
Gabvin masih tertatih di depan Elizha yang masih terkapar tak berdaya. Sementara, tangan Gabvin di kepal seerat mungkin, hingga otot nya terlihat menonjol. Nampaknya exspresi sedih itu berbaur dengan sebuah amarah.
Gery sama sekali tak perduli padanya... Apa sebenarnya yang Gery inginkan. Bathin Gabvin menggumam.
"Kakak... Nampaknya belum ada kemajuan ya? Dia masih belum sadar kan diri juga..." Imbuh Kelvin menatap wanita itu sayu. Ada rasa bersalah di hati pria itu.
"Vin. Pulanglah... Aku akan menjaganya sendirian di sini, bukannya kamu ada hal lain yang harus di kerjakan?" tanya Gabvin lesu.
"Tapi kakak..." Kelvin sedikit menolak dan penuh keraguan.
"Pergilah... Bukankah ayah sudah menyuruhmu untuk datang ke pesta pernikahan Bos ku?" Ujar Gabvin memperingatkan. Dengan hati kecewa, Kelvin pun mulai pamit dari ruangan tersebut.
"Kalau begitu... Aku pamit kak" Ucapnya dengan tatapan tertunduk ke bawah.
"Pergilah... Semoga kerjasama ayah dan tuan Gery berjalan dengan lancar setelah pertemuan hari ini" Kelvin mengangguk diam lalu mulai melangkah menjauhi Gabvin.
Blam...
Pintu pun tertutup dan tinggalah Gabvin sendiri di ruangan hening itu.
"Elizha... Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan? Sampai-sampai kamu terjebak dalam sebuah hubungan yang tak jelas begini..." Sesal Gabvin penuh ke khawatiran di benaknya untuk wanita di hadapannya ini.
Elizha masih belum sadarkan diri, karna jenuh... Gabvin pun putuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, dan membeli beberapa camilan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi berbunyi.
***
Seiring kaki pria itu melangkah, netranya di suguhkan beberapa pemberitaan di televisi. Tentang acara Pernikahan termewah Live streaming sang Cassanova. Bahkan gegara hal tersebut, telinga Gabvin sampai panas dan terasa sakit karna terlalu lama mendengar berita yang menghebohkan itu.
Gabvin sedikit marah pada dirinya sendiri karena ia harus menutupi hal tersebut dari Elizha. Gabvin tak ingin wanita itu tahu, jika hari ini... Pria yang ia anggap suaminya itu telah bersanding dengan wanita lain di luaran sana..."Ini sungguh memuakan... Gery hanya memperbaiki citranya sendiri agar tetap harum. Sementara wanita yang selalu mengharapkan kasih sayang darinya. Malah di biarkan terkapar tak berdaya seperti itu di sini... Keterlaluan!!!" Gabvin terus menggumamkan kekesalannya pada Gery. Namun apa daya, sebanyak apapun sumpah serapah yang ia gumamkan, Takan berpengaruh apapun...
***
__ADS_1
Setelah memberi camilan, Gabvin lekas kembali ke kamar Elizha.
Klek...
Gabvin masuk, namun setelah ia menutup pintu kamar tersebut. Ia baru sadar dan malah terkejut, sebab Elizha sudah tak ada di tempatnya "Lizha??" Pekik Gabvin panik.
Gabvin bergegas mencarinya ke toilet di ruangan tersebut. Tapi, nampaknya ruangan sempit itu kosong "Kemana perginya wanita itu?!" Tanya Gabvin dalam ke panikannya.
Saat ia sedang kalang kabut menelisik sekeliling ruangan tersebut, barulah salah satu suster datang dan membereskan ruangan pasien tersebut.
Klek! "Permisi?" Sahut sang suster menyapa Gabvin yang masih panik mencari Elizha "Pa-pagi suster..." Gagap Gabvin. Suster mulai bertanya pada pria tersebut "Maaf tuan, bila boleh saya tahu... Apa yang sedang anda cari?" Tanya suster mencoba membantu kebingungan Gabvin.
"Ah... Suster, Apakah kamu tahu sesuatu?! kemana kira-kira pasien wanita di ruangan ini?" Tanya Gabvin lugas.
Suster mulai merespon "Oh. Nona Elizha?" tanya Sang suster. Gabvin lekas mengangguk penuh harapan "Ya... Apakah suster melihatnya keluar dari ruangan ini tadi pagi?" Tanya Gabvin bertubi.
"Kami sudah memindahkan pasien tersebut ke ruangan inap, karna ruangan ini hanya khusus untuk pasien gawat dalurat saja..." jelas Sang suster.
