
***
Gabvin yang panik membawanya ke rumah sakit, gaun putih bersih milik Elizha ternoda karna lumuran darah segar yang terus saja membasahinya "Sakit..." Erang Elizha. Gabvin memeluknya dan berusaha menenangkannya "Bertahanlah sayang. Kamu akan baik-baik saja..." Imbuh Gabvin menenangkan wanita itu.
Sepanjang perjalanan Elizha terus mengerang ke sakitan hingga Gabvin membentak sang supir karana panik "Pak! Cepatlah! Carilah rumah sakit terdekat di area sini!" Bentaknya. Wajah Cantik Elizha jadi begitu menyedihkan, peluh bercucuran kala ia harus berusaha menahan rasa sakit di perutnya itu.
"Hfuh! Hfuh! Duhhh... Sakit!" Erangnya Gabvin makin panik hingga tak lama kemudian, sang supir menghentkan mobilnya tepat di front ruang IGD sebuah rumah sakit kecil "Tuan... Aku akan membukakan pintu mobil anda tunggulah" Jelas sang supir.
Sang supir turun dari mobil lalu lekas laporan pada petugas igd tersebut dan mereka datang membawa kursi roda untuk Elizha. Sang supir membukakan pintu mobil dan Gabvin pun turun dengan menggendong Elizha "Cepat tangani dia dokter!" Pekik Gabvin panik. Gabvin mendudukan pelan tubuh Elizha di kursi roda tersebut. Lalu para petugas medis pun mulai mendorong kursi roda itu menuju ruang igd.
Gyuut! Saat para petugas mendorong, Tangan Elizha malah memegangi pergelangan tangan Gabvin "Aku takut..." Ucapnya berharap Gabvin tak meninggalkannya saat itu.
"Sayang... Aku akan tetap menemanimu" Gabvin lekas ambil alih atas kursi roda itu dan mendorongnya menuju ruang tindak "Tuan... Anda sebaiknya tunggu saja di luar" Pinta sang suster.
"Tidak sus. Biarkan dia ada di sampingku, Aku takut jika sendirian.. Aku ingin dia menemaniku..." Pinta Elizha. Suster pun saling bertatapan dan mulai bertanya pada dokter yang ada di ruang tindak tersebut "Dok. Bagai mana ini?" Tanya suster.
"Nona... Anda harus di periksa dulu ya. Jika ada kontraksi yang berlebihan, suami anda akan kami panggil ke dalam untuk menemanimu..." Jelas sang dokter. Elizha menatap Gabvin dan berharap sebuah jawaban, Gabvin mengangguk dan Elizha pun lekas di bawa kedalam oleh para medis.
Beberapa saat kemudian...
Pintu pun terbuka "Dok bagaimana?" Tanya Gabvin panik, ia menghampiri sang dokter sigap setalah terus mondar mandir di depan kamar tersebut dengan nanar yang cemas.
"Istri anda akan melahirkan" Jelas sang dokter.
Gabvin tak percaya karna kandungan Elizha baru hendak menginjak usia tujuh bulan "Tapi mana mungkin dok. Usia kandungan nya baru menginjak tujuh bulan?" Gabvin tak percaya.
"Karna usia kandungan istri anda prematur... Kami akan segera melangsungkan proses bersalin, dan istri anda ingin anda menemaninya. Jadi silahkan ganti pakaian anda dengan pakain steril..." Jelas sang dokter. Suster menemani Gabvin untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Prematur... Apakah ini akan baik-baik saja? Bathin Gabvin menggumam.
Beberapa saat kemudian setelah berganti pakaian, Gabvin pun lekas masuk ruang tindak bersalin...
Elizha meringis, dan dokter yang menanganinya adalah seorang perempuan. Elizha di rebahkan di sebuah matras khusus ibu melahirkan. Ia di selimuti kain warna biru dengan kaki menyender ke sebuah tempat khusus lahiran. Sang dokter berkutat di area jalan lahir seraya memberi aba-aba "Sayang..." Gabvin sedih kala melihat keadaan Elizha yang begitu menderita karna akan melahirkan.
"Gabvin... Hiks hu hu rasanya sangat menyakitkan... Aku tak kuat!" Ringis Elizha beserta tangisannya.
