ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Beratnya menahan Rindu


__ADS_3

Malam pertama Elizha di kamar kediaman sang ayah Elizha, sungguh membuatnya rindu.


"Oh.. Sungguh, ternyata benar jika orang berkata bahwa rumahku istanaku... Ternyata, memang nyaman ketika terdiam di kediaman ku sendiri" Gumam Elizha bergelinjat kala meregangkan tubuhnya yang terasa kaku itu.


"Mmhhh... Nyamannya matrasku, nyamannya kamarku... Sssssshhhhh" Desis Elizha seraya terus berguling-guling.


Elizha mulai berbaring di matras itu dan mulai melihat perutnya yang membulat, perut itu terlihat membulat ke kanan dan ke kiri "Hmmmf... " Elizha menahan tawanya kala melihat perutnya yang terasa bergeliat-geliat dan bukan bulat. Malah seperti sebuah Jely yang bergerak naik turu ketika di gerakkan.


"Aduh! Adududuh... Pelan pelan sayang... Kamu menendang perut ibumu nak" Elizha bicara sendiri. Lalu Rio mengintif di balik pintu kamar Elizha "Apa yang kamu lakukan Zha?" tanya Rio kepo.


Elizha mulai menoleh ke arah kakaknya "Kak kemarilah. Lihat betapa anehnya perutku" Jelas Elizha seraya terus memperhatikan perutnya.


"Aku masuk" Rio mulai masuk dan duduk di matras tersebut "Gak ada kerjaan banget..." Gumam Rio.


"Duduklah kakak" Pinta Elizha. Ia mengingsut ke matrasnya dan menyender di bantal "Kamu bahagia banget sih" ucap Rio di iringi senyuman, Rio mulai duduk di samping Elizha.


"Ia kakak, coba lihat... Perutku aneh sekali" ucap Elizha menunjuk perutnya.


"Mana nggak kelihatan..." ucap Rio sungguh tak melihat apapun.


"Sini. Mana tanganmu kak" Elizha mulai meraih tangan sang kakak dan mulai menempelkannya di perut Elizha yang saat itu terbalut pakaian tidur.


"Wah... Serasa ada yang bergerak" Ujar Rio seraya mengelus perut Elizha.


"Benar kan apa ku bilang" Imbuh Elizha senang.


"Hem... Sebentar lagi aku akan punya keponakan. Kira-kira apa jenis kelamin anakmu ya Zha?" Tanya Rio antusias.


"Entahlah... Terakhir Usg saat perutku berusia Empat bulan" jelas Elizha.


"Begitu ya... Sudahlah, sekarang lekas tidur... Jangan tidur terlalu malam" Pinta Rio.Elizha mengangguk diam dan terus mengelus perutnya yang penyok ke kiri lalu penyok ke kanan dan kadang kadang pisisi si banyi selalu diam di area jalan lahir. Hingga membuat Elizha kesakitan...


"Aku pergi..." Rio mulai beranjak dan mulai pergi meninggalkan adiknya.

__ADS_1


"Ya. Aku pun akan tidur..." Ucap Elizha menarik selimut itu dan meringkupkannya ke tubuhnya.


"Hemmm... Malam ini, Gabvin tak menelponku..." Umpatnya seraya meraih ponsel miliknya dan menatap kontak bertuliskan Orang tercinta.


"Kenapa, apakah Gabvin sibuk...? Apakah aku boleh menelponnya?" Tanya Elizha dilema.


"Oh. Ia... Diakan punya kontak milik Margaret. Apakah aku harus menelponnya? Ahhh tidak-tidak pasti dia sedang sibuk sekarang. Sebaiknya tunggu besok saja..." Elizha mulai menaruh ponselnya di meja lampu kamarnya dan kembali meringkuk di bawah selimut.


Perasaan Elizha galau bukan kepalang, ia tidur berbalik ke kanan dan kiri. Tetap saja rasanya tak nyaman "Hhhhhhh... Kenapa mataku sulit terpejam! Ah... apa yang harus aku lakukan?" gumam Elizha tak karuan.


Ia mulai mengerumunkan selimut itu pada tubuhnya "Aahhh... Apa yang terjadi padaku" Teriak Elizha terus berguling-guling.


"Aahh gerah..." gumamnya ia mulai meyalakan ac di kamar tersebut "Mungkin aku tak bisa tidur karna gerah saja..." umpatnya melempar selimut.


"Tapi... Tetap saja... Mataku tidak bisa terpejam! Bagai mana ini?" tanya Elizha masih menggumam.


Saat Elizha sibuk berguling-guling... Suara telpon mulai membuatnya terkesima "Ahhh..." Elizha lekas bangun dan meraih ponselnya "Coba lihat siapa yang menelpon..." Saat layar di geser ternyata yang tertera di sana hanyalah layanan oprator yang mengirim email. Tentang sebuah aktifasi kartu, promo bonus dan lainnya.


