ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Dua pria ambisius


__ADS_3

Setelah Gery bicara hal tersebut, Gabvin lekas berdiri dan menarik kerah pakaian yang Gery kenakan dengan tatapan membulat dan alis yang terangkat "Apa yang sedang merasukimu Ger!! Dulu kamu tak senaif ini hingga aku mau menjadi bawahanmu!!!..." Teriak Gabvin bertingkah di luar dugaan Gery. Gery terbelalak dan sedikit tersulut emosi atas perbuatan sahabatnya itu yang berbuat tak sopan padanya secara tiba-tiba "Apaan kau Gabvin!! Lepaskan beraninya kau!!" Amuk Gery melepas paksa tangan Gabvin dari kerah bajunya.


"Ssshhh!!" Desis Gabvin tak puas.


Sedang Gery kembali memperbaiki kerah bajunya dan balik mamaki Gabvin "Apaan sih Loe Vin!!! Kenapa tiba-tiba marah begitu! Lagi pula apa yang membuatmu marah... Hubungan pernikanku dengan siapapun juga bukan lah urusanmu!!" Bentak Gery dengan mendengus kesal.


Gabvin menunduk dan mulai menyungingkan bibirnya "Hmmm... bukan urusanku? Pernikahanmu bukan urusanku? Kau bilang semua itu bukanlah urusanku? Benarkah?" Gabvin kembali tertawa dan membuat Gery menatap heran ke arah pria di depannya itu.


"Ma-maksudku... Maksudku bukan begitu... Kenapa kamu tiba-tiba marah dan menyerangku?! Jangan bilang kalau kamu ingin menghianatiku saat ini?" Tanya Gery menatap intrents Gabvin dengan penuh curigaan.


"Heh... Skenario mu memang sempurna Ger... Bahkan kamu tak mau tahu perasaan sahabatmu ini..." Gabvin tersenyum pahit ke arah Gery, Gabvin mengerutkan alisnya dan terlihat begitu sedih.


"Jangan beginilah Vin. Kita kan sudah sepakat..." Imbuh Gery kembali meneng, ia duduk kembali di kursinya seraya menekan-nekan kapalanya.


"Hmmm... Lantas apa untungnya untukku, jika aku terus mengikuti alur skenario yang telah kamu buat ini?" Ucap Gabvin menunduk pasrah di depan sahabat baiknya itu.


Gery mulai kembali bersemangat "Lakukanlah semestinya... Lakukan seperti yang aku perintahkan sebelumnya" Jelas Gery.


Gabvin lagi-lagi menyungingkan bibirnya "Bukan itu maksudku... Jika ini hal yang menguntungkan untukmu. Lalu bagai mana denganku? Apa keuntungannya untukku?" Tanya Gabvin kembali menekan Gery.


Gabvin menatap Gery penuh harap, lalu Gery pun mengerutkan dahinya dan mulai mengambil keputusannya "Akan ku naikkan derajatmu menjadi adik angkat atau bahkan saudaraku..." Jelas Gery mengukuhkan kalimatnya.


Gabvin tersenyum "Hemmm... Hahahahaha" Tiba-tiba ia tertawa. Gery terenyuh kembali dan heran "Lho... Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Gery heran.


"Hhhmmm... Setelah aku jadi adik angkat atau saudaramu... Bisakah kamu berjanji. Jika kamu akan memberiku hadiah?" Tanya Gabvin memaksa.


"... Hadiah?" tanya Gery heran.


"Ya hadiah... Beri aku hadiah, meski itu permintaan yang tak mungkin sekalipun" Jelas Gabvin makin menekan.

__ADS_1


"Hmmm... Apapun, apapun permintaanmu... Akan aku laksanakan. Asal kamu ikuti scenario yang aku tulis" Jelas Gery mulai tenang dan duduk santai menyender di kursinya.


"Apa hal pertama yang kau inginkan?" Tanya Gabvin mendelik ke arah Gery. Gery sangat senang atas pertanyaan itu "Hal pertama... tutup mulutmu, meski kau tahu seperti apa hubunganku dengan Elizha. Jangan sampai Angel mengetahuinya... Apakah kau paham?" Tanya Gery meminta ketulusan Gabvin.


Sial... Jika begini, aku akan makin menyakiti Elizha... Dia bahkan akan membenciku gara-gara ini. Apa yang harus aku jelaskan pada wanita itu. Bathin Gabvin.


Ctik! Gery lekas menjentikan jemarinya dan membuyarkan lamunan Gabvin yang kala itu tengah bimbang di penuhi dilema.


"Vin... Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Gery tegas.


