ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Berakhir


__ADS_3

***


Rio masih sangat cemas, bola matanya memutar ke atas untuk mencari keberadaan Colle "Dimana Pria itu bersembunyi. Aku yakin, dia ada di sana dan memperhatikan kami..." bisik Rio masih mencari.


"Apa kata Sandi Villa ini?" Tanya Colle lantang. Rio sedikit lega ternyata seperti yang di kataman Cleon. Bahwa kata sandi tersebut sangatlah berpengaruh di tempat tersebut.


Para pria di lantai bawah yang saling menodongkan pistol di kepala lawannya pun mulai sigap mengatakan "Kelinci yang masuk sarang singa adalah makanan mereka!" Jelas Para pria dari kubu Villa dan kubu Rio. Rio sedikit lega kala mendengar para anak buahnya mengingat kalimat tersebut "Aapppaaa!!!" Teriak Colle.


"Hahahaha... Kau sudah kalah Colle, sebaiknya turun dan hadapi aku!" Balas Rio menantang.


"Mmmh... Baiklah..." Cole menjawab demikian. Dan benar saja, pria kekar tersebut turun dari lantai tiga Villa tesebut.


Rio mulai menekan Earophone di telinganya dan mulai memerintah "Dengarkan aku, Pengawal di lantai dua..."


" Ya kami dengar" balas anak buah Rio.


"...kalian harus melindungi tuan Gabvin. Berpencar dan cari dia... Aku yakin musuh masih ada di mana-mana" Jelas Rio.


"Baik bos!" Sigap para anak buah Rio. Mereka pun berpencar dan mulai berhamburan mencari.


Kini, lawan sesungguhnya telah muncul, dia adalah Colle lorenzo... Kepala pengawal sekaligus orang penting di Villa tersebut. Rio akan melawan pria itu dengan sekuat tenanganya.


***


Di tempat lain...


Gabvin masih sibuk berlari dan mencari keberadaan Elizha... Ia masih terus mendobraki puluhan kamar yang terkunci hingga bahunya sedikit memar.


"Agghh! Sial, ini sungguh menyakitkan... Lagi pula dimana dia!" Bisik Gabvin seraya terus mencari "Tuan Gabvin!" pekik pria berjas hitam. Beberapa pria berjas hitam datang menghampiri Gabvin. Hingga Gabvin sedikit tersentak "Ka-kalian, siapa kalian!!" Tanya Gabvin gugup karna takut.


"Tenanglah... Kami ada di pihakmu. Kami adalah anak buah tuan Rio" jelasnya.


"Oh syukurlah..." Gabvin menghelan napas lega.

__ADS_1


"Apa yang sedang anda lakukan?" tanya salah satu pria itu.


"Tolong bantu aku mendobraki pintu-pintu itu" Jelas Gabvin. Mereka pun mulai mengangguk, sesaat beban Gabvin sedikit berkurang. Semua pintu telah di dobraki hingga terbuka... Dan ada satu pintu yang belum di dobrak...


"Dobrak yang ini juga...' Pinta Gabvin.


Akhirnya para anak buah Rio pun mendobrak pintu tersebut. Dan benar saja, Elizha ada di tempat itu "Braakk!" Pintu di tendang anak buah Rio hingga lepas dari engselnya.


Tuan Arga yang akan memulai pun panik "Siapa kalian!!" Pekik Tuan Arga. Gabvin terbelalak ketika melihat Elizha terlihat begitu pendiam dan tak berdaya. Wajah Elizha yang merah pekat dan keringat dingin mulai bercucuran "Apa yang kau lakukan padanya!!" Teriak Gabvin mulai melompar dan menendang pria tua itu yang siap melepas kimono malam nya.


Buakkk!! Pria itu terjungkal ke bawah ranjang matras tersebut.


Brak!! "Berani ya kau mengganggu kesenanganku!!" Teriak Tuan Arga. Gabvin murka "Tunggu apa lagi! Ikat dia dan gantung di tangga dengan kaki terbalik!' Ujar Gabvin penuh emosi.


