
***
Kakak beradik itu masih menunggu kabar dari sang dokter untuk memberitahukan hasil diagnosa Elizha, Kelvin yang puas menangis malah terlelap karna lelah setelah membuntuti mobil yang Gabvin pakai kemarin siang.
Klek! Dokter mulai keluar bersama beberapa suster, Gabvin lekas bangun dan menghampiri sang dokter tersebut "Dok bagai mana keadaan pasien di ruangan ini?" Tanya Gabvin canggung. Dokter mulai membuka suara "Nona Elizha nampaknya syok hingga kandungannya sedikit tergangu..." jelas sang dokter. Mendengarkan kabar tersebut membuat Gebvin kian panik "Apa maksudmu dokter?" Gabvin sungguh takut jika sesuatu terjadi pada wanita tersebut.
"Ada beberapa plek darah yang keluar dari jalan lahir nona tersebut... Tapi kami harus pastikan janin tersebut aman atau..." dokter seketika mengerem kalimatnya yang seandainya tak ingin di dengan kluarga pasien.
"Atau apa dok? Apa kandungannya baik-baik saja...?" Tanya Gabvin bertubi hingga sang dokter mengajaknya keruangannya.
"Kita bicara di ruangan saja... Karna hasil diagnosa tak bisa di bicarakan di tempat umum... Mari ikut saya" Pinta sang dokter, Gabvin pun mulai mengikuti langkah sang dokter menuju ke ruangan pribadi dokter tersebut.
Klek...
"Silahkan masuk" pinta suster.
Gabvin pun masuk dengan tergesa dan lekas duduk di depan sang dokter "Dok gimana hasilnya?" Tanya Gabvin tak sabaran.
Dokter mulai mengeluarkan sebuah amplop coklat hasil diagnosa dan beberapa pemeriksaan lainnya "Jadi begini pak... nampaknya kandungan istri bapak baik-baik saja... Hanya saja untuk usia kandungan yang rentan di beberapa bulan ini, bapak harus sering mengontrol kegiatan sang ibu hamil ini. Juga bapak harus menjaganya agar tak terlalu lelah, jangan sampai bumil ini kelelahan... Dan jika keluhan ini berulang dan berulang lagi, takutnya janin dalam rahim ibu hamil ini akan terancam..." Jelas sang dokter.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Gabvin pada sang dokter.
"Saya akan memberi beberapa resep penguat janin... Dan juga vitamin untuk ibu hamil. Selain resep dari saya... Bapak juga harus mengontrol asupan makan istri bapak agar ia mendapatkan asupan nutriisi yang cukup" Jelas sang dokter kembali menyarankan Gabvin agar tetap Stand pada kegiatan ibu hamil tersebut.
"Oh begitu... Syukurlah, jika kandungannya baik-baik saja..." Helan napas panjang dan melegakan bagi pria sigap tersebut.
"Lalu kapan dok dia akan sadar?" tanya Gabvin terlihat amat khawatir.
"Mungkin beberapa jam lagi... Karna mungkin juga si ibu hamil ini sedang kelelahan... Tunggu saja beberapa jam lagi" Ujar sang dokter.
Gabvin pun mengangguk dan lekas pamit, ia keluar dengan beberapa map coklat di tangannya.
Blam...
Gabvin keluar ruangan itu dan lekas menuju ruangan apoteker untuk mengambil beberapa obat-obatan yang di butuhkan Elizha. Kelakuan Gabvin saat menjaga Elizha terasa seperti suami pada istrinya. Selalu siaga dan tetap menjaga, bahkan Gery saja acuh pada istri sirihnya itu. Apa lagi, besok akan ada acara sakral antara Angel dan Gery. Entah bagai mana perasaan Elizha nanti, ketika ia tahu bahwa esok adalah hari sakral untuk suaminya itu.
Usai membeli obat sesuai resep, Gabvin pun kembali ke kursi ruang tunggu pasien yang berada di lorong kamar Elizha.
Ia duduk sembari menarik pelan kepala adiknya yang saat itu menyender tak karuan di dinding untuk menyender di bahunya tersebut.
"Haaah... Sudah beberapa jam berlalu, tapi Gery belum juga menghubungiku... Apakah aku harus memberi tahunya?" Gumam Gabvin dalam hatinya.
"Mungkin dia tak khawatir sama sekali... Sungguh pria yang serakah sekali..." Tambah Gabvin. Malam makin larut dan Gabvin yang lelah pun mulai tertidur pulas di samping adiknya, mereka saling bersandar satu sama lain...
__ADS_1
***
Pagi hari pun tiba, Gabvin terbangunkan oleh suara getaran handphone yang berdering terus menerus. Nampaknya itu adalah notifiksi dari beberapa surat kabar.
"Mengganggu saja..." gumam Gabvin marah. Ia membuka handphonenya dan menyimaknya lalu menghapusnya.
"Benar juga... Hari ini adalah hari pernikahan Gery dan Angel. Apa tak sebaiknya aku pulang dan mengucapkan selamat pada mereka berdua?" Gumam Gabvin sedikit resah.
Saat ia tengah berfikir demikian, adiknya bangun dan mulai bertanya "Jam berapa kak?" Tanya Kelvin.
"Baru Jam 08.54... " Balas Gabvin sigap karna saat itu ia tengah memainkan ponselnya.
"Sudah siang nih... Apakah Elizha sudah sadar?" tanya Kelvin pada kakaknya.
"Entahlah... Suster belum memberi kabar, mungkin sebentar lagi..." Jawab Gabvin.
