
Perlahan, Elizha di rebahkan di matras... Gabvin memperlakukan istrinya dengan sangat lembut.
"Apa kamu gugup?" Tanya Gabvin.
Eliza mengelengkan kepalanya, Wajah Elizha sangat merah merona dan berembun. Gabvin mulai mengecup kening wanita tersebut... Gabvin menatap Elizha lembut, dan bibirnya mulai komat kamit membaca sebuah doa..
بسم الله الرحمن الرحيم...
...بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا...
Lalu Gabvin meniupkannya ke wajah istrinya pelan, sesaat Elizha bertanya dalam hatinya. Apa yang pria itu lakukan padanya. Bathin Elizha menggumam demikian.
"Boleh aku memulainya?" Tanya Gabvin terlihat kaku. Elizha mengangguk pelan tanpa suara, ia berusaha menutup matanya karna ia sangat malu...
Gabvin mulai mematikan saklar lampu yang ada di kepala Ranjang hotel tersebut. Plap!
Perlahan tapi pasti, wajah Gabvin mendekat dan hendak mencium Elizha. Namun tiba-tiba "Oh tidak... Gabvin aku lupa" Pekik Elizha. Gabvin pun menghentikan gerakan awal yang hendak di mulai.
"Ngh... Ada apa sayang... Apa kamu tak enak hati?" Tanya Gabvin menatap Elizha pelan dengan menghentikan gerakannya yang tanggung itu.
"A-aku... Sebenarnya, sebenarnya kita belum bisa melakukan hubungan suami istri malam..." Jelas Elizha tak enak hati pada pria itu.
"Lho. Kenapa? Kitakan sudah halal" Balas Gabvin tak ingin salah paham. Ia berusaha meneguhkan hatinya untuk tidak berfikir hal yang bukan-bukan tentang Elizha.
"Be-begini... Aku sebenarnya masih seorang ibu yang baru melahirkan. Dan sekarang masa nifasku belum selesai...' Jelas Elizha. Gabvin tak paham hingga ia mengerutkan dahinya.
"Masa... Nifas?" Tanya Gabvin kurang konek.
"Itu adalah masa di mana ibu yang baru melahirkan... Dokter waktu itu yang menjelaskan... Seharusnya aku lebih sering menyusui anakku. Tapi karna anakku masih di rumah sakit... Akhirnya asiku tak keluar..."
"Mh... Lalu? Kenapa kamu risau sayang? Apkah aku sudah membuatmu tak nyaman?" Tanya Gabvin masih meyakinkan dirinya. Bukan maksud Elizha ingin menolak berhubungan dengannya malam ini karna alsan yang tak jelas.
__ADS_1
"...dan, masih ada sisa darah yang belum kering hingga terus saja keluar seperti datang bulan... Jadi, apakah kita tidak sebaiknya menunggu hingga beberapa hari lagi..." Jelas Elizha sungguh membuat Gabvin kecewa. Gabvim merasa terpukul sesuatu di hatinya.
"Hmmm..." Gabvin sedikit tersenyum pahit.
"Maaf. Telah membuatmu ke cewa" Umpat Elizha sedikit membuang wajahnya karna tak enak hati.
"Tak apa sayang..." Balasnya singkat. Ia memang sedikit terpukul atas penjelasan Elizha yang tiba-tiba. Tapi, mau bagai mana lagi... Toh, hal tersebut tak bisa di paksakan dan malam pertama Gabvin belum berakhir... Karna Masih ada malam malam berikutnya. Dan di malam berikutnya, Gabvin tak akan gagal lagi...
"Ya sudah... Malam ini... Kita tiduran saja" Ucap Gabvin mulai merebahkan dirinya di samping Elizha.
"Apakah kamu marah?" Tanya Elizha malu-malu. Ia sungguh merasa tak enak hati pada pria di sampingnya itu.
"Kenapa harus marah... Ini kan bukan salah mu sayang" Gabvin mulai merubah posisi rebahannya untuk menyamping ke arah Elizha "Aku malu karna malam pertama mu sangat tidak berkesan... Dan sangat buruk, Maafkan aku" Ucapnya lagi. Elizha tampak canggung...
