
***
Polisi menangani semuanya saat itu, Tuan Arga dan Colle juga beberapa anak buanya yang memegang senjata pun mulai di ringkus para polisi. Lalu, Rio dan Gabvin akan datang ke persidangan saat semua bukti telah terkumpul sesuai laporan hukum yang mereka berikan kepada para polisi.
Gabvin menjelaskan hal buruk pada Rio. Hinga Rio pun datang ke kamar yang membuat Elizha bersembunyi "Tok! Tok!' Dua kali ketukan pintu, Rio pun masuk "Elizha kamu sedang apa? Jangan berendam terlalu lama nanti kamu bisa masuk angin" Ujar Rio menghampiri.
"Kakak kamu di sini?" Tanya Elizha mendonggakan wajahnya ke arah kakaknya. Handuk yang di berikan Gabvin telah basah, Rio pun mulai memberikan handuk baru oada Elizha "Pakailah ini... Nanti kamu malah akan sakit lagi dasar bodoh" Rio mengumpat seraya melempar handuk tersebut.
"Celatlah bangun. Aku akan menunggumu di luar..." Pinta Rio. Elizha mulai menyeru kakaknya "Kakak... Apakah Gabvin masih ada di luar?" tanya Elizha. Rio menoleh kearahnya "Ya. Ada apa?" Ucap Rio. Elizha menunduk "Bisakah, kakak suruh dia pergi... Aku sedang tak enak badan jadi tak mau bertemu dengannya" Jelas Elizha malu-malu. Rio mulai menyungingkan bibirnya seraya berdengus "Heh. Kamu memang aneh. Bertindak seenaknya pada penyelamatmu... Aku sungguh tak paham" Umpatnya seraya pergi.
"Penyelamatku... Yang benar saja. Dia sudah membuatku malu hingga aku ingin mengubur wajahku ke dasar bumi...Aaahhh bagai mana ini?" gumam Elizha menutup wajahnya. Rio mendengarnya dan mulai menahan tawanya "Elizha cepat keluar dari Bathroom, jika tidak aku akan meninggalkanmu di sini..." Teriak Rio.
__ADS_1
"Aah baik kakak aku akan berbenah dahulu" Balas Elizha mulai keluar dari bathtub.
Rio keluar dari kamar utama tuan Arga dan menghampiri Gabvin "Terimakasih..." Ucap Rio.
Gabvin menyungingkan bibirnya "Untuk apa?" Tanya Gabvin menatap Rio seraya tersenyum padanya "Terimakasih, Karna kamu sudah mau memperhatikan adikku. Meski adikku bukan wanita yang sesuai untuk kamu cintai..." Jelas Rio menepuk pundak Gabvin seraya pergi berlalu.
"Aku akan lakukan peranku hingga akhir hidupku. Jadi kamu jangan khawatir..." Jelas Gabvin memantapkan hatinya.
Gabvin pun menunggu di luar hingga Elizha keluar. Tapi, Elizha masih belum keluar juga, akhirnya Gabvin pun mulai mengintip untuk melihatnya. Eh ternyata Elizha berdiri di depan pintu keluar dan mendengarkan percakapan antara Gabvin dan Rio. Hingga membuatnya tambah malu. Ia masih terbalut handuk yang menutupi pakaiannya yang bash itu.
Gabvin masuk dan mulai melangkah ke matras lalu menarik selimut yang ada di atasnya dan mulai membuntal Elizha dengan selimut itu. Elizha hanya bisa menunduk dan tak ingin menatap Gabvin.
__ADS_1
Usai membungkus Elizha Gabvinpun lekas menggendong wanita tersebut.
"Akhhhhh!" Elizha terpekik saat Gabvin menggendongnya.
"Apakah kamu akan terus berdiri di sini... Setidaknya kamu harus segera pulang ke rumah. Apakah kamu tak rindu?" Tanya Gabvin. Elizha sama sekali tak bisa menjawab satupun pertanyaan Gabvin. Ia sungguh malu hingga tak bisa menghadapi situasi tersebut.
Sampailah di lantai bawah... Para polisi masih berkutat mencari bukti dan menyeret seluruh benda yang ada di tempat tersebut.
Elizha dan Gabvin mengebaikan hal-hal tersbut dan lekas melanjutkan langkah mereka menuju mobil yang telah di parkirkan Rio.
Malam kelam paling menakutkan bagi hidup Elizha pun mulai berakhir... Kini, Elizha bisa benar-benar tidur lelap tanpa harus memikirkan apapun yang mengganggunya lagi. Tidak Gery dan tidak juga tuan Arga... Semua akan terhempas seiring berjalannya waktu.
__ADS_1