Mendengar ungkapan itu, Gabvin mulai bisa bernapas lega "Haaaaahh... Syukurlah dia baik-baik saja... Ku kira dia kabur" Gumam Gabvin, seraya menghelan napas panjangnya.
Gabvin berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang informasi, setelah bertanya ke petugas yang ada di sana... Barulah Gabvin kembali mencari ruangan Elizha berdasarkan pemberitahuan petugas di bagian informasi, Gabvin berjalan melebarkan langkahnya dengan begitu cepat. Hingga ia mulai sampai di kamar pasien latulif 021.
"Ini dia, aku menemukannya..." Gumam Gabvin putus-putus, Ia terlihat lelah seakan mengatur napasnya yang terasa berat dan sesak.
Gabvin menekan handle dan langsung sigap membuka pintu itu pelan.
KLEK...
Gabvin masuk mengendap-endap dan menghampiri Elizha yang masih terlentang di matras pasien rumah sakit Harapan Kasih "Rupanya kamu... disini" Tegas Gabvin mengembangkan senyumannya. Ia mulai menyeret salah satu kursi di tuangan itu, lalu meletakannya di samping ranjang Elizha.
"Cepatlah sadar kembali ya... Aku tahu kamu adalah wanita kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini dengan mudah..." Bisik Gabvin menyuport Elizha di masa tersulitnya.
__ADS_1
"Elizha... Cepatlah sadar, jangan terlalu lama berbaring di sini. Jika kamu terus begini, siapa nanti yang akan menjagamu..." Tambah Gabvin kembali.
Gabvin tahu siapa dirinya, dia hanya bisa menyuport dengan kata-kata positif saja. Meski ia ingin memegang tangan Elizha dan menguatkannya. Tapi nampaknya ia tak bisa lakukan itu, sebab ia tahu posisinya saart ini Ia hanyalah boneka yang di mainkan Gery hanya untuk menjadi kambing hitam saja.
"Semangat Lizha... Kamu pasti bisa!" Hanya itu yang bisa Gabvin lakukan untuk perempuan di hadapannya itu.
***
Pesta pernikahan Angel dan Gery adalah pernikahan paling the Bast, para tamu undangan dari kalangan komlomerat dan para pengusaha sukses juga tokoh-tokoh penting ada di sana. Hingga Gery harus Extra fukos agar tak membuat sebuah kealahan.
Terlihat di sana, Gery tengah berdiri di pelaminan bersama Angel. Pakaian pengantin putih yang Gary kenakan sungguh membuatnya makin terlihat tampan. Apa lagi pakaian yang Gery kenakan senada dengan pakaian yang Angel kenakan. Mereka terlihat seperti pasangan yang sempurna.
Para tamu terhormat itu satu persatu memberi selamat pada Gery, Meski semua nya berjalan sesuai apa yang ia pikirkan dan rencanakan. Namun nyatanya, ia tetap saja tak bisa mengubah perasaannya yang tertekan akan pernikahan ini.
Gery telihat dingin tanpa exspresi cerah di wajahnya. Ia seakan murung dan dengan datarnya memberi senyuman pahitnya ke setiap tamu undangan.
"Sayang... Apa yang kamu pikirkan, ayo senyum... Biar wajahmu terlihat makin tampan" imbuh Angel merangkul sikut Gery gemas.
"Hemmm... Bibirku sudah keram karna terlalu lama mengambangkan senyuman. Jadi, sebaiknya aku begini saja..." Balas Gery enggan di perintah.
"Begitu ya. Kalau begitu, siapkan saja senyuman indah itu. Untuk sesi photo pengantin, setelah para tamu undangan sedikit berkurang ya..." Jelas Angel meminta kesanggupan Gery.
"Semua terserah padamu saja..." Gery enggan berkomentar.
"Baiklah..."
Nampaknya, makin siang para tamu undangan itu malah makin banyak dan membuat Gery amat kelelahan. Hingga ia beberapa kali terlihat duduk menyender di kursi pelaminan yang mewah itu.
Kapan acara ini akan berakhir!! Aku sama sekali sudah muak dengan semua sandiwara ini. Oh ia, sudah beberapa hari ini aku belum mendengar kabar dari Gabvin. Kemana saja dia sampai-sampai tak mengabariku... Apa dia sesibuk itu sekarang. Aaahhhh sial! Gery mulai meraacau kesal. Ia menumpahkan segala kekesalannya pada sahabatnya Gabvin.
Bahkan beberapa kali Gery hendak menelpon Gabvin, namun di larang begitu saja oleh Angel.
__ADS_1
Hari yang merepotkan!! Sial!! Gumamnya.
Bersambung...