
***
"Pilih salah satu, atau kau akan kehilangan keduanya" jelas Gery.
Elizha tertatih di depan Gery, kakinya gemetaran ketika kalimat menyakitkan itu terlontar dari bibir tipis pria tampan itu.
"Aku tak bisa memilihmu tanpa sebuah agunan. Jadi, aku harap kau mau pahami pendirianku ini" Tambah Gery menatap sinis Elizha seraya menodorkan kertas tersebut ke arah pandangan Elizha yang terlihat kosong.
"Cepat pilih... Aku tak punya banyak waktu..." Jelas Gery mencecah Elizha.
Entah kenapa, harapan Elizha pada pria itu seketika hancur saat Gery bersikap tak adil padanya atau anak dalam kandungannya.
__ADS_1
"A-aku..." gagap Elizha, Bulir basah mulai bertumpuk di pelupuk matanya. Bahkan ia berusaha menahan napas nya yang saat itu terasa sesak. Bahkan tenggorokannya terasa sakit ketika ia harus berjuang untuk memutuskan sesuatu, yang menurutnya tidak mungkin.
"Bacalah sebelum kamu menandatanganinya" pinta Gery menggebrak mejanya. Hingga membuat tubuh Elizha makin bergetar, pipinya merona dan napasnya mulai beruap seakan hendak pecah dalam tangisan.
Tiga dokter mulai menghampiri Elizha, kemudian mempersilahkannya duduk di depan meja Gery. Gery hanya bisa menatap puas keterpurukan Elizha. Rupa-rupanya Gery tak bisa melepaskannya begitu saja. Bahkan saat ini Gery seakan berusaha menginjakkan kakinya pada dua buah perahu sekaligus.
"Cepatlah! Aku tak punya banyak waktu" Jelas Gery menyerahkan sebuah bolpoint dan menyrahkannya secara paksa ke tangan Elizha. Dengan terpaksa dan penuh rasa takut, Elizha lekas meraih kertas putih itu dengan kedua tangannya yang bergetar. Bahkan beberapa kali, bolpoint di genggamannya terlepas berulang-ulang.
"Nikah? siri?" Tanya Elizha lekas menutup mulutnya. Gery mulai menyambar "Ya. Anggap saja ini sebagai ujian untuk menjadi istriku" Jelas Gery. Seketika Elizha berkomen "Ujian katamu? Setelah apa yang kamu lakukan pada ku? menurutmu ini ujian? Berapa kali lagi aku harus menerima ujian ini darimu? Sebenarnya apa maumu?" tanya Elizha dalam sebuah tangisan. Ia menangis sesegukan, Gery sedikit iba pada wanita itu. Tapi ia juga tak bisa melakukan apa pun, apa lagi ia tak bisa memberikan sebuah kepastian akan pernikahan nya dengan Elizha yang tak akan mungkin kesampaian.
"Jalani saja dulu... Lagi pula, hasil tes laboraturiumnya belum keluar. Aku akan tetap Stay hingga bayi itu lahir..." Jelas Gery.
__ADS_1
"Heh. Naif... Aku tak butuh janjimu. Aku hanya butuh sebuah kepastian! Sebenarnya mau di bawa kemana hubungan ini? Aku sungguh tak paham denganmu!" marah Elizha meremas kertas perjanjian itu.
"Aku tak butuh ocehanmu. Sekarang! Cepat tandatangani!" Bentak Gery sinis. Elizha mulai menekuk wajahnya dan menyeka air matanya.
"Hiks. Jika tahu akan begini jadinya. Aku sungguh enggan bertemu denganmu! Kau pikir aku mau mengandung anakmu dan tersiksa atas kelakuan mu yang payah ini... Demi tuhan, sampai kapan pun aku tak akan memaafkanmu!" Sumpah serapah mulai keluar dari bibir mungil Elizha. Hingga tekanan demi tekanan di lontarkan Gery pada Elizha. Dan akhirnya, Elizha tak berdaya hingga menandatagani Kontrak pra nikah yang di berikan Gery untuknya. Meski semua itu, amatlah merugikan bagi Elizha.
"Hahahhaha... Baiklah, aku akan mulai menyiapkan segala kebutuhan untuk pernikahan kita..." Jelas Gery seraya mengambil kertas yang telah di tanda tangani oleh Elizha. Ia mengipas-ngipasi ketas itu ke arah wajahnya seakan puas. Seketika, hidup Elizha terasa hancur...
Oh tuhan... Nasib malang apa lagi yang akan menimpa ku selanjutnya. Ku mohon... semoga tak ada ke pahitan lain yang lebih dari ini... Bathin Elizha.
Bersambung...
__ADS_1