
Aku menyuruh Nita untuk mengintip melalui celah pintu. Mungkin karena keadaan di luar juga sangat gelap, membuat Nita menekan pintu terlalu kuat. Pintu terdorong dan membuka kuat, membuat Nita terdorong ke depan. Jatuh dari mobil box. Aku tidak bisa melihat apa- apa di depan ku. Tiba- tiba saja terdengar suara gedebug.
'Bug' Sepertinya ada benda berat terjatuh dari dalam mobil box. Sesaat pikiran ku tumpul, tidak bisa menebak benda apa yang jatuh itu. Namun saat aku berbisik memanggil Nita dan tidak mendapat jawaban dari nya. Seketika kepanikan menyergap ku.
"Emak... Nita jatuh,... ayo kita cari Nita." Bisik ku pada emak.
"Iya... ayo kita turun cari Nita." Jawab emak. Kami pun segera turun dari mobil box. Suasana gelap gulita, membuat kami harus meraba- raba mencari jalan. Kami berjalan sambil bergandeng tangan, takut terpisahkan.
"Nit... nita .. dimana kamu dek..." panggil ku berbisik. Tidak ada jawaban.
Kami berjalan semakin jauh. Dimana gerangan Nita? Jangan- jangan dia jatuh ke bawah mobil box? Tidak mungkin kami mencarinya bersama- sama, bagaimana kalau orang jahat itu menangkap kami kembali. Aku tidak akan membiarkan emak dan adik ku dalam kesulitan. Maka kuputuskan mencarikan kamar untuk emak dan Doni. Sehingga aku bisa leluasa mencari Nita, tanpa membahayakan emak dan Doni.
Aku segera mengajak emak ke tempat informasi. Disana aku menanyakan untuk menyewa kamar. Untunglah masih ada sebuah kamar tersedia. Seorang pria berseragam karyawan kapal mengantar kami.
Setelah kami masuk ke dalam kamar, aku segera mengutarakan maksud untuk mencari Nita. Emak menyetujui usul ku. Karena keadaan Doni sangat memprihatinkan. Tubuhnya sangat lemah juga wajahnya sangat pucat. Emak langsung merebahkan Doni diatas kasur ranjang.
Aku jadi ikut panik melihat keadaan Doni. Melihat keadaan tubuh nya yang lemah, juga wajah nya pucat pasi. Emak merabai dahi Doni.
"Doni demam An." Bisik emak kawatir. Aku segera berlari menuju kamar mandi. Aku mengambil air dalam gayung dan membawa nya pada emak. Emak segera mengompres Doni dengan sobekan kain.
Tubuh Doni tiba- tiba kejang. Tangan dan kaki nya kaku. Emak langsung melepas baju Doni dan memeluknya erat- erat. Aku hanya bisa menangis dalam diam. Sungguh aku ketakutan melihat keadaan Doni. Bagaimana kalau Doni sampai tidak terselamat kan?
"Mak... Doni kita bawa saja ke ruang kesehatan?" Kata ku memberi solusi pada emak. Tapi emak menggelengkan kepalanya.
"Terlalu beresiko An... ada orang jahat di luar sana. Jangan sampai kita tertangkap. Doni tidak apa- apa, sebentar lagi ia pasti sembuh. Sebaiknya kamu carikan makanan untuk nya. Jadi waktu sadar nanti, Doni bisa langsung makan. Juga... cari Nita." Kata emak tenang. Namun aku menangkap ada kecemasan dalam sorot matanya.
Aku segera melepas jaket ku dan menyerahkannya pada emak setelah mengambil beberapa lembar uang dari dalam kantong nya.
"Mak... di dalam kantong jaket ada uang. Kalau nanti sewaktu- waktu emak perlukan." Kata ku sambil menyerahkan jaket ku pada emak.
Aku segera berjalan ke tempat informasi. Tadi aku melihat ada denah kapal tertempel di sana. Karena tadi buru- buru jadi nya aku tidak sempat melihatnya dengan seksama.
