ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Ingatlah posisimu?!


__ADS_3

***


Akhirnya, beberapa hari di rawat di rumah sakit harapan kasih. Elizha pun di persilahkan pulang oleh dokter yang merawatnya.


*


*


*


Dalam perjalanan pulang ke Masion Gery...


"Syukurlah dokter sudah mengijinkanmu pulang... Lain kali, kamu harus banyak makan, biar bayimu sehat nanti..." Ujar Gabvin masih cengengesan berbincang dengan Elizha yang tampak acuh padanya itu.


"Ia-ia... Lain kali... Berusahalah untuk tak lagi mencemaskan orang lain..." Tegas Elizha lantang, seraya raut wajah kecut terpancar di nanarnya.


"Hmmm... Sudah-sudah. Jangan bahas itu lagi, aku akan mengantarkan mu sekarang. Setelah itu, istirahatlah yang banyak?" jelas Gabvin.


Beberapa saat kemudian...


Sampailah mereka di kediaman Gery, Massion Gery...


"Nah... Kita sampai" ujar Gery senang. Beberapa pelayan di luar kediaman Gery mulai menyambut mobil Gabvin. Beberapa membuka pintu mobil, dan beberapa menunduk hormat lalu membawakan tas milik Gabvin dan Elizha.


"Silahkan nona..." Sapa beberapa pelayan wanita di sana.


"Makasih bibi..." Elizha berjalan perlahan. Di bantu Gabvin dari belakang "Apaan sih... Jangan seenaknya menyentuh..." Pekik Elizha sedikit canggung pada perhatian Gabvin.


"Ah. Ia... Maafkan aku... Aku refleks sih, Bi... Tolong bantu nona untuk masuk ke kamarnya" pinta Gabvin, beberapa pelayanpun mulai menghampiri Elizha dan mengantarkannya ke kamar pribadi Elizha dengan langkah yang pelan.


Saat Gabvin tengah memperhatikan langkah Elizha yang berhati-hati, Yan pun mulai menghampiri Gabvin "Ahmmm" Geram Yan berpura-pura batuk. Gabvin pun mulai menoleh ke arah Yan yang saat itu tengah menghentikan langkahnya di belakang Gabvin "Yan. Kamu tersedak?" Tanya Gabvin dengan nada seperti tengah mengolok-olok Yan.


"Tidak..." Balas Yan singkat tanpa exspresi yang belarti.


"Oh. Syukurlah... Ku pikir kamu sakit. Jika sakit, jangan paksakan dirimu. Segera lah berobatlah ke rumah sakit... Biar cepat sembuh dan cepat sehat" Ujar Gabvin tiada henti.


Yan mengerutkan jidaknya, tampaknya ia tersinggung. Ia pun kembali mengeram "Ahmmmm..." Yan menatap Gabvin tegas dan tajam "Kenapa dengan matamu? Jangan pandang aku dengan tatapan belo mu itu Yan. Aku malah ngeri dan sedikit bingung untuk menjelaskan arti dari tatapan tajam mu itu... hentikan lah aku sungguh merinding..." Oceh Gabvin kembali mempermainkan Yan.


"Tuan Gabvin... Bisakah anda jelaskan arti dari semua ini?" tanya Yan mulai menegur Gabvin. Gabvin yang sedari tadi bercanda dengan mempermainkan Yan pun mulai terdiam.


"Apa yang anda lakukan dengan nona muda... Hingga tak pulang sejak kemarin malam?' Tanya Yan tegas.


Gabvin tak ingin banyak bicara "Kenapa? Apa Gery bertanya tentang kabar istrinya lewat telpon lagi?" Olok Gabvin meremehkan suami dari wanita yang selalu ia jaga itu.


"Itu bukan urusan anda. Anda hanya perlu menjawab pertanyaan yang saya utarakan tadi..." Jelas Yan menegur keras Gabvin dalam intonasi yang tinggi.

__ADS_1


"Heh... Kenapa aku harus menjawabnya. Gery saja menyuruhku menjaganya...? Lalu apa hubungannya dengan mu Yan. Hadeehhh jangan bilang kalau kamu cemburu pada ku ya? Karna aku lebih sering dekat dengan nona muda ketimbang kamu yang perjaka tua?" Gabvin kian menjadi ketika mempermainkan Yan. Hingga dengan tanpa sadar Yan pun mulai naik pitam.


