
***
Beberapa hari kemudian...
"Elizha ayolah cepat sedikit..." pinta Rio tergesa-gesa. Sekarang Rio adalah penerus perusahaan ayahnya Elizha. Ia mengurusnya dengan sangat baik, tapi untuk saat ini... Rio cuti karna ingin menengok si kembar.
"Tunggulah kakak. Akhir-akhir ini kamu jadi lebih bawel dari biasanya..."umpat Elizha.
"Hemmm... Sebaiknya percepat lah gerakanmu jangan lamban!" bentak kakaknya.
"Huuh!" Elizha mulai menghampiri sang kakak.
"Ayo..." Pinta Rio.
"Ia ia... ' Elizha lekas melangkah keluar. Rupanya Rio tergesa-gesa karna Angel sedang menunggunya di luar "Angel..." pekik Elizha menghentkan langkahnya.
"Elizha... Apa kabar, bolehkah aku ikut menengok si kembar?" Tanya Angel berharap. Angel sedikit lebih baik saat terlepas dari Gery. Ia jadi pintar merawat diri dan terlihat lebih cantik, wajah dan penampilannya sama persis saat Elizha bertemu dengannya pertama kali.
"Te-tentu saja..." Balas Elizha.
Akhirnya... Rio dan Angel juga Elizha mulai pergi bersama menuju rumah sakit. Di perjalanan...
Rio mengemudikan laju kendaraannya, sementara Elizha dan Angel duduk di kursi belakang "Bagai mana keadaanmu?" tanya Elizha.
"Aku sedikit lebih baik..." Jelas Angel menatap Elizha senang.
"Begitu ya..." Elizha menghelan napas lega.
"Kamu tak marah padaku?" Tanya Angel tiba-tiba.
"Marah? Kenapa harus marah?" tanya Elizha menatap intrents nanar Angel yang tampak ragu-ragu.
"Karna... sebelum aku menikahi Gery, kamu adalah istri pertamanya... Apakah kamu marah akan hal itu?" tanya Angel.
Elizha terbelalak dan sedikit malu "Ba-bagai mana kami tahu? Siapa yang memberi tahukan ini padamu... Oh astaga ini memalukan" Elizha membungkam mulutnya dan terlihat panik.
"Jangan begitu... Bukankah itu adalah masalalu" jelas Angel. Elizha mulai diam dan berkata "Benar juga. Oh ia, apakah kamu sudah bercerai dengan Gery?" tanya Elizha. Angel mengangguk "Ya. Surat cerei sudah di layangkan pihak kuasa hukum ku. Tapi, saat ini tak ada yang tahu kabar tentang Gery. Entah dia hidup atau mati.. Aku tak perduli" jelas Angel bicara apa adanya.
__ADS_1
Elizha merasa kasihan pada Angel, padahal sejak awal Angel selalu tulus mencintai Gery, tapi Gery tak sedikitpun membalas Cintanya Angel yang suci itu.
"Sebaiknya... Jangan terlalu berharap pada pria itu. Pria itu lebih baik pergi karna dia bukanlah pria yang bertanggung jawab..." Jelas Elizha.
"Kau benar..." balas Angel.
"Kalau kamu sungguh mencintai kakakku... Maka aku akan merestui hubungan kalian" Jelas Elizha. Sontak Angel terbelalak dan lekas memeluk Elizha "Terima kasih adik ipar!" Pekik Angel bahagia.
"Hei Hei. Apa yang kalian rundingkan. Kenapa tak melibatkan aku..." Imbuh Rio masih mengemudi.
"Jalan kan saja mobilmu dengan benar..." Jels Elizha tegas.
"Oh jahatnya..." gumam Rio.
"Cepatlah sayang. Aku sudah tak sabar ingin lekas menengok keponakanku..." Ucap Angel mesra. Elizha jadi kaku gegara Angel bicara begitu mesra pada kakaknya.
"Aku saja tak pernah bicara seperti itu pada Gabvin. Kenapa wanita ini mudah sekali memanggil sayang pada setiap orang ya" Bathin Elizha. Sedangkan Rio, ia jadi pendiam karna pipinya terasa terbakar oleh kata-kata manja Angel.
