
Deni menghentikan mobil tepat di depan lobi Hotel Permata Inn. Sebuah hotel bintang lima dengan fasilitas super.
Aku tahu karena dua bulan lalu, aku diajak Ibu Dea kepala Divisi dua ke sini. Aku kesini hanya membantu membawakan arsip yang dibutuhkan bu Dea saja. Sepanjang jalan menuju ke ruang meeting sangat megah. Toilet nya juga sangat modern dan bersih banget.
Aku memprediksi biaya inap di hotel ini sangat mahal. Gaji ku sebulan bisa habis hanya untuk menginap beberapa hari saja di sini.
Bukankah tadi Deni bilang kalau kami akan tinggal di penginapan. Bukan hotel bintang lima seperti ini. Apa mungkin Deni sekalian singgah ada suatu keperluan di tempat ini?
"Non Ana, maaf saya tidak bisa mengantarkan sampai ke dalam. Tunjukkan kartu nama ini saja, nanti resepsionis akan menunjukkan kamar non Ana."
Deni mengambil sebuah kartu nama dari kantong jas nya dan menyerahkannya pada ku. Sebenarnya aku mau tanya, mungkin Deni telah membuat kesalahan. Mana mungkin kami disuruh tinggal di hotel yang sangat megah ini. Namun aku urung bertanya, karena melihat Deni tampak sedang terburu- buru.
"Baik lah. Trimakasih." Kata ku singkat lalu mengajak emak dan adik- adik ku untuk masuk ke dalam hotel. Di sepanjang lobi menuju resepsionis, Doni dan Nita tak henti- hentinya mengagumi keindahan hotel.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Sambut sang resepsionis ramah. Aku kagum melihat dua orang resepsionis hotel yang melayani ku. Mereka berpakaian seragam indah, rambut dan dandanannya sangat menarik. Menurut ku mereka lebih seperti pramugari.
"Ehm... reservasi atas nama tuan Angga." Kata ku sambil menyerahkan kartu nama yang baru diberikan Deni ke pada resepsionis. Salah satu resepsionis segera menerima kartu yang ku sodorkan.
Rupanya kartu itu bukan kartu nama biasa seperti sangkaan ku. Kartu itu lebih seperti kartu pelanggan? Setelah resepsionis men scan kartu, ia memanggil bell boy melalui intercom.
"Nyonya reservasi atas nama tuan Angga sudah siap. Ini kartunya mohon disimpan baik- baik. Bellboy akan mengantarkan nyonya. Apakah ada hal lain yang perlu dibantu nyonya?"
__ADS_1
Resepsionis di depan ku menjadi semakin ramah dan nampak seperti salah tingkah. Ku pikir mungkin saja resepsionis itu pernah mengalami kejadian buruk yang bersinggungan dengan tuan Angga. Aku mengulum senyum dan berbisik dalam hati. Ada teman senasip heheh.
Bellboy itu begitu ramah kepada kami, ia sedikit bingung melihat kami datang tanpa membawa bawaan apa pun. Hanya sebuah kotak sepatu di tangan Nita.
Aku tidak tahu nomer kamar tempat menginap kami nanti. Karena saat ini kami cuma mengikut saja kemana pun bellboy itu membawa kami.
Ia menuju ke sebuah lift, dipencetnya angka 25. Rupanya kami menuju ke lantai 25. Nita terlihat pucat ketakutan bersembunyi dalam dekapan Emak. Sementara Doni tertawa- tawa kegirangan. Karena baru kali ini ia naik lift.
Di lantai dua puluh lima ini tidak terlalu banyak kamar. Hanya ada empat pintu yang terlihat. Bellboy menunjukkan kamar kami, dua buah kamar berhadap- hadapan. Kamar 251 dan kamar 252.
Bellboy menjelaskan bahwa kami harus menempati kamar yang telah ditentukan oleh tuan Angga. Kamar 251 untuk Emak juga adik-adik. Sementara kamar 252 untuk ku sendiri.
Lebih dahulu kami memilih untuk memeriksa kamar emak dan adik- adik. Ternyata kamarnya sangat luas. Aku belum pernah melihat ruangan kamar semewah ini. Sebuah ranjang sangat besar dan empuk terletak di tengah ruangan.
