
***
Gabvin masih berdiri dengan pandangan lurus ke depan, rupanya... Netranya di tujukan untuk dua bayi kembar milik Elizha yang sudah di pindahkan ke ruang khusus para bayi "Betapa lucunya mereka..." Bisik Gabvin dengan sebuah senyuman yang mengembang.
Tak berselang lama, ponsel Gabvin berbunyi... Sedari pagi ponselnya sudah di mode silent jadi ia tak mendengarkan ponselnya berdering di ruang tindak bersalin.
"Ah...ponselku..." Bathin Gabvin menggumam.
Ia lekas merogoh ponsel tersebut, dan benar saja... Dua puluh tiga panggilan tak terjawab bertaburan di layar ponsel miliknya.
"Ayah mertua? Dan Rio... Aku lupa mengabari mereka. Astaga, mereka pasti akan sangat khawatir" Gumam Gabvin sembari menepuk jidaknya sendiri.
Pip! Ponsel mulai di angkat "Hallo..."Sapa Gabvin.
"Ya kamu di mana sekarang nak?" Tanya ayah Elizha panik.
"Saya ada di rumah sakit terdekat... Ayah, maaf karna tidak mengabari anda" Jelas Gabvin.
"Ya. Aku sungguh khawatir pada keadaan anakku... Bagai mana keadaannya. Ayah akan datang ke sana sebentar lagi. Bersama Rio" Jelas sang Ayah.
"Baiklah. kami ada di rumah sakit Harapan bunda... Beberapa kilo meter dari komplek Diamond 2 arah utara dua Ayah..." Jelas Gabvin menditailkan lokasi.
"Ya. syukurlah jika putriku baik-baik saja..." Ayah Elizha tampak senang dan mereka lekas menutup ponsel tersebut.
"Untung saja calon ayah mertua tidak marah padaku..." Gabvin sungguh bahagia kala ia bisa berjasa dalam kluarga tersebut. Simpati ayahnya sangat berpengaruh pada kisah hidupnya bersama anaknya kelak.
***
Beberapa saat kemudian, Elizha tiba di ruang khusus para bayi memakai kursi roda dan di dorong oleh seorang suster "Tuan. Nona sangat ingin bertemu dengan anda" Ucap suster mengantarkan Elizha ke hadapan Gabvin.
"Sayang. Kamu di sini?" Tanya Gabvin sedikit tersentak.
__ADS_1
"Tentu, aku tak menemukanmu di ruang bersalin. Ku pikir kamu pulang... Saat suster menjelaskan, entah kenapa aku jadi ingin datang ke sini" Elizha sedikit malu-malu kala mengatakan hal tersebut hingga pipinya begitu merona ketika berdalih.
"Begitu ya... Kalau begitu suster, biarkan aku saja yang menjaganya" Jelas Gabvin seraya mengambil alih kursi roda itu "Baik tuan. Kalau begitu, saya permisi" Susterpun pamit.
Mereka tinggal berdua sekarang... Rasanya Elizha sangat malu sekali oleh Gabvin "Sayang... Bagai mana perasaanmu sekarang?" Tanya Gabvin mendorong kursi roda Elizha menuju cermin besar yang sedari tadi membuat Gabvin terpana bangga.
"Perasaanku... rasanya aku sedikit merasa aneh, aku sungguh malu pada mu" Ucap Elizha mengarahkan pandangannya ke Gabvin yang berdiri di belakangnya. Gabvin pun tersenyum dan lekas melangkah ke hadapan Elizha. Ia berjongkok dan mulai menatap Elizha dengan intrentsnya.
"Sayang..." Ucap Gabvin merapihkan poni Elizha yang turun menghalangi padangannya.
"Mmh" Balas Elizha mengangguk, tatapan mereka masih saling terpana satu sama lain "Jika di depanku, tolong jangan terlalu kaku atau malu... Jika kamu canggung, rasanya aku jadi mati gaya... Aku selalu bingung saat memperlakukan mu layaknya seorang kekasih. Mulai saat ini... Kamu harus bersikap biasa, seperti kita yang dulu ya..." Ucap Gabvin, Elizha tak paham pada apa yang Gabvin katakan. Ia hanya bisa mengangguk diam, ke dua tangan Elizha mulai di genggam Gabvin secara bersamaan.
Ia pun mengecup mesra tangan tersebut "Cup!"
"Sesuai janjiku...setelah kamu sehat, karana kita akan melangsungkan pesta pernikahan kita secara sah dan di akui negara... jadi, berjanjilah untuk tetap bersama ku hingga hari itu tiba..." Pinta Gabvin membuat Elizha makin tak kuasa. Rayuannya yang selalu lembut itu sangat terasa nyaman di hati Elizha.
