ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Meminta restu


__ADS_3

***


"Tolong menyingkirlah calon ibu mertua tiri..." Ucap Gabvin seraya menerobos masuk ke dalam kediaman Diandartara.


Yasmin, Syakilla juga Ibunya, hanya bisa membatu di luar rumah tanpa bisa berkata-kata "Sialan... Kenapa si ja-lang itu malah datang lagi ke mari!" Bentak Ibu Tiri Elizha.


"Ibu... Gabvin bu! Seharusnya dia tidak bersama Elizha!" Marah Yasmin.


"Bu. Apakah kita tak bisa melakukan apapun pada Elizha! Ihhh ini sungguh mengesalkan! aku benci padanya!" amuk Syakila.


"Diamlah! ibu sedang berfikir! Ibu ingin menyingkirkan Elizha..." Bentaknya terlalu keras.


"Jangan terlalu keras bu. Nanti ayah dengar!" Ucap syakila memperingatkan.


"Ya. Baiklah, karna dia datang... mari kita bersandiwara" ucap Ibu tiri Elizha.


Mereka mulai masuk ke dalam rumah tersebut, tapi... Gabvin masih berada di dekat pintu keluar dan mendengarkan percakapan mereka "Ah..." Ibu tiri Elizha terpekik.


"Ternyata, kalian memang pandai bersandiwara..." Ucap Gabvin. Elizha masih kaget karna hampir saja dia jatuh dan keguguran.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya ibu tiri Elizha.


"Heh. Mau apa kami di sini, itu semua bukanlah urusan mu... Uruslah drama menjijikan yang akan kalian tampilkan..." ujar Gabvin terlanjur benci pada ibu tiri Elizha.


"Gabvin! Kenapa kamu membentak ibu ku seperti itu! Apa hak mu di sini?!" Tanya Yasmin murka.


"Apa hak ku? aku tak ada hak di sini... Tapi, jika sekali lagi kalian mencoba menyakiti Elizha. Akan aku pastikan, hidup kalian akan di habiskandi jeruji besi! Apakah kalian paham?!" bentak Gabvin dengan tatapan tajam ke arah Yasmin.


"A-aku... Ibu bagai mana ini?" Yasmin menunduk dan mulai memegangi tangan ibunya.

__ADS_1


Elizha masih diam, lalu ia mulai berkata "Gabvin, cukup... Tolong turunkan aku..." Pinta Elizha. Gabvin sedikit kaget dan ia pun mulai menurunkan wanita itu, nanar Elizha tampak sebab... nampaknya Elizha sedang khawatir pada sesuatu.


"Elizha. Kamu baik-baik saja?" tanya Gabvin khawatir.


"Gabvin mari bicara" Elizha mulai menarik jemari Gabvin dan membawanya ke ruang tengah yang cukup sunyi.


"Zha ada apa? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Gabvin sedikit khawatir.


"Gabvin... Bisakah, kamu keluar... karna aku akan menemui ayahku. Aku tak mau kamu bicara hal yang aneh-aneh" Pinta Elizha.


Gabvin sungguh tak paham pada hati Elizha yang begitu keras kepala, meski Gabvin sangat tulus padanya, tapi Elizha sama sekali tak mau memahaminya sedikit pun.


"Tapi Zha..." Gabvin kaku dan tak bisa berfikir.


"Ini adalah urusanku... Jadi, tolong jangan repot-repot dengan urusanku. Aku tak mau menyeretmu terlalu jauh" Pinta Elizha.


"Entahlah..."Elizha pergi dari hadapan Gabvin, sedangkan Gabvin yang menunduk lesu masih terdiam di sana dan tak bergeming, hatu Gabvin sungguh hampa untuk saat ini.


Elizha masuk ke kamar sang ayah perlahan seakan mengintif "Ayah... Aku datang" Ucap Elizha mulai masuk ke dalam kamar sang ayah setelah membuka pintu kamar itu.