"Jangan khawatir... Karna ada kamu di sampingku... Malam pertamaku akan sangat panjang, kita bisa melakukannya besok... Lalu lusa... Dan seterusnya. Kamu paham kan sayang, apa maksud perkataanku ini?" Tanya Gabvin menatap istrinya intrents.
Elizha mengangguk "Engh... Semoga..." Balasnya. Gabvin kembali mengembangkan pipinya. Ia mulai mengecup kening Elizha dengan lembut. Lalu meraih pinggang Elizha dan memeluknya erat. Gabvin mulai memejamkan matanya dan Elizha pun demikian. Mereka terlelap delam sebuah pelukan hangat... Baru kali ini, Elizha merasakan lembutnya seorang pria. Beberapa kali di sakiti... Nyatanya pria terakhir yang menemaninya adalah Gabvin. Ia tak pernah merasakan sebuah kehangatan selain dari tangan dan perhatian pria lembut itu ...
***
"Ayah kau dengar sesuatu?" tanya Rio mengendap di depan kamar pengantin.
"Belum... Apakah mereka belum memulainya ya?" Tanya Ayah Elizha.
"jangan-jangan Gabvin salah minum obat dan dia malah tidur bukannya berperang ya?" Tanya Rio. Lalu saat mereka sedang asyik menempelkan daun telinga mereka di daun pintu kamar pengantin itu. Seseorang mulai menegur.
"Jangan menguping... Dasar tidak sopan" Ucap seseorang. Rio dan ayahnya pun mulai menegapkan posisinya dan pura-pura tak terjadi apapun.
Yang datang adalah Kelvin dan ayahnya "Sedang apa besan di depan kamar pengantin?" Tanya Ayah Gabvin.
"Aha... Ini, ada yang harus aku berikan paada anakku. Jadi aku membuka pintu ini... Dan ternyata di kunci hahah" Alasan yang cukup konyol hanya untuk mengintip pengantin baru. Bathin Kelvin menggumam.
__ADS_1
"Oh begitu ya..." Ayah Gabvin sedikit paham.
"Lalu, apa yang sedang anda lakukan di sini?" Tanya Ayah Elizha.
"Sebenarnya... Aku sedang menunggu anakku melakukan perangnya malam ini. Hanya sedikit mastikan apakah perangnya sudah di mulai?" jelas Ayah Gabvin. Kelvin pun marah
"Ayah!!!" Kelvin terpekik.
"Kenapa? Ayahkan normal hahahah" Tawa Ayah kelvin menggema.
"Kalian sungguh aneh.. Heh!" Kelvin mendengus kesal hingga ia membuang wajahnya dan menggulung lengannya di perutnya angkuh.
"Karna tujuan kita sama..." Ucap Ayah Elizha.
"Apa?" Pekik Kelvin tak senang, Rio pun terkekeh melihat dua ayah yang antusias itu.
"Kalau begitu... Mari... Kita dengarkan sama-sama..." Pinta Ayah Elizha. Dan akhirnya dua pria itu bergadang mendengakan suara yang tak pernah keluar... Di ikuti Rio dan adiknya. Mereka berempat menempel di daun puntu seperti cicak di dinding.
Hingga pagi menyapa pun... Yang mereka dapatkan adalah tato mata panda melingkar di mata mereka.... Sedangkan suara dari dalam nyaris tak terdengar sama sekali ke luar... Dan lada akhirnya, empat pria itu melakukan hal konyol nya malam ini.
.
.
.
.
Assalamualaikum...
Hai para leaders budiman... Apa kabar, Autor mulai melanjutkan novel ini kembali. Maaf jika novelnya jelek dan membosankan. Soalnya autor masih belajar dan belum pintar merangkai kata. Mohon di naklumi dan beri masukan yang mendukung, karna memulai sebuah karya itu sangatlah sulit... Salam hangat untuk para pembaca budiman...
__ADS_1