ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Arah yang menyesatkan


__ADS_3

"Apakah kamu dengar Zha?" Tanya Gabvin di iringi senyuman tulusnya.


Elizha mengangguk "Mmhh... Suaranya membuatku sangat bersemangat... Seprtinya bayiku sangat sehat di dalam sana. Meski saat ini, kondisi ibunya sedang sangat buruk sekalipun" Bisik Elizha penuh haru.


Gabvin mulai mengelus kepala Elizha lembut "Hmm... Sehat terus dan berjuanglah. Lakukan yang terbaik hingga anak mu lahir..." Pinta Gabvin. Elizha pun mengangguk "Thank Vin..." Elizha menatap Gabvin kala itu. Sesaat pandangan mereka terpaut satu sama lain dan saling menatap.


"Hmmm..." Dokter pun datang dan langsung membuyarkan keduanya.


"Ahhh Dok. Maaf kami terlah terbawa suasana..." Jelas Gabvin. Elizha hanya menunduk dan membenahi rambutnya yang tadi di elus Gabvin.


"Tak apa. Aku paham dengan situasi ini... Kalian berdua pasti bahagi..." Ujar dokter.


"Hmmm... Begitulah..." Balas Gabvin singkat.


"Silahkan ke ruangan konsultasi..." Pinta Dokter. Elizha pun bangun dari tempat tidurnya dan mulai di bantu turun ranjang oleh Gabvin "Hati-hati..." Pinta Gabvin membopong Elizha.


Seandainya perlakuan Gery yang sperti ini. Pasti aku akan sangat bahagi , tapi nampaknya itu semua sangat mustahil... Sebab statusku hanyalah istri sirihnya. Bathin Elizha.


***


Ruang Konsultasi...


"Silahkan duduk nona dan tuan" Pinta dokter.


"Ada apa dok? Apakah ada masalah?" Tanya Gabvin panik.


Dokter tersenyum dan menyerahkan selebar amplop putih "Sebenarnya bayi dalam kandungan istri anda baik-baik saja dan sehat" Jelas Sang dokter.


"Oh. Syukurlah..." Helan napas lega. Gabvin amat tulus bah suami asli di mata sang dokter.


"Namun..." Dokter memberi sebuah pengecualian. Hingga Elizha dan Gabvin tersentak menatap kaget sang dokter.


"Namun apa dok?!" Elizha dan Gabvin bicara bersamaan.


"Namun... Nampaknya, nona Elizha belum memperbaiki asupan nutrisinya hingga berpengaruh besar pada janin dalam kandungannya" Jelas dokter.

__ADS_1


"Maksudnya apa dok. Apakah ada fase bahaya?" Tanya Gabvin.


"Nona Elizha. Bisakah anda mulai memengatur asupan nutrisi anda. Sebab yang saya lihat di sini... Berat sang bayi belum naik dan ia kekurangan banyak sekali air ketuban. Apakah selama ini anda kurang minum atau buah dan sayur?" Tanya dokter.


Degh! Elizha sangat panik, ia teringat beberapa hari ini ia memang jarang makan karna tekanan bathinnya.


"A-anu itu..." Elizha mencari alasan.


"Hmmm... Mulai saat ini. Tolong jaga asupan nutrisi anda. Karna pola hidup yang anda jalani dapat berpengaruh pada perkembangan janin anda" Pinta sang dokter.


Elizha mengangguk dengan nanar yang pilu. Gabvin mulai menenangkan Elizha "Dok. Tolong tulis resep agar janin dalam kandungannya baik-baik saja..." Pinta Gabvin.


Dokter tersenyum "Kamu memang pria yang bertanggung jawab pada pasangannya... Baik. Silahkan tunggu di luar dan ambil obat kalian di apoteker kami" Jelas sang dokter. Elizha menatap Gabvin yang sibuk bicara sedari tadi. Gabvin menoleh dan mulai membopong Elizha untuk bangun dari kursinya.


"Ayo... Kita tunggu di luar saja..." Jelas Gabvin. Elizha pun mulai jadi penurut dengan tanda tanya besar di hatinya.


Diruang tunggu...


Lama menunggu obat, Elizha jadi cemas "Jangan khawatir... Bayi mu pasti baik-baik saja. Yang perlu kamu hindari adalah stres yang berlebihan dan mulai mengatur pola hidup yang sehat" Jelas Gabvin.


