ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Keharmonisan


__ADS_3

***


Gabvin masih di dalam kamar calon ayah mertuanya, ia belum mau beranjak keluar dari kamar tersebut. Malah ia lupa jika Elizha terlelap sendirian dan terlihat kedinginan.


Elizha tak tahu jika rumah sakit tersebut merupakan tempat di mana Margaret menginap sehari-hari untuk merawat korban kecelakaan yang rupanya adalah seorang laki-laki "Nona Margaret, anda harus membawa pasien ke ruang terapi sekarang" Pekik sang suster memperingatkan.


Margaret pun keluar membawa si pasien yang telah sadar dari masa kritisnya menggunakan kursi roda di bantu oleh para suster, Margaret keluar dari kamar pasien dan lekas mendorong kursi roda tersebut, Margaret terlihat sangat buruk saat itu. Ia tak merawat wajahnya dengan baik karna sibuk merawat pasiennya. Padahal Margaret melewati lorong di mana Elizha menyender, tapi ia tak sadar jika ada Elizha di sana "Tunggu, aku melupakan formulir rehabilitasi... Oh astaga... Aku harus kembali" Ucapnya mulai menghentikan kursi roda tersebut dan membiarkan pasiennya terdiam seorang diri. Pasien tersebut nampaknya terluka parah... Kepalanya berbalut perban hingga menutupi sebelah matanya. Namun, entah apa yang membuat pria itu menoleh ke arah Elizha, ketika menatap wanita malang yang telah terlelap itu... Tiba-tiba sesuatu melitas di pikirannya hingga membuat kepalanya terasa sakit "Ahh... Sakit!" Pekiknya mulai gaduh. Pria itu memegangi kepalanya yang terasa terbentur, Gabvin yang mendengar kegaduhan pun mulai lekas keluar kamar.


Klek!


"Ada apa ini?" Tanya Gabvin menelisik sekeliling. Seorang pria berkursi roda itu sibuk memegangi kepalanya, Gabvin menghampiri pria itu. Namun, beberapa suster lekas mendorong kursi roda itu hingga Gabvin tak sempat melihat wajah pria itu.


"Sakit! Dokter kepalaku sakit sekali!!" Teriaknya tak karuan, suster membawa kembali pria tersebut ke kamar nya.


"Suaranya sangat familiar... Aku sungguh kenal pada suara itu?" Bisik Gabvin menggumam.


Saat Gabvin mengingat suara yang terasa mirip dengan suara sahabat dekatnya, yaitu Gery. Dia malah di kagetkan oleh ulah Rio yang datang secara tiba-tiba "Gabvin! Bagai mana keadaan ayahku?" Tanya Rio dengan napas terengah-engah.


"Ah... Sepertinya ayahmu baik-baik saja sekarang" Jelas Gabvin.


"Ah... Syukurlah" Rio menghelan napas leganya.


"Duduklah dulu, aku ada urusan sebentar" Jelas Gabvin mulai berlari ke arah di mana para suster mulai mamasukan pria itu ke kamarnya.


"Di mana kamar pria itu, kenapa aku sangat penasaran padanya? Aku merasa suara pria itu mirip sekali dengan Gery" Bisiknya memaksakan kehendak.


Lalu susterpun mulai keluar dari kamar yang di kira Gabvin adalah Gery "Suster... Bisakah saya bertanya sebentar?" Tanya Gabvin.


"Ya tuan ada apa?" jawab sang suster.


"Sus. Pria tadi kenapa? Apakah dia korban kecelakaan?" Tanya Gabvin.


"Maaf anda siapa nya pasien ya?" Tanya suster curiga.


"Eh... Sebanarnya saya sedang mencari sahabat saya yang terlibat kecelakaan beberapa hari yang lalu. Tapi, nampaknya tak ada rumah sakit yang menerima nya. Mungkin saja, pria di dalam adalah sahabatku sus" Jelas Gabvin meyakinkan sang suster.


"Jika boleh tahu, siapa nama teman anda..." Pinta sang suster.


"Teman saya bernama Gery pranata Winata" Jelas Gabvin masih menelisik ke dalam kamar tersebut.


