
"Liz... kamu baik-baik saja...?" Tanya Gabvin dengan suara paraunya. Elizha masih terdiam dalam rangkulan Gabvin. Matanya seakan membulat sempurna dengan tatapan yang begitu hampa dan kosong.
"Lizha...? Zha..." Gabvin menggoyangkan pundak kurus wanita itu. Tapi wanita di depannya itu masih tampak syok.
"Keterlaluan...!!" Bentak Gabvin menatap punggung Gery yang seakan hendak menghilang.
Saat sebuah emosi membludak di dada Gabvin seakan meluap ke luar, tiba-tiba suara isyak tangis pun terdengar "Hiks..." Suara itu menepiskan tatapan Gabvin yang sedari tadi menyorot ke arah Gery. Hingga Gabvin menoleh ke arah wanita di sampingnya itu.
"Hiks..." Elizha tampak sesegukan dalam sebuah isyak tangisnya.
"Lizha... Kamu... Apakah baik-baik saja?" tanya Gabvin ikut pilu, ketika wanita tersebut bersedih hati, entah apa alasannya.
"Aku tak apa-apa..." Bohonya seraya menepis titisan basah di pelipisnya itu.
"Benarkah?" Tanya Gabvin ragu atas jawaban wanita tersebut.
"Biarkan aku sendiri... Aku ingin istirahat..." Jelas Elizha segera menepis tangan Gabvin yang sedari tadi melingkar di pundaknya.
"Tapi Zha..." Gagap Gabvin menghelan napas beratnya.
"Jangan ikuti aku..." Jelas Elizha mulai melangkah menjauhi Gabvin dan berhambur pergi menuju arah kamarnya. Nampkanya Elizha belum paham atas kata-kata Gery yang menurutnya begitu menyakitinya.
__ADS_1
Gabvin hanya bisa menatap Elizha dengan nanar yang sendu... Ia mengepalkan tangannya seakan kesal, kesal pada dirinya sendiri. Karna ia tak bisa lakukan apapun untuk membuat Elizha selalu baik-baik saja.
"Sial! Payah! Gery... Manusia macam apa kau sebenarnya..." Gabvin mendengus kesal dan memutar tubuhnya ke belakang, lalu ia pun melampar tinjunya ke arah Yan yang saat itu berada di belakang Gabvin.
SYUUUUTT!!!
Kepalan tangan itu berhenti beberapa mili di hadapan Yan. Yan hanya bisa terlihat tenang ketika menghadapi kemarahan Gabvin yang membludak itu.
"Yan... Beri tahu Gery, bahwa aku ingin bicara empat mata dengannya!" Jelas Gabvin, raut wajahnya sudah terbaca oleh Yan. Yan yang sedari tadi tampak dingin dalam menyikapi sikap Gabvin pun mulai menggerakan tangannya dan menekan kacamatanya pelan "Apakah ada hal penting? Hingga anda perlu berbincang empat mata dengan tuan besar?" Tanya Yan masih tenang dan dingin.
"Apapun alasanku... Penting atau tidak, kau tak perlu tahu...!" Bentak Gabvin mulai mengatur napasnya.
"Tuan Gabvin... Jika boleh saya sarankan sesuatu" Ujar Yan. Gabvin tersentak dan mulai meboleh kembali ke arah Yan.
"Tuan Gabvin pasti sudah tahukan. Posisi Nona muda di Masion ini?" Tanya Yan lugas. Gabvin terdiam dan mematung menatap penjelasan Yan.
"Jika anda sudah paham... Buanglah perasaan itu. Karna anda tak akan mungkin bisa melampaui tuan besar. Itu hanya saranku..." Celetuk Yan seraya pergi berlalu dari hadapan Gabvin. Gabvin makin marah, tangannya makin mengepal erat dan tatapannya makin merah. Nampaknya amarahnya makin meledak-ledak.
Gabvin terdiam ketika Yan berkata demikian... Malah Gabvin mulai diam seakan membisu seketika itu.
"Lupakanlah... Perasaan itu. Karana semua tampak jelas, Jangan sampai... Persahabatan kalian hancur gara-gara sebuah pemberontakan dalam hati anda. Tuan Gabvin..."
__ADS_1
Gery... Gery! Apa yang harus aku lakukan untuk membuat sadar! Bathin Gabvin menggumam.
***
Area taman belakang masion...
"Sayang... Apakah kamu bahagia?" tanya Angel lembut. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kekar Gery, seraya tangannya melingkar erat di sikut Gery. Mereka duduk di satu kursi yang sama seraya menatap indahnya taman belakang masion tersebut.
"Tentu..." Jawaban singkat dan dingin tanpa senyuman itu berhasil membuat Angel bahagia.
"Benarkah? Syukurlah..." Angel tersenyum lega seraya mengeratkan dekapannya.
"Apapun yang membuatmu bahagia... Aku akan sangat senang' Tambah Gery makin menbuat Elizha mencintainya.
Heh. Apapun yang bisa membuatku berkuasa. Maka... Akan aku lakukan, meski semua itu harus mempertaruhkan nyawaku. Bathin Gery.
Kebahagian Angel, berbanding terbalik... Hati Gery yang egois itu. Amat di penuhi obsesi kekuasaan... Dan harapan Elizha dari Gery sama sekali tak mungkin terpenuhi, bahkan akibat keteledoran Gery yang menyerahkan kepercayaan penjagaan intrens Elizha .. Gabvin malah terjerumus dalam kisah cinta yang Tabu. Dan membuatnya tersiksa...
Akankah ada hal baik diantara kisah cinta yang rumit itu...
Simak episode berikutnya...
__ADS_1
Maaf jarang update... Sekarang autor mulai update lagi...