Para anak buah Rio mengangguk "Baik!" Mereka pun mulai melakukan perintah yang di utarakan Gabvin dengan benar.


"Lapaskan aku! Apa yang kalian lakukan!" gemuruh tuan Arga meronta, namun ia tak berdaya.


"Panas... " gumamnya. Gabvin terdiam sesaat ketika melepaskan tali tersebut "Apa... Apakah kau bicara sesuatu...?" tanya Gabvin. Tapi, Elizha masih memejamkan matanya dan terus bergelinjat "Panas... Rasanya seluruh tubuhku haus sekali..." Lenguhnya dengan suara manja. Gabvin mulai menoleh ke arah Arga.


"Hei pria tua yang tak tahu malu! Apa yang kau lakukan padanya hingga wnita ini tampak begitu murahan hah. Padahal dia adalah wanita baik-baik sebelumnya..." Bentak Gabvin makin murka.


"Tak ada hal lain yang ku lakukan! Dia hanya mabuk parfum yang ku semprotkan ke seluruh tubuhku. Parfum ini bisa membangkitkan hasrat wanita hanya dengan menciumnya saja... Itu sama halnya dengan obat perangsang" Jelas Arga seraya terkekeh.


"Kau memang ingin ku bunuh hah!' Bentak Gabvin melotot ke arah Arga.


"Akan ku buat perhitungan denganmu! Kau harus membayar uangku yang telah masuk ke rekening Gery!! Kau tahu, jumlahnya mungkin tak akan bisa kau lunasi seumur hidupmu!!" Bantak Tuan Arga.


Gabvin mengepalkan tangannya dan mulai membayangkan wajah Gery yang penuh ke tamakan dan obsesinya itu "Gery!! Beraninya kau menjual istrimu sendiri demi obsesimu. Dan parahnya lagi, Elizha saat ini sedang hamil muda... Kau sungguh membuatku sangat kecewa. Gery! Geryyy... Mulai saat ini kau bukan temanku lagi!" Teriak Gabvin menggila.


"Tuan... Aku Akan membawa tuan Arga ke luar. Silakan lepaskan tali yang mengikat tangan nona Elizha" pinta salah satu pengawal Gabvin. Gabvin yang hanyut dalam lamunannya itu pun mulai tersadar dan lekas melepaskan tali tersebut perlahan agar tak menyakiti pergelangan tangan Elizha yang mulai memar. Para pengawal pun mulai menunggu di luar dan menanti aba-aba selanjutnya.


"Panas..." Gumam Elizha dengan bibir bergetar. Gabvin selesai melepaskan tali yang melilit tangan Elizha. Lalu ia pun melepas jasnya untuk menutupi pakaian Elizha yang tipis itu "Apa dosa mu di masa lalu, sampai-sampai kejadian ini terus saja mengulang dan menimpamu. Dasar malang" Ucapnya seraya mulai memakaikan jas tersebut di tubuh Elizha. Tapi Elizha malah meronta dan meremas pakaianya seraya menatap Gabvin penuh harap dan memelas "Tolong aku... mmm rasanya tidak nyaman..." ucapnya mulai menekan bahu Gabvin dan menariknya "Hentikan Elizha!!" teriak Gabvin. Gabvin terjatuh di matras dengan posisi meringkuk, lalu Elizha datang menekan kedua bahu Gabvin hingga Gabvin pun terlentang dan Elizha pun duduk di atas perut Gabvin "Tolong bantu aku... Aku mohon!" bisiknya memelas dengan nanar yang basah.

__ADS_1


Gluk! Gabvin menelan salivanya sendiri, ia sedang berusaha menahan godaan yang ada di depannya.


"Tidak!" Gabvin lekas menahan kedua tangan Elizha yang saat itu datang mendekat ke arahnya dan berusaha menciumnya.


