
***
Grep! Tangan Elizha di pegang erat hingga ia tak bisa melarikan diri "Satukan belanjaanuya dengan yang tadi di bayar terlebih dahulu..." Pinta pria itu.
"Oh. Baiklah..." Kasir pun menaruh belanjaan yang Elizha pesan tadi. Lalu pria itu menyeret Elizha ke suatu tempat.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku! Gabvin di mana dia... Gabvin!" Teriak Elizha.
***
Gabvin mulai keluar dari toilet dab lekas melangkah kembali ke tempat di mana Elizha berbelanja "Gawat. Wanita itu bisa membunuhku jika terlalu lama... Coz, tagihannya kan aku yang bayar. Celaka dua belas nih" Ia lekas melangkah lebar ke area di mana Gabvin meninggalkannya. Namun di persimpangan jalan. Ia malah menabrak seseorang "BRUKKK!"
"Kyaaaa!!" Teriak seorang wanita yang terhempas dan jatuh. Seluruh isi dalam tasnya berhamburan keluar dan Gabvin pun bimbang. Antara berlari menuju Elizha, atau membantu seoarang wanita yang ia tabrak tadi "Ah... Nona maaf..." jelas Gabvin seraya membantu wanita yang terhalang wajahnya oleh rambut yang berponi.
"Ehhh... Suara anda terasa familiar tuan..."Ujar wanita itu. Gabvin pun merespon dan lekas menatap wanita tersebut "Ah. Ia? Apakah maksudmu suara ku?" Tanya Gabvin pada wanita itu.
Saat keduanya terpaut satu sama lain... Gabvin sungguh kaget hingga matanya membulat sempurna.
"Yasmin...?" Tanya Gabvin menunjuk wanita tersebut.
"Hmmm... Ku pikir kamu sudah tak mengenalku..." Pekik Wanita itu.
__ADS_1
"Hem. Hampir lupa sih... Kamu jadi pangling" Jelas Gabvin.
"Hm.. Apakah itu pujian untukku?" Tanya Yasmin. Gabvin membantunya berdiri.
"Yah begitulah. Kamu pintar merawat diri hingga jadi cantik begini?" Ujar Gabvin melontarkan pujiannya.
"Oh ia. Lagi apa kamu di sini Vin?" Tanya Yasmin.
"Oh. Aku lagi cari perlengkapan bayi..." Jelas Gabvin. Yasmin tercengang "Oh. Emang kamu udah nikah ya sekarang?" Tanya Yasmin tercengang.
"Ehmm..." Gabvin mengangguk. Yasmin cemberut "Oh. Gitu ya?" tanya Yasmin kecewa.
"Udah dulu ya. Cewekku nunggu di depan..." Jelas Gabvin mencari alasan. Lagi pula saat ini, Gabvin sungguh khawatir pada Elizha.
"Nggak tahu nih Vin. Kayaknya kakiku terkilir deh" Ucap yasmin mengelus pergelangan kakinya.
Sial. Padahal Elizha menungguku di kasir. Bisa marah dia dan bakalan males lagi jalan sama aku. Bathin Gabvin menggumam.
"Aku anter ke klinik ya?" Panik Gabvin.
"Tapi, nanti istrimu marah Vin..." Ujar Yasmin.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok. Cuman sebentar ini..." Gabvin membantunya berdiri.
"Aahhk... Pelan-pelan, sakit Vin..." Jelas Yasmin.
"Kamu bisa jalan kan?" tanya Gabvin terburu-buru.
"Kayaknya. Nggak deh Vin... Lihat tuh, bengkak kayak gitu. Gimana mau jalan coba..." Gumam yasmin mencari perhatian.
"Baiklah... Terpaksa aku gendong kamu..." Ucap Gabvin seraya mengangkat tubuh Yasmin dan berlari menuju klinik.
Heh. Nampaknya dia masih sayang deh sama aku. Terlihat dari exspresinya yang bgitu khawatir. Siapa coba yang berani-beraninya nikahin mantan aku. Gak rela seumur hidup... Akan ku kutuk wanita yang nikah sama Gabvin.Bathn Yasmin menggumam.
Sejak ia bertemu lagi dengan Gabvin hingga saat ini. Yasmin belum memalingkan wajahnya sama sekali.
Di persimpangan Lift, Elizha melihat Gabvin dari kejauhan. Ia ingin teriak dan meminta tolong. Tapi, melihatnya yang banjir keringat kala menggendong Yasmin membuat Elizha menahannnya. Ia berfikir, Bahwa Gabvin akan terkena masalah jika ia menyapanya saat sedang bersama kekasihnya.
"Kak Yasmin?" bathin Elizha. Gabvin melintas begitu saja tanpa menyadari bahwa Elizha kembali dalam masalah besar. Elizha di tarik paksa oleh Ryian Kelvin menuju ke lift.
Suasana terasa menakutkan, sama menakutkanya ketika Kelvin mencoba melecehkannya di sebuah lift kala itu.
Tolong! Tolong! Tolong aku!! Pekik bathin Elizha.
__ADS_1
Bersambung...