
Elizha makin tak berkutik, tekanan Kelvin yang kasar ini, seketika membuat Elizha kesulitan bernapas dan ia pun mulai lemas, pandangan Elizha kabur hingga ia pun memejamkan matanya dan tubuhnya pun terkulai tak berdaya di hadapan Kelvin.
Gelap... Ringis Elizha dalam hatinya.
"Eh! Apa yang kau...!! Apa yang terjadi?? kau?" Kelvin panik dan lekas menangkap tubuh Elizha yang hampir jatuh mencium marmer lift tersebut.
Kalvin pun panik dan segera menekan lift untuk lekas turun ke lantai bawah.
***
Gabvin gelisah saat ini, beberapa kali ia mengintip jam di lengan kirinya. Bahkan beberapa kali berdiri menelisik sekeliling.
Kemana perginya Elizha? Udah satu jam wanita itu belum kunjung kembali ke meja makan ini. Bathin Gabvin berkecamuk.
Gabvin yang gelisah pun mulai berdiri dan mencoba keluar dari meja tersebut untuk menyusul Elizha ke toilet.
Suasana masih ramai di restorant tersebut, Gabvin pun mulai melangkah ke arah yang Elizha tuju tadi. Saat Gabvin hendak masuk ke lorong yang di lalui Elizha tadi. Gabvin malah di suguhkan pemandangan yang mengejutkan. Di mana saat itu seorang pria bersweter hitam berjalan dengan langkah lebar seakan tergesa-gesa menghempiri Gabvin yang saat itu masih mematung di sana.
"Hosh! Hosh! Minggir!!" Bentaknya. Seketika itu Gabvin terbelalak tak percaya atas apa yang ia saksikan saat ini.
"Kelvin! Apa yang terjadi?!" teriak Gabvin seakan respotif.
"Kakak... Cepat bawa dia ke Rumah sakit!" Pekik Kelvin masih menggendong tubuh mungil itu. Gabvin pun mengangguk dan tak ingin bertanya di situasi genting itu. Sementara para pelayan dan tamu restorant ikut menyaksikan kejadian mengejutkan itu.
Mereka saling membisik keheranan, Gabvin pun mulai bergerak cepat untuk membawa Elizha ke rumah sakit.
Seketika, Gabvin dan Kelvin pun melangkah cepat dan tergesa-gesa ke arah parkiran mobil. Sesampainya di sana Gabvin dan Kelvin lekas masuk mobil dan mereka pun melaju ke arah rumah sakit terdekat.
***
__ADS_1
Sementara Elizha tak sadarkan diri, Gery malah sibuk dengan rencana pernikahan yang di inginkan ayah angkatnya itu. Resepsi pernikahan di susun seindah mungkin, Altar pernikahan yang mewah itu mulai tertata sempurna. Nampaknya, pernikahan Angel dan Gery bertemakan negri dongeng. Di mana Angel adalah putrinya dan Gery seorang pangeran. Pernikahan termewahpun akan terjadi besok pagi.
"Gery... Gimana menurutmu?" tanya sang calon ayah mertua.
Gery yang sedari tadi tak tenang itu hanya bisa mengangguk dan tak memberi komentar apapun.
"Syukurlah jika kamu menyukainya..." Balas sang calon mertua.
"Papa... Aku ingin istirahat sebentar..." pinta Gery terlihat lelah. Calon mertuanya pun mulai mempersilahkannya untuk duduk.
"Ger... Papa sangat menyayangi anak papa. Jadi, papa hanya minta tolong padamu. Tolong jaga anak papa dengan baik, jangan sakit hatinya dan bahagiakan dia... Apakah kamu bisa berjanji pada papa?" Tanya sang ayah mertua.
Gery masih menunduk, ia tak bia membalas pertanyaan papa Angel yang memintanya untuk setia pada satu wanita yaitu anaknya.
"Papa sangat menyayangi anak papa... Gery, tolong jaga anak papa itu ya?" Papa Angel menepuk-nepuk punggung Gery seakan meminta jawaban akan kesanggupannya.
Sial... Pikiranku sedang kacau... Makin dekat pernikahan itu, kenapa hatiku makin tak tenang. Seakan hendak mati saja. Bathin Gery berkecamuk.
Padahal, sudah hampir lima hari setelah kejadian Angel pingsan. Tapi, nampaknya belum ada tanda-tanda jika Angel akan sehat lagi. Ia masih belum di izinkan pulang oleh para dokter akibat sebuah penyakit yang di derita Angel.
