatan kompak. Beberapa teman ada yang komentar. Nggak cemburu ya suaminya digandeng pramugari cantik? Aku sih bilang, ngapain harus cemburu? Mas Adras nggak mungkin dong suka sama tante-tante saat ia sudah merasakan seorang perawan."


Anita yang sedang minum segera meletakan gelas yang dipegangnya dengan kasar. "Lian, let's go!"


"Oh Aunt, wait a little more. Eat very well. I want to spend it." rengek Lian. Namun Anita segera berdiri. Ia menarik tangan Lian dan segera pergi.


Saat melihat Anita dan Lian yang sudah hilang dari pandangan mereka, Jelena pun berdiri. Ia mencuci tangannya di wastafel yang memang tersedia di setiap gasebo yang ada. "Aku mau ke toilet." ujarnya dan langsung meninggalkan Adras sendiri.


Sesampai di dalam toilet, Jelena memasukan dua jarinya ke dalam mulutnya dan memuntahkan semua makanan dan minuman yang baru saja ia konsumsi. Sebenarnya ia sudah merasa muak saat mendengar bahwa makanan dan minuman yang Adras pilih adalah makanan favorit mereka berdua.


Adras menyebalkan. Kenapa juga harus diajak ke sini? Kenapa juga Anita ada di sini? Apakah sebenarnya Anita dan Adras janjian? Ih, kok aku harus cemburu sih? Aku tidak mencintai Adras. Tidak!


Saat Jelena keluar dari toilet, ia terkejut melihat Adras sudah ada di sana.


"Kamu lama sekali, Na. Aku jadi khawatir."


"Aku harus memuntahkan semua makanan dan minuman yang masuk ke dalam perutku. Aku tak sudi memakan dan meminum sesuatu yang adalah favorit kalian berdua. Memuaskan!" Jelena langsung melangkah meninggalkan Adras.


"Na, maaf. Aku nggak tahu kenapa Anita bisa berada di sini. Aku sama sekali nggak janjian dengannya." Adras mengejar langkah Jelena.


Jelena menghentikan langkahnya. "Aku nggak peduli dengan kehadiran Anita di sini. Lain kali, kalau kangen dengan Anita, nggak perlu mengajak aku ke tempat favorit kalian."

__ADS_1


"Aku nggak ada maksud apa-apa dengan mengajak kamu ke sini. Aku tahu kalau kamu suka tempat yang seperti ini dari pada restoran dengan ruangan ber-AC. Makanan di sini memang enak. Aku sama sekali nggak kepikiran kalau tempat ini pernah aku dan Anita datangi beberapa kali."


"Aku mau pulang!" ujar Jelena ketus.


"Ok. Aku sudah membayar makanannya. Ayo!" Adras mencoba memegang tangan Jelena namun di tepiskan oleh perempuan itu.


"Aku tadi sengaja bersikap sok mesra padamu, agar Anita tak bisa mengalahkan ku. Jadi jangan berpikir, setelah itu aku akan bersikap manis padamu." Kata Jelena lalu segera membuka pintu mobil dan masuk.


"Kita pindah tempat lain saja, ya? Tadi kan kamu bilang kalau kamu sudah memuntahkan semua makanan dan minuman yang ada dalam perutmu." Adras berusaha lembut saat berkata.


"Aku nggak lapar. Aku mau pulang. Capek." Jelena memejamkan matanya setelah ia memasang sabuk pengamannya.


Adras pun diam seribu bahasa. Ia tak tahu harus bicara apa untuk bisa membujuk Jelena.


Sesampai di rumah, Jelena langsung mandi. Setelah menggunakan daster rumahan bercorak Hello Kitty, ia pun segera tidur.


Adras mengusap wajahnya kasar lalu duduk di sofa kamar sambil menatap istrinya.


********


Sofia dan Santi manggut-manggut saat mendengar cerita pamannya.


"Uncle sih, kenapa juga bawa ke tempat makan itu?" sesal Santi.


"Mana uncle tahu kalau Anita akan muncul di sana. Lagi pula, uncle ajak Jelena ke sana karena disamping makanannya enak, tempatnya juga asyik." Adras menghembuskan napasnya dengan rasa sesak di dada.


"Bujuk lagi dong, uncle." ujar Sofia.


"Aunty kalian nggak mau. Tidur pun bahkan ia nggak mau dipeluk."


"Bagaimana bisa hamil kalau begitu? Hanya kehamilan yang akan membuat aunty berubah. Dan karena aunty nggak mau disentuh oleh uncle, aku tahu apa yang bisa membuat aunty panas dingin dan akhirnya minta uncle sentuh" ujar Santi yang adalah seorang mahasiswa kedokteran.


"Apa?" tanya Adras dan Sofia hampir bersamaan.


"Afrodisiak." bisik Santi sambil mengedipkan matanya.


***********


Apakah itu?


Menurut kalian, bagaimana sikap Jelena tadi?


komen yang banyak dan panjang ya....


emak suka membaca komen kalian.

__ADS_1


__ADS_2