"Oh. Maaf, tapi... Pasien di kamar itu bernama Deric Kusuma, mungkin... Anda salah orang" Jelas sang suster.


"Be-benarkah? Benarkah yang di dalam sana adalah Deric kusuma?" Tanya Gabvin belum yakin.


"Benar tuan... Jika anda belum menemukan teman anda. Anda bisa mencarinya di ruang admin" Jelas sang suster.

__ADS_1


"Baik sus. Aku akan ke sana" Balas Gabvin.


"Jika begitu. Saya permisi tuan" Ucap suster segera melangkah menjauhi Gabvin.


"Apa yang terjadi, kenapa aku jadi khawatir pada Gery? Apa yang terjadi padanya... Kenapa dia tak menghubungiku. Apakah karna dia malu atau takut? Cih, sudahlah... Lagi pula kami sudah saling benci sekarang" gumam Gabvin dengan pertanyaan yang bertubi di benaknya. Ia pun kembali ke arah di mana Elizha terlelap. Dan saat Gabvin berlari ke arah Elizha. Margaret malah masuk ke kamar Deric, nampaknya Gabvin dan Margaret berselisih waktu secara kebetulan, hingga mereka tak bisa bertemu atau pun bertatap muka.


***


"Kamu dari mana?" Tanya Rio khawatir.


"Aku baru saja pergi ke toilet" Jawab Gabvin bohong.


"Oh. Sejak kapan adikku tidur dengan posisi seperti itu?" Tanya Rio menatap Elizha.


"Oh. Itu, baru beberapa menit saja kok... tadi, aku ke ruangan calon mertua dan memastikan apakah dia baik-baik saja, ternyata dugaanku tepat... Calon ayah mertua memang tampak sedikit baikan. Karna keteteran aku pun pergi ke toilet sebentar" Jelas Gabvin. Rio pun mengangguk "Syukurlah... Terimakasih" Ucap Rio menepuk pundak Gabvin.


"Heh. Jangan sungkan, kamu lupa ya... Aku kan calon adik iparmu kakak. Jadi aku harus memastikan calon ayah mertuaku supaya tetap baik-baik saja. Karna dia akan menjadi wali nikahku di atas altar pernikahan yang mewah nanti" Jelas Gabvin penuh fantasi.


"Hahahaha... Ia ia... Sekarang tidurlah, biar aku yang jaga sekarang" Ujar Rio. Gabvin mulai duduk di samping Elizha dan kembali menarik jasnya perlahan lalu menyenderkan kepala Elizha di pundaknya lagi. Gabvin lekas menyelimuti tubuh Elizha dengan jasnya dan mereka pun terlelap. Pemandangan indah dan romantis.


Rio tersenyum "Sungguh harmonis..." Bisik Rio menatap keduanya.


"Kalian memang cocok..." umpatnya dalam hati.


kenapa aku sungguh berfikir, bahwa Deric yang di sebutkan suster tadi adalah Gery. Apakah itu hanya khayalan ku saja? Bathin Gabvin menggumam di sela-sela lelapnya.


"Sakit... Sakit sekali" Pekiknya mengulang.


"Sakit!!" Teriak Elizha, ia membuka matanya dan memegangi perutnya yang bulat itu.


Lalu dokter pun mulai datang bertanya pada Elizha "Nona apa yang terjadi?" Tanya sang dokter.


"Tolong... Perutku sakit!" Pekik Elizha.


"Apakah anda sendirian?" Tanya sang dokter.


"Tadi ada seorang pria di sampingku. Tapi, entahlah sekarang dia tak ada... Tolong dokter perutku sangat sakit" Pinta Elizha mengerang. Perutnya sungguh terasa di pukul-pukul dan seperti ingin buang air besar.


"Suster. Tolong bawa nona ini ke ruang bersalin" Pinta dokter berjas putih itu. Ia mengenakan masker dan Elizha tak bisa menatap dokter itu dengan jelas.


"Dokter apakah aku akan melahirkan?" Tanya Elizha.


"Sepertinya begitu..." Dokter mendorong brankar yang di pakai Elizha.


