ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Hidup yang normal


__ADS_3

***


Pagi mulai menyapa bersama sinar terangnya yang begitu cerah dan hangat... Rio sengaja membuka tirai hingga sorotan sang cahaya mentari seakan masuk ke dalam netra Elizha yang masih tertutup itu "Nghhhh..." Ringis Elizha menghalau cahay tersebut denga tangan kirinya.


"Bangunlah... Segera bersihkan dirimu. Kita makan pagi" Jelas Rio segera beranjak dari kamar tersebut.


"Apakah ini sudah pagi?" Tanya Elizha mulai membuka selimut dan duduk dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Tentu saja... Lekas bersihkan dirimu dan ganti pyama malammu..." Tambah Rio seraya pergi dari kamar Elizha. Elizha mulai perlahan membuka matanya yang sedikit malas itu, namun... Ketika ia mulai sadar dengan penglihatannya, betapa kagetnya Elizha... sampai-sampai bola matanya memutar saat menelisik keadaan ruangan yang sangat berbeda tersebut "Di mana ini?" Tanya Elizha sedikit terpekik.


Ia mulai bangun dan sadar total "Oh tuhan. Di mana ini? Kamara siapa ini? Apakah aku salah kamar lagi?" Umpatnya mulai mencari kakaknya.


"Kakak..." Teriak Elizha seraya menekan Headle lalu membukanya. Setelah pintu kamarnya terbuka, ruangan lainnya yang tampak pun amatlah berbeda "Astaga... Dimana ini? Jangan sampai aku salah masuk kamar lagi... tunggu-tunggu, semalam... Aku pulang bersama Gabvin dan kakakku. Apakah mereka menginap di hotel ya?" Umpat Elizha masih belum paham pada situasinya saat ini, apa boleh buat tak ada yang menjelaskan tentang keadaannya saat ini.


Hingga Rio kembali menyeru Eizha untuk yang ke tiga kalinya "Elizha. Apakah kamu masih tidur?" Tanya Rio cemas.


Rio kembali membuka kamar Elizha "Elizha! Kapan kau akan bangun?" Ucapnya seraya masuk "Ah... Kakak" Pekik Elizha.


"Oh. Kamu sudah bangun ya... Ayo turun, kita sarapan dulu" Ucap Rio hendak kembali keluar kamar Elizha.


"Eh. Tunggu kak! Ku pikir aku salah masuk kamar lagi... Semalam, apa yang terjadi? Kenapa kita tak menginap di apartement kakak?" Tanya Elizha muram.


Rio tersenyum "Hemmm kamu memang polos dan bodoh. Jangan banyak berfikir lebih baik kita sarapan dulu..." Tambah sang kakak.


"Uh... Padahkan hanya menjelaskan saja, kenapa dengan kakak... Lagi pula aku tak sebodoh yang kakak pikirkan" Wajah Elizha mulai merengut ketika Rio berkata dirinya terlalu bodoh.


"Jangan cemas, kita tak akan kembali ke apartement tersebut. Kakak sudah menjualnya dan apartement tersebut takan pernah membawa kita kembali ke masa paling berbahaya dan sulit lagi" Jelas sang kakak seraya pergi dari hadapan Elizha.


Blam... Pintu tertutup, jawaban sang kakak malah membuat kepala Elizha pusing "Berbahaya dan sulit?" Bisik Elizha.


"Apa maksudnya, Gery tak akan pernah kembali mengganggu kami?" pertanyaan itu mulai memutar di otaknya. Ia mulai menatao perutnya yang sebentar lagi menginjak usia lima bulan, ia pun mengelusnya pelan seraya hanyut dalam lamunan yang tak menentu.

__ADS_1


"Elizha. Cepat turunlah..." Suara sang kakak kembali terdengar dan membuyarkan lamunannya. Elizha lekas berbenah...


"Baik kakak... Aku akan datang" Balas Elizha, setelah ke kamar mandi dan membasuh wajah, ia lekas mengganti pakaian nya dengan pakaian yang ada di lemari kamar Elizha. Ia mulai keluar kamarnya, suasana asing mulai tampak ketika netranya menyimak sekeliling...


"Di mana kakakku menyahut" Ruangan yang luas dan penuh dengan sekat mulai membuat Elizha bingung.


