
Tink! Lift baru saja naik ke laintai pertama...
Jantung Elizha berdetak kencang karna panik dan Ia bahkan melepas sebelah sepatu baletnya untuk memukul pria jahat itu.
Oh tuhan... Apa yang harus aku lakukan? Bathin Elizha. Elizha mulai berdiri dan melayangkan sebelah sepatunya untuk memukul pria di depannya itu. Namun siapa sangka, saat tangannya melayang ke arah pria itu. Pria itu malah berbalik dan lekas menahan serangan Elizha yang hendak mengenai kepala pria itu dengan tangan kiri pria misterius tersebut.
Tap!!!
Tangan Elizha di sambar pria misterius yang menyembunyikan identitasnya di balik Hudd sweternya "Lepskan! Siapa kamu sebenarnya?" teriak Elizha. Elizha di seret dan di tahan di dinding lift tersebut. Tubuhnya di balikan hingga wajah Elizha menghadap ke dinding Lift sementara kedua tangannya di tahan di belakang.
"Lepaskan aku!" Jerit Elizha dalam sebuah tangisannya. Elizha sungguh tak bisa bicara lagi, apa lagi nyawanya di pertaruhkan saat ini juga.
Pria itu menekan pahanya di tengah-tengah area sensitif Elizha. Bahkan Pelecehen itu di lakukan di sebuah Lift. Perlahan, pria itu mendekatkan bibirnya di leher jenjang Elizha lalu mengigitnya pelan dan menyakitkan "Kyaaaa! Lepaskan! Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku! Lepaskan!" teriak Elizha tak berkutik.
Gery! Gery tolong aku! Bisik Elizha tak berdaya.
Pria itu menahan tangan Elizha dengan satu tangannya yang kuat. Lalu tangan lain malah meraba seluruh bagian sensitif Elizha dan membuatnya menjerit ketakutan.
"Tolong hentikan! Aku tak ingin punya musuh! Jadi tolong hentikan!!" Teriak Elizha.
Akhirnya tangan pria itu terhenti di leher mulus Elizha yang jenjang itu. Dan mencekikinya pelan "Eekkkh... " Elizha mengerang kesakitan. Kemudian, tangan pria itu berhenti mencekik dan malah menarik rahang Elizha ke arah wajah pria berhudd (Topi sweter) itu. Elizha sungguh tak bisa melawan ketika sebuah ciuman mendarat begitu panas dan menyesakkan itu.
"Mmmhhhhhh!" Ringis Elizha. Matanya membelalak, namun sungguh terlihat samar, sebab rambut Elizha yang acak-acakan dan penuh keringat itu menghalangi pandangannya.
Siapa pria ini. Brengsek! Beraninya dia memperlakukanku dengan begitu menjijikan seperti ini. Bathin Elizha.
Lama bergulat lidah, pria itu mulai menekan kema*luannya di dua gunduk bokong Elizha yang sintal dan menggesek-gesekannya pelan. Elizha meringis lalu menjerit sejadi-jadinya di sana. Kemudian terlintas sebuah aksi pemberontakan dalam sebuah ciuman yang menurutnya menjijikan itu.
__ADS_1
Elizha pun mengigit lidah nakal pria yang sedari tadi bersikap tak senono itu dengan kerasnya "Grauuuukkk!" Gigit Elizha kasar.
"Aagghhhhh..." Pria itu pun kemudian berteriak dan lekas melepaskan ciumannya dan segala perlakuan menjijikannya yang sedari tadi membelenggu Elizha. Pri itu tersungkur di sudut ruang kecil tersebut dengan tangan membungkam bibirnya sendiri.
"Sial!" Bentak Kelvin meremas rahangnya.
Elizha kemudian membalikan badannya setelah merasa sedikit kelonggaran. Pria itu hanya bisa meraung kesakitan dan memegangi mulutnya yang berdarah itu.
Kesempatan. Bathin Elizha menggumam. Kamudian Elizha mengangkat tangannya yang tadi memegang sebelah sepatunya. Lalu memukulkan kesar ke arah pria itu.
Pletak! Siapa sangka, pukulan keras Elizha akan mendarat pas di wajah pria itu dan malah membuka topi sweter yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya.
Pria itu pun menatap Elizha dengan nanar tak puasnya. Nampak amarah membara di wajahnya hingga matanya terlihat memerah. Elizha kaget dengan apa yang ia saksikan...