"Gabvin, terimakasih karna kamu mau menerimaku yang tak pantas ini..." Ucap Elizha sedikit sungkan. Gabvin tersenyum dan lekas bangun, ia menyematkan kecupan yang tiba-tiba di kening Elizha.
"Ah..." Elizha terbelalak, ia sungguh kaget karna Gabvin sangat tiba-tiba sekali.
"Kamu akan baik-baik saja... Dan kamu bukanlah wanita yang tak pantas, lain kali... Kata itu dilarang terucap di hadapanku. Mengerti?" Pinta Gabvin seraya mengusap bibir Elizha dengan jempolnya.
"Ba-baik..." Elizha sungguh canggung dan ia sedikit mati gaya.
"Syukurlah jika kamu paham..." Gabvin lekas berdiri. Ia segera meregangkan tubuhnya yang terlihat kaku itu. Dan sedikit bersenam perehangan tangan dan pinggangnya.
"Eh. Gabvin... Mana putra putriku?" Tanya Elizha, seketika itu Gabvin menghentikan gerakannya.
"Oh..." Gabvin lekas mendekati Elizha dan mulai menunjuk cermin besar di depannya 'Lihatlah itu..." Tunjuk Gabvin ke boxs nomber tiga dan empat.
"Apakah mereka di dalam tabung itu?" Tanya Elizha kaget.
__ADS_1
"Ya. Mereka di letakan di sana" Balas Gabvin tersenyum.
"Oh ataga, bagai man jika mereka masuk angin" Umpat Elizha khawatir. Anaknya memang terlihat di geletakan begitu saja tanpa selebar pakaian, dan hanya di pakaikan selebar popok bayi ukuran Xs.
"Masuk angin? kamu sungguh bercanda ya?" Tanya Gabvin terkekeh.
"Kenapa kamu malah tertawa, aku harus bicara pada dokter yang menangani bayiku! Tega sekali dia meletakan bayiku sembarangan" Marah Elizha.
Gabvin masih terkekeh "Sayang. Memangnya kamu nggak tahu ya? kalau tabung itu sangat aman untuk bayimu?" Tanya Gabvin. Elizha yang marah-marah itu pun mulai diam.
"Aman?" Bisiknya.
"Tentu, suhu di dalam tabung tersebut sangatlah hangat. Sama seperti sinar matahari di pagi hari, jadi suhu itu sangat baik untuk anakmu. Dokter tak akan semebrono dalam melakukan sebuah tindakan. Kamu hanya perlu percaya saja pada mereka" Jelas Gabvin. Sesaat, hati Elizha mulai reda kala pikiran negatif merajai hatinya. Hanya karna Gabvin berada di sampingnya, seluruh ketakutannya selalu terhempas dan ia begitu nyaman.
"Begitu ya... Terimakasih atas nasihatnya" Balas Elizha menunduk malu.
"Oh ia. Apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka?" Tanya Gabvin meminta pendapat Elizha.
"Nama? Oh ia... Aku sama sekali tidak memikirkan nama untuk mereka... Bodohnya aku..." Umpat Elizha menepuk kepalanya yang bodoh itu.
"Hahaha, tak perlu di paksa jika belum ada nama yang menurutmu pas untuk saat ini" gumam Gabvin menggoda Elizha.
"Aku tak siap akan kelahiran mereka, jadi aku sama sekali belum memberikannya nama yang bagus..." Elizha sungguh kecewa pada dirinya sendiri.
Gabvin tersenyum dan mulai kembali bicara "Sayang. Bagai mana jika nama bayimu aku yang berikan? boleh tidak?" Tanya Gabvin berharap. Elizha pun menatap "Apakah kamu tidak keberatan? Padahal mereka kan bukan darah dagingmu?" Tanya Elizha sedikit menyinggung Gabvin.
"Hem tentu. Tapi... Lain kali, jangan ucapkan lagi ya. Hatiku akan sangat terluka ketika mendengar bahwa bayi itu tak ada hubungannya denganku. Aku menyayangimu... Jadi aku akan sangat mencintai anak-anakmu seperti aku menyayangi ibunya..." Jelas Gabvin. Elizha selalu di buat meleleh oleh ungkapan Gabvin yang selalu mengharukan untuknya. Gabvin lekas memeluk Elizha dari belakang kursi roda dan menatap bayinya dengan mata yang berbinar. Mereka akan jadi pasangan yang serasi mulai saat ini.
Elizha mengangguk dan merima dua nama istimewa pemberian Gabvin. Elizha benar-benar lupa pada Gery dan segala ke angkuhannya. Ia bahkan tak ingin tahu Gery di mana saat ini dan apa yang telah terjadi padanya.
Bersambung...
__ADS_1