
***
Margaret masih menangis sesegukan di meja makan restorant tersebut. Meski Elizha mencoba melerainya agar berhenti menangis. Namun, nyatanya Margaret tetaplah cengeng dan terus menangis seraya mengandeng tangan Elizha tanpa bisa di lepas begitu mudah. Sedangkan Gabvin dan teman laki-laki Margaret hanya bisa diam dan menatap ke duanya.
"Udah Ret... Malu" Pinta Elizha terus mengempaskan deraian basah di pipi sahabatnya dengan lembut.
"Hiks... Kamu jahat Zha. Beberapa bulan kita nggak ketemu dan bahkan nomber ponsel couple kita malah nggak aktif. Kamu kemana aja sih... Ngeselin tahu" Gerutu Margaret di tengah-tengah tangisannya.
"Ia. Gue minta maaf deh... Gue juga nggak bisa ceritakan hal apa yang udah nimpa Gue beberapa bulan ini..." ucap Elizha menjelaskan. Lantas Margaret sedikit marah mendengar sahabatnya bicara demikian "Apa kamu udah berubah sekarang Zha? Sampai-sampai, kamu nggak mau ceritakan masalah apa yang membuatmu nggak bisa menemuiku beberapa bulan ini?" tanya Margeret dengan wajah sayu. Ia seakan kecewa pada pernyataan sahabatnya yang enggan terbuka dengannya.
"Bukan begitu... Tapi..." Elizha menundukan wajahnya seakan bingung untuk menjelaskan pada sahabat baiknya itu .Namun ketika Elizha tampak bimbang dan dilema, entah kenapa... Gabvin pun mulai menyela pembicaraan mereka "Apakah kamu nggak mau pesan sesuatu? Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu lapar?" Tanya Gabvin menatap Elizha ramah seraya tersenyum manis. Margaret juga teman pria nya pun mulai menatap ke arah Gabvin, begitu pula Elizha.
"Ayo... Menu nya banyak lho... Kalau mau pesan, akan aku panggil pelayan sekarang lho" Tambah Gabvin kembali merayu Elizha agar ia bisa mengangguk atau memilih sesuatu.
"Eh... Benarkah kamu belum makan sama sekali?" tanya Margeret khawatir pada Elizha. Elizha mulai menoleh ke arah sahabatnya itu "Ah nggak. Dia memang selalu berlebihan..." Balas Elizha tersenyum polos.
__ADS_1
"Benarkah? Mungkin dia berlebihan begitu karna dia khawatir padamu..." Jelas Margaret menepuk punggung Elizha. Nampaknya tangisan Margaret sedikit reda...
"Nggak kok. Dia emang suka begitu..." komen Elizha yang bingung menanggapi kalimat Margaret.
"Kalau begitu... Kita makan bersama saja..." Pinta Gabvin. Teman pria yang sedari tadi duduk di depan Margaret pun mulai ikut berbaur.
"Oh ia Zha, aku lupa sesuatu. Kenalkan... Dia Stivan... Dia pacarku, dia baru saja datang dua hari yang lalu... Dia berasal dari New zeland.. " Jelas Margaret begitu rinci.
"Benarkah? Wah jauh sekali... Kapan kalian bertemu?" Tanya Elizha serius menatap pria itu seraya tak habis pikir olehnya, bagai mana Margaret bisa bertemu dengan pria bule seperti Stivan.
Elizha sungguh senang melihat sahabatnya yang bernasib mujur dan ia juga bahagia ketika tahu bahwa Margaret telah menemukan pria baik yang mau menerimanya apa adanya.
"Oh ia. Lalu bagai mana dengan mu? Apakah kamu tak mau menceritakan siapa pria di depanmu itu?" tanya Margaret menatap Gabvin dengan penuh rasa curiga.
"Ahh..." Elizha kaget bukan kepalang. Gabvin tersenyum dan mulai memegang tangan Elizha lembut lalu mengarahkan senyuman manis itu pada Margaret "Sebanarnya... Hubungan kami tak bisa di jelaskan. Tapi, yang jelas... Aku akan selalu ada dan mensuport Elizha di manapun dia berada..." jelas Gabvin masih memegang tangan Elizha tanpa henti meski Elizha menolak untuk di perlakukan demikian olehnya.
__ADS_1
Margaret hanya bisa melongo tanpa bisa bicara apapun lagi. Nampaknya karisma Gabvin sudah membuat Margaret candu pada senyumannya itu.
"Oh. Sungguh hubungan yang rumit ya..." Gumam Margaret.
"Ahhh... hahahaha tidak juga. Kami kadang-kadang saling tak perduli dan kadang-kadang... Kami saling mencari, begitulah kira-kira..." Ucap Elizha dengan suara terbata-bata.
"Begitu ya... Oh, baiklah..." Margaret tak mau ambil pusing. Ia pun hanya bisa mengangguk saja dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Nah... Pesanan datang. Silahkan untuk di santap" Ujar Gabvin. Gabvin terlihat senang saat bertemu dengan Margaret sahabat Elizha. Sebab saat Elizha dekat dengan sahabatnya itu, hati Gabvin pun ikut hangat... Gabvin tak prlu cemas dengan nanar Elizha yang selalu berubah drastis ketika bertemu dengan Gery. Kini yang Gabvin lihat adalah sebuah kebahagiaan di mata Elizha.
Malam itu, adalah malam paling bahagia seperti mimpi dalam pertemuan pertama dengan sabahabatnya itu.
Bahkan untuk sesaat Elizha seakan lupa pada kisah yang rumit antara dirinya, Gery dan Angel. Untuk malam ini khususnya... Elizha terlihat amat berbeda... Mereka makan bersama, saling bercengkama, saling tertawa lepas tanpa beban. Seakan tak ada masalah di benak Elizha saat mereka bersama (Margaret dan Elizha) Semoga kebahagiaan terus meliputi wanita malang ini...
Bersambung...
__ADS_1