
***
Yan pergi meninggalkan Gabvin di ruang tengah. Gabvin yang hanyut dalam lamuannya itu pun mulai perlahan melangkah ke arah pintu keluar masion tersebut. Langkah longai bergontai nya itu terhenti di sebuah daun pintu menuju ruangan taman belakang masion Gery. Suara tawa geli seorang wanita terasa begitu mengganggunya. Perlahan Gabvin pun mulai melangkah ke arah tersebut Ketika sampai di area tersebut... Gabvin malah mendapatkan sebuah pemandangan yang begitu indah. Di mana Gery tengah berulah dengan menggoda Angel di taman tersebut. Mereka saling berlarian dan tangkap menangkap. Hingga Angel terlihat begitu bahagia.
Apa-apaan ini. Kemarin dia menggoda Elizha habis-habisan. Lalu sekarang... Giliran Angel, apa sebenarnya yang ingin Gery dapatkan. Ini terasa sangat menggelikan. Sekali tepuk, dua lalat pun mati. Bathin Gabvin menggumam pasrah pada kelakuan Gery yang begitu egois itu.
Langkah yang tadinya ingin pergi dari kediaman tersebut. Malah membawanya kembali masuk. Gabvin kembali masuk ke area dapur dan duduk tenang di sana. Ia mulai berfikir "Elizha memasak semua ini dengan penuh semangar dalam dirinya... Tapi, belum sempat di cicipi. Dia malah pergi ..." Gumam Gabvin. Gabvin pun mulai menyiapkan beberapa hidangan dan sepiring nasi untuk di antarkan ke kamar Elizha.
Gabvin mulai berdiri dan melangkah ke arah kamar Elizha. Ia ingin menguatkan hati wanita tersebut yang rapuh itu.
Sesampainya di sana...
Tok! Tok!
"Zha..." Seru Gabvin di depan daun pintu kamar Elizha. Namun tak ada sahutan dari dalam. Gabvin pun kembali mengetuk pintu kamar tersebut.
"Zha... Kamu baik-baik saja kan?" Gabvin sangat khawatir, ingin rasanya ia menerobos pintu tersebut dan masuk kedalam lalu memeluk Elizha dan membiarkannya menangis di pelukannya.
Zha... Plis... Jangan begini, jika kamu terus-terusan berada di samping nya dan menderita. Entah kenapa, hatiku malah terasa sangat perih. Zha... Seandainya pertemuan kita lebih awal. Aku pastikan padamu... Aku pasti akan membuatmu jadi wanita paling bahagia dalam hidupmu. Bathin Gabvin menggumam.
Lama menunggu akhirnya Elizha bersedia membuka kan pintu. Namun pintu tersebut hanya menampakan sebelah mata Elizha yang sembab. Elizha terlihat menintip Gabvin dari dalam "Zha... Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Gabvin sedikit tenang ketika Elizha mau berinteraksi dengannya.
__ADS_1
"Ungh..." Elizha mengangguk.
"Syukurlah... Kalau begitu... Ayo makanlah sedikit. Dari kemarin kamu belum makan dengan baik. Jika kekurangan nutrisi, nanti bayimu bisa sakit..." Jelas Gabvin membuju Elizha.
"Aku tak lapar. Bawa kembali makanan itu, lagi pula aku memasak untuk seluruh pelayan di kediaman ini..." Balas Elizha dingin. Hendak menutup pintu kamar itu, Gebvin pun mulai sedikit menahan tekanan Elizha dengan sikutnya.
"Tunggu Zha..." Pekik Gabvin.
"Apa lagi... Vin tolonglah, biarkan aku sendirian. Aku butuh ketenangan untuk saat ini" Pinta Elizha berusaha menahan emosinya.
"Zha. Plis... Kamu boleh marah pada dirimu sendiri. Tapi jangan sampai menyiksa bayi dalam kandunganmu. Bayi itu tak bersalah... Jadi, biarkanlah aku masuk dan menaruh nampan ini di dalam kamarmu..." Pinta Gabvin. Elizha terpaku di depan pintu "Zha... Pikirkanlah kesehatanmu... Jangan egois begini" Pinta Gabvin kembali membujuk Elizha.
"Masuklah. Setelah itu keluar secepatnya..." Jelas Elizha. Meski kata-kata dingin itu terucap begitu tajam untuk Gabvin. Tapi, semua itu membuat Gabvin bahagia. Ia lekas masuk dan menaruh nampan itu di meja rias Elizha
Trak!
Nampan tersebut mulai tergeletak di sana...
"Makanlah yang banyak. Jangan sampai sakit lagi..." pinta Gabvin lugas.
"Ungh..." Elizha mengangguk diam.
__ADS_1
"Berjanjilah..."Pinta Gabvin mengarahkan kelingkingnya. Elizha membalasnya dengan sedikit penuh keraguan "Janji..." Mereka saling mengaitkan kelingking mereka. Gabvin tersenyum senang dan mulai pergi.
Blam...
Gabvin keluar, pintu pun tertutup, Elizha mulai kembali suram dan menatap makanan itu dengan datar.
"Kenapa? Kenapa kamu harus melakukan semua ini untukku? Apa pentingnya bagi dalam perutku... Bukankah harusnya Gery yang bertindak sejauh ini? Kenapa malah kamu yang selalu khawtir padaku? Apa maksud semua ini...?" Elizha merasa lemas dan pusing. Ia tak paham, kenapa hubungan Gery dan dirinya begitu rumit.
Kenapa??! Teriak Elizha dalam keheningan.
***
Gabvin terdiam di meja makan dan menatap makanan buatan Elizha. Lalu Yan pun datang... "Tuan... Gabvin, Tuan besar menyuruh anda datang keruangannya" Jelas Yan. Gabvin belum bergeming, ia masih menatap makanan buatan Elizha "Jika anda sudah paham... Cepatlah datang. Tuan tak ingin menunggu lama..." tambah Yan memperingatkan. Gabvin mulai mengepalkan tangannya. Lalu seluruh emosi pun mulai meluap di hatinya, seakan terpancing keluar.
Gery! Kebetulan sekali... Ada banyak hal yang akan aku sampaikan padamu... Bathin Gabvin menggumam.
Gabvin berdiri dan segera melangkah ke arah yang Yan sebutkan tadi...
Apa yang akan Gabvin lakukan Ya? Apakah mereka akan bertarung di ruangan Gery? Lanjut episode berikutnya...
Bersambung...
__ADS_1