ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Sudah terlanjur


__ADS_3

Gery menggendong Angel menuju ruang tengah dan mendudukannya di sana "Aku mau ke kamar saja" pinta Angel makin manja, dan enggan turun dari rangkulan tangan Gery yang menurut Angel sangat hangat dan nyaman.


Apa-apaan dia... Sungguh merepotkan. Bathin Gery.


"Nak Gery, antar saja tuan putri ku ke kamarnya..." pinta Papa Angel. Gery makin tak senang dan memilih menolak, tapi... Ia tak ingin papa angkatnya kecewa pada calon menantunya ini.


"Baiklah tuan putri... Aku akan segera mengantarkan mu ke kamarmu" jawab Gery lugas. Angel tersenyum bahagia dan bergelendong di leher Gery begitu erat. Ia menempelkan daun telinganya di dada kekar pria tersebut.


Dug! Dug! Dugh... Angel menyimak dengan jelas suara detak jantung pria tersebut.


"Apa kamu sedang gugup sayang?" tanya Angel memulai basa-basi. Gery mulai berkomentar "Kenapa kamu tahu?" Balik tanya Gery. Angel tersenyum riang "Sebab jantungku begitu kencang saat ada aku di sisimu... Apakah kamu juga begitu pada ku?" tanya Angel menatap nanar Gery intrents.


"Hmmm... Kamu memang pintar" Jawab Gery dengan seyuman menyunging.


"Makasih... Calon suamiku yang baik hati..." puji Angel seraya mencium pipi Gery lembut.


Cup!


Sial... Dia mulai berulah lagi... Bathin Gery.


Sampailah di kamar Angel, Gery masuk dan mulai melangkah menghampiri matras mewah berwarna pink milik tuan putri tersebut. Gery menurunkan tubuh rentan nya pelan dan merebahkan begitu saja. Gery lekas menarik selimutnya dan seketika menyelimuti tubuh mungil wanita tersebut.


"Istirahatlah... Karna besok kamu pasti akan kelelahan" pinta Gery menyarankan.


"Baiklah pangeran ku..." Balas Angel. Gery pun berdiri tegak di depan Angel dan menatapnya dingin. Angel membalas tatapan Gery yang sedikit dingin padanya itu.


"Aku keluar ya...?" Gery pamit, tapi Angel malah memegang pergelangan tangan Gery dan menariknya pelan.


Gery kembali menoleh ke arah Angel dingin "Ada apa? Apakah kamu mau minum?" tanya Gery refleks. Angel malah menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa maumu?" tanya Gery kembali bertanya pada wanita di depannya itu.


"Aku ingin kamu tetap di sini dan menjagaku, seperti saat aku dalam masa-masa sulitku di rumah sakit..." Pinta Angel. Gery tak habis pikir oleh permintaan Angel yang menurutnya amat tak penting dan merepotkan itu.


"Apakah aku harus berdiri di sini sepanjang malam dan menatap mu hingga terlelap?" tanya Gery sinis.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak sejahat itu kok... Kamu cukup duduk di sampingku dan menjagaku hingga aku terlelap. Setelah aku puas menatap mu kamu boleh pergi kok..." Jelas Angel belum melepas tangan Gery.


Sungguh merepotkan. Bathin Gery menggumam kesal.


"Baiklah... Aku akan ambil kursi dulu dan duduk di depanmu malam ini, hingga kamu terlelap" Jelas Gery.


Angel mengangguk dan mulai melepaskan tangannya yang sedari tadi melekat erat di pergelangan tangan Gery.


Gery melangkah ke arah kursi di kamar Angel dan meletakkan nya di samping ranjang Angel.


"Aku tak bisa bercerita atau memberimu sebuah dongeng sebelum tidur... Jadi, jangan meminta hal-hal aneh seprti itu..."Ujar Gery masih dingin menatap Angel.


Angel mengangguk dan kembali mengeluarkan tangannya untuk memegang tangan Gery.


"Aku disini, kenapa kamu masih memegang tanganku? Sebaiknya kamu tutupi lenganmu dengan selimut agar kamu merasa hangat dan nyaman" Ujar Gery. Angel tetap saja menggelengkan kepalanya.


"Tidak..." Ucap Angel tersenyum tipis.


"Apa maksudmu tidak?" Tanya Gery mengerutkan dahinya.


"Begitu ya... Baiklah, suka-sukamu saja... Toh sekarang atau nanti, kamu akan tetap memegang tanganku seperti ini" Komen Gery pasrah tampaknya.


"Makasih... Selama ini, aku selalu merepotkanmu... Aku hanya bisa berkata terimakasih saja..." Jelas Angel masih menatap Gery dengan rasa bahagia yang tak bisa di utarakan dengan kata-kata.


