
***
Beberapa hari kemudian...
Satu pekan sudah, Elizha sama sekali tak bertemu dengan Gabvin. Mereka hanya mengobrol di telpon, Mereka berencana untuk pergi ke pesta pernikahan margaret, Jadi untuk saat ini Elizha harus berkutat sendiri...
Elizha tengah bersiap di depan Cermin rias. Ia Akan datang bersama pacarnya yaitu Gabvin.
Betapa antusiasnya ia agar tampil menawan dan berharap sebuah pujian dari kekasihnya itu...
"Tinggal jepit ini ke sini..."Ucap Elizha memakaikan riasan di rambutnya. Elizha terlihat sangat berbeda meski saat ini ia berias sendiri dan itu tak terlalu buruk.
Eizha menatap dirinya di cerminnya dan terdiam beberapa saat "Apa yang aku lakukan? Apakah penampilanku terlalu mencolok?" Tanya Elizha dalam hati.
Tak berselang lama setelah itu...
Tok! Tok!
Pintu di ketuk beberapa kali "Masuk" Elizha lekas memasukan barang-barang riasannya ke dalam laci meja riasnya. Tampaknya Elizha sangat gugup. Akhirnya seseorang mulai masuk kamar tersebut. Elizha sama sekali tak menoleh ke arah di mana seseorang itu datang "Kakak. Ada apa?" Tanya Elizha masih menatap cermin besar di hadapannya dengan wajah yang sedikit tegang.
Sementara seseorang itu tak ingin menjawab Elizha dan cenderung diam. Ia bersembunyi di belakang bucket bunga yang cukup besar.
"Kakak... Ayo bicaralah" pinta Elizha.
Karna tak ada jawaban sama sekali, Elizha pun mulai menoleh ke arah tersebut. Ketika ia simak seseorang yang masuk itu, betapa kagetnya ia. Hingga dua bola matanya melotot "Aahhh!" Pekik Elizha mulai bangun dari kursi Rias dan berdiri di hadapan bucet bunga ukuran jumbo itu.
Tentu saja seseorang itu adalah Gabvin, Gabvin mulai menurunkan bunga tersebut dan mengucap sebuah kalimat yang manis "Apa kabar sayang?" Tanya Gabvin.
Elizha kaku kala Gabvin memanggilnya dengan sebutan sayang...
"A-aku baik-baik saja..." Elizha sungguh gagap pada Gabvin yang tampil berbeda dari biasanya... Elizha terkesima sungguh ketika melihat penampilan Gabvin yang sangat tampan. Ia mengenakan jas hitam dengan dasi warna biru mencolok.
Karna salah tingkah, Elizha mulai teriak "Ahh... Akhirnya kamu datang..." Elizha mulai menutup mulutnya dan mengembangkan pipinya di balik kelima jarinya itu "Lama tak bertemu..." balas Gabvin seraya terus melangkah menghampiri Elizha.
"Ya... Apakah bisnis mu lancar?" Tanya Elizha salah tingkah.
"Ya... Bisnis ku lancar karna dukunganmu sayang" Gabvin mendekat lalu meraih pinggang Elizha dan mendekapanya "Syukurlah..." Elizha menghelan napas leganya. Gabvin menekan punggung Ellizha dan membiarkan Elizha bersandar di dadanya.
"Lama tak bertemu, kamu makin cantik saja... Sungguh beruntung aku memilikimu" Ucap Gabvin seraya mengecup pucuk kepala Elizha.
__ADS_1
"Dasar gombal..." Umpat Elizha menolak, tapi apa boleh buat... Rayuan Gabvin memang sangat ia rindukan.
Gabvin yang rindu mulai mendekap Elizha begitu lama. Elizha mulai bertanya pada Gabvin "Apakah kamu akan pergi lagi setelah datang ke pesta pernikah Margaret?" Tanya Elizha risih nanar yang cantik itu mulai terlihat pilu.
"Sepertinya begitu..." Jawab Gabvin singkat.
Elizha hanya diam karna ia kecewa pada jawaban Gabvin, terlalu sedih jika ia hanya terus mendengar suara Gabvin di telpon malah membuatnya tak puas dan makin merindukan pria itu.
"Apakah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Gabvin.
Elizha pun mengangguk "Sayang... Kamu sedih?" Tanya Gabvin.
"Tidak! Elizha memalingkan mukanya kala Gabvin menyantuh dagunya dengan lembut.
"Lalu, kenapa kristal bening itu terjun, apakah aku membuat kesalahan?" Tanya Gabvin merasa tak nyaman.
"Aku hanya... Sedang rindu saja" Umpat Elizha terlalu jujur, ungkapan Elizha yang seperti itu membuat Gabvin senang.
"Maafkan aku karna membuatmu terlalu merindukanku" Gabvin mulai menempelkan jidaknya di pucuk kepala Elizha dengan mata yang terpejam.
"Kamu pasti lelah, bekerja terlalu berat..." Ucap Elizha menatap nerta Gabvin yang sesaat terpejam "Tidak juga..." Gabvin mulai membuka matanya dan lurus menatap Elizha "Aku sungguh rindu, apakah kamu juga merindukanku?" Tanya Elizha polos, pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir wanita itu. Hingga Gabvin makin tak tahan dan mulai melewati batasannya.
