ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Berubah sifat


__ADS_3

***


Setelah kejadian itu, Gery tidak pulang kemasion itu... Entah kemana Gery pergi, dan di mana Gery menginap saat ini. Elizha sungguh risih di buatnya. Hatinya sungguh resah, bahkan saat ia harapkan kabar Gery dari sahabatnya yaitu Gabvin, Gabvin malah bungkam seakan ia tak mengerti apa yang Elizha khawatirkan saat ini.


Malam ini pun, Elizha masih terjaga di ruang tengah di temani beberapa pelayan masion tersebut.


"Nona... Ini sudah larut malam... Apakah tak sebaiknya anda tidur" Pinta pelayan Yan. Elizha tampak masih termenung dan enggan menggubris.


"Mungkin malam ini, tuan muda juga akan menginap di rumah sakit menunggu nona Angel siuman" Jelas Yan kembali membujuk Elizha.


Selama ini aku memang enggan mengakui bahwa aku memang menyukai pria itu. Tapi, jika di pandang dari sisi lain... Pria itu memang tak pantas untukku. Tapi kenapa, hatiku terasa sakit ketika menerima keadaan yang seperti ini. Keadaan di mana statusku tidak di akui oleh siapapun sama sekali. Bathin Elizha meracau.


Krrrriiing! Krrrriiing! Bunyi telpon di kediaman tersebut berhasil membuyarkan lamunan Elizha. Elizha lekas menoleh ke arah Pelayan lain yang mengangkat telpon tersebut. Lalu pelayan itu mulai menyerahkannya pada kepala pelayan yaitu Tuan Yan.


"Hallo... Tuan muda?" Sahut Yan. Elizha lekas terperanjat dan mengharap Yan mau menyerahkan telpon tersebut padanya.


"Oh. Ia... Baiklah... Akan saya sampaikan..." Yan mulai menutup telpon tersebut. Elizha pun mulai kembali cemberut "Siapa itu tuan Yan?" Tanya Elizha menatap Yan di kejauhan.


"Itu... Adalah tuan muda nona..." jawab Yan menundukan wajahnya.


"Tuan muda? Apa yang dia katakan tadi... Kenapa langsung di tutup?" tanya Elizha risau.


"Tuan hanya menyuruh saya untuk menjaga anda..." Jelasnya. Elizha tak puas dan makin cemberut ketika mendengar penjelasan itu.


"Heh... Menjaga katanya? Memangnya aku ini bayi apa?" gumam Elizha marah.


"Nona... Sebaiknya anda istirahat dulu... Tuan pasti akan sangat khawatir jika nona terus termenung begini" Pinta Yan membujuk Elizha.


"Heh. Bisa bisanya dia khawatir... Bukannya dia lagi khawatirkan pacarnya itu. Huh... Menyebalkan" Gerutu Elizha.


"Nona. Sebaiknya anda lekas istirahat di kamar... Udara makin dingin saat ini" pinta Yan mengulang lagi.


"Bawel..." Elizha pun lekas berjingkrak dan langsung melangkah ke arah kamar miliknya.

__ADS_1


"Syukurlah..." yan menghelan napas panjang dan merasa lega ketika Elizha menuruti permintaannya.


Telpon kembali berdering... Kali ini ponsel Yan yang berbunyi. Yan pun mengangkat ponsel itu "Hallo... Tuan muda..." Balas Yan..


"Ya nona sudah masuk kamarnya. Mungkin ia sudah tidur sekarang..." Balas Yan lagi Entah apa yang mereka bicarakan.


"Baiklah... Besok saya akan menyuruh tuan Gabvin untuk mengantar nona Elizha ke klinik bersalin itu..." Jelas Yan.


Tak berselang lama... Ponsel pun mulai di tutup oleh Yan...


"Tuan Gabvin pasti tahu jadwal praktiknya..." Ucap Ya. Entah apa yang akan ia lakukan, Yan pun kembali menghubungi seseorang di jam semalam itu.


Selang beberapa menit setelah ia menekan ponsel tersebut seseorang mengangkatny "Hallo..." Sapa Yan.


"Oh ia tuan Gabvin... Tuan muda menugaskan anda untuk mengambil hsil tes besok..." Jelas Yan.


"Oh... Ia baiklah, anda harus menjamput nona Elizha besok pagi jam 08.00 yah..." Jelas Yan.


...****************...


Pagi pun tiba...


Elizha bangun seperti biasanya, membersihkan diri dan memakai pakaian bersih lalu merias diri di depan cermin. Ia duduk seraya menyisir rambutnya dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia mulai berpikir Lhiz... Sejak kapan sih loe jadi bodoh begini? Bukannya dulu Kelvin juga melakukan hal yang sama? Dia berani menduakan mu hanya demi wanita lain. Bukankah ini sama seprti waktu itu. Dimana hatinya akan di bagi antara aku dan dia? Bathin Elizha.


Entah sejak kapan, Elizha terperangkap dalam sebuah masalah yang dulunya ia hindari bahkan hasil dari kebodohannya tempo dulu berhasil membuatnya hancur seperti sekarang ini.


Saat lamunannya sedang menguasai segalanya. Seseorang datang membuyarkan semua itu. Ya, bunyi ketukan pintu membuatnya menoleh ke arah di mana seseorang hendak datang menemuinya.


Tok!Tok!


Dua kali ketukan pintu mulai membuat Elizha beranjak, Elizha berharap yang datang itu adalah Gery.


"Pria cabul?" gumam Elizha lekas melangkah ke arah tersebut. Ia pun mulai membuka pintu itu lekas.

__ADS_1


Klek!


Setelah pintu terbuka, ia malah kaget ketika yang datang bukanlah yang ia harapkan "Hay" sapanya melambaikan tangannya.


"Kau..." wajah Elizha lekas berubah malas.


"Ya. Ini aku..." Siapa lagi jika bukan Gabvin.


"Buat apa kamu datang sepagi ini?" tanya Elizha masam.


"Jutek amat sih..." Balas Gabvin sedih.


"Biarin... Siapa suruh tiap datang cuman mengolok olokin aku terus..." Balas Elizha makin jutek.


"Ia ia maaf... Oke, aku di suruh bos buat antarin kamu periksa sekalian ambil hasil test yang minggu lalu katanya..." Jelas Gabvin. Rupa-rupanya itulah hal yang membuatnya datang kemari di pagi haru begini.


"Oh... Kenapa nggak Gery aja yang datang ke mari?" tanya Elizha menekan Gebvin.


"Sadis amat sih. Emangnya kamu nggak mau gitu ketemu aku?" tanya Gabvin.


"Enggak lah... Males malah..." Jawab Elizha makin jutek aja.


"Ya udah lah aku nyerah. Dari pada ke siangan dan terjebak macet. Mending lekas dan bergegas Yuk..." Pinta Gabvin.


"Emang musti sekarang ya?" tanya Elizha Gabvin pun menganagguk.


"Haaah... Baiklah... Tapi, nanti... Aku ingin dateng ke rumah sakit, di mana Gery berada saat ini?" Pinta Elizha. Gabvin pun pasrah dan hanya bisa mengangguk diam.


"Oke... Tunggulah aku mau bawa tas dulu" Pinta Elizha. Gabvin kembali mengagguk dan Elizha pun mulai masuk kembali ke kamar tersebut.


Tak berselang lama, sesuai ucapan Elizha, Elizha pun keluar dan mereka pun mulai berjalan menuju keluar Masion Gery menuju ke rumah bersalin seperti yang Gabvin jelaskan Tadi...


Next episode selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2