"Ya. Aku baik-baik saja..." Jawabnya.


"Begitu ya. Baguslah kalau begitu..." Imbuh Gery.


"Lalu... Bagai mana caraku mengatasi statusmu itu. Bukankah Angel akan makin curiga ketika Elizha tetap tinggal di masionmu ini?" tanya Gabvin lugas.


"Hmmm... Masalah itu jangan khawatir. Aku hanya menginap beberapa hari di sini. Selama Angel ada di sini... Kamu harus berusaha semaksimal mungkin, untuk berpura-pura menjadikan Elizha tunanganmu... Dengan demikian. Angal pasti akan tersentuh dan tak mungkin berfikir hal-hal yang negatif" Imbuh Gery tentu membuat Gabvin makin kaget.


Gery mencercidkan matanya ketika melihat keringat Gabvin yang bercucuran dengan wajah yang cukup pucat pasi "Vin... Kamu baik-baik saja...?" Tanya Gery menatap Gabvin penuh curiga.


Gabvin lekas merespon pertanyaan dari Gery "Ah Ia! Itu... Hahahahahaha" Gabvin salah tingkah.


Sial... Apa aku sudah benar dengan mengambil keputusan ini. Keputusan ini sungguh berat, aku merasa umurku akan sangat pendek jika terus terusan dekat dengan wanita galak itu. Bathin Gebvin menggumam.


"Vin?! Malah ngelamun!! Gimana? Setuju nggak?" Tanya Gery risih.


"Hah... Kau sungguh merepotkan..." Gabvin menghelan napas berat.


"Setuju atau tidak?" tanya Gery menatap intrents Gabvin dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Sial... Dasar merepotkan! Mari, tulis kontrak tertulis... Aku lebih aman dengan kontrak tertulis agar lebih legal..." Jelas Gabvin.


"Hem... Kau sungguh gesit juga, baiklah..." Gery tersenyum dan tampak tenang.


"Oh ia. Omong-omong? Kenapa kamu begitu percaya padaku? Apakah kau tak takut jika suatu hari aku merebut istri tua mu itu?" tanya Gabvin. Seketika Gery mendelik, Gabvin membalas dengan tatapan sinis dan Gery pun menatap Gabvin dengan tatapan acuh "Heh. Mana mungkin... Kau kan sahabat baikku" Tegas Gery di iringi senyuman malasnya.


"Begitu ya... Tapi, hati orang siapa yang tahu... Kata pepatah, Terlalu benci bisa jadi cinta. Dan terlalu cinta nantinya akan jadi benci... Lalu bagai mana menurutmu?" Tanya Gabvin sinis sudah jelas pertanyaan itu di ungkapkan untuk Gery dan menyindirnya.


Gery mendelik "Heh. Sudahlah jangan banyak bertanya. Sekarang, cepatlah tanda tangan dan lekaslah jalankan tugasmu dengan benar. Aku tak tahu, Angel mau atau tidak pindah ke rumah baru kami..." Jelas Gery sedikit ragu.


Gabvin sebenarnya sudah mengungkapkan dengan jelas perasaanya pada suami Elizha. Hanya saja, entah Gery acuh atau hanya memancing keseriusan Gabvin pada istrinya itu. Lagi pula... Gery sangat membutuhkan bantuan Gabvin untuk saat ini.


Usai menandatangani berkas yang di tujukan Gery pada Gabvin. Gabvin pun lekas beranjak "Aku pergi..." Ucapnya melangkah menjauh.


"Istirahatlah... Besok, ku tunggu bagian terbaik dari extingmu" Imbuh Gery. Gabvin mendelik dan menatap dengan ekor matanya "Tentu saja... Awas saja nanti... Ku harap kamu bisa menahannya "Jelas Gabvin.


"Jangan bergurau denganku... Ucapanmu sama sekali tak lucu..." Ucap Gabvin.


"Lihat saja besok... Siapkan saja hatimu dan ingat jangan sampai cemburu ya...ahahhahaha" Gabvin membuka pintu.


"Jangan bercanda denganku!" Pekiknya.


BLAM!


Pintu pun di tutup Gabvin dan Gery pun mulai terdiam di mejanya. Ia berdiri dari kursinya dan lekas menggebrak meja kerjanya "BRAK!"


Hosh! Hosh! Hosh! Napasnya terengah-engah seakan menahan emosi yang membludak di hatinya.


"Apa yang Gabvin rencanakan... Heh, tapi... Mana mungkin dia mengkhianatiku...Selama ini aku sangat mempercayainya" Gumam Gery penuh dilema.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2