
***
Setelah kejadian menghebohkan itu berlalu, Gery pergi bersama supirnya entah kemana... Tapi, mungkin itu ke rumah sakit. Sementara Elizha hanya bisa pergi memisahkan diri ke sebuah taman di pinggir kolam renang. Ia mulai duduk dan melamunkan sesuatu, raut wajah teduh terpampang begitu jelas di nanarnya.
Gabvin yang sedari tadi mencari Elizha pun mulai menemukannya. Lalu ia pun menyapa Elizha sebelum ikut duduk di sampingnya. Gabvin mulai mengajaknya mengobrol "Kamu disini?" tanya Gabvin menatap Elizha pelan.
Elizha pun menoleh ke arah Gabvin dengan tatapan sedikit sayu. Elizha lekas menghempaskan beberapa cairan basah di mata dan pipinya dengan buru-buru seakan tak boleh seorang pun lihat dirinya yang cengeng seperti sekarang ini "Ada apa?" tanya Elizha sinis dan tampak sedikit panik.
Gabvin pun mulai duduk "Boleh aku duduk?" tanya Gabvin. Elizha menundukkan atensinya dan mengangguk tanpa suara. Gabvin mendengus heran dan ia pun membuang wajaahnya ke arah lain seakan enggan menatap Elizha yang saat itu tampak sedih, Gabvin amatlah paham bagai mana perasaan Elizha saat ini... Hatinya pasti nya amat sakit sekarang ini, Wajar saja... kejadian hari ini bagaikan pukulan keras untuknya. Tak heran jika dia menangis itu amatlah pantas. Gumam Bathin Gabvin.
"Aku mencarimu kemana-mana tadi... Ku pikir, kamu kabur" Celoteh Gabvin. Elizha sedikit tersentak dan marah pada ujarannya itu "Kenapa mencariku jika hanya memperburuk suasana? Pergi sana! Lagi pula... Ini bukan urusanmu..." Balas Elizha Jutek.
"Galak amat sih... Yah, memang sih... Ini memang bukan urusanku, tapi... Sebenarnya sangat di sayangkan juga sih ya. Jika wanita sepertimu ada di antara kedua calon pengantin itu" Jelas Gebvin terkekeh seakan mengolok Elizha. Elizha lekas menoleh tanpa sesuatu yang ia pahami "Apa maksudmu?" Elizha mengerutkan dahinya dengan perasaan tak paham sama sekali. Gabvin pun tercengang dan ia pun berinisiatif menjelaskan nya perlahan.
"Aku tak punya maksud apapun kok... Hanya saja..." Sedikit ragu ia jelaskan hingga kalimat dari mulut Gabvin enggan keluar begitu saja.
"Bicara yang jelas... Memuakan, pergi sana. Aku lagi pingin sendirian..." Usir Elizha.
"Yang jelas... Aku tak paham pada dirimu... Elizha" oceh Gabvin lagi.
"Nggak jelas... Bertele-tele..." Timbal Elizha marah.
Melihat Exspresi Elizha yang makin Bete padanya, ia amat puas ketika mempermainkan wanita itu " Ya. Baiklah akan ku jelaskan sesuatu... Siapkanlah hatimu ketika saat itu tiba" Imbuhnya.
Apaan sih pria ini, bicara berputar-putar dan membuatku nggak paham sama sekali..." Bathin Elizha.
"Tunggu-tunggu. Maksudmu sebenarnya apaan sih? Aku beneran nggak ngerti banget sumpah! Kalau nggak berkepentingan pergi sana! Dari pada dengerin kamu, kepalaku amat sakit lagi..." Racau Elizha mendorong pundak Gabvin agar menjauhinya.
"Hahaha... Baiklah akan ku jelaskan" Gabvin mulai menatap Elizha mantap. Jelas saja Elizha kemudian merinding dengan tatapan Gabvin yang seperti itu.
Pria ini... Mau apa lagi dia... Bathin Elizha.
"Dua hari lagi... Siapkan lah hatimu. Karna akan ada pesta lain di kediaman ini" Jelas Gabvin bersuara lagi.
"Pernikahan?" Bisik Elizha masih tak paham.