"Ayah... Kamu di mana?" tanya Elizha mengulang. Saat Elizha masuk ke kamar mandi ayahnya, Elizha kaget ketika melihat ayahnya sedang tengkurab di sana dengan tangan memegang ponselnya.


"Ayah! Ayah kamu baik-baik saja?!" Teriak Elizha panik.


Elizha berusaha membaringkan ayahnya namun karna tubuh sang ayah sangat gemuk, Elizha tak bisa lakukan apapun selain meminta tolong "Tolong! Tolong ayahku! Tolong!" teriaknya mengulang-ulang kalimat tersebut.


Seketika suara tersebut terdengar ke mana-mana dan membuat Gabvin sigap berlari ke arah tersebut "Elizha! Ada apa?" tanya Gabvin panik, ia meraksak masuk ke dalam kamar sang ayah seiring teriakan Elizha terngiang di telinganya.


"Gabvin tolong. Hiks... Tolong ayahku..." Pinta Elizha lemas. Ia sungguh bernasib buruk...

__ADS_1


"Jangan khawatir, ambil ponselku dan telpon 119. Biarkan mereka datang membawa ambulans" jelas Gabvin.


Elizha berdiri, dan mulai menelpon 129 sesuai titah Gabvin. Sedangkan Gabvin mulai mengangkat tubuh calon ayah mertua dan mulai merebahkannya ke matras di kamar tersebut.


"Aaahhh..." Ringis sang ayah.


Elizha lekas menoleh dan duduk di samping ayahnya "Ayah. Ada apa Ayah? Kenapa ayah bisa berbaring di bathroom?" tanya Elizha bertubi.


"Elizha... Maafkan ayah. Ayah sungguh tak pantas jadi ayahmu... Karna ayah terlalu jahat padamu" Tangis sang ayah. Elizha meremas tangan ayahnya "Jangan bicara hal buruk ayah, Tak ada yang salah di sini... Ayah harus sehat. Ayah kenapa bisa sampai begini?" Tanya Elizha panik.


"Akhir-akhir ini, jantung ayah selalu sakit..." Jelas sang ayah.


"Ayah. Tolong jangan banyak berfikir, ayah harus sehat... Jika ayah begini, aku tak punya siapapun lagi... Jadi ku mohon ayah harus kuat" pinta Elizha seraya memeluk ayahnya.


Elizha menangis haru kala melihat keadaan ayahnya yang begitu memprihatinkan. Ayahnya menoleh ke arah Gabvin "Apakah dia adalah ayah dari bayi di kandunganmu?" tanya sang ayah. Elizha terbelalak dan hendak mengelak "Ya calon ayah mertua. Mohon doa restumu" Jelas Gabvin memperkenalkan diri.


"Benarkah? Kau sungguh tampan dan berwibawa... Tolong jaga anakku yang jelek dan keras kepala ini" jelas sang ayah meraih tangan Gabvin.


"Jangan Khawatir ayah. Aku akan menjaganya dan menerima apapun kekuarangannya. Semoga ayah lekas sembuh, karna pernikahan kami akan di gelar setelah bayi di kamdungan Elizha lahir" jelas Gabvin. Elizha makin membelalakan matanya.


Ayah Elizha tersenyum dan mulai memejamkan matanya, ia mulai melepas tangannya yang kala itu meraih tangan Gabvin.


"Ayah! Ayah! Ayaaaahhhh....!" Pekik Elizha.


"Ambulan mulai datang... Bersiaplah Elizha, kita akan membawanya ke rumah sakit!" pekik Gabvin.


Akhirnya setelah pramedis datang, Eliza bersama Gabvin pergi ke rumah sakit terdekat, sedangkan istri dan dua anak tirinya. Hanya menatap seakan puas, mereka sama sekali tak merasa sedih, meski saat ini ayah Elizha tengah bergelut dengan maut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2