"Gabvin... Tolong aku... Hah! Hah! Aku sungguh haus... Aahhhh hah hah Berikan aku sentuhanmu... Seluruh tubuhku terasa panas dan gatal... Aaahhhhh... " Lenguh Elizha terus menggoda. Ia bahkan terus memohon dan akhirnya Gabvin pun mendorong Elizha, hingga Elizha pun terbaring di matras. Gabvin segera menghimpitnya "Kau akan melakukan kesalahan yang sama jika aku tak bisa menahannya" Jelas Gabvin masih menahan Elizha. Tapi, karna aroma parfum tuan Arga telah membangkitkan rasa ingin yang kuat. Elizha pun kehilangan akal sehatnya dan terus menggoda Gabvin.


Saat dua mata itu saling menatap, Elizha mulai meraih wajah Gabvin dan menangkupnya, Elizha mencium Gabvin seketika itu. Gabvin pun terbelalak "Ummmhhh!!!" Gabvin menarik dirinya, tapi Elizha yang haus itu terus me-***** dan mengecup bibir Gabvin berulang kali.


Gabvin sungguh panik, antara tergoda dan ingin menolongnya. Akhirnya Gabvin yang tak tahan pun mulai meraih tubuh Elizha dan mendekapnya di matras. Mereka saling membalas kecupan, Gabvin menarik tubuh Elizha dan membangunkannya, Elizha kini duduk di pangkuan Gabvin.


Mereka saling menikmati ciuman panas itu satu sama lain, Perasaan Gabvin sedikit hampa. Meski saat ini Elizha menciuminya hingga membuay nya tapi, Gabvin sadar bahwa itu semua hanyalah sebuah keterpaksaan.


Gabvin kembali mengangkat tubuh Elizha tanpa melepaskan kecupan yang membuat Elizha nyaman. Gabvin menggendongnya ke arah kamar mandi... Mata Elizha sungguh merem melek seakan menikmatinya, jika saat ini ia dalam keadaan sadar. Betapa menjijikannya dia... Mungkin ia akan berfikir betapa memalukannya dia saat ini.


Gabvin terus melangkah ke arah kamar mandi, Kecupan Elizha mulai turun ke area leher jenjang Gabvin yang menggoda Elizha.


"Hentikan! Jangan lakukan itu!" Bentak Gabvin terus menahan godaan yang Elizha berikan padanya. Meski bulu kuduk Gabvin mulai berdiri semua, juga bang Jon yang sedang tidur lelap itu mendadak bangun gegara buayan yang di lepas Elizha saat mencumbunya.


Elizha mulai mengecup area tersebut hingga menyisakan warna merah pekat Cupp!!


"Kau adalah milikku sekarang tuan..." Desahnya tak makin membuat Gabvin tak tahan.


Gabvin mulai sampai di kamar mandi Villa tersebut. Ia menguncinya dan mulai melangkah ke dalam kamar mandi tersebut ia menyalakan Sawer. Gabvin mulai mengguyur Elizha yang masih belum sadar itu, tapi semua itu malah mekin membuat Elizha mengganas.


"Ahhhh... Ngggggh... Ummmm" Elizha makin menikmatinya. Sedangkan Gabvin yang masih dalam posisi bertahan sudah sampai di titik batasan.


Gabvin menoleh ke arah Bathtub yang terisi air penuh. Aku harus menghentikannya .... Jika tidak aku bisa benar- benar khilaf. Bathin Gabvin.


Gabvin sangat terpancing dan ia tak ingin membuat Elizha membencinya seumur hidupnya. Gabvin mulai menceburkan Elizha ke dalam Bathtab tersebut. Namun Gabvin malah makin tergoda oleh Elizha.


Tuhan! Aku sungguh akan bertanggung jawab atas mataku yang sudah berjina ini. Bathin Gabvin menggumam seraya menutup wajahnya dengan ke sepuluh jemari yang ada. Rupanya pakaian tipis itu makin menggoda setelah basah oleh Air. Seluruh lekuk tubuh Elizha tergambar jelas dan membuat Gabvin makin tak tahan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2