"Kemarin, bagai mana hasil pemeriksaannya?" Tanya Kelvin khawatir, padahal dalam hatinya ia sangat ketakutan jika Elizha membeberkan segala aksi pelecehan yang ia lakukan tadi malam.
"Hasilnya bagus, tak ada yang serius... hanya saja, Elizha sangat kekurangan nutrisi..." Jelas Gabvin.
"Hmm... Kakak seharusnya fokus pada wanita itu... Bukankah dia sekarang adalah kekasihmu. Jadi... Aku akan menyerah saja deh" Ucap Kelvin pasrah.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu bicara begitu?" tanya Gabvin kebingungan.
"Kamu salah paham... Dia bukan kekasihku atau pun istrku..." Jelas Gabvin sedikit malu pada ungkapannya ini.
Kelvin membelalak "Apa?! Yang benar kakak?" Kelvin terkejut dan menatap kakaknya dengan bola mata membulat sempurna.
"Kenapa kamu terlihat senang?" tanya Gabvin tak senang.
"Tentu saja, jika Elizha belum punya pacar atau suami... Aku mau jadi ayah dari anak yang Elizha kandung" Imbuh Kelvin ke girangan.
"Hemm... Gak salah tuh, memang kamu mau menanggung segala kebutuhan pasca melahirkan?" Tanya Gabvin.
"Kalau aku bisa menikahi Elizha, aku tak akan membujuk kakak untuk melanjutkan bisnis keluarga kita kak. Biar aku saja yang menjalankannya dengan serius" Ungkap Kelvin dengan semangatnya yang membara.
"Entahlah... Aku tak yakin jika Elizha mau menerimamu lagi... Wanita itu sangat teliti, dia akan terus mengungkit-ungkit sebuah kesalah seorang laki-laki yang menghianatinya... Meski sampai kapanpun..." Jelas Gabvin sedikit menasihatinya.
"Haaah.... Benar juga. Padahal, dulu aku tak berani menyentuhnya apa lagi merusaknya, karna bagiku... Elizha adalah sebuah kehormatan yang harus di jaga..." Jelas Kelvin meratapi masa lalunya.
"Jangan harapkan Elizha lagi, bukankah kamu sudah punya pacar baru... Dan dia juga sedang hamil bukan?" tanya Gabvin sedikit menyinggung aib adiknya itu.
"Kakak! Apaan sih... Sudah ku bilang, aku tak menyukai wanita itu, dia hanya menjebakku agar Elizha mau putus denganku..." Bantah Kelvin menatap Gabvin penuh ke sinisan.
__ADS_1
"Sudahlah... jangan di ungkit lagi. Apapun itu, sebagai pria hebat. Kamu harus bisa menerima sebuah kekalahan dan kamu pun harus mampu bertanggung jawab pada wamita yang telah kamu kotori itu" Ujar kakaknya.
"Haah... Baiklah. Aku akan pulang, tapi sebelum pulang, aku ingin menjenguk Elizha sebentar saja" Pinta Kelvin. Saat Kelvin berharap menjenguk Elizha, susterpun datang untuk memeriksa keadaan Elizha.
"Suster tunggu..." Pinta Gabvin.
"Ya. Ada apa tuan?" Balas sang suster menghentikan langkahnya.
"Saya ingin menjenguk pasien atas nama Elizha..."Pinta Gabvin.
"Oh nona Elizha. Tunggu lah sebentar, saya akan memeriksa pasien sebentar lalu... Anda bisa masuk untuk menjenguknya..." Jelas sang sustr. Gabvin pun mengangguk.
"Yah. Lama dong?" tanya Kelvin tak sabaran.
"Kenapa? Kalau tak mau menunggu yah... Pulang saja sana" Balas Gabvin ketus.
"Haah... Baiklah sebantar lagi saja... Padahal hari ini aku akan ada acara..." Gumam Kelvin.
"Acara? Memang kamu sesibuk itu di hari libur?" Tanya Gabvin mengoceh.
"Ya. Aku akan pergi ke acara pernikahan kluarga Pranata Winata..." Jelas Kelvin.
Lantas Gabvin pun terkejut...
"Benarkah? Kamu akan datang bersama siapa?" Tanya Gabvin kian penasaran.
"Bersama Ayah... Sekalian mengikat tali persaudaraan yang baik, soalnya kami sudah mulai menjadi patner bisnis dengan perusahaan G.O Group" Jelas Kelvin celingukan ke arah kamar yang Elizha isi.
"Kalau begitu pergilah..." Pinta Gabvin.
"Mendengar kata pergilah dari kakak sendiri membuatku sangat sedih... Kakak seakan mengusirku dan enggan bertemu denganku" Kelvin mulai merajuk lagi.
Klek! pintu kamar tersebut mulai terbuka, kemudian Kelvin dan Gabvin lekas menghampiri pintu tersebut juga menghentikan perdebatan mereka.
"Silahkan..." Ucap suster yang baru keluar dari kamar tersebut.
Kelvin dan Gabvin pun mulai masuk ke kamar tersebut. Namun, nampaknya apa yang mereka harapkan belum bisa terwujud. Sebab Elizha masih terkapar tak berdaya, ia masil belum sadarkan diri.
Entah kenapa, Gabvin terlihat sangat menderita, saat menatap wanita tersebut yang terlelap dalam posisi telantang.
Gery bahkan tak ingin mengetahui kabar Elizha sekarang... Bathin Gabvin menggumam.
Bersambung...
__ADS_1