
"Non.... ada tamu di depan!" Wa Rasih yang sudah hampir sebulan ini tinggal bersamaku, tiba-tiba datang dan memberitahu bahwa di luar ada tamu.
"Siapa, Wa?" heranku.
"Kurang tahu, Non!" jawab Wa Rasih seraya kembali ke bagian sortir dan pengecekan kain dan bagian finishing. Kadang juga kalau sedang senggang Wa Rasih selalu membantu Bi Mari mengerjakan apa saja yang Wa Rasih mau. Dan Bi Maripun senang-senang saja sama Wa Rasih.
Aku berjingkat dan meninggalkan dulu pekerjaan yang aku pegang. Lalu segera berjalan menuju pintu gerbang. Saat di depan pintu gerbang, Pak Maman penjaga Bungalow yang kini disulap sementara menjadi sebuah aktifitas butik, rupanya menahan orang yang dibilang Wa Rasih tadi di depan gerbang.
"Non... orang itu ingin ketemu Non Nada. Katanya sih urusan bisnis. Tadi sudah saya usir, tapi keukeuh ingin berjumpa Non Nada," berita Pak Maman sembari menunjuk ke arah mobil yang diparkir di depan gerbang.
"Biar saja, Pak. Akan saya samperin," tukasku seraya menghampiri mobil yang terparkir tepat di depan gerbang Bungalow.
__ADS_1
"Maaf... Anda mau ke siapa?" tanyaku seraya mengetuk pintu mobil. Orang yang berada dalam mobil itu membuka kaca mobilnya lalu mengeluarkan kepalanya sedikit.
"Mas Raka?" kejutku tidak percaya.
"Nafa....!" pekiknya tidak kalah terkejut namun nampak aura bahagia. Lelaki tampan dan muda itu semakin gagah saja saat dia turun dari mobil Pajiranya.
"Alhamdulillah, aku bisa ketemu juga dengan alamat kamu di sini!" serunya senang seraya tersenyum bahagia.
"Nafa... apakah aku tidak diijinkan masuk?" Mas Raka nampak merajuk melihat dirinya yang tidak aku persilakan masuk. Aku sejenak berpikir untuk memasukkan Mas Raka atau tidak ke dalam halaman rumah.
"Naf, ijinkan aku masuk dan ini tentang bisnis antara kita," jelasnya sedikit memaksa. Namun aku masih ragu sebab Mas Sakti sedang tidak ada di kota Dingin ini. Aku sekilas menatap wajah Mas Raka, kasihan juga jika aku tidak menerimanya.
__ADS_1
Mas Raka akhirnya boleh masuk dan mobilnya melewati pintu gerbang. Setelah mobil terparkir sempurna, Mas Raka keluar dan menghampiriku. Saat kulihat sekilas Mas Raka nampak sangat tampan dan rapi serta wangi. Aku langsung mengalihkan perhatianku saat Mas Raka menyadari aku sedang melihat ke arahnya.
"Silakan Mas, duduk!" sambutku seraya mempersilakan. Mas Raka duduk seraya meletakkan HPnya di meja.
Beberapa menit kemudian Bi Mari datang menyuguhi air buat Mas Raka.
"Jadi bagaimana Mas, apa maksud Mas Raka mencari Nafa sampai jauh ke kota ini?" tanyaku penasaran.
"Seperti sudah dikatakan di depan, bahwa kedatangan aku ke sini adalah bermaksud menawarkan kain untuk disuplay ke butik kamu. Seperti yang sudah-sudah, Butik Syafana dan Butik Delia juga aku yang suplay kainnya," ucap Mas Raka dan rupanya dia menawarkan kain. Semua kain yang pernah disuplay Mas Raka memang belum pernah mengecewakan.
"Bagaimana dengan kehamilannya, Naf? Lancar?" Mas Raka menanyakan perihal kehamilanku.
__ADS_1
"Alhamdulillah lancar, Mas," jawabku seraya meraba perutku yang kini usianya sudah 4 bulan dan mulai nampak memperlihatkan bentuk bulatnya. Saat aku dan Mas Raka sedang asik ngobrol, tiba-tiba deru mesin mobil Mas Sakti terdengar dan mulai memasuki halaman rumah.
Pada saat bersamaan, tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat, dan pikiran melayang pada sikap Mas Sakti yang pastinya saat ini cemburu dan marah saat melihat Mas Raka berada di sini