
"Nona... Kau sungguh sangat manis" Ucap Tuan Arga seraya merangkup wajah Elizha dengan satu tangannya dan menelisik wajah cantik itu meski terhalang kain yang saat itu menutupi mata dan bibir Elizha.
"Kau sungguh segar, usia mu sepantaran dengan anak laki-lakiku... Tapi, kamu memang istimewa" ujarnya seraya terkekeh.
Elizha mulai sedikit sadar kala tangan tuan Arga menyentuh dagunya dan mengarahkan ke kanan kiri "Ehhhmmm..." Lenguhnya.
Elizha mulai membelalakan matanya, namun yang tampak hanyalah warna merah pekat. Dan ia ingin berteriak, tapi tak ada gunanya... Bibirnya sulit untuk berkata-kata sebab terkunci oleh pita merah yang serupa dengan yang di ikatkan di matanya.
Apa ini! Ada apa ini... Apa yang terjadi??" Teriak Elizha dalam hati. Ia sungguh panik kala itu hal menyeramkan itu menimpanya kembali.
"Wah-wah... Kamu sudah sadar rupanya... ternyata kamu memang wanita yang luar biasa, bisa pulih dengan cepat dari buayan obat bius yang telah di suntikan pelayanku tadi..." Jelas Tuan Arga.
Apa? Obat bius? Keterlaluan! Padahal Terlalu banyak obat kimia yang sudah ku hirup dan juga di suntikan? Bagai mana jika terjadi sesuatu pada bayiku. Lagi pula apa yang terjadi... Tubuhku tak bisa di gerakan sama sekali dan seperti terikat sesuatu... Bathin Elizha meracau.
"Hemmm... Aku ingin lihat wajah cantikmu nona..." Bisik Tuan Arga. Arga mulai melepas pita merah yang menutupi mata Elizha dengan lembut. Setelah pita itu di lepas, betapa terkejutnya Elizha katika tahu keadaannya yang memprihatinkan.
Baju yang ia kenakan sangatlah memalukan, tangan dan kaki yang terikat. Dan juga pria buntet gendut dan jelek dengan perut buncit telah bersiap melahapnya.
Tidakk!!! Bagaimana ini! Kenapa aku bisa masuk ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya!! Pekik Elizha dalam hatinya, seraya tangisan pecah tak terbendung saat itu juga.
"Wah-wah... Uang memang tak pernah membuatku kecewa" Bisinya serya mengelus tali pita di bibir Elizha.
Gery! Gery!!! Aku pasti akan membunuhmu!!! Aku janji!!! Sebaiknya, aku harus cari titik lemah pria ini dan meloloskan diri darinya. Bathin Eliizha meracau hebat.
Elizha sungguh panik, kini Elizha pun tengah berfikir cara apa yang bisa membuatnya lolos dari cengkraman pria tua mesum yang gendut dan jelek itu.
***
"Rio... Kenapa kita hanya berputar-putar saja..." Tanya Gabvin sangat gelisah.
"Tenanglah tuan, alat detektor ini bekerja dengan baik. Lagi pula, jejak yang di tinggalkan sinyal Gps sangatlah kuat. Tak mungkin salah sasaran..." Jelas Rio.
__ADS_1
"Tapi aku sungguh merasa, bahwa kita hanya di permainkan saja... Jika begini terus, kita akan sangat terlambat" Gabvin masih sangat panik ia menggumam terus menerus sepanjang jalan.
"Kita hampir sampai tuan..." Jelas Rio mulai menemukan titik terang. Rupanya Elizha di bawa segerombolan pria berjas hitam itu ke tengah hutan. Namun, jalan setapak yang mereka lalui cukup bagus dan terurus.
"Bagus! Tapi, kenapa Elizha di bawa ke daerah pegunungan begini... Ini sungguh mengherankan" Gumam Gabvin mulai menaruh curiga.
Rio dan Gabvin menelusuri sisa jejak yang di tinggalkan Gps itu bersama kelompok. Hingga sinyal tersebut mulai terhenti di sebuah villa yang cukup mewah "Ini dia tuan..." jelas Rio.
"Rio... Mari kita susun siasat penyerangan" Ujar Gabvin mulai memberi perintah.
"Aku akan menuruti apapun perintahmu bos" jawab Rio tegas.
"Baiklah... Kirim beberapa anak buahmu yang handal ke pos ke amanan nomber satu dan buatlah kegaduhan di sana. Lalu pancing mereka keluar, kaburlah dan habisi petahanan depan di luar daerah kekuasaan pos penjagaan villa tersebut" jelas Gabvin penuh perhitungan.
"Baik... Aku akan mengingatnya" jawab Rio lugas.
"Berikutnya... Kita akan masuk setelah pos satu meredupkan ke waspadaannya. Kemungkinan pertahanan mereka sedikit berkurang. Jadi sisanya kita serbu saat itu juga....!" imbuh Gabvin. Rio pun kembali mengangguk, Rio pun keluar dari mobil tersebut dan lekas memberikan aba-aba sesuai perkataan yang Gabvin jelas kan tadi.
"Siap Bos!"
"Ambil perlengkapan kalian dan bersiaplah. Aku akan jelaskan beberapa hal..."