Apakah ini tentang wanita yang tadi di kamar pria cabul itu. Bathin Elizha memulai suatu feelling yang tak baik.
"Kamu pasti paham, dua hari lagi Gary akan menikahi Angel... Jadi siapkan hatimu baik-baik. Jangan kaget atau Drop karna itu akan mempenagruhi janin dalam kandunganmu" jelas Gabvin seraya menatap Elizha dengan tatapan pedih. Rasanya ia tak tega untuk menyampaikan itu. Tapi itu juga amat penting bagi Elizha, bagai mana pun juga... Posisi Elizha saat ini memanglah tidak berharga di mata hukum.
__ADS_1
Mendengar ungkapan itu, jelas saja Elizha jadi lemas, ia mengerutkan dahinya dan memperlihatkan Exspresi yang tak biasa "Gery akan Me... Nikahi angel... ?" Bisiknya nyaris tak terdengar.
"Ya... Mereka akan menikah. Maaf ya... Karna aku tak bisa menjaga rahasia bosku. Aku hanya ingin kamu tahu dan tak kaget ketika hari itu tiba. Aku hanya bisa berharap kamu bisa mempersiapkan hatimu baik-baik... Agar tak patah ketika hari itu tiba" Jelas kembali Gabvin.
Elizha sungguh tak paham pada suasana hatinya saat ini... Kondisinya mulai berubah drastis .
"Ini memuakkan... Bisa-bisanya pria cabul itu sungguh serakah sekali..." Gumam Elizha makin sedih dan marah. Bahkan ia mematahkan bunga yang tersusun di dalam sebuah pas bunga di depannya.
"Kamu marah?" Tanya Gery.
Elizha menoleh dan megumpat "Ini bukan urusanmu!" Bentak Elizha menekan suaranya.
"Kamu memang marah... Hahahaha... Tapi, Gery menikahi Angel bukan karna mencintainya..." Jelas Gabvin.
Elizha pun tercengang "Dari mana kamu tahu?" Komen Elizha membuang wajahnya, sebab ia tak bisa menyembunyikan kemarahannya saat ini.
"Ya. Tentu saja tahu... Aku adalah sahabatnya dari kecil..."
"Bagai mana sahabat baik dari kecil bisa-bisanya menjelekan sahabatnya sendiri di belakangnya" Komentar Elizha tak paham pada prinsi pria di sampinya ini.
"Hahaha... Baiklah, ku bocorkan hanya padamu lho..." gerutu Gabvin mengelak.
"Haah terserahlah" helan napas Elizha tak habis pikir pada Gabvin.
"Katakan, jangan bertele-tele lagi..." pinta Elizha.
"Pernikahan itu, amatlah Gery impikan sejak ia di adopsi oleh kluarga Angel. Karna sebab utamanya adalah sebuah ke egoisan" Jelas Gabvin membuka sebuah rahasia.
Elizha kembali menoleh ke arah lawan bicaranya "Apa maksudmu...? Egois? Bukankah menikahiku juga karna dia egois??" tanya Elizha sedikit membentak,Elizha seakan geram dan ingin sekali segera bertemu dengan Gery dan menghajarnya habis habisan.
"Ya. Ia memang amatlah egois, ia amatlah egois karna ia lebih memilih perusahaan yang dulunya kecil dan sekarang menjadi besar juga maju ketimbang isi hati dan kebahagiaannya. Ia terobsesi hingga ingin memilikinya semua hasil jirih payahnya selama ini. Sumua hasil keringat Gery, sebab perusahaan itu bisa maju seperti sekarang adalah berkat usahanya yang gigih" Jelas Gabvin. Elizha sungguh tercengang "Be-benarkah... Kasihan sekali wanita yang akan jadi istrinya saat ini. Ia hanya di manfaatkan" Komen Elizha tampak murung kembali. Gabvin pun tersenyum lebar dan penuh keheranan pada wanita di sampingnya itu "Kenapa kamu mengasihani orang lain. Kasihanlah pada dirimu sendiri" Tambah Gabvin.
Elizha lekas menoleh "Kenapa? Aku hanya rugi karna mengenalnya. Sedangkan Angel... Ia bahkan akan rugi selama bersamanya... Se usai pernikana..." Jelas Elizha bersilat lidah.