"Syukurlah... Kamu memang pria sejati nak. Aku tak salah memilih calon menantu" gumam Papa Angel bangga melihat Gery yang begitu antusias akan pernikahan mereka yang sebentar lagi akan di selenggarakan.
Heh... Kamu hanya tak tahu apa tujuanku sebanarnya. Jika bukan karna perjuangan ku sedari nol. Aku tak mungkin menikahi wanita yang selalu ku anggap adikku sendiri itu. Papa Angel pergi dari gedung tersebut dan tinggalah Gery sendiri dengan segudang unek-unek di kepalanya.
Gedung pernikahan mewah bah di negri dongeng pun telah terbentuk secara sempurna, Hanya tinggal menunggu waktu.
Acara sakral pun akan terjalin dan mengikat dua sejoli itu dengan sebuah janji pernikahan.
Malam makin larut, dan acara pernikahan dengan ribuan tamu undangan pun akan di selenggarakan di esok pagi. Bahkan saat ini, Angel mulai menguatkan tubuhnya agar tak drop di acara pernikahannya.
__ADS_1
Rumah sakit... Malam ini, Angel di antar pulang oleh mobil mewah milik papanya. Meski ia belum sehat benar, tapi nampaknya Angel sangat bersemangat.
"Pak supir... Tolong di percepat..." Jelas Angel, Angel duduk di kursi belakang kemudi sang supir.
"Baik nona..." Balas sang supir.
Di samping Angel rupanya ada sahabat baiknya yang bernama Sarah, ia adalah mata-mata Angel yang di kirim ke perusahan Gery sebagai asisten pribadi Gery.
"Kamu pasti sangat bahagia ya?" Tanya Sarah.
Angel menoleh dengan semangat membara ke arah sarah "Ya. Aku sungguh bersemangat... Aku tak sabar ingin segera besok..." Jawab Angel dengan pipi mengembang karna terlalu bahagia.
"Aku nggak nyangka, jika pak Gery akan menjaga anda selama beberapa hari ini... Mungkin karna dia sangat mencintai anda..." Imbuh Sarah menyakinkan Angel. Angel sangat bahagia dan memeluk Sarah se erat mungkin.
"Maksih Basty. Coba kalau saat itu aku nggak pingsan... Jika saat itu aku ya... Mungkin aku akan sangat bahagia, bahagia ketika seseorang yang paing ku sayangi itu memperhatikan ku dengan begitu intrens" Jelas Angel terkesima.
Mobil melaju cepat dan sampailah di kediaman Angel. Angel di sambut oleh papanya bersama Gery yang berdiri tegak di front kediaman Angel. Wajah tampan Gery dan tubuh kekarnya itu sangat membuat Angel bahagia dan ingin segera melepas rindunya pada Gery. Angel turun dari mobil di bopong beberapa bodyguard papanya.
Angel pun mulai mendekat ke arah Gery dan memeluk tubuh kekar itu secara refleks. Namun tatapan dingin masih terpampang di nanar Gery untuk calon istrinya itu.
"Sayang... Aku kangen..." Ucap Angel seraya mendekap dada kekar Gery.
"Hmmm... Ayo masuk..." pinta Gery tanpa basa-basi. Angel mengerucutkan bibirnya, dan mulai mendesis "Ssssh... Gendong..." Bisiknya manja. Gery hanya bisa menghelan napasnya lemas.
"Baiklah tuan putri..." Balas Gery. Gery lekas mengangkat tubuh Angel dan menggendongnya menuju ke ruang tengah kediaman Angel.
Kenapa... Aku sama sekali tak bisa memahami perasaanku ini. Aku sama sekali tak bisa membuka hatiku untuk calon istriku ini. Gejolak hati ini malah ingin bertemu dengan Elizha. Cih... Tapi nahas... Selama resepsi pernikahan belum terikrarkan, Aku tak boleh menghubungi wanita itu. Aku tak mau menyeretnya dalam masalah besar.
Malam itu, Gery menginap di kediaman Angel... Tapi, hatinya masih berkecamuk. Ia ingin sekali bertanya kabar Elizha pada Gabvin, Namun apa daya... Ia harus mengendalikan perasaannya untuk sebuah misi ke egoisannya.
__ADS_1
Bersambung...