
Ruang Ceo, suasana makin mamanas di ruang tersebut. Amarah Gabvin menumpuk dan semua itu tertuju pada Gery yang tengah duduk di singgahsananya dengan tawa terkekeh seakan mencemooh.
"Sayang... Ambilkan aku coffe hitam" Imbuh Gery menyahut seseorang. Gabvin menyunginkan bibirnya dan lekas menoleh seseorang itu. Namun, ketika dua netranya menyoroti arah tersebut. Batapa kagetnya ia hingga hampir Syok.
"Trak!" Kopi tersebut ia letakan di meja kerja Gery. Dengan pandangan membulat, Gabvin menatap wanita tersebut "Elizha..." Bisiknya dengan nada bergetar.
Sedangkan Elizha hanya bisa menunduk tanpa menghiraukan segala kekhawatiran Gabvin "Tanyakan padanya, kenapa dia bisa ada di kantorku," Pinta Gery menunjuk Elizha.
Gabvin mengalihkan pandangannya, ia lekas membuang wajahnya lalu menatap Gery "Jika dia baik-baik saja... Itu sudah cukup bagiku. Sebaiknya aku lekas pulang" Ujar Gabvin mulai memutar langkahnya dengan perasaan kacau, panuh tanda tanya di hatinya.
"Jangan pergi dulu, aku ingin menjelaskan satu hal lagi padamu..." Pinta Gery, Gabvin mulai menghentikan langkahnya dan menunduk, ia berusaha keras menahan perasaannya yang sedikit kecewa itu.
"Mulai saat ini, kamu tak perlu lagi mengantarkannya ke tempat Usg atau semacamnya..." Jelas Gery. Gabvin makin syok dan lekas menoleh.
Ia menatap Gery dengan pandangan buas seakan penuh emosi "Karna tugasmu sudah selesai hari itu..." Gery menyerahkan kertas pernyataan yang telah mereka sepakati beberapa hari lalu.
"Kau!" Pekik Gabvin mengepalkan tangannya.
"Ya. Tugasmu akan di gantikan oleh salah satu kepercayaanku..." Jelasnya lagi.
Elizha masih menunduk, ia ingin menghentikan Gery yang saat ini bertindak semena-mena, tapi... Ia tak ingin Gabvin terus terlibat dan tersakiti olehnya.
"Rio! Masuklah" Ucap Gery seraya menepuk tangannya.
"Tok! Tok!" Rio pun masuk dan Gabvin menoleh ke arah pria tersebut "Saya di sini tuan..." Sahut Rio seraya membungkuk.
"Rio, silahkan jelaskan pada pria ini..." Imbuh Gery mempersilahkannya bicara.
__ADS_1
"Tuan. Perkenalkan nama saya Rio Laskamana, panggil saja saya Rio. Tugas saya di sini saat ini adalah sebagai pengawal nona Elizha... Jadi, sekarang... Tugas anda akan di gantikan oleh saya. Mohon tuan mengerti dan mohon bantuannya..." Jelas Rio seraya membungkuk hormat.
Gluk! Seketika... Gabvin menyerah, tangannya yang sedari tadi di kepal erat itu pun mulai di lepasnya perlahan.
"Dan lagi, jangan mencarinya ke masionku. Sebab, aku sudah membelikannya sebuah apartement. Juga... Ia akan menemaniku setiap hari. Karna mulai saat ini, dia bukan hanya istri simpanan ku, tapi juga skertaris pribadi ku!" jelasnya.
Bagaikan di pukul secara brutal, hati Gabvin remuk seketika itu. Ia tak bisa melihat sekelilingnya, entah karna ia belum pulih, atau kerna memang keadaan yang membuatnya terpuruk.
"Gabvin maafkan aku..." Bathin Elizha merasa tak nyaman. Gabvin pun mulai kembali memutar tubuhnya dan kembali melangkah menghampiri daun pintu. Dari nanarnya saja sudah terlihat, bahwa saat ini Gabvin sangat hancur. Matanya yang memerah dan bibirnya yang bergetar sudah memberikan bukti bahwa ada rasa kecewa besar melanda hatinya saat ini...
Langkah longai bergontai itu sampai di daun pintu, Rio pun membukakan pintu tersebut hingga Gabvin menghilang di balik daun pintu yang tertutup.
BLAM!!
Suasana kembali hening...
BLAM! Lagi-lagi pintu tertutup, Gery memegangi kepalanya dan sedikit mendelik ke arah Elizha "Kau puas? Berapa banyak pria yang telah kau goda hingga mereka bertepuk lutut di bawah kakimu?" Tanya Gery menyindir Elizha.
"Jangan libatkan dia..." pinta Elizha mulai bersuara.
"... Heh, jadi ini alasannya. Alasan kenapa kamu menyerah untuk mencintaiku?" Tanya Gery kembali meluapkan emosinya.
"Aku bisa lakukan apapun yang kamu minta! Tapi jangan libatkan dia! Dia tidak bersalah dan tak ada hubungannya dengan kita!!" Bentak Elizha berusaha melawan sikap Gery yang arogan itu.
"Karna aku juga tahu... Kau mulai menyukainya kan? Dasar ******, hatimu sungguh mudah sekali jatuh cinta..." Pekik Gery mulai mencecah.
"... Terserah apa yang akan kamu katakan, tapi aku sungguh tak perduli. Asalkan kamy berhenti melibatkan Gabvin di antara hubungan ambruk yang telah kita bina ini!!" balsnya menekan nada bicaranya.
__ADS_1
"Cih..." dengus kesal Gery.
"Jika ingin marah, marah lah saja padaku... Tak usah melibatkan nya. Ini juga bukan salahnya..." Elizha terus mencemooh Gery.
"Hentikan ocehanmu yang menyebalkan itu, fokuslah bekerja... Karna kau bawahanku sekarang" jelasnya.
Elizha termenung dan mengingat dengan jelas rencana apa yang Gery akan lakukan padanya...
FLASBACK...
Blam! Setelah Gery masuk kamar mandi, Elizha lekas bangun dan mulai mencari pintu keluar. Sebenarnya, Elizha sudah sadar saat ia di bawa kemari menggunakan kursi roda. Tapi, ia tak ingin membuatnya dalam masalah saat itu terjadi. Ia pun putuskan untuk menerima permainan apa yang akan Gery lanjutkan.
"Aku harus kabur" bisiknya.
Elizha meloncat dari ranjanhnya dan lekas berusaha membuka pintu kamar tersebut.
Klek! Klek! "Apa ini..." Elizha tercengang ketika mendapati bahwa pintu kamar tersebut telah terkunci.
"Aku harus keluar! Apapun yang terjadi... Gabvin pasti sangat khawatir padaku!" Bisiknya. Ia pun menelisik sekeliling, netranya memutar sempurna dan menelisik lebih intrents.
"Apa aku harus lewat jendela?" tanya Elizha pada dirinya sendiri.
Elizha mulai menyingkap tirai dan membuka slot jendela tersebut, ia membukanya dan lekas menaikan kakinya untuk melompat ke arah lantai satu.
Saat dua kaki itu berpijak di antara jendela kamar hotel itu. Tiba-tiba, Tangan panjang melilit dan menghentikan aksi bodohnya "Hentikan!" imbuh Gery berusaha menghentikan kelakuan konyol Elizha.
Di mata Gery, Elizha hendak bunuh diri "Lepaskan aku..." Pekiknya.
__ADS_1
Bersambung...