Astaga... Mata Elizha menatap lebar-lebar dengan perasaan tak percayanya.
Hidung itu, bibir itu, dan mata itu... Juga rambut itu amatlah Elizha kenali.
"Ya. Ini aku..." Balasnya lantang membuka topengnya, Kelvin pun berdiri dan melangkah menghampiri Elizha dengan tatapan begitu mendendam.
Kelvin... Mau apa dia sebenarnya. Apa yang harus ku lakukan. Aku tak mau mati di tangan pria brengsek ini. Bathin Elizha panik.
Tatapan garang pria itu sungguh membuat Elizha merinding. Tatapan Kelvin seakan penuh nafsu membunuh.
"Apa yang kau inginkan dariku! Pergi!" Teriak Elizha histeris. Elizha mundur dengan sepatu baletnya itu. Dan Kelvin malah mendekat dengan kasarnya, ia memegang tangan Elizha dan menekannya kembali ke dinding Lift kasar Brak!! Kyaaaaa! Elizha teriak. Kali ini Kelvin amat bernafsu.
__ADS_1
"Hentikan! Apa yang akan kau lakukan?!" Teriak Elizha berontak. Namun apa daya, ia hanyalah seorang wanita. Kelvin malah menahan tangan Elizha di atas kepalanya dengan satu tangan kanan dan merangkup wajah Elizha dengan satu tangan kirinya. Elizha tertempel didinding dengan posisi menghadap ke arah Kelvin. Bahkan tubuh Kelvin yang begitu kekar mendesak tubuh Elizha dengan kasar..
"Sakit..." Bisik Elizha dengan Exspresi pasrah. Tak ada yang bisa ia kakukan lagi, tubuhnya terkunci oleh serangan Kelvin.
"Berani sekali kamu meninggalkanku!! lalu merayu kakakku!!" Bentaknya seraya mendekatkan wajah penuh emosi itu ke arah Elizha. Elizha tak berani menatap mata Kelvin yang begitu ingin membunuhnya saat ini. Wajah Elizha di tekan begitu erat hingga ia sulit untuk menjelaskan.
"Sakit... Hentikan, kamu sungguh salah paham..." Jelas Elizha terbata-bata dalam takanan yang menyakitkan. Elizha tak bisa bicara dengan pantas dan jelas sebab bibirnya saakan terkunci oleh cubitan Kelvin yang amat kencang dan begitu gemas.
"Munafik sekali... Kamu pergi karna aku dan karin saling telanjang di kamar itu...??? Heh... Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan dengan kakakku selanjutnya?? selain mencari kamar hotelkan? Murah sekali dirimu ini...!!" Teriak Kelvin seraya menitikan air matanya. Kelvin tampak sedih dan tak berdaya atas dugaannya itu.
"Hentikan! Hubungan kita sudah lama berakhir. Seharusnya sudah tak ada dendam di atara kita. Aku sudah ikhlas melepasmu untuk Karin..." Jelas Elizha kesesakan.
Kelvin tak mau menerimanya "Diaaaammmm!!! Aku tak butuh pendapatmu!!" Teriaknya kencang membuat Elizha kian histeris ketakutan.
"Lepaskan aku! Kamu menyakitiku jika begini!!" Pinta Elizha tak kuasa. Perutnya sakit sekali karna tekanan perut Kelvin yang begitu dekat saat menghimpitnya.
Bayi ku... Bathin Elizha.
"Hiks. Serakah sekali... Kau sungguh serakah. Kenapa harus kakakku dan bukan aku!!" Teriak Kelvin lagi.
"Berhenti bicara hal yang tak aku pahami. Sekarang enyah dan lepaskan aku!!" Pinta Elizha berontak. Kelvin mulai mendelik dan menatap Elizha dalam-dalam.
"Apakah karna kakakku lembut padamu?" Tanya Kelvin menurunkan notasi bicaranya.
Elizha makin tak berkutik, tekanan Kelvin yang kasar ini, seketika membuat Elizha kesulitan bernapas dan ia pun mulai lemas, pandangan Elizha kabur hingga ia pun memejamkan matanya hingga tubuhnya pun terkulai tak berdaya di hadapan Kelvin.
"Eh! Apa yang kau...!! Apa yang terjadi?? kau?" Kelvin panik dan lekas menangkap tubuh Elizha yang hampir jatuh mencium marmer lift tersebut.
__ADS_1
Kalvin pun panik dan segera menekan lift untuk lekas turun ke lantai bawah.
Bersambung...