"Mak, aku pergi dulu," kata ku berpamitan.
Emak mengangguk, "Hati- hati An, cepat kembali dengan selamat!" Kata emak.
"Iya Mak," jawab ku lirih takut mengagetkan Doni. Saat akan menutup pintu, aku menoleh kembali memastikan keadaan Doni. Ia masih dalam dekapan emak. Hati ku berdesir perih, adik ku yang masih kecil harus mengalami kesulitan seperti ini. Bahkan Nita, setelah ia jatuh dari mobil box tiba- tiba menghilang, dimanakah ia sekarang berada?
__ADS_1
Pertama yang harus kulakukan adalah menyamar, agar aku leluasa untuk mencari Nita. Namun, dimana aku bisa mencari baju ganti?
Aku terus berjalan melintasi lorong. Suasana sangat sepi, mungkin karena malam sudah semakin larut. Diujung lorong aku mendapati sebuah pintu kaca tertutup rapat. Aku mencoba mengingat- ingat, saat kami diantar ke kamar tadi. Ada sebuah ruangan kantin, dekat pintu. Semoga pintu itulah yang menuju ke kantin.
Aku mempercepat jalan ku, namun saat sampai di ujung lorong aku langsung berbalik saat mengenali sopir mobil box yang membawaku ada di ruangan itu. Aku takut pria itu mengenali ku dan menangkap ku kembali.
Aku harus berfikir keras, menemukan cara agar aku bisa leluasa keluar tanpa dikenali orang- orang jahat itu. Ada selembar kain pantai tergantung di seutas tali, mungkin sengaja untuk menjemurnya. Karena saat kain itu kuambil masih sedikit basah.
Aku memakai kain pantai itu untuk menutup kepala. Ku gunakan sebagai kerudung, dengan bantuan sebuah jarum peniti. Aku segera bergegas menuju kantin. Disana masih banyak orang, aku segera memesan tiga nasi di bungkus dengan lauk ayam goreng dan ayam opor.
Aku segera kembali ke kamar untuk menyerahkan nasi itu pada emak. Juga tak lupa ku serahkan dua botol besar air mineral dan parasetamol pada emak yang tadi ku beli di kantin.
Aku berniat segera mencari Nita, tapi emak menahan ku. "Makan dulu An... supaya kamu bisa lebih konsentrasi mencari Nita." Kata- kata emak, ku rasa ada benar nya. Karena aku sendiri merasa badan ku lemas. Aku dan emak segera memakan nasi bungkus itu. Aku tidak mau berlama- lama, karena kami masih kuatir tidak tahu keberadaan Nita sampai saat ini.
Selesai makan aku kembali mencari Nita. Aku berniat mencari ke lambung kapal, tempat mobil- mobil di parkir. Sayang nya aku juga emak tidak bawa hp. Juga tidak ada lampu senter. Bagaimana nanti bisa mencari Nita dengan keadaan gelap- gelapan? Aku hanya berpikir semoga keberuntungan berpihak pada ku. Sehingga aku bisa menemukan Nita dengan cepat.
Aku melangkah cepat ke ruang informasi, mengamati denah kapal dengan seksama. Saat aku mulai memahami denah itu segera ku hafalkan jalan- jalan yang harus ku lalui ke sana.
Lorong- lorong kapal sangat sepi, namun saat aku mulai menuju lorong ke lambung kapal. Beberapa kali aku berpapasan dengan beberapa pria yang berjalan terburu- buru. Mereka ada yang berbicara serius, sepenggal ku dengar bahwa ada mobil tenggelam. Apa maksud pembicaraan mereka? Aku tidak berani bertanya pada pria di depan ku, lebih baik aku mengecek nya sendiri.
