ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Baku hantam saling tikam


__ADS_3

Pzzzzhh "Pos satu! Bos, kami telah menyelesaikan tugas" Rio mendapat kabar baik dari rekannya yang kala itu menjadi umpan.


"Bagus, jika sudah selesai, datang lah ke Vila..." Pinta Rio.


"Baik, tapi bos... Kami tidak membunuh mereka, kami hanya mengikat mereka dan menanyakan info penting untuk ke amanan kelompok kita" jelas Cleon.


"Jelaskan itu Cleon" pinta Rio.


"... Ternyata kepala pengawal Villa tersebut adalah Cole. Anda tahu dia kan?" tanya Cleon.


"Tentu, tapi sejauh ini aku tidak melihatnya" Jawab Rio.


"Ya. rekan yang lain sudah ku beritahukan tentang kata sandi Villa tersebut... Jika Ada yang bertanya demikian. Jawablah Kelinci yang masuk sarang Singa dalah makanannya demi ke amanan semua!' Jelas Cleon.


"Heh. Sungguh konyol dan susah di ingat... Baiklah. Terimaksih atas kinerjamu. Panggil polisi dan lekas kemari, jaga gerbang Villa ini. Dan pastikan tak ada yang bisa masuk" jelas Rio.


"Siap bos!!" Jawab Cleon sambil mematikan radio ****** jarak jauhnya.


Gabvin melambai kan tangannya seakan meyeru Rio "Rio cepatlah! Apa yang kau tunggu!' Pekik Gabvin yang mulai naik ke lantai dua.


"Baik!" Rio mulai berlari menitiki anak tangga tersebut satu-persatu, dan kemudian... Seseorang menembakan pistol ke arah Gabvin.


DOR! Suara keras tersebut membuat seluruh mata terpana, Gabvin berjongkok untuk menghindari tembakan tersebut "Tuan! Merunduklah..." Teriak Rio yang diam beberapa centi meter dari Gabvin.


"Hampir saja peluru itu bersarang di otakku..." Bisiknya dengan mulut bergetar.


"Sial... Di arah mana dia membidik?" gumam Rio mencari seraya mengendap-endap.


"Hahahaha... Beraninya kelinci kecil beserta kawanannya masuk ke sarang singa..." jelas pria dengan suara sedikit berat.


"Cole! Keluarlah!!" Pekik Rio mencari, ia seakan tak gentar meski nyawanya jadi tarunan...

__ADS_1


"Owh. kau sangat pintar juga rupanya. Hanya dengan mendengar suaraku, kau sudah tahu keberadaanku di sini. Aku sungguh terharu mendengarnya" Jawab Cole terkekeh.


"Sial! Keluarlah dan hadapi aku! Lagipula Aku tidak punya urusan denganmu! Kau yang telah memulainya terlebih dahulu dengan menculik adikku!" Teriak Rio mencari.


"Bukan aku... Tapi kau yang hendak menculiknya dari area kekuasaanku..." Jawab Cole.


"Berhenti menyalahkan! Dia adalah adikku! Aku tak akan segan jika kau menyakiti atau melecehkannya. Aku pasti akan membunuhmu!!" Rio sangat emosi ketika mendengar Cole menyalahkannya atas kedatangannya itu.


"Oh aku sungguh tersentuh, tapi... Harga adikmu cukup mahal... kami membelinya dengan uang yang sangat banyak. 1 Triliun dan itu pun sudah di lunasi oleh bos kami. Kemungkinan, setelah dia puas... Gadis itu akan di jadikan budak Sexs dan di jual lagi. Bukankah ini bisnis yang legal... Hahahahaha" Cole sunggung memancing amarah Rio. Gabvin sangat marah mendengarkan berita tersebut dan ia sungguh ingin merobek pria dengan nama Cole itu.


"Berengsek!! Keluar kau! Akan ku bunuh kau sekarang juga jika kau berani menyentuh adikku se ujung kuku sedikitpun!" Rio menggila.


Tak berselang lama setelah itu Cole bersuara, semua pintu kamar yang ada di lantai dua mulai terbuka "Pintunya terbuka!" Gabvin sedikit terkejut, ia berharap Elizha yang keluar. Namun nampaknya hal tersebut tidak terjadi.


"Sial..." gretak Gabvin menggetarkan giginya kesal.


Rupanya yang keluar malah komplotan bandit dengan otot yang besar. Mereka mulai mengepung Gabvin juga kawan-kawannya.


"Hahahaha... Hadapi lah dulu anak buah ku yang paling berharga itu. Setelah itu, kau bisa melawanku, aku akan dengan senang hati sekali melayanimu ketika bertarung dengan mu sampai mati... Rio Laksamana... Hahahaha..." Tawa Cole sangat mengganggu Rio. Hingga Rio sungguh marah besar "Sial!!" Para pria dengan tubuh besar penuh otot itu mulai mendekati Rio dan Gabvin. Mereka ada di sebelah depan dan belakang "Mari... Lawan aku!" Ucap Rio. Para anak buah Rio yang ada di lantai dua pun mulai bersiap melawan para pria berotot itu.


Glek! Gabvin menelan salivanya sendiri. Ia sungguh takut, selama hidupnya ia belum pernah berhadapan dengan situasi segetir ini "Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya dengan kaki yang gemetar.