"Gadis bodoh..." gumam Gabvin menpuk kepala Elizha pelan.
"Lalu... Apa maksudmu sebanarnya? Kenapa kamu menjelaskan semua hal ini padaku?" Tanya Elizha menatap Gabvin sayu, ia berusaha keras agar tak terlihat cengeng.
"Aku hanya ingin kamu lebih mengenal sahabatku itu..."
__ADS_1
"Benarkah?" Elizha ragu.
"Hatimu pasti sakit?" Imbuh Gabvin.
"..." Elizha tak menjawabnya.
"Ya... Ini semua sangat Wajar saja, Sebab inilah alasannya, Gery memang tipe pria yang egois... Ia berani melakukan apapun demi kekuasaan..." Imbuh Gabvin menundukan wajahnya seraya menatap beberapa pepohonan. Ia berharap, Elizha tak kaget jika saat pernikahan Gery dan Angel tiba, Elizha tak terpuruk karna kelakuan pria itu yang hendak menghianati Elizha.
"Pria itu sungguh memuakan..." Gumam Elizha seraya tampak memukul meja di depannya.
Entah apa yang Gery pikirkan... Sebenarnya aku iri padanya. Sebab Gery terlihat lebih bersimpatik padamu. Aku yakin... Saat ini Gery ingin memilikimu. Tak pernah aku lihat, Gery begitu bersemangat pada seorang wanita. Selain padamu, meski ia tahu bahwa...hasil test DNA itu belum keluar. Tapi tetap saja ia mau mempersibuk dirinya untuk menikahimu. Bathin Gabvin menggumam.
"Hei... Kamu baik-baik saja?" tanya Elizha berusaha membuyarkan lamunan Gebvin "Ya..." Gabvin Terpeanjat.
"Kamu tahu semua tentang Gery. Jika begitu... Sekarang pria itu pergi kemana?" tanya.
Gabvin terkekeh "Kamu sunggymuh bersimpatik padanya ya. Kamu pasti menyukainya?" Tanya Gabvin pada Elizha. Tiba-tiba wajah Elizha terlihat merah padam. Wajah Elizha jelas saja mulai menampakan bahwa ia memang menyukai Gery.
"Tak usah di jawab pun. Aku sudah tahu... Kamu memang menyukai Gery kok" Balas Gabvin.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Elizha mengelak.
"Aku bisa baca kok pikiranmu..." Bisik Gabvin menunduk malu.
"Nyebelin..." Elizhapun membuang wajahnya.
"Apakah kamu nggak mau tahu, kenapa Angel berteriak di dalam sana?" tanya Gabvin. Elizha mengingat "Entahlah, wanita itu berteriak histeris setelah tahu jika bulan ini ia kedatangan tamu rutinya" Jelas Elizha.
"Ya. Gery pasti akan berubah setalah pulang dari rumah sakit nanti..." Oceh Gabvin. Elizha jelas tak habis pikir kenapa perbincangan mereka terdengar bolak balik begitu.
"Aku lelah... Aku harus istirahat" ucap Elizha mulai berdiri dan menatap Gabvin dingin "Ya... Apa boleh buat, silahkan istirahatlah..." Balas Gabvin mempersilahkan.
Sebenarnya Gabvin merasa sedih jika Elizha pergi dan mulai tak menggubrissnya. Elizha pun mulai melangkah menjauhi Gabvin yang masih duduk di bangku taman itu.
Hem... Kenapa aku jadi bodoh begini. Bathin Gabvin meracau.
Elizha telah berjalan menjauhi Gabvin... Hingga Elizha pun mulai memasuki kamar yang telah di persiapkan untuknya. Seraya pikiran buruk terus memutar di otaknya. Elizha tak akan sanggup jika suatu hari, ia harus memperkenal kan dirinya pada orang-orang bahwa dirinya hanyalah sebuah persinggahan Gery. Pastilah, saat itu hatinya akan hancur dan ia sama sekali tak akan punya muka.
Yang Elizha pikirkan adalah tentang dirinya dan hinaan yang akan di lontarkan orang tuanya jika mereka tahu nasib buruk apa yang menimpa putrinya saat ini.
__ADS_1
Bersambung...
Yah abis... Lanjut ke episode berikutnya...