ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Patah semangat


__ADS_3

***


Ke esokan harinya...


Tok! Tok! Tok! "Nona... Tuan menyuruh anda untuk makan..." Pinta Yan. Pagi-pagi sekali, Yan datang untuk meminta Elizha keluar agar makan bersama dengan Angel dan Gery.


"Belum ada respon sama sekali..." Bisik Yan termenung sesaat dan mengintip jam di lengan kirinya


Yan berusaha kembali mengentuk pintu itu... Tok! Tok! "Nona... Saya mohon, keluarlah... Tuan menyuruh anda untuk makan sesuatu. Yan kembali mengetuk dan membujuk Elizha. Namun di dalam sana, Elizha sungguh patah hanya karena sebuah perkataan yang pahit dari Gery.


Elizha masih membuntal tubuhnya dengan selimut pagi itu. Ia enggan keluar kamarnya, Gery sudah sangat keterlaluan baginya. Ia memberikan harapan pada Elizha, dan kini ia malah menikahi Angel secara sah. Tentu saja, itu membuat Elizha drop.


Pria busuk itu sengaja mempermainkanku dan anak di rahimku. Ia berjanji menikahi ku setelah anak ini lahir. Dan kemudian, dia malah menyiksaku dengan ke hadiran wanita lain di rumah ini. Bagai mana bisa ia menentukan sebuah pilihan yang berat itu tanpa berfikir panjang. Aku bahkan tak siap jika di rumah ini tinggal satu atap dua cinta. Aku tak sudi... Sebaiknya aku melarikan diri saja... Bathin Elizha. Mata Elizha sembab karna menangis semalaman dan terus menerus mendengarkan kalimat yang tak jelas dari mulut pedas Gery.


Lama sekali Yan mengetuk pintu itu, dan seseorang datang kembali ke masion Gery, Ya itu adalah Gabvin "Yan... Berapa lama kamu akan mengetuk pintu ini?" tanya Gabvin.


"Sekitar setengah jam yang lalu..." Jawab Yan.


"Kenapa malah berdiri saja? Dobrak jika memang tak ada respon dari dalam. Dasar bodoh!" Bentak Gabvin khawatir.


"A-apa... Anda bilang saya bodoh?!" Tanya Yan marah.


"Hentikan, serahkan semua padaku!" Pinta Gabvin. Jauh-jauh ia datang sebelum pergi ke kantor untuk memastikan kabar Elizha.


"Anda sungguh tak sopan... Saya tak sebodoh yang anda kira tuan Gabvin dasar ke terlaluan..." Yan masih marah dan terus mengkritik Gabvin.


Sedangkan Gabvin yang panik mulai mendobrak pintu itu kasar dan lekas menerobos ke dalam setelah pintu kamar Elizha terbuka.


"Lizha! Kamu baik-baik saja?" tanya Gabvin di arah daun pintu. Gabvin yang masih khawatir itu pun mulai menghanpiri buntalan selimut di ranjang Elizha. Di pikirannya, ia takut jika Elizha flustrasi dan melakukan tindakan bodoh. Seprti menyayat pergelangan tanganya mungkin.


"Zha... Jawab aku jika memang kamu baik-baik saja..." Pinta Gabvin.


Dari suaranya yang bergetar, Elizha sudah paham dan malah makin sedih. Ini begitu berat untuknya, Elizha berusaha untuk menahan air matanya. Tapi tetap saja, Elizha makin terpuruk di balik selimut putih kamar tersebut.


"Kenapa aku selaliu saja melibatkan orang bodoh ini? Kenapa dia selalu saja memperhatikanku meski aku tak memintanya... Tapi dia tetap saja datang dan selalu melihat sisi terburukku... Dia sungguh membuatku sebal dan tak bisa menghadapinya" Bathin Elizha.


Gabvin melangkah perlahan dengan kaki bergetar "Zha... Kamu baik-baik saja kan?!" Gabvin mulai menghampiri selimut itu dan menariknya.


SYUUUTTT! Seketika, selimut itu terhempas dan Gabvin melihat dengan jelas. Bahwa di balik selimut yang terhempas itu, seorang wanita tengah tidur dengan cukup buruk. Matanya yang sembab dan hidung merahnya menunjukan bahwa Elizha sungguh tak berdaya "Zha... Kamu harus kuat"Gabvin menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya "Zha... Jangan menangis lagi Ya. Entah kenapa, Jika kamu begini... Hatiku malah yang sakit... Sebisa mungkin, tegarlah dan bertahanlah. Jika lelah, aku akan ada di belakangmu dan menyambutmu pulang" Ungkap Gabvin. Elizha yang masih pura-pura tidur itu, memang mendengar jelas dan merasa sedih. Sebab ia mendengarkan ungkapan tersebut dari bibir Gabvin.