Ia mulai melangkah perlahan, dan mencari suara sang kakak yang mulai hilang tak terdengar lagi "Kakak!" Seru Elizha masih melangkah di sebuah ruangan yang begitu asing. Nampaknya apartement sang kakak kali ini sungguh luas dan di penuhi barang-barang antik yang cukup exsotis. Langkah Elizha mulai terhenti di sebuah ruangan yang cukuo tak asing baginya. Ruangan tersebut tampak seperti kantor minimalis dalam rumah, seperti yang ada di kediaman Gery. Pintu ruagan tersebut sedikit terbuka, hingga Elizha pun mengintif di sela pintu yang sedikit terbuka itu. Di lihatnya, seorang pria tengah berkutat di balik layar monitor dengan beberapa berkas menumpuk di samping kiri dan kanannya.


Siapa itu?" Bisik Elizha masih memastikan pria dengan kacamata yang masih berkutat di balik monitor sebuah komputer. Saat Elizha ingin memastikan pria tersebut, Rio malah menepuk pundak Elizha "Sedang mengintif apa? Dasar mesum,,," Tepuk Rio membuyarkan titik fokus Elizha.


"Astaga naga!" Pekik Elizha segera menoleh ke arah Rio.


"Hem... Pagi-pagi sudah mengintif saja, dasar mesum..." Umpat Rio sedikit terkekeh.


"Ihhh... Bukan mengintif, hanya kebetulan lewat dan..." Elizha masih kebingungan dengan alasan yang akan ia bual itu.


"Dan...?" Tanya Rio menggoda adiknya.


"Jadi..." Rio menunggu alasan Elizha yang bertele-tele tersebut seraya menggulung lengannya di perutnya.


"Jadi... Aku mencari kakak karna lapar, ini hanya ketidak sengajaan. Kenapa kakak mempersulitku" Tanya Elizha marah.


"Baiklah... Kalau begitu, pergilah ke ruang makan... Kita akan sarapan pagi" Jelas sang kakak, Elizha mengangguk dan masih terdiam di depan sang kakak "Apa lagi... Cepat pergi ke ruang makan" Pinta Rio mengulang.


"Mmmh anu... Sebenarnya aku tak pamiliar dengan lingkungan asing ini. Jadi aku tak tahu kemana aku harus melangkah, jadi... Bisakah kita pergi bersama kak?" Tanya Elizha merengek.


"Aish... dasar manja, tunggulah... Kakak akan menyahut seseorang" Ujarnya seraya masuk ke dalam ruangan yang Elizha intif tadi.


Tok! Tok!


"Masuk..." jawab seseorang, suara tersebut membuat Elizha merasa mengenalnya.

__ADS_1


"Tuan... Sarapan sudah siap, mari makanlah terlebih dahulu. Lagi pula ini adalah hari libur, apakah anda ingin keluar sebentar?" tanya Rio.


"Aku tidak akan makan hari ini... Kalian duluan saja" Jawabnya.


"Apakah anda ingin saya mengantarkan camilan kemari?" Tanya Rio.


"Tidak perlu, aku tidak lapar..." Jawabnya masih sibuk mengetik keyboard di hadapannya.


"Oh. Baiklah jika anda belum berkenan, lagi pula... Masakan Elizha tidak begitu nikmat" Ucap Rio seraya mundur dari hadapan Gabvin yang masih sibuk itu.


"Apa?" Gabvin mulai menghentikan kesibukan jemarinya.


"Ah... tidak bukan apa-apa" Rio sedikit mengembangkan pipinya, nampaknya usahanya berjalan mulus sejauh ini.


"Tunggu, aku akan mensave data dulu..." Gabvin lekas meletakan kacamatanya dan mulai berdiri "Ayo. Kita sarapan dulu, lagi pula perutku sudah lapar" Ujar Gabvin menghampiri Rio.


Tadi dia bilang tak ingin makan karna sibuk, hanya mendengar nama adikku saja seleranya jadi meningkat. Sungguh pria yang tak punya pendirian. Bathin Rio menggumam.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Rio..." Tanya Gabvin menepuk pundak Rio.


"Ah. Anda terlalu cemas, saya hanya sedang menunggu anda" Jawabnya.


"Ayo..." Gabvin melangkah lebih dulu hingga keluar dari ruangannya sebelum Rio.


Klek! saat pintu terbuka, netranya di suguhkan oleh sosok wanita yang selalu membuatnya rindu "Elizha..."Bisik Gabvin. Elizha pun mulai mendonggakan wajahnya yang sedari tadi menunduk ketika menatap kakinya yang berpijak di lantai marmer kokoh.


"Ga-gabvin... Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Elizha dengan nanar yang sungguh kaget bukan kepalang.


Mereka saling bertatapan kaget, Elizha kaget karna tiba-tiba bertemu dengannya. Sedang Gabvin kaget karna tak terbiasa dengan ke hadiran Elizha di kediamannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2