
***
Malam itu di restorant Kaula Honger Restourant...
Elizha tampak lahap ketika menyantap steak yang di pesankan Gabvin untuknya. Seraya tertawa ketika mendengarkan cerita Margaret yang sungguh lucu menurut Elizha. Gabvin tanpa berkomentar apapun hanya bisa ikut merasakan hangatnya pertemuan Elizha bersama sahabatnya malam itu.
"Zha. Biar nggak susah di hubungi... Gue minta dong nomor ponsel loe" Pinta Margaret menyerahkan ponselnya ke Elizha. Tapi, Nampaknya Elizha hanya bisa diam dan belum mengambil ponsel Margaret yang di sodorkan padanya itu.
"Eh..." Elizha bingung. Sebab ia tak punya handpone untuk saat ini. Handpone yang dulu di tahan Gery rusak dan tak bisa di gunakan lagi.
"Lho kok malah Eh...?" Tanya Margaret heran.
"Phone... Phonesel ku... Kayaknya ketingalan deh" Bohong Elizha mencari celah untuk beralasan.
"Loe itu emang selalu pelupa dari dulu deh... Ya udah, gue tulisnya di kertas aja deh. Jangan lupa nanti hubungin Gue yah" Jelas Margaret seraya mencatat nomor ponselnya. Elizha hanya bisa mengangguk saja tanpa mau bicara apapun. Dari pada salah berkomentar, toh saat ini Elizha sedang membohongi Margaret.
"Nih Zha. Jangan hilang ya..." Margaret menyerahkan kertas bertuliskan nomor ponselnya. Elizha lantas menerima begitu saja dan mulai mengantongi ketas tersebut.
"Thanks Ya Ret... Lain kali aku akan menghubungimu dengan mudah. Sebab udah punya kontakmu sekarang" Balas Elizha seraya tersenyum ringan tanpa beban menatap Margaret. Kemudian mereka berpelukan lagi.
"Kayaknya Gue mau pamit deh..." ujar Margaret, Margaret segera mengambil tissue di depannya lalu membersihkan remah-remah makanan yang menempel di bibirnya.
"Lho kok cepet banget?" Tanya Elizha panik.
__ADS_1
"Ia lah Zha. Secara loe tahu kan gimana bokap gue. Dia amat tegas dalam mengatur waktu, apa lagi di jam malam kayak gini..." Jelas Margaret sedikit tergesa-gesa. Nampaknya sekarang malah Elizha yang kecewa, sebab Elizha belum puas ngobrol dan ketawa ketiwi bareng Margaret.
"Gitu ya. Ya udah... hati-hati deh di jalannya" Hanya itu yang bisa Elizha lontarkan dalam sebuah kekecewaan.
"Ya dah... Gue cabut yah..." Ucap Margaret seraya cium pipi kanan dan kiri Elizha.
"Hati-hati ya..." Elizha mulai melambaikan tangannya.
"Eh tuan Ganteng... Jaga sahabatku dengan baik Yah... Kalau kamu buat dia nangis. Maka akan ku tinju hidung mancung mu!" Jelas Margaret memperingatkan. Sontak Gabvin merasa ke gelian mendengar ungkapan Margaret dan lantas saja Gabvin memberi hormat pada Margaret dengan lugasnya seraya berteriak "Siap! Komandan!"
Margaret terkekeh dan mulai berkata "Bagus prajurit... aku Pergi ya. Dah..." Margaret dan Stivan pun mulai beranjak, mereka pergi dengan tangan saling bergandengan. Elizha pun tersenyum menatap kemesraan Margaret dengan kekasihnya itu Gabvin sungguh jeli memperhatikan setiap gerak-gerika Elizha. Di mata Gabvin Elizha terlihat murung kembali, Elizha bahkan terlihat iri pada kehangatan kedua sejoli itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gabvin khawatir. Elizha pun mengangguk "Tentu saja... Aku baik kok. Lega rasanya karna telah bertemu dengan sahabat baikku..." gumam Elizha seraya netranya menatapi sebuah kertas yang di berikan Margaret untuknya.
"Udah malam... Yuk pulang" Pinta Gabvin. Elizha pun mengangguk "Ia... Tapi tunggu. Aku ingin ke toilet sebentar" Pinta Elizha.
"Apakah perlu ku antar?" tanya Gabvin khawatir pada Elizha.
"Cabul! Elizha lekas marah dan membentak Gabvin Mana boleh nguntit wanita ke toilet..." Marahnya.
"Ia ia kan cuma bercanda. Galak amat sih..." Gumam Gabvin kecewa.
"Tunggulah sebentar. Toh, aku cuma ke belet pipis..." Elizha beranjak tergesa-gesa.
__ADS_1
Tinggalah Gabvin sendirian di meja makan restorant tersebut. Entah apa yang Gabvin pikirkan hingga ia menjentikan jemarinya seakan merencanakan sesuatu untuk Elizha.
***
Byuurrrr... Bunyi keran dalam toilet.
Tak perlu waktu lama bagi Elizha untuk menemukan di mana toilet berada. Meski suasananya sedikit sunyi di toilet itu. Tapi, karna kebelet, apa boleh buat.
Elizha pun mulai meraih tissue untuk mengeringkan tangannya dan ia pun lekas ke luar toilet tersebut. Namun siapa sangka... Seseorang malah meraih tangannya dan menyeretnya ke tempat yang sedikit sunyi.
"Siapa kamu! Lepaskan!" Berontak Elizha menahan kakinya untuk tak mengikuti tarikan pria tinggi ramping di depannya itu.
"Hentikan! Lepaskan Aku!" Teriak Elizha meminta pertolongan. Meski di sana terasa sunyi, tapi ia tetap berharap ada seseorang yang mau menolongnya.
Akhirnya, Elizha pun di seret paksa hingga menepi di sebuah lift dan pria bersweter hitam itu langsung saja menjebloskannya ke lift kosong tersebut.
Brak! Dorongannya kasar hingga membuat Elizha terpelanting.
Oh tuhan. Lindungi aku... Jangan-jangan dia adalah orang suruhan Angel untuk membunuhku. Gemuruh Bathin Elizha.
Elizha yang masih terjatuh dan belum berdiri itu lantas menatap punggung pria bersweter hitam itu dari belakang. Dan Elizha lihat dengan jelas bahwa ia menekan nomor lift tersebut ke lantai paling atas di restorant tesebut.
Oh tidak...! Apa yang akan dia lakukan???" bathin Elizha bergemuruh ketakutan.
__ADS_1
Bersambung...