__ADS_1


Yan masih berdiri di sana dan menatap gerak-gerik Gabvin "Sudah ku duga... Tuan Gabvin memang menyukai nona Elizha. Ini tak bisa di biarkan!" Yan lekas keluar kamar tersebut dan mungkin ia akan melaporkan hal tersebut pada Gery.


"Zha... Satu jam lagi aku harus berangkat ke kantor dengan suamimu. Tapi, sebelum aku pergi. Maukah kamu makan sesuatu?" pinta Gabvin. Gabvin khawatir padanya, dari kemarin Elizha belum makan. Meski Gabvin telah menyiapkan makanan untuknya.


"Zha... Jangan luapkan amarahmu pada bayi di kandunganmu. Ia tak bersalah... Lakukan lah yang terbaik sampai bayi itu terlahir ke dunia. Karna itu adalah hak anakmu..." Jelas Gabvin.


Elizha mulai membuka matanya, ia mendelik ke arah Gabvin. Gabvin tersenyum "Se-selamat pagi..." Ucap Gabvin gugup.


"Selamat pagi..." Jawab Elizha dengan suara yang serak akibat tangisannya semalaman.


"Ayo makan..." Pinta Gabvin.


"Kamu bukanlah ayah dari anak yang ku kandung. Tapi, kenapa kamu perduli padaku? Apakah karna kamu iba melihatku yang di campakan ini?" Tanya Elizha mulai bangun dan duduk menyender di ranjangnya.


Deg! Mendengarkan hal itu, Gabvin sungguh tersentak "Jangan bicara hal buruk. Tak ada maksud lain di balik kebaikanku. Aku hanya selalu khawatir padamu dan selalu ingin memperhatikanmu" Jelas Gabvin.


"Sebenarnya tak perlu repot-repot memperhatikanku.Toh aku bukan istri atau pun pacarmu. Aku hanya istri sirih sahabatmu..." Lantang Elizha menafsirkan posisinya di rumah ini dengan tak pantas.


"Sssssttt...jangan bicara begitu..." Gabvin menekan bibir Elizha dengan jemarinya. Agar Elizha tak asal bicara dan merendahkan dirinya.


Elizha melotot karna kaget dan lekas menepis tangan Gabvin "Plak!"


"Rasakan! Siapa suruh kamu tak sopan..." Marah Elizha. Ia seketika menggulung tangannya di dada.


"Tak bisakah kamu sedikit lembut padaku. Kamu selalu terlihat murka ketika berhadapan denganku. Sungguh menyebalkan" Gumam Gabvin menghujat Elizha.


"Siapa suruh kamu mendekat. Pergi jauh-jauh agar aku tak memukulmu..." Gerutu Elizha membalas ringisan Gabvin.


"Jahat. Bagai mana bisa kamu sejahat itu pada pria baik sepertiku... Coba berikan alasan yang tepat" Gabvin manyun dan mendelik ke arah Elizha.


"Heh... Itu karna kamu adalah kakaknya mantan pacarku. Jadi aku sedikit benci padamu..." Jelas Elizha lantang.


Gabvin pun menoleh ke arah Elizha "Apa? Heh... Kau sungguh jahat! Mengalihkan dendammu pada kakaknya yang seprti malaikat ini! Sunguh jahat!" Gabvin risih tapi juga senang jika Elizha mau merespon pertanyaannya lalu menjawab dengan sigap meski itu bukan kata-kata yang menyenangkan.


"Coba minta maaf... Kamu sudah menyerangku pagi ini dengan kata-kata jahatmu!" Pinta Gabvin.


"Heh... Mana bisa aku menarik kembali kata-kataku ini?" Keras kepala Elizha tak mau menarik ungkapan jahatnya itu pada Gabvin.


"Baiklah... Jika ini maumu! Maka bersiaplah! Karna aku akan menyerangmu dengan sebuah gelitikan!" Gabvin menaikan kakinya ke ranjang dan mulai menggelitik perut Elizha.

__ADS_1


"A! Ahahahahaha aapaan sih Gabvin! Ahahhahaha lepaskan!!"Elizha bergeliat-gelait dan Gabvin tampak bahagia ketika menggoda Elizha.