Perlahan, suara dentikan jarum jam seakan menghibnotis mata Angel yang enggan terpejam itu. Mata Angel seakan tak ingin luput dari pandangan indahnya ketika menatap Gery yang saat ini duduk di sampingnya itu.


"Tidurlah... Aku akan tetap ada di sini hingga kamu benar-benar terlelap dan merasa nyaman" Pinta Gery. Beberapa menit kemudian, Angel pun memejamkan matanya dan terlelap seketika itu. Gery yang berencana keluar dari ruangan tersebut setelah Angel tidur pun malah ikut terlelap di kursi keras yang tadi di bawanya.


Gery terlelap dalam keadaan terduduk dan kepalanya menyender ke sebelah bantal yang Angel tiduri.


Mereka pun terlelap dalam satu ruangan... Jika Angel tahu saat ini Gery tidur bersamanya, hatinya pasti akan sangat bahagi..


***


Di rumah sakit terdekat...

__ADS_1


Gabvin panik setelah Elizha masuk ke ruangan Ugd... Sedangkan Kelvin dia hanya duduk tenang seakan terdiam dalam lamunannya, wajahnya pun tampak pucat pasi sekali.


"Kakak... Kenapa kamu sangat panik begitu? Apakah kamu sangat mencintainya sampai-sampai sikapmu sungguh mengesalkan begitu...?" Cecah Kelvin mendelik kasar ke arah kakaknya.


"Dik, tolong jelaskan? Kenapa wanita itu sampai pingsan dan bagai mana kamu bisa tahu kalau wanita itu tak sadarkan diri?!" tanya Gebvin panik, Gabvin menatap Kelvin seksama saakan penuh kecurigaan.


"Aku juga tak tahu... Aku kemari bersama Karin. Lalu tiba-tiba aku ingin ke toilet dan melihatnya terkapar di lantai. Aku hanya ingin menolongnya saja kok" Jawab Kelvin dalam kebohongan. Saat pertanyaan itu di lontarkan, keringat Kelvin bercucuran tak karuan.


"Kenapa dia bisa sampi ceroboh begitu sih..." Gumam Gabvin.


"Sudahlah kakak... Sebaiknya kamu duduk, dari pada mondar mandir tak karuan begitu..." Pinta Kelvin gugup.


"Heh...! Apa yang harus ku lakukan..." Gabvin berdengus kesal.


"Kakak... Ayo duduk, jika kamu terus khawatir begitu... Nanti malah kakak yang jatuh sakit" Jelas Kelvin memperingatkan.


"Akan ku tunggu sampai dokter yang memeriksanya keluar..." Balas Gabvin masih sangat khawatir.


"Kamu sangat menyayanginya ya kakak?" Tanya Kelvin lesu seraya membuang wajahnya. Gabvin pun mulai menyimak kalimat itu dan mulai menatap Kelvin seksama.


"Apakah kamu cemburu?" tanya Gabvin mulai duduk di samping adiknya itu.


Kelvin mulai terlihat muram saat kakaknya bertanya begitu "Entahlah... Yang jelas aku benci pada mu saat ini kak..." Balas Kelvin seakan enggan menatap lawan bicaranya itu.


"Lalu kenapa kamu sampai putus dengannya? Apakah karna dia adalah wanita yang kasar?" Tanya Gabvin.


Wajah pucat itu mulai memerah dan sebutir demi sebutir kristal basah menetes di pelipisnya "Tak usah di jawabpun aku sudah tahu..." Ucap Gabvin menghentikan introgasinya pada adiknya itu.


"Ini semua salahku kak. Malam itu aku tak sadar jika telah tidur bersama wanita lain... Bahkan aku sendiri tak tahu jika Karin akan menjebakku seperti itu..." Jelas Kelvin bersama tangisannya yang begitu menderita.


"Hem... Kamu sungguh teledor sekali... Elizha sungguh tak beruntung..." Ujar Gebvin. Malam itu, Kakak beradik itu tampak begitu dekat, meski sebenarnya Gabvin masih menjauhi Kelvin dengan alasan untuk membuat Kelvin mandiri. Gebvin pun tak bisa lakukan apapun selain memeluk adiknya dan membiarkannya menangis sejadi-jadinya.


Aku sungguh menyesal kakak... Bisik Kelvin dalam tangisannya.


"Bersabarlah... Sekarang memang sudah terlambat, nasi memang sudah menjadi bubur dan tak akan ada yang berubah... Kamu hanya bisa menyesalinya dan berusaha berubah menjadi pria yang bertanggung jawab"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2