"Maksudku. Seharian, hampir setiap waktu di hidupmu... Terasa lebih sering di habiskan denganku ke timbang untuk dirimu sendiri..." Elizha mulai bertanya demikian.


"Kenapa kamu bertanya demikian? Apakah kamu merasa risih?" Tanya Gabvin bingung.


"Kamu belum menjawab satupun pertanyaanku dan malah balik bertanya padaku... Mengesalkan" Gumam Elizha.


"Jika kamu ingin jawabannya. Apakah kamu tak akan marah...?" Tanya Gabvin menatap mata Elizha yang kala itu sibuk.


"Kenapa harus marah... Apakah semua jawabanya ada pada ku?" Tanya Elizha lagi.


Gabvin tersenyum "Kamu tak perlu khawatir. Aku sama sekali tak punya kekasih" Jawab Gabin lantang dengan sebuah senyuman yang malu-malu.


Elizha kaget "Yang benar saja..." Balas Elizha tak percaya.


"Kalau begitu, ayo ikut keruang oprasi..." Jelas Gabvin.

__ADS_1


"Ruang oprasi? Untuk apa... Kamu ini" Elizha sedikit kaget atas penjelasan Gabvin.


"Jika kamu tak percaya... Aku berani membelah dadaku sendiri dan lihatlah isinya" Seketika Elizha tersenyum mendengar ocehan Gabvin.


"Kau ini... Dasar paling suka bergurau ketimbang seriusnya. Nyebelin..." Elizha lekas tertawa dan menepuk pundak Gabvin.


"Kamu cantik kalau lagi bahagia..."Tiba-tiba ungkapan itu yang di lontarkan Gabvin pada Elizha "Apa?" Elizha sedikit kaget.


"Tersenyum lah terus... Aku sungguh senang ketika kamu bahagia..." Ujar Gabvin kembali.


"I-itu..." Elizha lekas membuang wajahnya.


"Hemmm... Mungkin. Kamu akan lebih baik jika pergi dari masion Gery. Kamu akan bahagia di luaran sana" Imbuh Gabvin.


"... Kamu memang benar" Jwab Elizha menunduk.


"Lalu tunggu apa lagi. Keluar saja dari sana... Kamu bisa memulai hidup baru dengan laki-laki yang menyayangimu dengan tulus" Pinta Gabvin menghasut hati Elizha. Elizha masih diam dan menunduk.


Masih ada pria yang tulus mencintai kamu Zha. Meski saat ini kamu sedang mengandung anak dari pria lain. Coba tatap aku dan pilihlah aku sebagai salah satunya. Bathin Gabvin penuh harapan.


"Kayaknya aku nggak bisa keluar begitu saja dari kediaman itu..." Jawab Elizha dengan suara yang bergetar.


"Kenapa? Apakah karna kamu mencintai Gery?" Tanya Gabvin refleks. Elizha masih terdiam dan malah menatap Gabvin sayu. Ada bulir basah yang hendak terjun kala Elizha menatap nanar Gabvin yang sendu itu.


Dari tatapanmu... Aku udah paham Zha. Kalo kamu memang mencintai pria brengsek yang sama sekali tak pernah menghargai kamu. Bathin Gabvin menggumam.


"... Kami sudah terikat kontrak pernikahan... Gery, tak bisa melepaskanku tanpa melahirkan anak ini hidup atau mati..."Jelas Elizha. Nampaknya, tangisan Elizha yang tertahan itu pun mulai pecah dan membuat Gabvin sedikit tersayat kala mendengar realita hidup wanita tersebut.


Gabvin ingin sekali memeluk Elizha dan menenangkan tangisannya itu. Ia hanya bisa menatap Elizha bersama jalan yang ia pilih.


Nasibmu sungguh buruk sekali Zha. Gara-gara di campakan adikku. Kamu malah bertemu pria biadap itu, hingga kehilangan mahkota mu dan di usir orang tuamu. Lalu di lecehkan tanpa pertanggung jawaban Gery dan sekarang. Kamu hanyalah istri yang di buang demi ego suaminya yang memilih harta di banding cinta. Sungguh ironis.


Gabvin yang pilu hanya bisa berkata "Jangan sedih. Tak apa-apa... Mungkin suatu saat akan indah pada waktunya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2