Sebaiknya aku lekas sampai di tempat si kembar (Rumah sakit). Bathin Rio menggumam.
***
"Ohh astaga imut sekali..." ucap Angel menunjuk tabung si bayi.
"Kenapa mereka bisa semugil ini sih Zha?" tanya Rio menatap si bayi dengan nanar yang begitu senang. Matanya berbinar kala menatap dua bayi imut nan lucu itu.
"Aku ingin satu boleh" pinta Angel memeles.
"Kau pikir ini anak anjing apa? Aku hanya akan memberimu sebuah pelukan dan tidak untuk di miliki" Jelas Elizha tegas.
"Jangan marahlah... Angel kan hanya bercanda..." komen Rio langsung menyelot ucapan Elizha yang terdengar pedas.
"Aku sangat suka bayi... Apa lagi mereka se imut ini" jelas Angel masih menatap tabung itu.
"Kalian bisa memilikinya kelak..." Ucap Elizha. Seketika raut wajah Angel berubah.
Apakah aku akan punya keturunan? Sedangkan kanker servic yang aku derita... Sungguh sangat menyakitkan dan menyiksaku. Apakah sungguh aku akan memiliki malaikat se imut mereka. Beruntungnya Elizha karana dia lahir dengan normal dan memiliki keturunan. Ia adalah seorang wanita yang sempurna. Bathin Angel menggumam.
__ADS_1
"Zha kapan anak-anak mu akan di bawa pulang" tanya Rio.
"Entahlah..." elizha tak tahu kapan hari itu tiba.
"Yah. Kecewa dong..." Rio menghelan napas nya sesak.
"Oh. Ia.. Bagai mana hubunganmu dengan Gabvin..." Tanya Angel.
'Aku dan Gabvin baik-baik saja..." Jelas Elizha.
"Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Angel. Elizha masih bungkam...
Kapan kami akan menikah ya? Lagi pula Gabvin belum menyinggung soal pernikahan akhir-akhir ini. Bathin Elizha.
"Hati-hati jangan terlalu lama. Nanti malah aku yang lebih dulu menikah dengan kakakmu" Goda Angel.
"Jangan berharap... Kamu kan harus menunggu masa idahmu selesai dan itu butuh waktu selama tiga bulan kamu paham?" jelas Elizha menekan Angel.
"Kamu salah paham... Aku belum di sentuh seujung jari pun oleh Gery. Jadi... Masa idahku bisa lebih cepat lho..." Angel bersi keras akhirnya Elizha jadi diam karna kalah...
Belum jadi kakak ipar saja mereka sudah seakarab ini. Apa lagi kelak saat Mereka benar-benar menjadi saudara. Bathin Rio menggumam di iringi senyuman senang. Suasana rumah sakit sungguh terlihat menyenangkan kala satu klurga terlihat harmonis di antara yang lainnya...
Di tempat lain...
Gabvin sedang berkutat dengan beberapa berkas di tangannya "Hah... Berkas ini tak ada habis-habisnya hingga membuatku jenuh. Aku ingin segera bertemu dengan Elizha..." Gumam Gabvin gelisah.
Pip! Ponselnya berdering. Ia sangat senang "Ini pasti si cantik Elizha.... Apakah dia jadi manja gara-gara lama tak berjumpa?" Tanyanya seraya meraih ponsel dan menekannya. Namun rupanya satu pesan mulai ia baca...
"Margaret...?" tanya Gabvin.
Betapa kagetnya Gabvin hingga matanya terbelalak hampir copot kala melihat beberapa potretnya bersama si suami tercintanya.
"Apa!!" Gabvin kaget kala menatap pria yang ada di dalam photo itu. Mereka terlihat mesra di setiap adegan photo berlatar belakang sungai nan indah di swizz.
"Tidak mungkin. Pria ini sungguh serakah sekali..." Gabvin mengepalkan tangannya dan luapan emosi mulai menunpuk di ubun-ubunnya hampir meledak.
Bersambung...
__ADS_1