
Usai pernikahannya, Gery dan Angel di satukan dalam ruangan yang sama yaitu Kamar pengantin. Angel sangat antusias menyambut malam ini tiba di hidupnya. Perlakuan Gery yang selalu dingin padanya membuatnya amat sangat bersemangat. Malam ini ia merendam dirinya di bathtub dengan beberapa wewangian terapi kesukaannya, ia lakukan itu untuk pria yang paling ia sayang.
"Malam ini adalah malam pertamaku... Semoga apa yang selalu aku harapkan, akan menjadi ke nyataan..." Bisiknya untuk dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, ia mulai selesai dan meraih kimono malamnya. Lalu lekas melangkah ke arah kamar pengantin dengan amat tergesa-gesa.
Rambut basah dan pakaian yang terbuka, ini adalah sebuah kode untuk Gery agar ia peka, Agar Gery tahu. Bahwa, malam ini... Gery mau menyentuhnya.
Klek... Pintu di buka pelan, Angel mulai mengintip... saat semua sudah terlihat jelas. Barulah Angel keluar dari kamar mandi dan mulai menghampiri Gery yang tengah terlentang di matras.
"Sayang... Kok kamu malah tiduran. Ayo bangun dan bersihkan dirimu" Pinta Angel.
"Tidak... Aku mau tidur saja... Besok saja aku lakukan itu. Malam ini biarkan aku tidur" pinta Gery menggumam seraya memejamkan matanya.
"Lalu? Bagai mana dengan malam pertama kita? Aku sudah siap dengan malam ini. Tapi kamu malah tiduran begitu" Dengus Angel kesal dan tak puas.
"Sudah ku bilang. Aku lelah, besok saja aku lakukan itu... Sekarang tidurlah..." Pinta Gery masih dengan exspresi acuhnya.
"Aahhh... Ini mengesalkan..." Angel menghentakan kakinya kesal dan mulai duduk di samping Gery.
"Kamu jahat... kamu selalu saja dingin padaku" Umpatnya kesal.
"Tidur... Atau besok kamu akan terlambat" Jelas Gery. Gery sengaja menarik tangan Angel dan menyuruhnya berbaring di sampingnya.
"Tidur..." Tegas Gery.
"Tapi... Akukan..." Angel masih menggerutu.
"Tak ada alasan..." Bentak Gery. Gery mulai meraih selimut, dan menggulungkannya di tubuhnya. Hingga iapun tertidur lelap, sedang Angel... Ia hanya bisa menahan hasrat biologisnya yang selalu mendambakan sentuhan dan kasih sayang Gery.
Sebenarnya... Apa salahku... Hingga aku tak bisa di perlakukan dengan begitu manis olehnya? Bathin Angel meracau sebelum ia terlelap dan membawa segala angan-angannya ke alam mimpi yang indah.
*
*
__ADS_1
*
*
*
Tik! Tik! Tik!...
Dentikan jarum jam di rumah sakit itu, berhasil membuat seseorang terbangun. Tangan Elizha bergerak beberapa kali, dan ia pun berusaha membuka matanya perlahan. Penglihatannya buram dan tak begitu jelas.
"Nggghhh..." Rintihnya memegang kepalanya yang terasa berat.
Plap! Netranya mulai menyimak, yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit bercat putih bersih "Di mana ini? Aku tak kenal kamar ini? Ini bukanlah kamarku?' Gumamnya berusaha bangun. Saat ia mengingsutkan tubuhnya untuk bersandar di banatal. Tangannya malah bergetar ketika seseorang menggenggamnya. Elizha pun mulai menoleh ke arah tersebut, Deg! Betapa kagetnya ia, seakan di hantam sesuatu. Netranya sungguh tak paham ketika, menyaksikan situasi yang amat rumit ini.
"Ga...bvin?" Bisiknya. Elizha baru sadar saat ia ingin merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ia malah dapati sosok Gabvin yang terlihat lelah ketika tiduran di samping bantal yang Elizha tiduri. Bahkan Gabvin bisa-bisanya terlelap begitu saja dalam keadaan terduduk. Tangan Elizha di genggam erat olehnya "Apa yang kamu lakukan?" bisik Elizha tak paham.
Elizha malah menatap tangannya yang di genggam erat oleh Gabvin "Kenapa... Kamu lakukan ini? Dan kenapa kamu juga ada di tempat ini dan memperdulikan ku?"Entah kenapa, Elizha malah sesak napas. Melihat kebaikan Gabvin membuatnya amat sedih. Hatinya sakit dan tenggorokannya sesak, ia seperti tercekik hanya untuk menahan air matanya.