Aku berjalan semakin cepat menuju tempat parkiran mobil. Setibanya di sana aku cukup terperangah melihat banyaknya mobil yang terparkir di sana. Mulai dari mobil mewah hingga truk besar dengan muatan penuh ada di sana. Yang membuat ku keheranan, seluruh lambung kapal terang benderang oleh cahaya lampu sorot.
"Mobil nya parkir di mana mbak?" Tiba- tiba seorang pria mendekati ku. "Sepertinya hanya sebuah mobil box roti aja yang terjun ke laut. Selebih nya mobil yang lain aman." Kata pria itu menambah kan.
"Oh... Syukurlah, itu mobil saya aman." Sambil pura- pura ku tunjuk sebuah mobil avansa di depan ku. "Apakah mobil yang tenggelam itu sudah di temukan?" Tanya ku kembali.
"Belum, sepertinya terbawa arus laut. Juga seperti nya sopirnya juga tenggelam." Kata si pria menjelaskan.
"Trimakasih informasinya, sebaiknya saya kembali beristirahat karena kepala terasa pusing." Aku pun berbalik arah, namun mata ku terus mengawasi sekitar lambung kapal, berharap bisa menemukan sosok Nita.
Nita tidak terlihat di mana pun, membuat ku semakin was- was. Apakah setelah jatuh dari mobil box ia kembali masuk ke dalam nya? Karena saat itu, lambung kapal gelap- gulita.
Aku menghela nafas dalam- dalam. Aku kemudian berjalan mengelilingi kapal, mencari dan terus mencari Nita. Dalam hati aku bertekat terus mencari adik ku itu sampai ketemu.
Mata ku sudah mulai berat. Kaki ku juga sudah terasa letih. Aku tidak tahu berapa lama sudah berjalan mengelilingi kapal untuk mencari Nita.
Aku ingin sedikit merenggangkan kaki. Aku bersandar di pagar pembatas kapal. Melihat air laut yang tenang, membuat pikiran ku melayang. Riak- riak berkilau tertimpa cahaya bulan, menciptakan keindahan yang meneduhkan. Tetapi aku sadar, ada bahaya besar mengintai dari kedalaman laut yang tak terkira.
__ADS_1
Sisi melankolis ku seakan dipaksa hingga meronta keluar. Aku tidak ingin hidup seperti ini. Kalau boleh aku meminta kembali kebebasan ku. Meskipun keluarga kami berkekurangan, aku percaya kebahagiaan itu akan tetap menjadi milik kami asalkan belenggu Angga dan keluarga nya lepas dari ku.
Sesal yang ku rasa sekarang sepertinya ini penyesalan terakhir ku. Aku tidak akan jatuh cinta lagi atau percaya pada seorang malaikat pun, yang pada akhirnya mengkhianati ku.
"Nita... dimana kamu dek? Apakah kamu baik- baik saja?" Tanya ku lirih dalam hati. Aku sudah berjam- jam berjalan mengitari kapal. Kaki ku sudah lelah, aku sudah tidak tahu kemana lagi aku akan mencari. Disini lah aku bertahan, menyiksa diri dengan menantang hembusan angin yang sangat dingin. Ku coba rapat kan dekapan tangan ku, mencoba mengusir rasa dingin yang menggigit.
"Dek... ngapain di sini? Udara dingin tidak bagus untuk kesehatan." Sapa suara Bariton dari arah belakang ku. Aku terkesiap dan segera menoleh ke arah suara itu. Seorang pria tua dengan jaket hitam longgarnya, terlihat lebih gemuk dari yang sebenar nya. Pria itu tampak ramah.
"Cari angin saja pak." Kata ku pura- pura cuek, padahal aku sedang memperhitungkan kemana langkah lari ku nanti. Kalau pria di depan ku itu punya niat jahat pada ku.
"Oh..., begitu. Kulihat kamu tampak sedih, kamu tidak apa- apa?" Pria tua itu sepertinya memperhatikan aku. Padahal aku berdiri di tempat remang yang tidak mungkin ia bisa melihat mata ku yang bengkak ataupun air mata ku.
