
***
"Agih! "Pekik Detik memegang kepalanya yang begitu sakit dan seakan hendak pecah.
"Sa-sayang kamu kenapa? " Tanya Margaret khawatir. ia lekas memegang tubuh suaminya itu.
"Kepalaku sakit sekali" Ucap Derik meringis ke sakitan.
"Oh. Astaga... Aku lupa, tak membawa obatmu sayang. Mau kah kamu minun obat pereda rasa sakit?" Tanya Margaret seraya merogoh tas miliknya secepat mungkin.
"Berikan padaku... Kepalaku sakit sekali. Bahkan tak tahankan..." Gumam Derik.
Akhirnya, Margaret pun mulai memberikan obat tersebut, dan Derik pun lekas menelannya.
Gluk! Beberapa saat kemudian, setelah Derik meminum obat tersebut. Ia pun mulai merebahkan dirinya di kursi kemudi belakang itu memejamkan matanya beberapa saat.
"Sayng apakah kamu sudah agak baikan?" Tanya Margaret masih khawatir pada suaminya itu.
__ADS_1
"Ngh... Cuman agak sedikit mual dan pusing" Umpat Derik seraya mengusap wajahnya.
"Mungkin itu adalah efek samping. Besok besok pasti tak akan terasa lagi" Jelas Margaret.
"Begitu ya. Untung aku punya istri yang cekatan sepertimu... Terimakasih sayang" Ucap Derik mesra.
Margaret mulai menenangkan Derik dengan cara memeluknya erat "Sayang lekas sembuh ya... Agar aku tak terlalu khawatir padamu" Sambung margaret.
"Ngh. Doakan saja agar aku lekas pulih. Aku tak mau membuatmu cemas... Maafkan aku ya..." Balas Derik.
Maafkan aku sayang. Aku terpaksa melakukan ini agar kamu tetap berada di sampingku selamanya. Aku tak mau ingatan mu kembali dan membuatmu pergi untuk mencari masalalu mu. Bathin Margaret menggerutu.
Nampaknya obat yang di berikan Margaret pada Derik bukanlah obat pereda nyeri biasa. Namun itu juga dalah obat untuk membuat sel jaringan otak melemah dan mengakibatkan adanya gangguan lupa atau pikun.
Sang supir yang menjalankan kendaraan tersebut hanya acuh pada kemesaraan dua sejoli yang baru saja mengikat janji selama satu bulan penuh itu.
Beberapa hari kemudian...
__ADS_1
"Sayang... Siapa yang menelpon?" Tanya Derik yang baru saja pulang kerja.
"Sahabat lamaku" Jelas Margaret seraya terseyum simpul.
"Oh. Lantas saja kamu begitu sembringah" Komen Derik.
"Ya... Dia yang kemarin hendak kita temu itu..." Jelas Margaret.
"Mereka bukankah pengantin baru itu kan?" Tanya Derik. Margaret hanya mengangguk diam.
Tak berselang lama ibu Margaret mulai menyeru "Sayang ayo kita makan bersama" Sahut Sang ibu teriak teriak.
"Yuk makan dulu" Pinta Margaret. Margaret menarik tangan Derik dan mulai mengajaknya ke ruang makan yang berada di lantai satu. Sepanjang perjalanan hati Margaret di penuhi rasa dilema yang tak kunjung mereda. Sebab, akhir akhir ini Derik sering mengeluh sakit kepala hebat dan merasa bahwa saat ini dia bukan dirinya. Ia selalu mengeluh tentang masa lalunya yang tak bisa ia ingat sama sekali. Dan Margaret pun musti berjibaku melawan ingatan Derik dengan cara memberi obat yang di larang medis. Karna rasa takut kehilangan, kini hati Margaret tengah bergemuruh akan perbuatannya yang memaksa Derik untuk melupakan masa lalu nya dan membuat kenangan baru bersamanya. Meski hati Margaret amat sangat bersalah dan menyesal...
Derik mencengkram tangan Margaret sangat erat. Seraya ke gusaran besar berkecamuk dalam hati *Ada apa dengan ku... Tak pernah ku rasa se asing ini sebelumnya... Benarkah aku ini sudah melupakan kenangan manis bersama istriku? Sayang, meski kamu terus mengingatkan ku tentang kenangan yang pernah kita lalui sebelum pernikahan ini... Kenapa aku selalu merasa tidak bahagia dan asing. Seakan ada yang kurang dalam hidupku... Ini seperti bukan aku sebelumnya. Aku sungguh risih tentang diriku yang se asing ini... Gemuruh hati Derik yang tak bisa memaafkan dirinya sendiri karna selama ini Derik tak pernah mencintai Margaret meski mereka sudah menikah.
Bersambung*.
__ADS_1