"Tuan Gabvin!!! Jaga bicara anda??? Anda bicara dengan bahasa yang kurang sopan! Saya hanya bertanya dan jawaban anda malah kemana-mana begini!" Bentak Yan marah besar, hingga wajahnya memerah pekat.


"Sudah-sudah... Jangan malu-malu begitu. Kamu tak usah khawatir. Aku punya banyak teman wanita... Jika kamu ingin berkencan. Bilang saja padaku maka aku akan mengenalkanmu pada beberapa taman kencan butaku" Gabvin sudah tak karuan. Ia bicara ngelantur kemana- mana dan makin membuat Yan marah, Yan marah sebab ia merasa di permainkan oleh Gabvin.


"Tuan Gabvin!! Silahkan keluar!!" Teriak Yan lantang hingga terdengar ke seluruh sudut masion tersebut. Nampaknya perdebatan keduanya akan berlangsung sangat lama sekali...


****


Seusai kembali dari rumah sakit...


Elizha lekas membersihkan dirinya, lalu ia pun mulai bersolek di depan cermin. Menyisir pelan rambutnya yang masih basah dan menatanya semanis mungkin.


Ia menatap dirinya di cermin... Selama mungkin, lalu mengoleskan pelembab bibir dan gincu warna pic di area bibir tipisnya yang menawan.


"Apa yang sedang aku lakukan?" Bathinnya berkecamuk.


"Bukankah aku hanyalah sebuah persinggahan, tapi kenapa aku selalu mengharapkan ke datangan Gery. Apakah dia juga punya perasaan rindu seperti ini..." Gumam Elizha bertanya pada dirinya sendiri.


Akhirnya, Elizha putuskan untuk bangun dari kursi riasnya dan lekas keluar kamar.


Selama melangkah, pikirnya berhambur kemana-mana... dalam bayangan pahit di ingatannya. Ia amat sangat ingin melupakan beberapa kenangan menyedihkan ketika Gery mempermainkannya, juga hal menjijikan yang di layangkan Kelvin padanya. Elizha ingin sekali menuntut Kelvin atas pelecehan yang ia lakukan pada Elizha malam itu.


*


*


*


Nampaknya perdebatan Yan dan Gabvin masih berlangsung hingga membuat Elizha geram. Gabvin dan Yan saling menatap tajam tanpa berkedip. Bahkan karna matanya kering terlalu lama melotot, mata mereka pun tampak meremah. Elizha mulai menegur "Apa yang kalian lakukan. Kedua pria saling menatap intrents apakah itu tidaklah menjijikan?" Gumam Elizha melerai suasana panas itu.


"Yan. Apakah kau akan terus melotot padaku? Apakah kau tak dengar, kita terlihat menjijikan?" Tanya Gabvin mendelik ke arah Elizha yang saat itu ada di tengah-tengah perdebatan mereka.


"Saya hanya menjalankan perintah dari tuan besar...!" Bentak Yan.


"Kau tak mau menyerah. Maka akupun sama!" Balas Gabvin tak mau kalah. Elizha marah dan mendorong ke dua pria itu seraya uring-uringan.


"Berhenti berdebat!! Sekarang bantu aku untuk menata meja!!" Bentak Elizha menggebrak meja makan. Seketika Gabvin dan Yan yang sedang bersitegang tanpa alasan itu pun berhenti berdebat.


Krik! Krik! Krik! Mereka seakan membatu di hadapan Elizha "Kalian akan mematung berapa lama lagi hah!! Ayo cepat... Bereskan meja dan bantu aku menyajikan masakanku!!" Titah Elizha dengan nada yang cukup menggelegar di telinga Gabvin dan Yan.


"No-nona... tapi anda!!" Yan canggung pada Elizha. Ia melerai kegiatan Elizha yang seharusnya hanya pembantu saja lah yang boleh memakai celemek tersebut.


Gabvin pun berkomentar "Lizha! Apa yang kamu lakukan? Kan dokter bilang kamu harus istirahat yang cukup... Hindari pekerjaan rumah yang berat atau menguras tenanga... Nanti bayimu bisa terluka..." Imbuh Gabvin kahwatir pada Elizha.

