
Setelah terjadi kegemparan di kediaman Elizha. Gabvin pun mulai pamit setelah matahari berada tepat di atas kepalanya sekitaran jam 12.
Usai makan Gabvin lekas pamit "Sepertinya aku harus pergi..." Gabvin tampak tergesa-gesa.
"Gabvin ada apa? Kenapa kamu terlihat panik?" tanya Elizha cemas.
"Aku hanya sedikit terganggu dengan bunyi ponsel ku akhir-akhir ini. Aku tak ingin membuat kalian khawatir" Jelas Gabvin mulai mengusap bibirnya menggunakan tisue.
"Apakah kamu akan menjenguk ku lagi?" Tanya Elizha berharap.
"Tentu saja jika aku senggang. Jika tidak, aku akan menelponmu di jam istirahat" jelas Gabvin.
"Begitu ya..." wajah Elizha tampak sedih.
"Jangan khawatir. Di hari minggu aku akan kembali menemanimu" jelas Gabvin mengelus pucuk kepala Elizha. Gabvin benar-benar pergi meninggalkan Elizha. Seharusnya dia senang karana hal itulah yang paling di harapkan olehnya. Tapi, entah kenapa dia malah muram.
"Sana gih. Antar Gabvin pulang" pinta Rio menepuk pundak Elizha.
"Ba-baiklah..." Elizha lekas mengejar langkah Gabvin dan menyerunya. Ayah dan Rio tersenyum "Lihat ayah kelakuan anak perempuanmu yang begitu manis itu. Saat pria itu ada di sampingnya ia selalu memasang wajah btnya. Dan sekarang dia malah muram saat hendak di tinggalkan" jelas Rio.
Ayahnya malah tersenyum "Heh. Dia memang anakku... Dia sangat mirip sekali dengan ibunya..." Ayah Elizha malah terkekeh
Akhirnya Rio dan Ayah angkatnya tertawa bersama di meja makan. Rio adalah pria yang sangat multi talenta. Ia bisa lakukan apapun yang membuat semua orang senang termasuk memasak.
Front kediaman Diandartara...
"Gabvin jaga kesehatanmu... Jangan terlalu sibuk bekerja nanti kamu bisa sakit" jelas Elizha.
"Wah terimakasih karna sudah khawatir padaku" balas Gabvin menepuk kepala Elizha lembut.
"Dan juga terima kasih atas hadiah mahal ini, aku akan menjaganya dengan baik" jelas Elizha memeluk ponsel pemberian Gabvin.
"Sama-sama. Jangan matikan ponsel saat aku menelponmu ya..." ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah..." Balas Elizha mengangguk.
"Kalau begitu aku pamit. Jaga dirimu, atur pola makanmu... Jangan terlalu lelah" imbuhnya.
"Baiklah akan ku ingat itu..." Ucap Elizha kaku.
"Aku pergi..." Gabvin mulai melepas tangannya dari kepala Elizha dan mulai berbalik menuju ke gerbang kediaman itu.
"Tunggu Gabvin..." pekik Elizha kembali menghampiri Gabvin. Gabvin pun kembali menoleh "Ya. Ada apa lagi zha...?" Gabvin sedikit risih atas ulah Elizha kali ini. Sebab Gabvin sungguh sedang sibuk sekarang.
"Gabvin. Sebenarnya aku tak marah atau pun benci padamu. Aku hanya malu saat berada di dekatmu. Hingga aku jadi salah tingkah dan selalu menyalahkanmu atas hal hal kecil yang tak aku pahami... Jadi tolong maafkan aku..." jelas Elizha menunduk di depan Gabvin. Entah kenapa, kata kata tersebut terdengar seperti sebuah ungkapan cinta dari Elizha untuknya. Ia hanya tak bisa terdiam beberapa saat lalu melangkah ke arah Elizha.
Ia mulai meraih wajah Elizha yang saat itu terlihat merona merah, Ia mulai mendonggakannya pelan lalu menghampiri wajah itu. Elizha terbelalak ketika wajah Gabvin terlalu dekat hingga hidung mereka bertabrakan.
Cup! Gabvin mengecup bibir Elizha hangat. Elizha hanya bisa diam, ia tak bisa lakukan apapun... Hingga Gabvin mulai melepaskannya "Aku akan selalu ada untukmu sekalipun jarak kita begitu jauh... Aku akan tetap berada di sampingmu, selamanya" Jelas Gabvin. Elizha tak bergeming sedikitpun, hanya saja... Wajahnya terlalu merah saat ini. Gabvin kembali merangkul Elizha dan mendekapnya seperti sebuah pelukan perpisahan.
Cup! Ia kembali mengecup pucuk kepala Elizha "Semangatlah... Ibu muda..." jelas Gabvin. Ia pun mulai melepas Elizha dan kemudian memutar langkahnya menuju ke sebuah mobil yang terparkir di sana.
BRUMMM! Gabvin benar-benar pergi. Entah bodoh atau gengsi, ternyata Elizha malah menangis kala Gabvin pergi dari sisinya begitu saja.
"Cepat kembali... Ku mohon..." Bisiknya seraya terus menghempas air matanya.
Trrrt! Ponsel itu mulai berdering.
"Hallo..." Elizha menyapa seseorang dengan nama kontak Orang tercinta.
"Zha... Ini aku" ucap Gabvin di balik telpon.
"Lho kok telpon. Kan tadi kamu bilang akan pergi..." Jawab Elizha.
"Aku memang pergi, tapi ternyata aku masih ada di sisimu sekarang..." jelas Gabvin menggoda Elizha.
"Hahhhh... Inikan hanya suaramu..." Umpat Elizha.
__ADS_1
"Tapi aku bahagia saat suaraku berada tepat di daun telingamu... Setidaknya kamu akan selalu memikirkanku" imbuh Gabvin membuat jantung Elizha berdebaran kencang.
Ada apa denganku... Bathin Elizha wajahnya terlanjur merona merah.
"Apakah kamu mau menerimaku? Jadi kekasihmu?" tanya Gabvin mulai menyerang.
"Aku..." Elizha malu.
"Aku akan menunggu jawaban darimu... Tolong, izinkan aku... Untuk selalu menelponmu..." jelas Gabvin.
"Aku juga... Tidak benci padamu Gabvin. Aku sangat menyukaimu..." jelas Elizha gagap karna amat malu.
"Apa kamu bilang? Apakah kamu mengatakan sesuatu?" tanya Gabvin senang kala Elizha membalas cintanya.
"Aku juga menyukaimu..." tambah Elizha.
"Apa... Bilang lagi..."
"Sial! Apakah telinga mu tuli?" teriak Elizha menutup ponselnya.
Ahhh... Sudah tahu aku malu... Kenapa dia terus memutar-mutar kata kata yang membuatku terdengar konyol... umpat Elizha kesal.
***
Di dalam rumah, Rio dan ayah Elizha mengintip "Ayah kamu lihat itu?? Mereka tadi berciumaan?" Tanya Rio antusias.
"Ya. Mereka sangat serasi..." Ujar sang ayah.
"Aku bertaruh... Mereka seperti pasangan pengantin baru..." Rio kembali mengoceh.
Ayah dan anak Angat itu mulai harap harap cemas....
Akhirnya, setelah banyak hal yang terjadi. Ia pun kembali ke kediaman nya dan hidup dengan tenang dan hangat di sana.
__ADS_1
Bersambung...