
Elizha masuk ke kediaman Margaret pagi menjelang siang itu. Di sambut ibu Margaret yang jarang sekali ia temui "Ah ada tamu..." sambut ibu Margaret nyonya Elyena.
"Selamat siang bu... Apakah Margaret ada di rumah" Tanya Elizha.
"Oh sayang. Maaf ya, Margaret tidak di rumah selama dua hari ini..." Jelas Nyonya Elyena.
"Lho kenapa bu? Kemana dia pergi?" Tanya Elizha ingin tahu.
"Sebenarnya, setelah putus dari kekasihnya... Dia jadi sangat flustrasi..." Jelasnya.
"Benarkah? Apakah mereka putus? Steve?" Tanya Elizha.
"Ya. Dia memang bodoh... Seharusnya saat itu dia tak perlu mabuk-mabukan... Hanya untuk melupakan mantan kekasihnya" Jelas Sang ibu merasa kecewa.
Astaga. Jangan-jangan Margaret melakukan hal yang sama sepertiku. Apakah dia salah masuk kamar? Bathin Elizha meracau.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Elizha.
"Ya begitulah..." Jawab Ny. Elyena singkat.
"Begitulah? Apa maksud mu bu?" Tanya Elizha ingin tahu.
"Dia mabuk dan malah berkendara... Jadi dia tak sengaja melindas seorang pria hingga pria tersebut kritis" Jawab Ny. Elyena pasrah.
"Oh astaga..." Elizha lekas menutup mulutnya dengan ke sepuluh jemari yang ada.
"Lalu... Apa yang terjadi pada Margaret sekarang?" Tanya Elizha khawatir.
"Sebenarnya. Margaret ingin menyerahkan diri pada pihak berwenang, tapi... Ibu melarangnya, karna tak ingin ia masuk ke dalam masalah yang lebih besar" Jelas Ny. Elyena.
"Oh. Begitu ya... Sayang sekali... Kenapa hal buruk itu malah menimpa Margaret" Elizha kecewa dan begitu khawatir pada sahabatnya itu.
"Apakah kamu ingin menjenguknya?" Tanya Ny. Elyena.
"Jika di rumah sakit, aku tak bisa berangkat ke sana... Soalnya, aku mual jika mencium bau obat" Jelas Elizha.
"Oh begitukah?" Tanya ny. Elyena seraya menatap perut Elizha yang mulai agak buncit.
"Ohhh astaga..." Pekiknya seraya menutup mulutnya dan membelalakan matanya ke arah perut Elizha "Apakah aku sebentar lagi akan menimang cucuk?" Tanya Ny. Elyena. Elizha menunduk malu "Ah... Apakah anda tahu jika saya sedang hamil?" Tanya Elizha malu.
"Tentu saja, perutmu yang bicara padaku barusan..." Jelas Ny. Elyena.
"Haaah... Anda sungguh pengertian, betapa senangnya ada seseorang yang memperhatikanku..." gumam Elizha lesu.
"Berapa bulan usia kandunganmu sekarang Zha?" tanya Ny. Elyena.
"Mau masuk enam, sekarang masih lima lebih..." Jawab Elizha menunduk.
"Syukurlah, kamu bahagia kan Elizha?" Tanya Ny. Elyena.
__ADS_1
"Tentu... Meski kehamilan ini adalah sebuah kesalahan, tapi... Aku pastikan akan melahirkan dan membesarkan anak ini dengan penuh kasih sayang" Jawab Elizha ringan. Ny Elyena serasa paham betul atas apa yang di rasakan Elizha hingga ia pun merangkul Elizha dan memeluknya "Yang sabar ya Elizha. Ibu akan mendukungmu meski ibu bukan ibu kandungmu..." Ucap Ny. Elyena mesra.
Mereka saling merangkul satu sama lain, Elizha menangis untuk beberapa saat di pelukan Ny. Elyena.
Kring! Kring!
Telpon rumah kediaman Margaret berbunyi hingga membuyarkan kehangatan yang terjadi di antara keduanya "Ah. Ada telpon..." Ucap Ny. Elyena.
"Tunggu ya. Aku akan mengangkatnya sebantar" Ucap Ny. Elyena.
"Ya. Silahkan..." Balas Elizha mengangguk seraya menyeka air matanya.
"Hallo..." Sapa nyonya Elyena.
"Ah... Tuan Dian, ya ada apa?" Tanya Ny. Elyena
Elizha mulai menoleh ke arah telpon ny. Elyena... "Oh ia...tentu, baiklah... Oh ia tuan Dian, anakmu sedang berkunjung ke mari. Apakah kamu ingin menyapa nya?" tanya Ny. Elyena.
"Ah ia... Baiklah..." Ny Elyena segera menatap Elizha dan memperlihatkan gagang telpon rumah tersebut seakan berkata "Ini adalah ayahmu. Kamu mau bicara dengannya?"
Elizha mengangguk dan mulai bagun dari duduknya, ia meraih gagang ponsel tersebut dan mulai menekannya di daun telinga. Elizha belum mau bicara, ia cenderung diam dan menahan tangisannya. Betapa rindunya ia pada sosok ayah yang sedari kecil selalu ia banggakan itu.