Ada sofa minimalis di dekat jendela kaca. Sebuah tv LED sangat besar terpasang di dinding. Sementara disudut ruangan lain ada sebuah kulkas besar. Saat kami memeriksanya rupanya kulkas telah terisi penuh dengan aneka cemilan dan minuman dingin.
Doni menatap ku penuh tanya, sekalipun ia tidak mengatakan apa- apa aku tahu benar apa yang ia mau.
"Doni boleh kok makan juga minum minuman yang ada dikulkas tapi hanya satu setiap harinya." Kata- kata ku langsung disambut dengan sorakan kebahagiaan.
"Horeeee..." Doni begitu kegirangan, ia pun segera memilih minuman ringan yang akan segera ia minum.
__ADS_1
Sementara aku, Emak dan Nita langsung memeriksa kamar mandi. Kami terpana melihat kemewahannya. Sower dilengkapi dengan air panas, ada bathup besar dan sederet perlengkapan mandi. Melihat kamar mandi yang sangat mewah membuat ku ingin segera membersihkan diri. Karena saat kami diusir bu Tini kami semua baru bangun tidur.
"Kak, ayo kita periksa kamar kakak!" Ajak Nita bersemangat.
"Ayo... kata ku juga tak kalah semangat nya. Hari ini kami mengalami pengalaman yang benar- benar menjungkir balikkan kehidupan kami. Awalnya diusir dari rumah kontrakan sederhana tapi kemudian malah menginap di hotel bintang lima. Sebuah keberutungan yang pantas kami rayakan.
Kami sudah bersiap hendak ke luar kamar saat seseorang membunyikan bel. Saat ku buka pintu, ada seorang pria berseragam pegawai hotel membawa kereta dorong berisi piring- piring saji tertutup.
"Selamat pagi, kami antarkan sarapan untuk nyonya. Juga ini ada paket mohon diterima." Pegawai hotel menyerahkan sebuah kotak berpita juga tiga buah paper bag. Aku terheran- heran menerimanya. Apa kira- kira isinya? Segera ku letakkan kotak berpita dan tiga buah paper bag di atas ranjang. Si pegawai hotel segera mengatur kereta dorong ke dekat meja sofa. Setelah selesai pria itu segera meninggalkan kamar kami.
Kami tidak sabar untuk segera memeriksa paket yang baru kami terima. Pertama kami buka paper bag yang paling besar. Isinya sebuah baju dress sederhana namun terlihat sangat anggun juga ada onderdil dalaman wanita, menurut ukuran kami tahu kalau itu untuk ibu.
Kami membuka paperbag yang lebih kecil, kami langsung mengerti kalau itu untuk Nita. Sebuah celana jeans dan kaos pink bergambar barbie juga tidak ketinggalan dalaman nya yang gerly habis. Nita sangat senang. Ia berniat segera mencoba bajunya. Tapi emak melarang.
Doni tidak sabar menunggu gilirannya, Ia langsung menyambar paper bag paling kecil. "Ini punya ku kan?" Doni langsung mengeluarkan isi paper bag. Ia terpana melihat setelan baju bertema transformer. Sebuah celana jeans dan hem bergambar robot idolanya. Ia begitu senang hingga air matanya menitik bahagia.
Aku tambah penasaran dengan kotak merah hati yang dihiasi dengan pita. Ada namaku terukir indah di kartunya. Aku segera memeriksanya, ternyata isinya sebuah gaun merah hati. Kain nya halus sekali, aku menebak ini pasti kain sutra. Tapi emak bilang kalau itu kain linen. Entahlah siapa yang benar diantara kami, tapi yang jelas. Dress berpotongan selutut itu sangat indah.
"Sebaiknya kita mandi dulu, kemudian makan bersama. An... jangan lupa ucapkan trimakasih pada tuan Angga!"
"Iya mak setelah makan aja. Sekalian menunjukkan kalau paket nya sudah kita terima." Emak mengangguk sebagai tanda setuju. Aku segera berlari kekamar ku sendiri. Kamar ku ternyata tidak jauh berbeda dengan kamar emak dan adik. Aku cepat- cepat mandi dan berganti pakaian. Rasanya ingin berlama- lama mengagumi pantulan diri ku di cermin. Aku terlihat sangat cantik memakai baju hadiah dari tuan Angga. Dengan jari ku rapikan rambut panjang ku. Aku ingin segera menunjukkan gaun indah ku pada emak dan adik-adik.
__ADS_1