ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Awal kemenangan


__ADS_3

***


Suasana mulai hening kala pertanyaan Yasmin mulai terlontar begitu saja. Gabvin sedikit kaget, sedangkan Ayah Gabvin hanya bisa terdiam mematung dengan pandangan tetap menyoroti anak sulungnya itu


"Gabvin. Apakah yang di katakan Yasmin benar?" Tanya sang Ayah. Gabvin masih terdiam seraya berfikir "Sial, apa yang harus aku jawab... Jika aku berbohong, aku malah akan kehilangan simpati ayah dan membuatku makin sulit..." Bathin Gabvin menggumam.


"Benarkah kamu memiliki kekasih dan ia sedang mengandung?" Tanya Ayah Gabvin menambah beban di benak Gabvin. Gabvin makin bingung pada jawaban apa yang harus ia berikan pada ayahnya.


"Itu..." Gabvin tetap bingung matanya mendelik ke kiri dan ke kanan.


"Ayo jelaskan pada ayahmu kenapa kamu sampai bisa melakukannya pada Elizha. Jika Elizha saja bisa hamil karna mu? Kenapa aku tidak?" Tekan Yasmin makin membuat Gabvin kewalahan.


"Kalau begitu nona Yasmin, apakah kamu ingat, berapa lama kalian putus?" Tanya ayah Gabvin. Yasmin yang memutar otaknya mulai menjawab "Tiga bulan yang lalu..." Jawabnya ke colongan, nampaknya Yasmin menjawab dengan sigap. Hingga ia lupa jika saat ini ia tengah bersandiwara.


"Mmfffttt..." Gabvin seakan menahan tawa nya kala itu pula.

__ADS_1


"Gabvin. Kanapa kamu malah tertawa?" tanya Yasmin sedikit marah.


"Hehehe... Tentu saja, bagai mana janin mu berkembang lebih lambat. Jika saja, aku melakukan hal buruk padamu. Sudah pasti usia kandungan mu saat ini berusia dua belas minggu atau sepuluh minggu..." Jelas Gabvin. Ibu Yasmin mulai terdiam, Begitupun Yasmin dan adiknya.


"Bagaimana? Apakah kalian bisa menjelaskan nya pada kami?" Tanya Gabvin mulai menyerang Yasmin. Yasmin kalah telak oleh pertanyaan Gabvin saat itu, hingga mereka pun salah langkah dan Yasmin mulai berdiri "Pokoknya! Apapun alasanku! Ini semua karna aku tak ingin kita menghentikan perjodohan ini. Aku ingin tetap menikah denganmu! Akulah wanita yang pantas untukmu! Tak ada yang lain, selain aku!" Bentak Yasmin mencoba meyakinkan Ayah Gabvin, sedangkan Gabvin kembali membalas secara tegas. Gabvin berdiri dan mulai berkata hal yang sama "Aku pun! Tak ingin menikahi, wanita yang selalu berbohong. Apa lagi, ia melakukannya hanya untuk ambisinya yang terdengar penuh ke egoisan!" Jelas Gabvin bicara seraya menatap jijik ke arah Yasmin.


Deg! Kalimat tegas itu terlontar, ibu Yasmin sungguh merasa sangat terhina "A-aku..." Ibu Yasmin sungguh malu, keringat dingin mulai bercucuran di jidaknya. Wajahnya sungguh banjir saat ini, selain itu ia begitu pucat... Yasmin mati kutu dan juga Syakila tak punya wajah saat ini.


"Ayah... Berikan aku waktu untuk membawa calon menantumu ke hadapanmu. Ayah tolong percayalah pada ku, aku sungguh ingin berbakti padamu... Akan ku balas hal-hal kecil yang telah aku sia-siakan, akan aku lakukan untuk membalas budi baikmu. Yang selalu terus menyakiti hatimu. Aku akan menjadi anak yang lebih baik lagi..." Jelas Gabvin menyakinkan sang Ayah.


"Kenapa? Apakah karna dia adalah adikmu?" Tanya Gabvin tegas.


Yasmin termenung "Sebaiknya, kalian pergi sekarang juga. Bawa kembali bualan dan ujaran kebencian yang kalian tebarkan...Karna aku tak ingin melihat wajah kalian lagi selamannya!" Bentak Gabvin. Yasmin habis di cecah oleh pria yang paling ia ingin kan itu. Hingga tanpa pamit, ia lekas membuang wajahnya dan lari ke luar kediaman tersebut.


"Ya-yasmin!" Pekik ibunya menoleh ke arah Anak sulungnya.

__ADS_1


"Silahkan keluar, pintu nya ada di belakang anda" jelas Gabvin menjulurkan tangannya menuju arah tersebut.


"Ka-kau!" pekik ibu Yasmin. Ia mulai menatap tuan besar rumah tersebut, lalu ia pun membuang wajahnya sinis "Heh!" Ia berpaling seraya menyambar tasnya yang sedari tadi tergeletak di meja ruangan tersebut.


"i-ibu!" Pekik Syakila tak berdaya.


Mereka pun pergi "Hahahaha... Kau sungguh mengusir mereka?" tanya Ayah Gabvin.


"Ayah. Apakah ayah akan setuju jika aku menikahi adik dari mantan kekasihku?" Tanya Gabvin.


"Jika wanita itu bisa membuatmu nyaman dan bahagia. Kenapa aku tak memberikan mu restu ku..." imbuh sang Ayah. Sontak Gabvin terkesima dan lekas memeluk sang ayah.


"Ayah! Terimakasih. Mulai sekarang, aku berjanji... Aku akan bersikap lebih baik dan bertanggung jawab pada pekerjaanku. Aku tak akan lari lagi, aku akan sangat setuju jika hidupku di habiskan untuk mengabdi di perusahaanmu. Ayah..." Jelas Gabvin beserta janjinya.


"Jika itu tak membebanimu... Maka ayah akan sangat berterimakasih dan selalu mendukungmu..." Gabvin sungguh senang mendengarnya. Ia sangat bersyukur, ternyata dia salah paham pada ayahnya. Ternyata ayahnya sangatlah baik hati. Bahkan jauh dari yang ia bayangkan...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2