"Huuh... Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa di otakku banyak sekali gombalan Gabvin dan membuat kepalaku hampir pecah. Apakah aku sudah kecanduan rayuan nya... Ini sungguh menggangguk ku!" teriak Elizha. Ia mulai menjatuhkan dirinya ke matras secara kasar lalu meraih bantal dan menghimpir kepalanya. Ia berharap dengan cara demikian, Elizha bisa tidur dengan lelap.


Jam di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 12:09 tengah malam. Dan ia masih belum mau menutup matanya "Lebih baik aku jalan-jalan saja" ucap Elizha seraya bangun dari tempat tidur. Saat kaki jenjangnya mulai menyentuh lantai. Bunyi telpon kembali berdering "Huh. Layanan oprator itu sungguh menggangguku" umpat Elizha kesal.


Ponsel kembali mati. Elizha menoleh dan bangkit dari tempat tidur menuju keluar kamarnya. Tapi, ponselnya kembali berdering "Aku harus mematikannya!" Ucap Elizha mulai balik arah dan meraih ponsel tersebut.


"Huh... lebih baik aku mematikan ponselnya" Ucap Elizha. Ponsel mulai di tekan, lalu... Sebuah nama tertera di kontak panggilan "Orang tercinta?" gumamnya.


"Apakah ini Gabvin?" Tanya Elizha seraya sontak membuka layar ponsel tersebut. Ia mulai mengangkatnya...


"Hallo..." Ucap Elizha dengan suara pelan seakan berbisik.


"Malam Honey" Balas Gabvin.


Deg! Elizha syok kala Gabvin menanggilnya dengan sebutan Honey "Ho-honey? Kamu salah orang..." Elizha gugup dan mematikan ponselnya.

__ADS_1


Apa yang Gabvin katakan? Kenapa dia memanggilku dengan sebutan Honey. Bathin Elizha menggumam.


Trrrt... Ponsel kembali berdering dan Elizha mulai mengangkatnya lagi "Hallo... Gabvin. Inikah kamu?" tanya Elizha.


"Ya. Ini aku... Bagai mana bisa hanya satu hari tak bertemu saja, kamu sudah ingin melupakanku" Ujar Gabvin menggoda Elizha.


"Tidak. Aku hanya merasa kaku saat kamu panggil aku Honey. Rasanya itu tidak cocok" Jelas Elizha gagap.


"Apakah aku harus memanggilmu dengan sebutan sayang..." Ucap Gabvin mesra. Pipi Elizha sontak merona merah "Ka-kamu...!" pekik Elizha gagap tak karuan.


"Sayang... Apakah kamu sudah makan? Kenapa kamu belum tidur? Apakah karna kamu merindukanku?" tanya Gabvin bertubi. Mendengar pertanyaan Gabvin yang begitu mesra di telpon membuat jantung Elizha berdegup kencang.


"Aku... Aku sedang tidak ngantuk" jawab Elizha malu-malu.


"Jika kamu tak ngantuk. Aku akan menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur. Apakah kamu ingin mendengarnya?" tanya Gabvin berinisiatif.


"Sepertinya tidak. Hanya mendengar suaramu... Tiba-tiba saja aku mulai merasa ngantuk' ucap Elizha mulai merebahkan dirinya di matras seraya menekan ponselnya di telinganya.


"Belarti kamu sudah terkena virus..." ujar Gabvin. Elizha kaget "Vi-virus?" tanya Elizha panik.


"Ya. Virus yang di sebut Rindu... Baiklah, aku akan mengunjungimu besok. Jadi bersiaplah..." Jelas Gabvin memberi janji pada Elizha.


"Be-benarkah? Oh tidak maksudku tidak usah saja. Bukankah kamu sedang sibuk?" Elizha menginginkannya tapi tiba-tiba ia malu dan memilih tahan harga karna gengsi.


"Sayang. Jangan khawatir, aku kan sudah bilang... Sesibuk apapun aku... Aku akan tetap ada di sampingmu" jelas Gabvin terdengar begitu nyaman di telinga Elizha.


"Baiklah..." Elizha mulai pasrah.


"Sayang... Tidur yang nyenyak. Makan yang teratur lalu hindari stress yang berlebihan. Dan jangan merindukanku....karna menanggung rindu itu sangatlah berat..." Ucap Gabvin. Entah kenapa, perasaan Elizha kali ini sungguh belum pernah ia rasakan. Hingga Elizha sungguh tak nyaman dan selalu takut.


"Aku... Mau tidur sekarang" ucap Elizha mulai menjauhkan ponsel tersebut.


"Ingat... Jika kamu mimpi buruk, aku akan selalu ada di sampingmu. Selamat malam sayang..." Gabvin mulai mematikan ponselnya. Lalu Elizha menutup ponsel lipatnya dan memeluk posel itu. Perlahan matanya terpejam... Akhirnya Elizha terlelap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2