ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Sangat bersyukur


__ADS_3

***


Rumah sakit...


Gery panik bukan kepalang, ia mondar-mandir seraya terus melirik ruangan icu beberapa kali "Sial! Wanita gila! Kenapa dia memilih melukai dirinya sendiri ke tibang tetap tenang di sampingku! Apa kurangnya aku? Aku kaya dan tampan!..." Bentaknya. Beberapa kali Gery memukul tembok hingga ia terlihat sangat gila.


Rio tetap berdiri di depan pintu ruangan IGD itu "Rio! Apa yang harus aku lakukan! Bagai mana jika dia meninggal! Ooh... Sial, wanita itu sungguh gila...!" Amuk Gery seraya terus menerus menggumam.


"Tuan. Marah takan menyelesaikan masalah..." Imbuh Rio mencoba menenangkan Gery.


"Aah! Sial! Kau juga! Kenapa tak menghentikannya... Jika sampai dia mati, jangan salahkan aku jika aku pun akan menguburmu hidup-hidup!! Aaahh sial! Bagai mana ini' Ia tetap meracau meski di sekitarnya banyak sekali orang lalu lalang, bahkan beberapa pasien lain melirik kelakuan Gery yang tampak panik itu. Bahkan beberapa orang lainnya sibuk memotret.


"Tuan... Silahkan duduk, jika anda perlu sesuatu... Saya akan ambilkan" Ujar Rio.


"Aaahhh tak perlu!!" Amuknya. Gery lekas duduk dengan kasar di kursi pasien tersebut.


"Sial... dia sungguh membuatku sangat gila!!" Gery merunduk dan menjambak rambutnya berulang-ulang. Tampaknya ia syok... Setelah ia tenang, beberapa saat kemudian ia pun mulai berfikir...


"... Apa yang harus aku lakukan? Rio, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Gery menatap Rio, rambutnya acak-acakan tak dan kurang rapi.


"Yang harus anda lakukan adalah tetap tenang..." Jelas Rio mulai duduk di sampingnya.


Seketika itu Gery mulai terdiam, ia memijat jidaknya sendiri beberapa kali "Sial... Sungguh memusingkan" Gumam Gery, Gery pun mulai menyandarkan punggungnya di kursi tersebut.


Trrrt! Trrrt... Tak lama kemudian, ponsel Gery mulai berbunyi "Tuan, ponsel anda berdering" Imbuh Rio.


"Haaah..." Dengan terpaksa, ia pun mulai meraih ponsel tersebut dan mulai mengangkatnya Pip!


"Ya hallo..." Sapa Gery.


"Ya. Di mana kamu nak, papa ingin bertemu..." Ujar papa Angel.


"Aku sedang di kantor, ada banyak masalah akhir-akhir ini dan aku harus segera menyelesaikannya..." Jelas Gery membual.


"Berikan saja tugas itu pada menejermu, sekarang... Papa tunggu di rumah" Pinta Papa Angel.


"Haah... Tidak bisakah papa bicarakan nanti?" Tanya Gery malas. Ia terus menekan kepalanya yang terasa mau meledak.


"Ini sangat penting, papa ingin segera memberimu hadiah pernikan, berupa sebuah peresmian..." Jelas Papa Angel.


"Tentang apa sih pa... Aku masih kerja" gumam Gery mengelak.


"Lekaslah datang, pengacara papa akan segera menulis surat wasiat, meski umur papa masih panjang. Tapi, papa ingin meresmikan penerus perusahaan papa sekarang..." Ujar papa Angel.


Sesaat pikiran Gery mulai blank Peresmian perusahaan? Apakah itu tentang hak milik seluruh saham perusahaan mertua ku?" tanya Nya meracau dalam hati.


"Tuan... Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Rio menepuk pundak Gery. Seketika lamunannya buyar bersama datangnya kabar baik baginya.


"Rio... Tolong jaga istriku, aku harus segera pergi..." Pintanya. Gery mulai bangun dari duduknya dan lekas berlari ke arah pintu keluar. Sedangkan Rio, ia hanya menatap punggung Gery yang kabur tergesa-gesa itu.

__ADS_1


"Pria macam apa yang jadi bosku sekarang?" bisik Rio menggumam.


Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tersebut "Tuan, apakah anda kluarga pasien?" tanya sang dokter.


Rio mengangguk "Ya dok. Apakah adik saya baik-baik saja?" tanya Rio panik.


"Ya. Pasien atas nama nona Elizha baik-baik saja... Beberapa goresan di lehernya cukup dalam. Dan perlu tujuh jahitan untuk menutup luka nganga di lehernya" Jelas sang dokter.


"Astaga... Betapa dalamnya luka nya itu. Aiissshhh... tapi apakah dia baik-baik saja?" Tanya Rio panik.


"Ya. Dia sedang ada di dalam tampaknya baru bangun tidur, silahkan jika anda ingin menengoknya" Jelas sang dokter.