"Tahan sayang... Aku ada di sampingmu sekarang. Berusahalah yang terbaik untuk anakmu" Pinta Gabvin membesarkan hati Elizha.
"Tarik napas... Lalu buang" Pinta sang dokter. Gabvin lekas menyender ke matras tersebut lalu melingkarkan tangannya dan meraih tangan kiri Elizha dan memegangi tangan kiri dan Kanan nya "Huhhhh... Haaaah" Elizha mulai menuruti para medis tersebut.
"Ya bagus... Terus lakukan... Dan tekan jika kami mengintruksikan hal tersebut" Jelas Dokter, Elizha mengangguk.
"Ayo sayang... kamu bisa" Gabvin terus menemani wanita itu meski badannya pegal dengan posisi seperti itu.
Gabvin lekas mencium kening Elizha Cup! Elizha mengarahkan netranya ke arah Gabvin, setelah kecupan di lepas... Gabvin tersenyum dan kembali menyemangati calon istrinya itu "Berjuanglah sayang... Berusaha yang terbaik. Ayo... Kerahkan tenangamu untuk proses bersalin mu ini. Yakinlah... Kamu bisa, demi anakmu... Berjuanglah" Pinta Gabvin. Peluh Elizha makin bercucuran kala perutnya yang makin sakit dan menjadi-jadi itu.
Ia sungguh tak tahan, sesaat tenaganya habis hanya untuk menekan si bayi "Sedikit lagi... Kepala bayi sudah terlihat..." Jelas sang dokter.
"Ayo sayang tekan lebih kuat lagi... Bayi mu akan segera lahir" Pinta Gabvin membah semangat untik Elizha.
"Hah! Hah! Dokter, aku lelah... Aku ingin tidur" Jelas Elizha sudah tak berdaya karna terlalu lama bergulat dengan waktu.
"Tuan. Buat istri anda tetap sadar... Jika terus berhenti, bayi bisa kehabisan napas karna terhimpit jalan lahir" Jelas sang dokter.
"Sayang... Ayo berusaha. Lihatlah rambut anakmu sudah hampir keluar... " Gabvin bahkan menatap area di mana kepala bayi hampir terjun ke luar. Ia bahkan tak takut atau merasa seram melihat lahiran ibu hamil untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Gabvin... Sepertinya aku harus ke toilet" Ucap Elizha.
"Kenapa?" tanya Gabvin.
"Karna aku ingin buang air besar..." Ucap Elizha meski malu hal tersebut harus di sampaikan.
Dokter memberi kode "Jangan" Dengan menggelengkan kepalanya.
"Jika ingin buang air... Di sini saja..." Balas dokter.
"Dokter tolong izinkan saya ke kemar mandi. Karna saya kebelet..." Elizha merengek.
"Anda sebaiknya menarik napas lagi. Bayi anda akan lahir, kepalanya sudah ada di atara luar dan dalam" Jelas sang dokter.
"Sayang! Tanda itu adalah salah satu pesan bayimu. Ayo tahan dan tekan lagi... Dia akan segera keluar" Jelas Gabvin.
Elizha tak punya pilihan lain, karna ia sungguh kebelet ingin ke toilet, hingga ia pun menarik napas panjang dan menekannya kuat-kuat "Ya! Bagus! Pintar! Sedikit lagi... Ya! Ya! Ya terus..." Teriak Dokter dan beberapa suster.
"Aahhhhhhhhh!!!" Elizha terpekik dan suara tangisanpun mulai terdengar...
Oak! Oak!
Gabvin merasa sangat puas... Ia lekas memeluk Elizha dan menciuminya "Selamat sayang... Kamu jadi seorang ibu sekarang" Ucap Gabvin memuji Elizha atas perjuangannya.
"Dokter... Ari-arinya sudah selesai di angkat, tapi masih ada lagi..." Ucap salah satu suster yang hampir menyelesaikan pekerjaannya.
"Masih ada satu bayi lagi" pekik sang suster panik kala melihat kepala sang bayi mula keluar dari jalan lahir. Hingga membuat Elizha dan Gabvin tercengang.
__ADS_1
Bersambung...