ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Pagi yang hangat


__ADS_3

***


"Elizha?" Bisik Gabvin menatapnya sayu.


"Eh. Kenapa kamu ada di sini?" jawab Elizha kaget jemarinya menunjuk pria tersebut.


Rio mulai keluar dan menepis jemari Elizha yang menunjuk Gabvin secara tidak sopan "Eh. Jangan begitu tidak sopan..." Jelas Rio seraya menarik adiknya ke arah ruang makan.


"Tapi kakak... Kenapa dia ada di sini?" tanya Elizha bingung.


"Nanti saja kakak akan jelaskan..." Ujar kakaknya.


"Ihh... Ini sangat membingungkanku... Padahal hanya menjelaskan kok susahnya minta ampun banget" Umpat Elizha kesal.


"Ia nanti..." Balas sang kakak singkat.


Gabvin tersenyum kala mendengar ocehan dari kakak beradik itu, rumahnya sedikit ramai dan membuatnya merasa hidup kali ini.


Meja makan...


"Tara... Sarapan pagi untuk kalian... makanan yang sedikit tanpa lemak. Semoga kalian suka" Ujar sang kakak mulai duduk dikursi meja makan itu.


"Semua ini pasti kakak yang masak. Secara kakak paling suka makanan khas jepang" Jelas Elizha mulai menyiapkan piring untuknya makan. Rio membelalakan matanya dan memberi sebuah kode kedipan mata "Kakak. Ada apa dengan matamu, apakah sesuatu masuk, coba ku lihat..." Elizha bangun dan menatap mata kakaknya yang berada di depannya seraya memeperhatikan "Ahh. Kayaknya kakak tidak membasuh muka dengan benar. Hingga masih ada kotoran di matamu yang bertumpuk, makanya matamu jadi kelilipan..."Polos Elizh berkata demikian hingga Rio lekas menatap cermin kecil di celemeknya.


"Dasar gadis tengil sengaja mempermainkan kakaknya sendiri" Umpat Rio seraya terus mencari kotoran matanya yang sama sekali tak ada di sana.


"Aku hanya bercanda... Kenapa kakak seserius itu?" Gumam Elizha dengan tawa terkekeh.


"Aissshh sudah ku duga... dasar tengil" Rio mengumpat kesal. Saat keduanya adu mulut, Gabvin yang terabaikan oleh ocehan kakak beradik itu malah di buat terkekeh "Hahahahaha... " Elizha dan Gabvin mulai menoleh.


"Kenapa kau tertawa..." Tanya Elizha kasar.


"Hush! Jangan bicara begitu itu tidak sopan namanya..." Tentang sang kakak.


"Kenapa?" Tanya Elizha datar.


"Karna dia tuan rumah di sini" Jelas sang kakak.


"APA!!!" teriak Elizha dengan mulut mengaga. Sang kakak yang kikuk dan malu pada kelakukan adiknya itu mulai memasukan selebar roti tawar ke mulut Elizha dan menyumpalnya.

__ADS_1


"Ini makanlah..." Seraya menatap Gabvin yang saat itu masih berusaha menahan tawanya.


"Uhhhhh..." Elizha mengeram karna kesal.


"Maafkan aku bos. Kadang adikku memang tampak lucu, tapi begitu menyebalkan" Rio sungkan pada Gabvin.


"Hehehehee... Kalian sungguh kakak beradik yang konyol. Jangan sungkan, anggaplah seperti rumah kalian sendiri... Aku senang, kali ini rumah ku tampak lebih hidup dari sebelumnya. Kuharap kalian kerasan tinggal di sini" Jelas Gabvin masih menatap mulut Elizha yang di penuhi roti tawar.


Sedangkan Rio sedikit lega, kala mendengar ucapan Gabvin yang begitu berwibawa itu.


"Ayo makan... Perutku sudah lapar. Lagi pula aku sudah pernah mencicipi masakan Elizha, masakan Elizha sangat enak... Hingga aku benar-benar ingin melahap semua nya yang ada di meja makan ini..." Imbuh Gabvin mulai bersiap dengan piringnya. Elizha heran pada perkataan Gabvin yang masih menyangka bahwa masakan tersebut adalah buatan Elizha.


"Benar... Mari makan..." Rio mulai makan masakan yang ia buat itu. Sedang Elizha berusaha mengunyah roti tawar yang terlanjur masuk ke dalam mulutnya secara paksa oleh sang kakak.


Suasana pagi itu terasa hangat, Gabvin... Rio da Elizha tampak makan dengan lahap bersama gelak di antara kedekatan mereka bertiga. Ini adalah acara makan pertama Elizha setelah terlepas dari Gery. Elizha sungguh mengisi perutnya kali ini, hingga anak di kandungannya tak perlu khawatir akan kekurangan gizi lagi.


"Oh ia. Apa rencanamu hari ini?" Tanya Gabvin.


"Mmh aku akan pergi ke rumah sahabatku...' jawab Elizha.


"Oh begitu ya..." Gabvin sedikit kecewa.