"Trimakasih... Saya akan menjaganya dengan baik" Rio mulai masuk perlahan dan mulai melangkah mendekati ranjang Elizha. Mendengar suara langkah kaki, Elizha mulai menoleh ke arahnya "Ahhh... Kau..." Pekik Elizha kaget.


"Heem... Kamu takut?" Tanya Rio seraya tersenyum ke arah Elizha ramah.


"Sini, duduklah..." Elizha mulai menyerunya dan menyuruhnya duduk. Rio lekas menarik kursi dan mulai duduk di samping Elizha.


"Apakah rasanya sakit?" tanya Rio menatap sayu gadis itu.


"Tidak... Aku baik-baik saja. Bahkan rasanya agak kebas dan tak sakit sedikitpun" Balas Elizha seraya tertawa bodoh


"Dasar..." Rio menyentil jidak Elizha pelan. Elizha lekas meraih jidaknya yang merah itu "Aduh! Sakit... Apaan sih kak! Orang sakit kok di aniaya!" Bentak Elizha dengan bibir mengkerucut.


"Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Kau tahu, aku hampir mati saat menggendongmu tadi.." Ucap Rio khawatir.


"Uuhhh... Habis, aku tak punya pilihan lain..." Elizha menunduk dan mulai merubah air wajahnya.


"..." ia malah diam dan membuang wajahnya dari sang kakak.


"Jika tak ingin bercerita, lebih baik diam... Tapi, jika hatimu masih sedih. Berbagilah denganku..." Pinta Rio berusaha membuka hati Elizha.


"Sebenarnya..." Ragu Elizha.


"Sebenarnya?" Tanya Rio penasaran.


"Sebenarnya, aku dan pria itu terlibat sebuah perjanjian yang cukup konyol... Dan, aku ingin mengakhirinya hari ini juga" Jelas Elizha.


"Begitu ya... Kau memang sangat ceroboh dan kecerobohanmu itu malah mencelakakanmu... Aku sungguh kasihan, tapi... Bagai mana caraku membantumu?" tanya Rio tegas.


"Bantu aku kabur saja..." Pinta Elizha.


"Jika itu bisa membantumu, lalu bagai mana jika bos ku marah dan malah membunuhku?" tanya Rio.


"Benar juga..."


"Mau jalan-jalan? Akan ku ambilkan kursi roda..." Ujar Rio.


"Boleh juga... Seraya berbincang..." Balas Elizha.

__ADS_1


Rio dan Elizha pun mulai keluar ruangan Emmergency dan mereka pun berkeliling di taman. Banyak sekali hal yang ingin mereka bicarakan. Dan melepas rindu, sebab hampir lima tahun mereka tak bertemu.


"Oh. Ia, karna kamu tak jadi mati... Sebaiknya, kamu ucapkan saja rasa terimakasihmu pada pria yang bernama Gabvin itu" Ujar Rio.


"Entahlah, rasanya aku malu jika harus bertemu dengannya lagi..." Jelas Elizha.


"Jangan-jangan malah kamu yang mulai jadi menyukainya" Gumam Rio.


"Jangan bercanda..." Elak Elizha.


Trrrt... "Ponselku berbunyi..." Rio mulai mengangkatnya.


"Hallo..." Rio mulai menyapa.


"Ya. Ini aku, Rio... Tolong jaga dia dengan benar. Jika dia sampai terluka.. Aku akan membunuhmu!" bentak Gery di balik telpon tersebut.


"Siapa itu?" Tanya Elizha membisik.


"Bosku" Ucapnya sembari memberi kode diam saat menekan jemarinya di bibirnya.


"Sial... Dia bahkan malah kabur" Umpat Elizha seraya meraih ponsel tersebut "He! Hei... Jangan sembarangan!" Pinta Rio berusaha mengambil ponselnya.


"Gery! Aku benci padamu! Aku ingin kita berpisah apapun syarat yang kau berikan! Aku sudah tak mau bersama mu lagi!" teriak elizha marah besar.


"Hei kau sudah sadar?" tanya Gery sedikit senang.


"Tentu saja apakah kau berharap aku mati?" marah Elizha.


"Tentu saja tidak..." balas Gery.


"Tentu kan sekarang! Jika tidak aku akan benar-benar bunuh diri!" Bentaknya.


"aah.. Sial..." Gumam Gery.


"Baiklah... jika kamu tak mau, maka aku akan lakukan sekarang juga!!" Teriak Elizha.


"Jangan! Jangan! Baiklah... Aku akan melepaskanmu... Beri aku jeda satu minggu, setelah itu kita bicarakan lagi" Pinta Gery.


"Ucapka kata cerai. Maka aku juga akan melakukan apa yang kamu minta" Jelas Elizha.


"Baiklah... Aku akan menceraikanmu..."


"Benarkah?" Ucapnya senang.


"Sial kau malah bahagia..."Gumam gery.


"Terimakasih. Setidaknya ini adalah hadiah terindah untukku..." Ucap Elizha.


"Apa!! Aaahhh sial..." Gery marah besar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2