ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Hukum Karma


__ADS_3

***


Akhirnya hari bahagia tiba, Elizha membawa pulang sang ayah ke kediaman Diandartara...


"Kami pulang" Imbuh Elizha mengucap salam. Gabvin dan Rio mengikuti Elizha dari belakang..


"Ayah selamat datang di rumah mu..." Seru Elizha. Ayahnya tersenyum dan menepuk pundak Elizha "Terimakasih sayang" Ucap sang ayah seraya menelisik sekitaran kediaman tersebut.


"Dimana Yasmin dan yang lainnya?" tanya ayah Elizha merasa kecewa.


"Mungkin mereka sedang memasak di dapur. Jangan khawatir ayah..." Jelas Elizha.


"Begitu ya..." ayah Elizha merengut dan terlihat sedih.


Untuk apa ayah menanyakan kabar mereka? Toh mereka saja sama sekali tak mau tahu kabar ayah seperti apa saat di rumah sakit. Bathin Elizha mengumpat kesal.


"Ayah aku akan ambilkan air putih untukmu" ucap Elizha mulai berdiri dan lekas melangkah ke arah dapur.


"Jangan... Aku saja" Imbuh Rio lekas menerobos Elizha yang hendak masuk dapur.


"Kenapa kak. Biar aku saja..." slok Elizha.


"Jangan terlalu lelah, biarkan aku yang bekerja sekarang" Pinta Rio mulai melangkah ke arah dapur.


"Mmh. Baiklah..." Elizha terlihat kecewa.


"Kamu temani saja calon adik iparku... Dia terlihat canggung tuh" imbuh Rio menggoda Elizha.


"Apaan sih kakak..."umpat Elizha.


"Cie...padahal senang saat dia dekat denganmu" gumam Rio terus menggoda adiknya.


"Iih bicara lagi akan ku sumpal mulutmu" Elizha terlihat marah, wajahnya mulai memerah pekat.


"Sana... temui Gabvin" Rio mendorong Elizha untuk menjauh dari area dapur.


"Uuh!" pipi Elizha mengembung karna ia sangat marah pada kakaknya...


"Sana-sana" ujar kakaknya.


Akhirnya Elizha pun menuruti sang kakak dan mulai mendekati ayahnya "Gabvin tolong bantu ayahku agar ia masuk ke kamarnya" Pinta Elizha.


"Tidak... Aku ingin di sini dan berbincang dengan kalian. Ayah ingin lebih dekat mengenal calon menantu ayah" jelas Ayah Elizha.


Psssh Wajaah Elizha mulai memerah pekat.


"Terimakasih ayah. Karna telah mempercayakan putrimu padaku..." ucap Gabvin merasa bersyukur.

__ADS_1


"Ya. Dia memang bukan gadis cerdas atau pun cantik. Dia hanya pembuat onar yang mungkin akan membuatmu pusing setengah keliling" Jelas sang ayah menjelekan putrinya.


"Ayah! Hhhh aku tak seperti itu..." Umpat Elizha kesal.


"Tak apa? Menurutku dia adalah gadis yang sangat sempurna, dan cocok menjadi calon istri sekaligus ibu untuk anak-anakku..." Gabvin bicara dengan bagitu tulus. Hingga membuat Elizha sangat malu.


"Oh ia. Zha, aku punya hadiah untukmu..." Gabvin menyerahkan kantung kecil dengan kotak yang cukup berisi.


"Apa ini?" Tanya Elizha mulai mengintip isi dalam kantung kecil tersebut.


"Bukan hal yang istimewa kok..." Jawab Gabvin yang masih menatap Elizha kala ia berkutat dengan box berbalutkan selebar kertas berwarna.


"Ini..." Elizha terpekik kala menatap isi dalam box tersebut.


"Waw! Kau sangat beruntung adikku" jelas Rio yang baru datang dengan tatakan gelas berisikan air putih susu dan kopi hitam. Rio menaruh tatakan tersebut mulai mendekati adiknya.


"Ponsel terbaru!" Pekik Elizha.


"Pasti harganya sangat mahal ya calon adik ipar" Tanya Rio masih tak bisa bergeming dari ponsel lipat milik Elizha.


"Tidak, aku hanya berfikir... Selama ini aku tak pernah melihat Elizha memakai ponsel. Jadi entah suka atau tidak... Aku tetap memilihkannya untuk Elizha" jelas Gabvin malu-malu. Pipinya merah pekat.


"Kau sungguh baik anak muda... Terimakasih" imbuh sang calon ayah mertua.


Elizha terdiam dan menatap ponsel pintar baru miliknya "Gabvin... Terimakasih" ucap Elizha tulus.


"Zha.. Yang harusnya kamu peluk itu bukanlah ponsel nya. Tapi orang yang memberikan ponsel itu padamu... Gimana sih kamu nggak peka baget" komen sang kakak membuat Elizha makin canggung kala berhadapan dengan Gabvin.


"Apaan sih kakak..." Elizha makin salah tingkah karna pengaruh kakaknya.


"Mmffhhhttt... Gabvin menahan tawanya.


"Tuhkan kamu juga..." Elizha mengerucutkab bibirnya tampak imut.