__ADS_1


"Hentikan... Aku tak akan mati hanya karna memasak bukan. Bungkam mulutmu dan bantu aku sajikan beberapa hidangan ini!" Elizha masih saja keras kepala meski Gabvin sangat khawtir padanya.


"Baiklah. Dari pada berdebat... Sebaiknya aku akan turuti saja..." lesu Gabvin berkata hal demikian. Akhirnya, Gabvin dan Yan mulai bekerja sama sesuai perintah Elizha.


Beberapa saat kemudian... Meja makan pun tertata rapi, Elizha amat sangat bersemangat ketika mempersiapkan hasil karyanya yang memukau. Sepuluh hidangan lezat tertata di piring. Elizha memasak beberapa menu yang berbeda di setiap piring lauk pauk teman makan nasi nya.


"Nah... Ini baru penjamuan makan yang sehat..." Elizha tampak bernapsu ketika hendak menyantap seluruh makanan buatannya.


"Ayo duduk Yan? Gabvin... Cicipilah makanan ku ini. Jangan khawatir... Makanan-makanan ini aku yang memasaknya dan kalian tak akan mati, rasanya enak kok aku nggak bohong" Jelas Elizha.


Yan dan Gabvin mulai duduk dan masing-masing mengambil piring. Saat jamuan makan akan di laksanakan. Bel pun berbunyi... Kemudian suara riuh pun mulai terdengar seakan menganggu "Tuan muda... Anda sudaah tiba?" tuan muda? Tuan muda selamat datang?" Seluruh pelayan menyapa demikian. Gabvin dan Yan menoleh. Lalu Elizha pun bangun dari duduknya dan mulai menghampiri pusat suara itu.


"Selamat datang tuan muda..." Para pelayan masih mengerumuni Gery yang baru datang.


Kenapa mereka begitu senang pada kedatangan pria cabul itu? Memang dia baru pulang dari luar negri apa?" Bathin Elizha melisik.


"Aku baik-baik saja..." Balas Gery. Elizha tersenyum ketika mendengar suara Gery. Namun lambat laun, para pelayan itu mulai menghindar dari langkah Gery dan berjalan di belakang Gery dengan rapi.


"Tua...."Suara itu ingin ia lontarkan, tapi... Lidah Elizha seakan keram. Ketika melihat Angel yang mulai keluar dari balik punggung Gery dan bergelendong di sikut Gery.


Deg...


Napas Elizha seketika sesak...


Dia? Bathin Elizha.


Gery hendak berpapasan dengan Elizha yang saat itu mematung tak berdaya di hadapannya. Elizha hanya bisa menatap manik mata Gery seakan berkata "Kenapa dia kemari?" Gery tak membalas tatapan Elizha dan malah cenderung membuang tatapan itu.


Elizha makin gelisah "Hey... Tolong menyingkir" pinta Angel mengusik Elizha untuk berdiri menyamping.


Namun Elizha tak menyimak ucapan Angel yang memintanya menggeserkan tubuhnya dengan sopan itu.


"Hey pelayan... Tolong minggir. Kami mau lewat" Lantang Angel. Gery masih membisu di depan Elizha... Elizha sungguh terhina oleh ke egoisan Gery. Gery tak membela Elizha sedikitpun meski Angel memanggil Elizha dengan sebutan pelayan.


"Pelayan! Ingatlah posisimu... jangan halangi jalanku! Menyingkir!" Angel Hendak mendorong Elizha dengan tangan kanan nya. Namun Gabvin tak tinggal diam, ia menarik tangan Elizha dan terhindar dari dorongan tangan Angel yang berusaha menyingkirkan Elizha dari hadapannya.


Gabvin menarik Elizha ke sebelahnya, Hingga Gery dan Angel pun bisa berjalan menuju arah tujuan mereka. Gery mendelik ke arah Elizha dengan tatapan tajamnya... Seraya berkata "Ingatlah posisimu..." Bisik Gery memperingatkan Elizha dengan jelasnya.


Degh!!


Elizha terasa di hina habis-habisan...


Sedangkan Gabvin, ia hanya bisa mengepalkan tangannya erat... Seakan hendak meninju sahabatnya itu.


Keterlaluan! Kenapa dia bisa berubah se drastis itu. Bathin Gabvin menggumam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2