"Elizha mulai di bawa ke ruangan hening yang di penuhi lampu sorot yang besar hingga membuatnya silau. Ia di rebahkan di sana "Dokter! Sakit sekali..." Teriak Elizha.

__ADS_1


Dimana Gabvin di mana dia? Dia tidak ada di sini... Bagai mana ini? Bagai mana jika bayiku lahir. Bathin Elizha.


"Dokter. Apakah usia kandunganku cukup untuk melahirkan. Bahkan bayiku hendak menginjak usia 6 bulan kandungan. Apakah aku akan melahirkan?" Teriak Elizha dengan keringat dingin yang bercucuran.


"Bayimu akan lahir! Ayo tarik napas dan keluarkan... Lalu tekan!" Teriak dokter. Elizha menurut dan akhirnya bayi itu keluar.


Oaaak! Oaaak! Suara tangisannya saja sudah membuat Elizha sungguh bahagia dan bangga menjadi seorang wanita.


"Dokter apakah bayiku perempuan?" Tanya Elizha menatap sang dokter yang kala itu menimang bayinya.


"Bayi anda laki-laki... Sesuai harapanku" Ucapnya. Elizha mulai bangun dari meja oprasi itu dan menatap dokter tersebut.


"Apa maksudmu dokter..." Tanya Elizha khawatir. Ia masih menatap bayi di genggaman sang dokter.


"Aku akan mengambil apa yang menjadi hak ku..." Jelasnya seraya membuka masker yang ia kenakan. Betapa kagetnya Elizha kala menatap wajah pria yang paling ia benci.


"Gery! Kembalikan anakku!" Teriak Elizha mulai menurunkan kakinya. Ruangan itu tiba-tiba senyap. Tak ada siapapun lagi selain Gery dan Elizha.


"Heh. Kau bisa lari dariku... Tapi kau tak bisa membawa anakku pergi. Dia adalah milikku sekarang!" Ucap Gery terkekeh. Ia pergi membawa bayi tersebut dan mengabaikan Elizha bersama rasa sakitnya.


"Kembalikan! Kembalikan bayiku!!" Teriak Elizha mulai turun dari ranjang dan mengejar langkah Gery.


"Kembalikan bayi ku! Ku mohon!" Teriak Elizha tak berdaya. Ia pun jatuh mencium lantai dan ia merangkak menuju arah Gery yang mulai menghilang. Pandangan Elizha mulai kabur oleh bulir basah yang menumpuk di kelopak matanya.


"Bayiku! Kembalikan bayi ku!" Teriak Elizha mengulang-ulang kalimat yang sama.


"Zha... Elizha!" Seseorang menyahutnya.


"Zha! Elizha! Elizha bangun!" Pekiknya lagi.


"Elizha sadarlah. Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Gabvin menepuk-nepuk pipi Elizha.


Elizha mulai membuka matanya 'Ga-b-vin..." bisik Elizha dengan mulut yang bergetar.


"Elizha apakah kamu mimpi buruk?" Tanya Gabvin.


Elizha lekas menatap perutnya yang masih bulat itu "Bayiku? Bayiku masih aman?" Tanya Elizha mendekap perutnya.


"Tentu saja. Sedari tadi aku ada di sampingmu... Jangan khawatir, bayimu akan selalu aman" Jelas Gabvin. Elizha lekas memeluk Gabvin "Gabvin! Aku takut.... Tolong jaga anakku... Aku tak ingin Gery mengambilnya dan memisahkan kami" Pekik Elizha memohon.


"Jangan takut... Aku akan melindungimu dan anakmu" Jelas Gabvin.


Gabvin mulai mendekap Elizha dan menenangkannya dari mimpi buruknya. Sedangkan kini, pendengaran Elizha malah terganggu oleh suara dengkuran keras dari pria di sampingnya.


"Kakak... Dengkuranmu keras sekali hingga mengganggu pikiranku yang kacau ini" Umpat Elizha mulai keluar dari pelukan Gabvin dan membungkam mulut kakaknya dengan selebar kain.

__ADS_1


Gabvin yang tadinya khawatir malah jadi terkekeh...


Bersambung...


__ADS_2