Para pria berjas hitam itu mulai mengangguk, mereka mempersiapkan berang-barang apa saja yang mereka butuhkan nantinya sesuai yang di katakan Rio "Dengar semua! Kita akan segera menyerang Villa itu sekarang. Dan, tiga mobil nomber satu sampai nomber tiga, lekaslah menyerang terlebih dahulu, pancing musuh untuk keluar Villa dan lalu Exsekusilah saat itu juga... bawa mereka ke dalam hutan lalu habisi! Kemudian... setelah tiga mobil itu keluar dengan alibi alihan perhatian! Kita lekas menyerang pos keamanan nomber satu! Pasti akan sangat berbahaya. Untuk mengurangi angka kematian... Mari gunakan jas anti peluru dan beberapa barang yang di perlukan lainnya, setelah peralatan lengkap. Kita sembunyikan mobil kita di dalam hutan. Apakah kalian paham!!!" Teriak Rio.
"Ya siap ketua!!" Jawab para anak buah Rio yang jumlahnya ratusan orang itu.
"Baiklah... Lakukan tugas dengan benar. Fokus lah untuk mengurangi angka kematian!" Imbuhnya.
Rio mulai bersiap di kejauhan "Mobik nomber satu, dua dan tiga... Silahkan lakukan sekarang" Jelas Rio dengan menggunakan pelengkapan canggih bodyguard saat ini berupa Earophone di telinganya, kala Erophone itu di tekan maka kamu bebas bicara apapun dan sinyalnya juga sangatlah kuat.
"Baik... Kami sudah beraksi..." Jawab para bawahan Rio.
__ADS_1
"Lakukan kegaduhan seperti yang aku katakan tadi" Jelas Rio memperhatikan di kejauhan.
Akhirnya sesuai yang di katakan Gabvin, pertahanan mereka terlalih saat pintu gerbang terbuka. Ketika para pengawal di Villa itu bertanya kata sandi... Tentu saja mereka curiga karna anak buah Rio tak bisa memberikan jawaban mereka. Hingga mobil nomber satu di serang, mobil itu lekas kabur ke arah yang di sebutkan Rio tadi, Beberapa mobil dari Villa itu mulai keluar untuk mengejar mobil anak buah Rio. Rio memperhatikan mobil yang telah keluar dari dalam Villa itu "Satu, dua, tiga, Empat, lima... Enam? Tujuh mobil??" Rio panik. Lalu setelah nomber satu memancing ke enam mobil tersebut. Mobil dua dan tiga pub mulai mengikuti laju mobil terakhir di Villa itu.
"Ini tak sesuai... Cleon! Joy kalian dengar aku! Bawa tiga mobil lainnya! Bantu tiga mobil itu, Karna pertahanan mereka takan imbang jika harus melawan ke enam mobil dengan selisih jumlah orang yang sedikit!" Ujar Rio menekan melalui alat tersebut.
"Baik tuan! Serahkan padaku..." Sesuai perintah, Cleon dan Joy meminta teman-temannya untuk memasuki mobil dan tancap gas ke arah di mana tiga mobil itu melakukan pengeksekusian.
"Rio gerbang masih terbuka! Sekarang!!" Pekik Gabvin.
"Bersiaplah! Kita akan serbu sekarang!" Ujar Rio mulai menyusun inisiatif sesuai yang Gabvin rencanakan.
Mereka mulai berlari ke arah Gerbang trsebut. Rio menjadi tameng untuk Gabvin dan puluhan anak buah Rio yang buas itu telah meraksak masuk ke Pos penjagaan Satu.
Perang tinju pri berjas hitam pun mulai pecah saat itu juga. Pertahanan pos satu sungguh rawan sebab anak buah Villa tersebut telah pergi bebarapa saat yang lalu.
"Penyusup! Penyusup! Ada penyusup!!" Teriak pos penjagaan nomber dua. Akhirnya, segerombolan pria berjas hitam pun mulai keluar dari dalam Villa dan kembali bertempur dengan anak buah Rio yang sama-sama memakai jas hitam.
"Sial! Hati-hati... Kalian pasti kenal kan mana lawan mana kawan! Mereka sama-sama mengenakan jas hitam!" jelas Rio sedikit panik.
Kegaduhan yang timbul di penuhi ceceran darah, beberapa pria entah dari kubu Villa atau dari pihak Rio, mereka berjatuhan satu persatu setelah mengalami pukulan dan tinjuan yang amat keras "Rio! kita akan naik ke atas... Bawa anak buah mu yang lainnya. Lalu tutup gerbang... Aku memperdiksi mereka akan membawa kawanan dalam jumlah yang sangat banyak!" pinta Gabvin.
"Baiklah... Tutup Gerbang!! Kunci jangan sampai ada yang masuk ke dalam!!" Teriak Rio. Setelah permintaan di ikrarkan, Gerbangpun di tutup. Rio dan Gabvin juga beberapa anak buah lainnya mulai meraksak masuk ke dalam dan mencari setiap pintu.
"Jaga Tuan Gabvin jangan sampai ia terluka!" Pinta Rio.
"Baik bos!!" jawab para anak buah Rio dengan sigap. Sebagian anak buah Rio berpencar ke depan dan di belakang Gabvin. Sedangkan Rio masih siaga di posisinya yang berdiri tegak di samping Gabvin.
Kegetiran yang terjadi telah timbul kala itu... Semua yang di lakukan Rio adalah demi menyelamatkan adiknya. Rio rela mengorbankan nyawanya asalkan Elizha baik-baik saja...
Bersambung...
__ADS_1