"Aku... Hari ini sebenarnya banyak sekali tugas yang menumpuk, tapi... Ada hal yang harus aku selesaikan di rumah sakit' Jawab Gabvin sedikit gagap.


"Rumah sakit? Memang siapa yang sakit..." Tanya Elizha lagi.


"Ini... Sebenarnya aku akan menjenguk Angel" Jawab Gabvin. Elizha sedikit tersentak kala mendengar rumah sakit tempat di mana Angel di rawat sebab di sanalah Elizha tertangkap oleh anak buah Tuan Arya, atas perintah dari Gery... hingga ia pun mulai terdiam "Jangan takut... Aku tak akan mengajakmu. Sebaiknya diamlah di rumah untuk menjaga agar kamu tetap aman" Jelas Gabvin.


Elizha pun mengangguk "Lalu kapan kamu akan bertemu Margaret?" Tanya Gabvin.


"Entahlah... Tapi aku sangat rindu padanya..." Jelas Elizha.


"kalau begitu, aku akan mengantarkan mu ke kediaman Margaret" Jelas Gabvin.


"Benarkah?" Elizha sungguh senang.


"Bersiaplah karna kita akan pergi ke sana" Jelas Gabvin.


"Baiklah..." Elizha lekas kembali naik ke lantai dua kamarnya dan Gabvin menunggu di meja makan. Rio masih berkutat mencuci piring "Apa kalian akan berkencan?" Tanya Rio.

__ADS_1


"Mana mungkin, adikmu sangat agresif jika aku memaksanya bisa bonyok wajahku nanti..."Umpat Gabvin menggoda kakak Elizha.


"Kau benar. Dia adalh gadis paling energik sejak kecil..." Jelas Rio.


"Oh. Begitu.. Tapi, entah kenapa... Jika melihat wajah kalian, aku sungguh tak yakin jika kalian punya hubungan darah atau sebagainya..." Imbuh Gabvin menggoda Rio. Rio yang masih berkutat itu mulai diam sesaat, lalu menoleh ke arah Gabvin "Karna kami bukan saudara sedarah" Jelas Rio membuat Gabvin membatu "Apa?"


"Aku dan Elizha tak punya hubungan darah sama sekali. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku sendiri..." Jelas Rio.


"Tapi, kenapa Elizha bisa menerima mu begitu saja, berbeda saat bertemu denganku. Lagi pula... Dia bukanlah gadis yang menerima laki-laki secara kebetulan" Umpat Gabvin penuh keheranan.


'Ya... Aku pun merasa demikian. Tapi, karna kebaikan hatinya... Aku mulai merasakan betapa indahnya hidup. Dia menarikku dari kegelapan" Jelasnya.


Sesaat Rio mulai mengingat masa kecilnya...


"Hiks...ibu..." Tangis Elizha di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalu lalang. Tak ada yang menyadari atau bersimpatik pada Elizha kecil. Sedangkan Rio saat itu tengah terlunta-lunta di jalanan, bahkan pakaian yang ia kenakan sangat lusuh dan robek di beberapa bagian. Elizha saat itu berusia sekitar tiga atau empat tahun, karna Rio tak ingin nasib Elizha sama sepertinya, ia pun mendekati Elizha dan membantunya mencari ibunya.


"Hei gadis kecil, siapa namamu?" Tanya Rio.


"Kakak..." Ucap Elizha seraya memeluk Rio.


"Aku bukan kakakmu..." Ucap Rio berusaha melepas pelukan Elizha.


"Kakak, tolong jangan tinggalkan aku..." Pintanya masih memeluk.


Rio pun mulai luluh dan menarik jemari Elizha "Jangan menangis, ayo... Aku ajak kamu mencari ibumu" Jelasnya. Elizha sangat senang dan ia pun mengikuti arah kemana Rio pergi. Seharian sibuk mencari, akhirnya Rio pun menemukan ibu Elizha di sebuah parkiran sebuah mol.


Elizha sangat senang saat itu, ia menangis kala Rio pergi darinya. Hingga nyonya Diangantara itu pun mulai mengadopsi Rio seperti anaknya sendiri. Bahkan Rio tak ingat pada jati dirinya sebelumnya karan umurnya yang masih terlalu muda kala itu.


"Kami bersama selama lima atau enam tahun..." Jelas Rio.


"Lalu setalah itu..." Tanya Gabvin.


"Setelah aku masuk smp, nyonya meninggal dan tuan menikah lagi... Aku di usir keluar dari rumah tersebut dan kembali terlunta di jalanan. Namun, secara finansial... Hidupku sudah di jaminkan oleh tuan Diangantara... Jadi hidupku tak sesulit sebelumnya" Jelas Rio mengenang masalalu suramnya.


"Kamu sungguh beruntung..." Gabvin menepuk pundak Rio.


Elizha datang dan mereka mulai pamit, Gabvin dan Elizha pergi hingga Rio pun terdiam di tengah sunyi.


"Beruntung? Benarkah?" Tanya Rio dalam hatinya seraya tersenyum mengambangkan pipinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2