Rio mulai mendekati Gabvin dan mulai berbisik "Tuan Gabvin dengar. Aku akan bertarung melawan mereka, tuan beriaplah lari dan cari Eliza. Menurut informasi... Elizha di sekap di lantai ini... Jadi bersiaplah!" Pinta Rio. Gabvin mengangguk lugas "Baik... Semoga kaau beruntung..." Jawab Gabvin


Pria bandit mulai berlari mendekati Gabvin dan Rio, Namun Rio berlari dan meloncat, hingga Sikut dan lutut Rio berhasil menimpa tiga pria kekar itu hingga tumbang dengan mulut dan hidung mereka menyemprotkan darah merah segar "Sekarang!" Rio berhasil memberi jalan untuk Gabvin.


Dan Anak buah Rio mulai mengambil sisa nya. Buak! satu lawan satu anak buah Rio bergerak lincah dengan serangan mereka yang tepat sasaran. Sedangkan Rio melawan tiga sekaligus, agar langkah Gabvin tak terhalang apapun.


Rio memutar kakinya 360° dan mereka pun terhempas. Emosi Rio yang meluap membuatnya Gila ketika bertarung, salah satu pria besar itu menghadang Rio dengan tinjunya, namun Rio menangkap tinju itu dan meremas kepalan tangan pria besar tersebut hingga terdengar bunyi seperti tulang patah Kreek! Kreeeakkk!


"Aahhhhh hentikan!" Pekik pria buntal itu. Tak sampai di situ, karna Rio amat marah. Rio pun menendang lutut pria itu hingga terjatuh di lantai. Rio pun lekas menarik tangan pria itu ke belakang hingga pria itu menjerit karna tangannya patah.

__ADS_1


"Kau berhak mendapatkannya!" Satu kata itu muncul dan Rio menyelesaikan perkelahiannya dengan salah satu pria buntal itu, tangan Rio di belitkan di leher pria itu, hingga pria itu pun tewas.


Sibuk menggelut dengan pria buntal yang tewas, Rio tak sadar jika pria buntal lainnya mulai berdiri dan menjepit lehernya dengan sikutnya yang penuh otot hingga Rio tercekik.


"Ugghhh aaakkkhhh!' Rio belum bisa meloloskan diri dari himpitan yang mengunci pergerakannya itu, dan pria buntal lainnya berlari dengan mengarahkan kepala botak mereka ke arah perut Rio. Namun, salah satu anak buah Rio mulai datang dan menghantam dua pria botak itu dengan loncatan lutut seprti yang Rio lakukan tadi.


Buak!! Dua kepala pria botak itu tersungkruk ke lantai dan mereka pun tumbang "Bos!" Pekik Anak buah Rio ketika menoleh ke arah Pria buntal lainya.


Rio sulit melepaskan diri hingga napasnya hampir putus "Tak ada pilihan lain!" Bisik anak buah Rio yang bernama Rai itu. Ia mengeluarkan pistolnya dan menembakan ke arah kepala pria buntal itu.


DOR!! DOR!! Dua Kali letusan peluru, pria itu pun mulai tumbang. Hosh! Hosh! Hosh! Rio terengah engah, napasnya tersenggal 'Ra-Rai... Terimakasih..." Ucap Rio susah payah.


"Jangan Khawtir bos... Itulah tugasku..." Rai mulai menjauhi Rio. Namun, belum dua langkah Rai melangkah, seseorang di kejauhan mulai menembak kepalanya seprti yang Rai lakukan pada Pria buntal itu.


Dor! Dor! Tanpa menoleh ke arah Rio, Akhirnya Rai tumbang di depan mata Rio "Raiii!!" Rio berteriak dan membelalakan matanya.


"Raiii! Rai! Rai sadarlah Rai!!" Teriak Rio mendekap Rai yang sudah tak bernyawa "Rai... Rai.. Rai sadarlah Rai, Rai perjuangan kita belum berakhir... Rai!" Teriak Rio merasa kecewa "Hahahahaha, belum berakhir katamu... Berapa banyak anak buahmu yang akan jadi korban karna masalah pribadi mu... Pergilah sebelum aku berubah pikiran!" Teriak Cole memperingatkan.


"Cole. Sialan! Seharusnya kau tunjukan dirimu! jangan bersembunyi seperti bayi dan menembaki anak buahku yang tak bersalah!" Teriak Rio marah besar. Tangan Rio terlanjur kotor oleh darah Rai.


"Bayi... Heh. Baiklah, akan ku tunjukan drama paling menyedihkan yang pernah ada sekarang juga! Tembak mereka!' Teriak Cole. Seketika para pria berjas hitam yang ada di lantai bawah mulai saling mengarahkan senjata di tangan mereka satu sama lain.


"Apa!!" Rio terbelalak, untungnya ketika kubu Cole mengarahkan pistol ke kepala kubu Rio. Kubu Rio pun siap meletuskan isi peluru itu ke arah kubu Cole.


"Wah-wah... Anak buahmu sama liciknya. Tapi, sayang kami punya kata sandi.. Dan aku yakin, anak buahmu tak bisa mengatakannya di sini..."


"Heh. Sekarang jangan pusing jika mereka terlihat sama..." Rio mulai menyungingkan bibirnya.


"Tembak jika ada di antara mereka yang tak bisa mengatakan kata sandi Villa ini!" Teriak Cole. Dari lantai dua mulai keluar para pembidik jarak jauh dan mulai mengamati buruan mereka.


Rio khawatir "Sial, berapa banyak pasukan yang mereka miliki? Kenapa tak ada habisnya sama sekali... Dan juga. Kapan, polisi akan tiba... Ku harap, Gabvin segera menemukan Elizha. Jika tidak, kita semua akan mati di sini hari ini juga..." bathin Rio meracau hebat kala ia dan rekan-rekannya mulai terdesak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2