"Maafkan aku..." Bisik Elizha. Elizha menarik selimuta dan menyelimuti Gabvin perlahan. Setelah itu, Elizha pun mulai berusaha melepaskan sebelah tangannya dari genggaman tangan Gabvin yang lembut dan hangat.
"Lizh..." Gumam Gabvin. Untuk memastikan pandangannya yang buram dan masih linglung itu. Gabvin pun mengucek-ucek matanya dan akhirnya. Ia pun bisa menatap wanita yang paling ia sayangi itu.
"Elizha... Syukurlah kamu sudah sadar..." Pekik Gabvin senang.
Elizha menoleh "Vin... Sejak kapan aku ada di sini? Apakah ini... Rumah sakit?" Tanya Elizha dengan nanar mendung.
"Ia... sudah dua hari satu malam kamu tak sadarkan diri. Tapi... Syukurlah tak ada hal yahg serius... Kamu hanya perlu istirahat total..." tegas Gabvin bersama penjelasannya. Elizha menunduk muram dan tak yakin dengan ini, ia pun bertanya kembali "Sudah selama itukah? Lalu... Salama itu... Apakah ada yang menjengukku?" Tanya Elizha menatap Gabvin penuh harapan.
Gabvin mengangguk "Ya ada..." dengan senyuman Gabvin, Elizha sangat bersemangat "Apakah itu Gery? Apakah dia menjagaku?" tanya Elizha dengan nanar yang berbinar.
"Ehhhh..." Gabvin terdiam. Elizha mulai paham dan menghempas harapannya itu "Bukan ya?" gumam Elizha tak paham pada kenyataannya.
"Mungkin dia sibuk... Jika tidak, dia pasti sudah menghubungimu kok" Jelas Gabvin. Elizha tetap tak ingin berkomentar apapun.
"Haaah..." Helan napas kesal Elizha.
__ADS_1
"Oh ia. Zha? Malam itu, apa yang terjadi hingga kamu sampai pingsan...? Apakah karna kamu mual?" tanya Gabvin khawatir. Saat pertanyaan itu terlontar, Elizha baru ingat... Pintasan kejadian menjijikan yang di lakukan Kelvin padanya. Hingga beberapa kali ia bergidig ngeri dan memegang erat tubuhnya "Itu karna.... Seeorang telah memperlakukan ku dengan kasar" jelas Elizha tetlihat trauma.
Gabvin pun merasa penasaran "Apakah kamu sudah di lecehkan seseorang?" tanya Gabvin intrents.
"Eh... Aku tak ingin membahasanya" Elizha menggeleng-gelengkan kepalanya terlihat penuh emosi.
Apa yang sudah terjadi... Akan ku cek sendiri. Bathin Gabvin.
*
*
*
Rasa penasannya di hati nya membuat Gabvin rela menyewa jasa sang detektif untuk mencari informasi terkait kejadian yang membuat Elizha tak sadarkan diri.
Ia hanya tinggal menunggu informasi dari sang detrktif tersebut.
"Elizha... Kamu mau makan?" Tanya Gabvin.
"Nggak... Aku nggak lapar" Jelasnya.
"Tapi, dokter bilang kamu harus jaga kesehatanmu... Kasihan nanti bayimu, jika kamu terus saja mogok makan begini" Ujar Gabvin mengingatkan.
"Kenapa? Ini bukan urusanmu..." Tegas Elizha menoleh ke arah Gabvin dan menghantamnya dengan kata-kata yang begitu menyakitkan untuk Gabvin.
"Tapi aku sangat perduli padamu... Meski aku bukan suami atau pacarmu sekalipun..." Imbuh Gabvin menahan sebuah gejolak yang timbul dari ke acuhan wanita di depannya itu.
"Maaf... Tapi aku tak membutuhkan belas kasihmu. Kamu boleh pergi..." ujar Elizha.
"Tak bisakah aku menjagamu beberapa saat lagi? Aku tak bisa pergi begitu saja... Aku bisa di pecat nanti" hanya Alasan itu yang bisa menguatkan posisi Gabvin untuk selalu ada di samping Elizha.
Kenapa pria ini sama sekali tak mengindahkan mulut pedasku ini. Seharusnya dia pergi... Makin lama dia di sini. Maka Gery makin tak perduli lagi padaku. Bathn Elizha meracau.
Akhirnya, mau tak mau... Elizha tetap juga di paksa menakan makanan yang tak enak itu. Gabvin sungguh senang ketika ia bisa menjaga Elizha bersama senyumannya.
__ADS_1
Bersambung...