"Ahahahha ampun! Ahahhaha geli! Lepaskah! Ahahahhaha kamu membuatku lelah... Ahahahhahahah" Suara itu sampai ke luar sana dan membuat Gery marah. Gery sedari tadi terdiam di balik daun pintu dan memperhatikan Gabvin.


"Tuan... Sudah saya bilang kan... Tuan Gabvin sepertinya sangat menyukai nona Elizha. Ia bahkan berani menyentuh nona Elizha secara tidak sopan" Jelas Yan. Nampaknya ketika melaporkan masalah tersebut. Gery lekas bangkit dari meja makan dan berlari ke kamar Elizha.


"Aku takan berhenti sampai kamu mau meminta maaf!! Sini... Mana lagi yang harus aku gelitiki dengan jari-jariku!!' Pinta Gabvin terus saja nakal.


"Aaahhhh! Ahahahaha sudah-sudah... Lepaskan Ahhhhhhaahaha" Lenguhan suara itu sungguh membuat Gery marah. Gery mengepalkan tangannya dan mulai melangkah lebar masuk ke kamar Elizha lalu menarik Gabvin dari ranjang Elizha seketika itu Gabvin lekas terjungkal di karpet kamar Elizha.


Mata Gery yang di penuhi amarah itu mulai mengarahkan tinjunya ke Gabvin. Namun Elizha lekas menahannya.


"Apa yang kamu lakukan!!" Tanya Elizha membentak Gery.


"Lepaskan aku!! Pria ini sudah kurang ajar padamu!!" Bentak Gery dengan amarahnya. Elizha tersenyum "Kurang ajar katamu? Lantas siapa yang lebih kurang ajar lagi padaku selain orang yang berkata demikian...?" Balas Elizha lantang.


Sedangkan Gabvin yang masih terduduk di karpet kamar Elizha mulai bangun dan menatap Gery 'Mampus Loe Ger! Hidup loe iti serakah amat... Elizha mau! Dan Agel pun di embat. Jika kamu sudah menyerahkan hak Elizha padaku. Kenapa kamu masih risih? Dasar pria plin plan..." Bathin Gabvin.


Gery menoleh ke arah Elizha...


"Apa maksudmu...?" Tanya Gery.


"Heh. Hentikan sandiwaramu itu. Kini aku akan lakukan apapun, untuk anakku..." Jelas Elizha.


"Apa maksudmu...?" Gery heran.


"Aku akan katakan pada wanita itu... Bahwa aku adalah istrimu! Bahkan sebelum dia jadi istri sah mu!' Bentak Elizha. Gery marah dan mulai memukul wanita itu. Namun tangannya di tahan oleh Gabvin...


"Jangan lakukan hal bodoh... Bicara saja yang jelas agar Elizha paham ke inginanmu..." Ucap Gabvin.


Elizha terbelalak ketika melihat telapak tangan Gery yang hendak menghempas pipinya. Tenggorokannya terasa sesak dan napasnya terasa sempit. Tangisan itu hendak membludak keluar dan mengoyak sebuabh ketegaran.


"Lepaskan!" Gery menghempaskan tangan Gabvin dan mendengus kesal "Cepat makan... Jangan manja. Kamu tak bisa melanggar perintahku, sebab... Sidik jarimu ada di dalam kontrak pernikahan kita. Bahkan kau tak bisa melakukan apapun. Sebab kamu bukanlah istri sah ku! Paham... Lakukan lah hal yang semestinya kau lakukan..." Gery memalingkan wajahnya seketika itu lalu pergi dari kamar Elizha.


Gabvin yang masih berdiri sungguh merasa teriris oleh kata-kata Gery. Apa lagi wanita hamil itu, Elizha termenung dengan butiran basah yang terus berderai. Ia pun lemas dan terduduk di lantai...


"Zha..." Ringis Gabvin.


Elizha menutup wajahnya dengan ke sepuluh jemarinya dan menangis "Hik... Hiks, kenapa nasib buruk selalu saja menyertaiku. Bahkan ayahku sendiri saja tak mau melihatku.... Hiks Hiks ini sungguh tak adil untukku..." Tangisan yang pecah itu membuat Gabvin tak berdaya. Ia ingin sekali memeluk Elizha kala itu dan membuatnya lebih nyaman. Namun karna sifat Elizha yang ganas, membuat Gabvin berfikir dua kali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2