"Kamu beruntung anakku. Ternyata ayah tak salah memberi kan restu untukmu... Ayah jadi makin tak sabar ingin lekas melihat kamu di pinang olehnya nak" ujar sang ayah meraih Elizha dan memeluknya.


Saat kehangatan di antara mereka sedang terjalin, Tiba-tiba ibu tiri beserta dua anaknya baru pulang dan entah daru datang dari mana.


"Wah! Wah ada acara apa ini?" ibu tiri Elizha. Mereka membawa beberapa kantung belanjaan.


"Lihat ayah... Betapa hinanya istri yang kamu pilih. Rupanya mereka malah belanja di saat kamu sedang berkutat dengan kesehatanmu..." Ujar Rio menunjuk ibu tiri Elizha.


Ibu tiri Elizha lekas menghempas tangan Rio dengan kasar dan keras "PLAK!" hempas Ibu tiri Elizha.


"Heh. Kasar sekali..." Imbuh Rio tak senang.


"Siapa kau berani-beraninya menghujatku seperti ini. Apakah kamu tak tahu jika aku adalah tuan rumah kediaman ini?" teriak ibu tiri Elizha marah besar. Yasmin dan Syakila hanya menatap sinis seraya menggulung tangan mereka di perutnya.

__ADS_1


"Heh. Rumahmu? Ini adalah rumah ku!" Ayah Elizha tiba-tiba terpekik dan kalimat kasar mulai lolos begitu saja.


"Ayah. Apa yang kamu katakan?" tanya Ibu tiri Elizha marah.


"Kamj sangat bahagia jika aku berada di rumah sakit..." Ucap tn Dian sedikit kecewa.


"Apa maksudmu ayah. Kami sebenarnya akan pergi ke rumah sakit sekarang, kami hanya berbelanja pakaian untuk berangkat ke sana..." Alasan mulai keluar dalam sebuah sandiwara.


"Aku tahu sekarang. Yang kamu butuhkan bukanlah aku, tapi uangku... Jadi, mulai saat ini. Silahkan kemasi barang-barang kalian dan pergi!" jelas Ayah Elizha memberi keputusan yang sangat berat untuknya.


"Aya apa maksudmu?" tanya Elizha kaget.


"Mulai saat ini aku bukan suamimu lagi" jelas Ayah Elizha lantang.


"Ayah! Kamu tak bisa lakukan ini pada ku! Setelah apa yang aku lakukan untukmu selama bertahun-tahun, mana mungkin hanya ini imbalannya?" tanya Ibu tiri Elizha marah besar.


"Aku tak bisa memberikanmu apapun! Sebab... Kau tak layak mendapatkannya!" jelas Ayah Elizha habis-habisan.


"Ayah! Jangan lakukan ini pada kami!" Teriak Yasmin bersimpuh.


Sedangkan Syakila hanya bisa terduduk lemas dengan tangan meremas kantung belanjaannya yang bertumpuk di sikut tangannya.


"Aku sampai salah langkah ketika mengambil keputusan atas dasar hasutan darimu! tindakan ku saat menelantarkan Elizha sungguh tak bisa di maafkan. Dan kini, malah aku yang merepotkannya bukan kalian yang mengurusku, ketika aku terbaring tak berdaya di rumah sakit" Jelas sang ayah penuh penyesalan.


"Aku tak mau! Aku tak mau berpisah dengan mu ayah!" tangis ibu tiri bersimpuh di hadapan Ayah Elizha.


"Mulai saat ini, pergilah... Aku tak mau melihat kalian bertiga lagi!" Pekik Ayah Elizha membuang wajahnya karna terlanjur sakit hati oleh ulah ketiga wanita itu.


"Tidak ayah jangan lakukan ini!" pinta Ibu tiri Elizha. Adegan sangat mengharukan itu berlangsung sangat singkat, hingga tuan Dian mengucap tiga kali talak untuk ibu tiri Elizha.


"Aku talak kamu! Aku talak kamu! Aku talak kamu!" teriak tuan Dian. Akhirnya, setelah kata itu keluar dari mulutnya. Ibu tiri Elizha hanya bisa terduduk lemas dan tak punya kehendak apapun lagi.


"Silahkan kemasi barang-barang kalian" jelas Rio mulai mengusir tiga wanita petaka itu


"Beraninya kau!" bentak ny Nely mendorong Rio.


"Seharusnya anda sadar... Bukankah beberapa tahun yang lalu, ini yang anda lakukan pada saya? Mengusir saya dengan paksa dan membiarkan saya terlunta di jalan. Padahal secara hukum, saya berhak tinggal sesuai wasiat nyonya besar!" Jelas Rio merasa puas. Rupanya hukum alam masih berlaku untuk mereka yang sering sombong dan semena-mena.


Akhirnya tangisan pecah dan mereka pun pasrah "Elizha! Aku yakin ini adalah pembalasan dendammu untuk kami. Tapi, tunggu saja... Kami tak akan tinggal diam!" bentaknya menggebrak meja.


Mereka berkemas dan mulai pergi meninggakkan rumah kediaman Diandartatra...


Elizha mulai senang, sebab... mereka bertiga sudah bisa kembali berkumpul dalam satu kluarga besar.


Gabvin ikut senang meski hatinya tak tenang karna pekerjaannya sangat bertumpuk di kantor hingga ia harus melewatkan beberapa telpon penting dari para klien.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2