Gabvin mencium Elizha pelan dan lekas melepasnya "Kita akan terlambat jika terus begini" Jelas Gabvin menahan diri.
"Uh... Kamu selalu membuatku kaget" Jelas Elizha menutup mulutnya yang tadi di kecup Gabvin.
Gabvin mulai melepas pelukannya, lalu menatap Elizha dari atas hingga bawah "Oh sayang... Seharusnya kamu tak perlu memaksakan diri untuk tetap memakai Gaun ini. Aku khawatir pada bayimu... Pakaian ini terlihat ketat dan perutmu bisa terhimpit nanti" Jelas Gabvin tetap khawatir pada janin yang ada di rahim Elizha. Apa boleh buat, Gabvin mengomel demikian karna Elizha mengenakan gaun putih yang cukup sempit hingga perutnya yang kini buncit mulai menonjol.
"Aku baik-baik saja kok..." Ucap Elizha.
Gabvin pun pasrah kala Elizha berkata demikian "Tapi aku sungguh khawatir..."
"Aku akan terlihat buruk jika tidak memakainya ke pesta pernikahan sahabatku" Balas Elizha berdalih.
"Ya sudahlah... Ayo...kita jalan" Gabvin mulai menggandeng Elizha.
"Tunggu aku pakai sepatu dulu" Ucapnya. Elizha memilih Hak tinggi dengan tingginya mencapai hampir 15cm.
Elizha bahkan memakai highils yang cukup tinggi itu di usia kandungan yang sedikit besar "Sayang. Sebaiknya kamu pakai pentopel ini saja, kamu pasti tampak anggun. Hak tinggi seperti itu di usia kandungan yang cukup besar bisa sangat tidak cocok karna terlalu berbahaya" Imbuh Gabvin. Elizha makin tak nyaman karna Gabvin seperti biasanya terlalu Ferpact.
__ADS_1
Ugh ini nggak boleh itu nggak boleh... Nyebelin! Bathin Elizha menggumam.
"Sayang. Pelan-pelan..." Gabvin cukup khawatir. Tentu saja apa yang di khawatirkan pun sungguh Gabvin terjadi. Saat Elizha tengah memperhatikan penampilannya di cermin besar kamar tersebut.
Ia memutar tubuhnya kekanan dan kekiri seakan puas. Namun, tiba-tiba saja ia merasakan sebuah rasa sakit yang cukup menyiksa "A-aduh..." Pekik Elizha memegangi perutnya.
Gabvin berlari menghampiri wanita itu "Sayang kamu baik-baik saja?" Tanya Gabvin cemas. Elizha lekas mencari kursi dan duduk perlahan "Entahlah... Perutku tadi sakit sekali. Tapi saat aku duduk rasa sakitnya mulai hilang" Jelas Elizha. Gabvin tampak khawatir "Sayang. Ayo pergi ke dokter" Pintanya cemas.
"Tidak... Aku harus pergi ke pernikahan Margaret" Jelas Elizha bersikeras ingin datang.
"Oh sayang... Aku takut terjadi hal buruk padamu. Sebaiknya kita ke dokter kandungan sekarang" Pinta Gabvin memaksa.
"Gabvin tolong mengerti. Masa pakai Gaun putih ini lalu berangkat ke dokter... Kamu kan janji padaku untuk pergi ke pesta pernikahan sahabatku" Elak Elizha enggan pergi ke dokter kandungan.
Mereka berdebat, dan kekeras kepalaan Elizha membuat Gabvin risih "Sayang... Apa ini?" Tanya Gabvin menyentuh kaki Elizha dan mencoleknya.
"Ih. Dasar genit..." Pekik Elizha mencubi bahu Gabvin. Sedangkan Gabvin hanya bisa memperhatika jemarinya yang terlumuri darah.
"Ada darah?" Tanya Gabvin pada Elizha.
"D-darah?" Elizha mulai menatap jemari Gabvin yang ternoda itu.
"Ahhh!" Pekik Gabvin menatap kaki jenjang Elizha "Ada darah yang keluar... Ini bahaya!" Pekik Gabvin mulai mengangkat tubuh Elizha dan refleks berlari menuju pintu keluar.
BRAK!
Pintu terbuka, Gabvin berlari ke arah pintu keluar kediaman itu "Gabvin apa yang terjadi?!" Tanya Rio panik. Sementara Elizha hanya bisa terbelalak dia sungguh takut sesuatu terjadi pada janin dalam kandungannya.
"Rio siapkan mobil! Kita pergi kerumah sakit!" Jelas Gabvin panik.
"Rumah sakit!" Pekik sang ayah.
"Ayah ayo ikut aku..." Pinta Rio.
Padahal ayah dan anak laki-lakinya sedang asyik minum teh hagat. Tapi, tiba-tiba di kejutkan oleh ke panikan Gabvin.
Mereka mulai bersiap pergi ke rumah sakit. Nampaknya Elizha tak mungkin hadir ke pesta pernikahan sahabatnya itu. Sebab, ia terlihat tidak baik saat itu...
Bersambung...
__ADS_1