"Saya tidak apa- apa pak? cuma sedikit bingung. Ibu ku memaksa ku untuk ikut pergi dengan nya. Padahal aku tidak tahu kemana kapal ini menuju. Apakah kota tujuan ku nanti kami bisa dapat penghidupan yang layak?" Tanya ku berbohong.
"Ehm... kapal ini akan menuju ke Banjarmasin. Kamu masih muda, kalau ada ijasah/ pengalaman kerja mudah saja cari kerja di sana. Banyak perusahaan kamu bisa melamar kerja di sana." Kata Bapak tua itu ramah.
"Masalahnya, kami baru kehilangan rumah dalam musibah kebakaran. Ibu terlalu tergoncang mentalnya saat semua harta benda kami musnah dalam hitungan menit. Saya sudah meminta ibu mengundur keberangkatan kami ini agar bisa mengurus dokumen- dokumen yang terbakar. Namun ibu tidak bisa menunggu. Jadi lah saya terpaksa mengikutinya. Tanpa sebuah identitas pun, kami beranikan diri berangkat naik kapal. Semua ini agar ibu terhibur. Namun saya sebagai anak tertua sangat bingung, bagaimana nanti kami akan menjalani hidup kami diperantauan?" Curhat ku dengan acting memelas.
Pria tua itu tampaknya percaya pada perkataan ku. Ia menyodorkan selembar kartu nama dan beberapa helai uang ratusan ribuan.
Aku menerimanya dengan bingung, "Maaf pak, ini apa?" Tanya ku mengusir keheranan.
"Sedikit uang untuk kalian di Banjarmasin. Juga itu kartu nama saya. Temui saya saat sudah mendarat nanti. Apapun kesulitan kalian, aku akan coba bantu." Kata- kata pria itu meneduhkan. Sepertinya memberi secercah harapan buat pelarian kami.
"Terimakasih pak, saya sangat beruntung bisa mengenal Bapak." Kata ku sungguh- sungguh.
Belum sempat kami berkenalan nama, Bapak tua itu dijemput dua orang berseragam. Aku mengenali seragam seperti itu biasa dipakai body guard. Si Bapak melambaikan tangan, memberikan semangat buat ku.
Akhirnya aku berhasil mendapat informasi, kalau kapal yang kami tumpangi menuju ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebuah pulau yang sangat terkenal dengan hasil tambang batu bara nya. Ya... aku hanya berharap dalam hati ku, semoga di tempat tujuan ku ini. Kami bisa memulai hidup baru. Hidup bahagia bersama emak dan adik- adik ku.
Aku sudah terlalu lama meninggalkan kamar. Namun Nita tak juga berhasil ku temukan. Semburat cahaya orange sudah mengintip di ujung langit. Sepertinya hari sudah mulai pagi. Badan ku letih, kaki ku sudah mulai kram. Mungkin aku harus mengakhiri pencarian ku. Nanti setelah istirahat sebentar, aku akan mencari Nita lagi.
Aku melangkah perlahan menuruni tangga, bermaksud untuk kembali ke kamar emak. Namun saat langkah kaki ku berpijak pada tangga terakhir, sekelebat aku melihat sesosok tubuh kecil terbaring meringkuk di bawah tangga.
Antara rasa takut dan penasaran, aku bulatkan tekat untuk memeriksa tubuh kecil itu. Apakah tubuh itu masih bernyawa?
Saat semakin dekat, aku bisa melihat dengan lebih jelas. Baju yang melekat pada tubuh anak itu aku dapat mengenalinya. Meskipun suasana masih remang aku yakin, itu baju yang dipakai Nita tadi.
__ADS_1
Aku segera membalik kan tubuh anak itu dan benar. Tidak salah lagi. Ini tubuh Nita yang terbaring meringkuk menahan dingin.
Wajahnya tampak pucat pasi. "Nita... dek... bangun..." bisik ku mencoba membangunkannya.