ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Rasanya tawar


__ADS_3

Elizha dan Gabvin sarapan di pinggir jalan, mereka memesan bubur ayam special di sebuah lapak kaki lima "Gabvin kamu baik-baik saja kan?" tanya Elizha.


"Tentu... Hanya saja, aku belum pernah makan makanan di pinggir jalan sebelumnya" Jelas Gabvin.


Tentu saja... Kalian kan kalangan Elit mana mau makan makanan murah seperti ini. Bathin Elizha.


"Silahkan pesanan anda sudah datang" jelas tukang bubur tersebut.


Semangkuk bubur spesial tersaji di atas meja sederhana ala emperan "Gluk" Bunyi saliva gabvin di telan dengan susah payah. Ia terlihat jijik ketika menatap makan yang ada di hadapannya.


"Gabvin apa yang kamu lihat... Ayo makan..." pinta Elizha.


"I-ia..." Gabvin tampak gemetar kala memegang sendok dan mengaduk bubur tersebut.


"Akan lebih enak jika di tabur cabai merah yang banyak" Imbuh Elizha. Elizha mulai menyingkup cabai di hadapannya dengan jumlah yang banyak.


"Tunggu! Jangan makan banyak cabai saat hamil... Nanti kontraksinya akan lebih sakit dari kontraksi ibu hamil biasa lainnya..." Jelas Gabvin menukar bubur milik Elizha.


"Kata siapa? itu mitos..." Elizha bersikeras.


"Aku lebih baik makan ini..." Gabvin mulai menyingkup bubur itu dan memaskukannya ke mulutnya.


"Gabvin! Kembalikan! Itu milikku" Teriak Elizha.


"Tunggu... Ku pikir, rasa makanan di pinggir jalan itu sangat buruk. Ternyata aku mulai menyukainya..." Ucap Gabvin makan dengan lahap.


"Iihh... Apakah aku harus makan makanan tanpa cabai?" Tanya Elizha dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Hmmm... Aku tak ingin kamu menderita saat lahiran nanti. Jadi, bersabarlah hingga bayimu lahir nanti ya?" Pinta Gabvin membujuk Elizha.


"Uuhh.. Kamu terlalu perfact..." Gumam nya seraya meraih gorengan dan memakannya bersama bubur tawar tanpa cabai itu.


"Aku ingin makan satu chili ini... Boleh kan?" Tanya Elizha.


"Tidak!" Gabvin meraih chili yang ada di tangan Elizha dan melahapnya, ia bahkan mengunyahnya "Ouch... Apakah rasanya buruk?" Tanya Elizha khawatir.


"Rasanya manis. Karna aku memakannya seraya menatap wajahmu yang cantik dan menarik..." Gombalnya.


"Uh dasar... Ayo cepat makan..." Elizha lekas makan dan menghabiskan bubur tawar tersebut karna tak ingin habis di gombali Gabvin.


"Zha. Kita usg lagi... Aku ingin tahu jenis kelamin anakmu. Aku harap bayimu seorang anak laki-laki" Ujar Gabvin.


"Memangnya jika anakku perempuan, kamu akan menjauhiku?"Tanya Elizha.


"Mau laki-laki atau pun perempuan. Keduanya akan aku sayangi sepenuh hatiku" Jelas Elizha.


"Tuan nona... Ini minum anda" Ucap pemilik lapak bubur tersebut.


"Makasih..." Gabvin meminum air tersebut hingga habis.


"Kamu pasti ke pedesan" Ucap Elizha.


"Nggak. Apa kamu sedang perhatian padaku?" tanya Gabvin menggoda Elizha.


"Apaan sih..." Elizha membuang wajahnya.

__ADS_1


"Kamu memang masih kekanak-kanakan... Tapi aku suka sih..." Ucap Gabvin terus menggoda Elizha.


"Uh... dasar gombal" umpat Elizha seraya membuang wajahnya lagi dan lagi.


"Apakah kamu ingin makan sesuatu lagi?" tanya Gabvin.


"Sepertinya aku kenyang" Jawab Elizha.


"Setelah ini kita ke toserba dan membeli beberapa makanan ringan juga air mineral" Ucap Gabvin.


"Baiklah... Ayo..." Elizha mulai keluar dari lapak tersebut. Gabvin membayar tagihan makan tersebut "Tuan. Ini kembaliannya" pekik penjual tersebut.


"Silahkan ambil saja, anggap saja sebagai bonus" Jelas Gabvin tersenyum seraya pergi.


"Terimakasih, semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia selamanya" Ucap penjual itu seraya melambaikan tangannya.


Elizha sungguh tak sadar jika seluruh mata menyangka bahwa aku dan dirinya adalah pasangan suami istri. Kapan kami akan menjadi kluarga seperti yang di harapkan orang-orang baik yang selalu mendoakan kamu itu.Bathin Gabvin menggumam.


Gabvin melangkah lurus ke depan di samping Elizha, mereka menelusuri jalan "Mari menyebrang, toserbanya ada di sana" Pinta Gabvin. Elizha pun mengangguk dan mereka mulai menyebrang setelah tanda hijau menayala "Ayo" Gabvin meraih tangan Elizha dan menggenggamnya sangat erat.


Eh? Elizha termenung menatap jemarinya yang terasa hangat. Padahal sedari tadi tangannya terasa membeku.


Mereka berjalan melewati zebra cross bersama penyebrang lainnya. Tanpa sadar, kebiasaan di antara mereka mulai terjalin. Hingga mereka tak menyadari jika benih cinta mulai kembali tumbuh. Rupanya, perasaan sebelumnya di hati Elizha hanyalah sebuah pengorbanan. Ia rela berkorban meski saat itu ia mulai sedikit menyukai Gery, namun karna perlakuannya yang begitu tak menghargai Elizha. Membuatnya menyerah dan terombang ambing. Kini, langkah Elizha mulai lurus kedepan, menatap punggung kekar yang membawanya ke arah yang seharusnya.


Gabvin seakan menarik Elizha dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang dan indah ketika mereka bersama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2