"Elizha... anakku... Bagai mana kabarmu?" Tanya sang Ayah membuat Air mata Elizha tergerai jatuh membasahi pipinya
"Ayah..." Jawab Elizha menahan tangisan yang saat itu tengah mencekik ternggorokannya hingga ia merasa sesak dan kesakitan.
"Ayah...." Ucapnya lagi. Hanya itu yang bisa ia katakan pada sang ayah. Ny. Elyena menangis haru kala Elizha berusaha keras menahan tangisannya hanya untuk membuat hati ayahnya tanpa beban pikiran.
"Aku... Menyayangimu..." Hanya itu kata yang begitu mudah terlontar tapi menyakitkan.
"Elizha. Datanglah ke rumah, ayah sangat rindu... Jangan lupa pulang, karna ayah sudah tua nak. Jangan sampai kelak kamu kecewa, karna kamu akan memeluk segunduk tanah ketika ayah di kubur..." Jelas sang ayah membuat Elizha makin menderita.
"Ayah... Hen... Hentikan bicara hal buruk! Hiks... Aku, menyayangimu ayah... hiks..." Tangisan mulai pecah kala sang ayah berbicara tentang kematian.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah..." Ucap ayahnya terdengar terengah-engah dan membuat Elizha khawatir.
"Ayah! Ayah kamu kenapa ayah?" Tanya Elizha khawatir.
Telpon terputus dan membuat Elizha khawatir "Ayah! Ayah... Ayah kau kenapa ayah? Apakah kamu baik-baik saja?!" Tanya Elizha terus mengulang.
"Kenapa sayang?" Tanya Ny. Elyena panik.
"Ayahku sepertinya tidak baik-baik saja. Aku harus segera pulang" Jelas Elizha tergesa-gesa.
"Apakah perlu ibu antar nak?" Tanya Ny. Elyena.
"Tidak, aku akan naik taksi saja" Jelas Elizha seraya berjalan cepat ke arah pintu keluar.
"Tapi. Taksi di daerah ini sangat jarang..." Ny. Elyena bersikeras.
__ADS_1
"Maaf. Ibu... Aku tak ingin merepotkan anda. Sampaikan salam ku pada Margaret ya bu. Aku pamit" Elizha keluar rumah tersebut.
Ny Elyena mengantarnya hingga Elizha keluar Gerbang kediaman tersebut. Namun, saat mereka ada di luar gerbang... Mereka malah terpaku, sebab para scurty telah sibuk adu mulut dengan seseorang yang begitu familiar bagi Elizha "Ada apa ini" Tanya Ny. Elyena.
"Nyonya... maafkan kami karna telah mengganggu waktu weekend anda. Ini hanyalah masalah kecil..." Jelas Scurty
"Memangnya ada masalah apa pak scurty?" Ny. Elyena bersikeras menatap kerumunan.
"Ada seorang pencuri yang sedang mengintai rumah anda" Jelas Scurty itu.
"Ah. Oh tuhan, apa! Pencuri... Dimana? dimana dia?" Tanya Ny. Elyena ingin memastikan.
"Dia ada di sana" Tunjuk sang Scurty.
Akhirnya scurty itu menampakan wajah Gabvin yang terlihat panik. Elizha membulatkan matanya begitu pula Ny. Elyena "Gabvin!!" Pekik Elizha.
"Tuan Gabvin!" Pekik Ny. Elyena.
Elizha menoleh ke arah Ny. Elyena "Bu. Apakah anda mengenalnya?" tanya Elizha. ny. Elyena lekas mendekat "Ah. Selamat siang tua Gabvin... maafkan kelakuan para penjaga ke amanan di komplek ini. Mereka hanya tak tahu jika anda adalah pengusaha muda yang sukses..." Jelas Ny. Elyena.
"Ny. Elyena... Senang bertemu dengan anda" Mereka berjabat tangan.
Rupanya Nym Elyena adalah salah satu rekan bisnis Gabvin yang sangat penting.
Elizha hanya menatap tak percaya pada apa yang ia saksikan saat itu. Dan pada akhirnya, para satpam pun mulai meminta maaf pada Gabvin.
Mereka pun mulai pergi dengan terus menunduk meninta maaf "Apakah anda akan masuk dulu ke kediaman kami?" Tanya Ny. Elyena.
"Ah tidak... Oh ia Elizha, apakah dia adalah ibu dari Margaret?" Tanya Gabvin menatap Elizha.
"Ia..." Jawab Elizha singkat.
"Oh. Kamu kenal juga pada anakku?" Tanya Ny. Elyena.
"Ya. Kami pernah bertemu sebelumnya" Jawab Gabvin.
"Begitu ya... Lalu apa hubungan kalian?" Tanya Ny. Elyena.
"Dia adalah calon istriku" Jwab Gabvin.
Ny. Elyena terbelalak "Wah benarkah?" Tanya Ny Elyena bahagia.
"Tentu..." Jawab Gabvin.
Sedang Elizha hanya diam dan tak bicara apapun. Gabvin masih menatapnya , tapi Elizha malah membuanh wajahnya...
Apa aku sudah salah bicara lagi? Bathin Gabvin...
Bersambung.
__ADS_1